Arinda

400 Words
Arinda, wanita berparas ayu, menjajakan dagangannya dari rumah ke rumah, setiap hari, ia menelusuri jalan menanjak, terjal, dan sulit, karna tempat tinggalnya yang jauh dari perkotaan. Keseharian Arinda ia lakukan dengan ikhlas dan tekun. Dari mulai matahari belum nampak, ia telah terlebih dulu bangun untuk menyiapkan daganganya. Hari ini, ada beberapa sayuran yang berhasil ia kumpulkan untuk ia jajakan. Kadang, ia menjualnya mentah, kadang ia jualkan dalam kondisi sudah matang. Sebenarnya, ia mempunyai suami. Suaminya bekerja di sebuah perusahaan swasta dikota, gaji yang lumayan cukup menutupi kebutuhan makan sebetulnya, tapi nyatanya, ia harus berjuang keras untuk hal itu. Sifat tertutup suaminya, dan ketidakjujuranya membuat rumahtangga yang terlihat baik di mata orang, tapi tidak bagi Arinda. "Mas, aku minta uang buat beli keperluan rumah ya! Sabun, sampo, dan kopimu habis, aku belum ada uang lebih untuk membelinya, uang hasil dagangku kemarin, sudah aku belikan krudung di tempak Mirna," ucap Arinda ragu. Sebenarnya ia malas meminta uang pada suaminya, karna pasti ia hanya akan mendapatkan cacian, yang berujung, suaminya sama sekali tak menyapanya seharian, bahkan sampai berhari-hari. Tapi bagaimana lagi, uang hasil jualan kemarin, sisa lima ribu, itupun buay jaga-jaga, jika ada pembeli yang membutuhkan kembalian, karna uang lima ribu itu, uang receh semua. "Kamu kan tau! Mas belum gajian, Rin. Dan, mas belum ada uang lebih. Pakai aja uang hasil nanti jualan, lagian kamu! Sudah tau uang pas-pasan, sok-sokan beli kerudung segala, memang kerudung yang kemarin kamu pakai, kamu kemanakan?" ucapnya dengan nada emosi. "Mas, kerudung yang kemarin sudah rusak, lagian itu kan, krudung jaman kita nikah empat tahun lalu, sudah banyak noda dan sudah tak layak pakai mas! Aku malu jualan memakai kerudung yang sudah tak layak pakai itu!" ucap Arinda pilu. Sebenarnya, dulu Arinda gadis yang amat manis dan cantik, bahkan banyak pria ingin mempersuntingnya, namun nyatanya ia nampak seperti wanita umur tigapuluhan, yang mempunyai keriput di area wajahnya, padahal umurnya masih duapuluhan. Miris memang, ia harus dipertemukan dengan Joko, lelaki yang sangat menyebalkan dan pelit. Dulu, Joko lelaki yang amat baik, bahkan ia tak pernah membuat Arinda sedih, dan Arinda merasa, menikahi Joko adalah suatu anugrah karna sifatnya yang dermawan, baik dan ramah, tapi semenjak pernikahan kedua tahun, sifat Joko berubah menjadi pribadi yang mudah marah dan pelit. Arinda tak pernah menyesali keputusanya menikahi Joko, ia hanya sangat menyayangkan, sifat keras suaminya yang sulit ia bantah, seringkali ia mengalah agar tidak ada keributan terjadi, setelah berbicara dengan suaminya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD