Gambar photo profil itu adalah sang mantan yang tetap tampil gagah dan mempesona. Eh,... spontan Lea memukul pelipisnya pelan. Bukannya tadi bilang sudah tak cinta? Kenapa juga masih memujinya? Kata orang sesuatu yang spontan itulah yang benar-benar jujur. Sialan!
Milea melamun dari tadi, sehingga tidak tahu Ega sudah mengakhiri sambutannya.
[ Dapat nomer dari mana? ]
Tanya Lea disertai emoticon melotot. Pertanyaan bodoh! Bukannya semua data lengkap pengajar dan staff ada di tangan kepala sekolah yang baru saat ini? Huh! Bagaimana dia akan berkelit sementara data tentang dirinya komplit ada di tangan sang mantan. Termasuk statusnya yang masih belum menikah. Memalukan!
[ Nggak usah judes gitu, ntar tambah cantik lo. Kan repot akunya, kangennya bisa meluber kemana-mana loh saking penuhnya ]
Masih sama seperti yang dulu. Semarah-marahnya Milea, Ega tak pernah menanggapinya dengan kemarahan atau kejengkelan yang sama. Tetapi selalu membalasnya dengan gurauan atau candaan ringan.
Dan apa bilangnya tadi? Tambah cantik? Kalau dia cantik kenapa ditinggalin? Kenapa harus menikah dengan gadis lain? Amnesia dia rupanya. Apakah dia tidak sadar sudah mengkhianati pernikahannya dengan memuji wanita lain selain istrinya? Huh, semua laki-laki sama saja, sudah berpawang masih saja tebar pesona.
[ Kamu masih marah? ]
Lea tahu ada pesan masuk, tapi enggan untuk membuka sebab dia tahu itu pasti dari laki-laki yang pernah menghancurkan hatinya.
[ Aku masih sama seperti yang dulu, dan pawang ku hanya satu, satu untuk selamanya. Meskipun sekarang statusku berbeda, tapi pawang ku hanya kamu ]
Pengen banget muntah rasanya di depan dia. Apa katanya? Pawangnya hanya dia. Siapa? Aku? Jangan harap aku mau jadi pawangnya lagi. Seperti nggak laku saja hingga harus jadi pelakor. Tapi, tunggu dulu.. bukannya Bu Sofia tadi bilang dia duda ya.
[ Kok di baca aja? ]
Rupanya rasa penasaran Milea melebihi gengsinya, akhirnya Milea membuka pesan itu dan hanya membacanya saja.
Lea memasukkan ponselnya ke dalam kantong blazernya. Semakin meladeni keinginan hati untuk membaca pesan sang mantan, semakin muak Milea rasanya. Kenapa juga dia harus meladeni orang yang sudah membuatnya sakit selama ini? Datang dan pergi sesukanya, dia anggap aku apa memangnya? Gerutu milea di dalam hati.
Acara serah terima jabatan masih berlangsung. Lea tampak terus menundukkan kepalanya sementara Ega terus mencuri pandang kearahnya. Kedua kepala sekolah sedang menandatangani berkas dan kemudian berjabat tangan. Selanjutnya Milea sudah tidak tertarik mengikutinya.
"Terima Kasih sebelumnya, dengan resmi jabatan ini telah saya terima. Dan dikarenakan waktunya sudah siang saya rasa kali ini tidak perlu saya bicara panjang lebar lagi, dan untuk selanjutnya saya akan memanggil beberapa staff dalam waktu terpisah sesuai yang saya butuhkan. Saya mohon dukungan dan kerjasamanya demi kemajuan sekolah yang kita cintai ini. Saya akhiri sekian. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera bagi kita semua. Terimakasih." Ega menutup pidato pertamanya sebagai kepala sekolah yang resmi.
Tak lama kemudian selesai lah acara yang membuat Milea gerah dan gelisah dari tadi. Seandainya tidak menghormati yang lainnya sudah pasti dia kabur dari tempat itu. Dia jengah karena sering mendapati Ega mencuri pandang kearahnya.
"Bu, tungguin saya dong, buru-buru amat sih." Bu Sofia tampak berlari-lari kecil mengejar Milea yang sudah berlalu tanpa menunggu acara benar-benar usai.
"Iya Bu, mendadak kepala saya pusing, padahal saya juga sudah sarapan loh. Nggak tahu ini, mungkin setelah ini saya izin pulang lebih awal saja," jawab Milea sambil terus melangkah pelan menuju ruangannya. Mendadak dia benar-benar pusing
Seandainya dia tahu kalau yang menjabat kepala sekolah baru itu adalah mantan yang sangat ingin ia lupakan, sebisanya dia akan izin tidak menghadiri acara itu.
Dulu Ega bukanlah laki-laki ganjen yang suka tebar pesona sana sini. Sedangkan sekarang Milea melihat Ega memiliki sifat yang lain. Bukankah dia sudah memiliki istri sesuai dengan undangan yang sempat dia terima tak lama dari putusnya hubungan mereka?
"Ooh... gitu ya Bu. Sekarang Ibu siap-siap saja nanti saya bantu ijin ke kepala sekolah. Silahkan kalau mau pulang sekarang, nanti sakitnya tambah parah lo kalau nggak segera istirahat." Bu Sofia benar-benar merasa khawatir. Tadi beliau selalu memperhatikan Milea yang terlihat gelisah terus. Rupanya sedang nggak enak badan.
Milea tidak menghadiri pernikahan Ega waktu itu. Dia merasa, Ega begitu kejam terhadapnya, seperti sengaja membuatnya sakit hati. Apakah dia tidak berpikir jika Milea akan sakit hati banget pada saat melihat pacarnya bersanding di pelaminan dengan orang lain?
Yang Milea lakukan saat itu adalah berlari sejauh mungkin agar di masa depan tidak lagi bisa bertemu dengan Ega. Sesak rasanya jika mengingat momen itu.
"Waduh, terimakasih banyak loh Bu, kalau begitu saya pamit pulang sekarang ya Bu." Milea berlalu secepat kilat dari sana. Dia benar-benar harus menghindari Ega saat ini. Dia belum bisa berpikir jernih dan bingung harus bersikap bagaimana jika bertatap muka dengan Ega lagi hari ini. Semuanya serba mendadak dan mengejutkan.
"Iya, silahkan Bu, hati-hati di jalan," jawab Bu Sofia dengan wajah khawatirnya melihat wajah pucat Milea. Walaupun ganjen, Bu Sofia ini terkenal tulus dan baik hati.
Ega benar-benar seperti virus yang harus dia hindari, seperti waktu itu. Hingga tindakan impulsifnya mengakibatkan dia terdampar di kota ini. Meskipun jarak antara kota asalnya dan kota yang dia tempati sekarang hanya kurang lebih dua setengah jam perjalanan, ia cukup yakin bisa menghindari sang mantan selamanya.
Ega bukanlah orang yang suka melakukan perjalanan keluar kota tanpa alasan. Dan setahu dia, Ega tidak memiliki kerabat yang tinggal di kota ini. Tetapi takdir sedemikian lucunya, sekarang dia bertemu dengan dia lagi setelah sekian lama dan menjadi partner kerja dalam waktu yang tidak bisa ditentukan sampai kapan.
Saat Milea sudah sampai di ruangannya, segera dia berkemas untuk izin pulang terlebih dahulu.
PoV Ega
Sungguh tidak terkira senang dan bahagia yang aku rasakan saat ini. Sejak perpisahanku dengan kekasihku aku kehilangan akses untuk menghubunginya. Yah, aku tetap menganggapnya kekasih karena tak pernah merasa memutuskan hubungan. Keadaan lah yang membuat kami terpisah. Bahkan pesan pemberitahuan tentang pernikahanku juga bukan aku yang tulis. Semua dilakukan oleh sepupuku yang belakangan aku tahu dia mendramatisir keadaan saat itu untuk kepentingannya.
Setelah acara pernikahanku dengan gadis pilihan Papa, aku langsung mencari keberadaannya. Semua teman aku interogasi, rumahnya pun aku datangi. Tapi nihil, Lea ku seakan lenyap ditelan bumi.
Rupanya dia sembunyi di kota ini. Beruntung tiba-tiba aku dipindah tugaskan untuk mengisi jabatan yang kosong di salah satu sekolah yang dimiliki yayasan tempat aku bekerja di Ibukota. Pasti Lea tidak menyangka aku akan datang ke kota ini. Apalagi ke tempat dia bekerja.
Jangankan dia, aku sendiri terkejut bukan main bisa menemui dia disini. Allah mengabulkan doaku di sepertiga malam yang setiap hari ku langit kan. Aku ingin sekali meminta maaf atas kesalahanku dulu yang telah menyakiti hatinya. Meskipun itu sama sekali bukan keinginan ku.
Tanpa sadar aku selalu mencuri pandang kearahnya, dia duduk di deretan kursi wakil kepala sekolah. Jantungku seakan mau meledak, rindu yang aku tumpuk seakan tidak terhitung banyaknya. Banyak yang akan aku jelaskan kepada kekasih ku itu.
Entahlah, apakah aku masih berhak merindukannya atau tidak. Apakah sudah ada laki-laki lain yang sudah mengisi hatinya? Statusnya yang masih lajang bukankah tidak menjamin dia masih sendiri? Karena jika hanya berpacaran tidak wajib melaporkan ke kantor bukan?
Tetapi apapun keadaannya aku sangat bahagia bisa menemukannya tanpa sengaja. Allah pasti tahu waktu yang paling tepat kami harus bertemu.
Dari tatapan sendunya masih terlihat jelas bahwa luka itu belum sembuh. Seandainya aku yang ada di posisinya waktu itu belum tentu aku masih bisa berdiri tegak sampai sekarang. Aku sadar jika luka yang ku torehkan teramat
dalam.
"Untuk laporan terkini setiap wakil kepala sekolah, saya harap besok sudah siap. Dan saya akan memanggil satu persatu, sebab saya ingin laporan yang detail dan bisa langsung tanya jawab sehingga saya langsung memahami laporan yang dibuat. Bapak tolong beritahu yang lainnya." Aku tidak memiliki kesabaran yang lebih banyak lagi. Sekian tahun mencari mantanku dan sekarang baru bisa tahu keberadaannya. Gak apa-apa jika orang bilang nggak professional. Besok aku akan menggunakan jabatan baruku untuk bisa bicara berdua. Kalau diajak bertemu berdua secara langsung belum tentu Milea mau. Sekarang saja dia sudah menghindar dari aku dengan alasan pulang lebih awal karena tidak enak badan. Itu akun ketahui dengan tidak sengaja mendengar obrolan sekelompok karyawan perempuan yang rupanya sedang membicarakan kekasihku.
Aku tidak akan membiarkan Milea lolos lagi kali ini. Aku tidak peduli apakah dia sudah punya pasangan atau belum.
"Baik pak, besok semua akan siap sesuai permintaan bapak," jawab kepala TU dengan hormat, meskipun aku lebih muda dari beliau, tanpa ku minta dia bersikap demikian.
"Terimakasih untuk hari ini. Sementara saya pelajari dulu apa yang sudah di tangan saya. Saya permisi ke ruangan saya,"
"Silahkan Pak, semoga betah dan nyaman mengisi jabatan tertinggi di sekolah ini. Insya Allah kami selalu siap membantu jika di perlukan," tambah beliau kemudian.
"Aamiin. Terimakasih banyak ya Pak", jawabku sambil berlalu menuju ruang kerja baruku.
Sesampainya di ruangan aku langsung menghempaskan tubuhku ke kursi kerjaku yang empuk dan nyaman. Senyum lebar tak lepas dari bibirku, deg-degan karena berhasil menemukannya, masih terasa sampai sekarang. Getaran itu masih ada bahkan lebih dahsyat dari sebelumnya. Membayangkan Milea yang jauh lebih cantik dan dewasa membuatku tak sabar untuk menjumpainya besok.