Ayana berlari terengah engah menyusuri jalanan sawah yang panjang dan gelap, dia seperti melihat cahaya dikejauhan dan terus menuju kesana, tapi seseorang yang berwajah seram dan bertubuh besar sedang mengejarnya dengan senjata tajam yang membuat nya ketakutan setengah mati, dia menjerit sekuat kuatnya tapi suara nya tidak keluar sedikit pun, sekuat tenaga ia berlari namun sosok itu berlari lebih kencang dan berhasil meraihnya hingga ia tersungkur masuk kedalam kubangan dipinggir sawah, sosok itu dengan marahnya ingin melayangkan senjata nya ke arah Ayana, Ayana yang tidak mampu berbuat apa apa hanya menjerit sekencang kencangnya, kemudian dia tersentak.
Nafas nya masih terengah engah, wajahnya masih ketakutan meski dia tersadar bahwa yang dialaminya hanya lah mimpi. dia memejamkan mata kemudian membuka nya lagi untuk melihat sekelilingnya, dia melihat keatas, melirik kekiri kemudian melirik kekanan, dan betapa terkejutnya dia ketika melihat tubuh seorang pria berada disampingnya, seorang pria yang hanya bertutupkan selimut sedang membelakangi nya. dia memejamkan kembali matanya, berharap dia masih bermimpi hinggi pria itu bergerak dan berbalik ke arahnya, dengan mata masih terpejam pria itu memeluk dan mencium pipinya dengan mesra. Ayana mulai menyadari kenyataan yang sebenarnya, dia mengenali pria ini, dia Ikram.. pria yang terakhir kali nya makan malam bersama nya sebelum dia benar benar hilang kesadaran.
Dalam hati Ayana berkecamuk " apa yang sudah terjadi? "
" dimana aku ?"
" kenapa dia bersamaku?"
kemudian dia merasakan perih dibagian kewanitaannya, dia menaikkan selimut untuk mengintip tubuhnya yang tertutup selimut, seketika jantungnya hampir lepas karena mendapati tubuhnya hanya tertutupi selimut tanpa sehelai pakaian pun.
Dia hanya terdiam tanpa mampu berkata kata, perasaannya sangat kacau, dia ingin marah, ingin menangis, ingin menjerit sekencang kencangnya tapi dia hanya terdiam tanpa ekspresi, air mata terus membasahi pipi nya hingga mengalir ke bantal, dia terisak pelan sambil menutup wajahnya dengan selimut. membuat suara kecil yang membangunkan Ikram, Ikram membuka selimut diwajah Ayana kemudian mengusap usap air matanya
"Adik kenapa?" tanya nya tenang
Ayana hanya menangis tanpa menjawab
" maaf kan abang ya sayang, abang sangat suka dengan adik, abang gak bisa mengendalikan diri " sambungnya sambil membelai rambut Ayana.
Ayana membuang wajah darinya, serasa jijik kepada pria ini, bagaimana bisa dia memberi alasan semudah itu.
" abang akan bertanggung jawab sama adik" lanjut Ikram, kemudian dia mencium rambut Ayana dan memeluknya erat dalam dekapan nya.
Lagi lagi Ayana hanya diam, dia tidak tau bagaimana mengekspresikan perasaan nya, dari pikirannya dia ingin marah dan memukul pria ini karena sudah merendahkan nya, pria ini sudah merampas kehormatan nya yang selama ini dia jaga. Tapi di satu sisi, hatinya menuntun nya untuk diam menerima semua perlakuan Ikram padanya, bahkan ketika Ikram mencium dan memeluknya tiba tiba dia juga merasakan perasaan yang aneh, perasaan nyaman dengan sentuhan fisik itu, perasaan ingin terus diperlakukan seperti itu.
Ikram terus membelai rambut Ayana, mengecup keningnya, matanya, hidungnya dan turun ke bibirnya, Ayana yang kebingungan diperlakukan seperti itu hanya diam saja, tidak menolak sedikitpun.
Ikram terus melancarkan aksinya untuk memancing Ayana terbawa suasana, Ketika bibirnya dicium dengan lembut, Ayana hanya pasrah dan menikmati, bahkan dia mulai mengimbangi ciuman Ikram, mereka mulai saling berpagutan dan memainkan lidah dimulut lawan nya, sambil berciuman tangan Ikram terus membelai tubuh Ayana, dia meraba bagian bagian yang sensitif dari wanita itu, terus diperlakukan seperti itu membuat Ayana seperti terbakar gairah yang sulit dia kendalikan, lama kelamaan dia mengikuti permainan yang disuguhkan Ikram. Mereka larut dalam luapan emosi dan candu untuk saling menikmati dan memuaskan.
Keesokan harinya, Ikram mengantarkan Ayana ke kost nya, sebelum pergi dia meminta maaf pada Ayana atas apa yang telah mereka lakukan,
"Maafin abang dik, abang sudah membuat adik terluka"
Ayana hanya terdiam, dia menunduk sambil menitikkan air mata dia berucap
"Lupakan yang sudah terjadi, anggap kita tidak pernah saling kenal, dan jangan pernah ganggu hidup aku lagi" Ayana langsung berjalan membelakangi Ikram dan masuk ke kost nya, sesampai dikamar dia memblokir nomor Ikram kemudian mencampakkan ponsel nya ketempat tidur, dia masuk ke kamar mandi dan menangis sejadi jadinya.
Sebulan telah berlalu, Ayana melalui hari dengan perasaan kacau balau, dia marah pada dirinya sendiri kenapa bisa jatuh hati pada pria seperti Ikram, setiap hari sepulang kerja dan saat dia sendirian, dia hanya menangis mengutuk diri nya sendiri, tak pernah terfikirkan dalam benaknya selama ini kalau dia akan melalui One stand night dalam hidupnya.
Sementara ditempat lain, Ikram duduk sendiri hanya terdiam melihat ponsel nya, dia tidak bisa menghubungi Ayana karena nomornya telah diblokir oleh wanita itu, mata nya melihat ke arah jalanan yang ramai tapi entah kenapa hatinya terasa kosong. dia tak pernah terfikir seorang wanita bisa memperlakukan nya seperti itu, padahal selama ini dia selalu dikejar kejar oleh wanita wanita cantik.
tiba tiba ponsel nya berbunyi, panggilan dari Diana
"Halo"
"Abang.. kenapa telponin aku terus, lagi kerja tau, gangguin aja ih " omel Diana
"Abang mau tanya tentang Ayana, dia baik baik aja kan?"
"Hhmm kenapa nanyain, ada apa dengan kalian??" selidik Diana
"Gapapa.. abang cuma mau ketemu Ayana, dimana abang bisa ketemu dia? kost nya uda pindah kan?"
"Iya bang.. dia ngekost deket Rumah Sakit, susah soalnya kost yang lama pulang balik naik angkot"
"Dik.. kirim alamat Ayana, abang mau jumpai dia ada yang mau diomongin"
"Abang gak aneh aneh kan??" curiga Diana
"Engga dik, abang gak mungkin sakiti dia, dia kan sahabat adik" jawab Ikram, sebenarnya ada rasa curiga di pikiran Diana, tapi berhubung dia sedang sibuk maka dia tak memperpanjang nya
"Oke.. Dian kirim alamatnya, dah dulu ya mau kerja nih" ucap Diana mengakhiri telponnya.
tidak lama kemudian chatt dari Diana masuk
" jl. Perindah no. 8 Kompleks Perumahan Mekar"
Ikram langsung pergi mengendarai motor gede nya menuju alamat yang dikirimkan Diana. Sesampainya disana dia mengetuk pintu dan memanggil manggil nama Ayana, Ayana sangat terkejut saat mengintip dari balik jendela sosok yang berdiri didepan rumah nya adalah Ikram,
"Darimana dia tau alamat aku ya?" batin nya, tiba tiba Ayana teringat bahwa Ikram adalah sepupu Diana. Dia hanya diam tak berani menyahut, dia berharap Ikram akan pergi karena tidak ada yang menyahut dari dalam rumah, tapi ternyata Ikram terus memanggil manggil sampai menarik perhatian tetangga sekitar, akhirnya Ayana mengalah dan keluar dari rumah.
"Ayo kita bicara diluar saja" ajak Ayana yang sudah bersiap untuk keluar, dia memakai jaket cardigan longgar yang sudah lusuh kesayangan nya. Ikram kemudian mengikutinya, mengarahkan Ayana menuju motor nya dan mereka pergi menuju dermaga dipinggir kota.
"Untuk apa mencariku?" tanya Ayana dengan tatapan sinis
"Abang terus memikirkan adik" jawab Ikram jujur
"Hmmmhhhh.. aku sudah bilang jangan ganggu lagi hidupku, apa kamu gak cukup sudah melakukan nya denganku, apa lagi yang kamu inginkan??" ucap Ayana tetap berusaha tenang
"Abang butuh adik, abang sangat suka dengan adik, abang ingin melakukan nya lagi dan lagi dengan adik" Ikram terdengar serius dan sangat egois
Ayana tertawa kesal, kemudian menggigit bibir nya dan geleng geleng kepala, dia tidak habis pikir dengan apa yang sudah diucapkan Ikram padanya. "Betapa egois dan menjengkelkan nya lelaki ini", pikir Ayana
"Bukan kah itu kebutuhan dik, kita sudah dewasa kan, adik juga butuh itu kan? apa adik tidak menikmatinya?" lanjut Ikram meyakinkan. Entah apa yang ada dipikiran pria ini, dia bahkan tidak tau apa yang dirasakan dan diinginkan nya dari wanita yang sedang berdebat dengan nya ini, apakah perasaan sayang yang ingin memiliki atau hanya menginginkan untuk sekedar memuaskan kebutuhan nya semata.
Ayana menatap mata pria itu sangat dalam, mereka bertatapan tanpa berkedip, tangan Ayana dikepal ke arah bawah karena dia sangat marah
"Kalo begitu ayo kita menikah " ucap Ayana mantap, dia masih tetap menatap mata Ikram, mendengar ucapan nya Ikram hanya tersenyum tak percaya kemudian geleng geleng kepala
"Kita menikah secara agama, kamu menikahi aku hanya supaya kita halal, aku gak meminta kamu menikahi ku secara resmi sesuai aturan negara" Lanjut Ayana seolah dia mengerti arti senyuman dari Ikram tadi.
Ikram membuang muka dari Ayana, dia tidak menyangka kalimat itu keluar dari mulut Ayana, yang dia ketahui adalah wanita baik baik. Dia menatap kedalam mata Ayana, ada air mata disudut mata gadis cantik itu membuat hati Ikram iba melihatnya, mata Ayana seakan melukiskan kepedihan hati wanita itu akibat perbuatan nya, kemudian dia geleng geleng kepala dan membuang pandangan ke arah laut.