Karena sudah seperti ini, Yara terpaksa harus pulang ke rumah. Jika tidak, barangkali sang ibu benar-benar akan mendobrak pintu studionya. Sambil dengan kasar melepas apron bernoda cat yang ia kenakan, Yara membereskan cat, palet dan kuas seadanya, menjejalkan semua benda itu ke satu meja yang sama. Ia terpaksa harus meninggalkan lukisan yang masih setengah jadi ia kerjakan. Padahal masih ada dua jam sampai waktu yang dijanjikan untuk pertemuan makan malam. Yara tidak bisa memahami pemikiran sang ibu yang perlu menjadi sebegini cemas. Melirik ponselnya di meja dekat konter, Yara menghela napas keras-keras. Seolah lelah, ia berjaga-jaga dan berharap sepenuh hati agar ibunya tidak terus-terusan menerornya setiap beberapa menit sekali. Memastikan dengan perasaan tak berdaya pada jam dinding.

