Chapter 17

1035 Words
Untuk beberapa alasan Bisha lebih suka menutup tirai jendela menjelang petang. Apartemen yang ia tempati selama beberapa hari terakhir bahkan lebih kecil dari studio milik Yara. Tapi hal ini sudah cukup baginya. Dalam ruangan kecil ini juga tak ada banyak barang. Hanya ada sebuah nakas dan rak kosong di sudut, juga sebuah meja rendah di tengah ruangan. Di meja ini Bisha sudah menatap beberapa peralatan makan untuk makan malam. Ia sendiri memasak ratatouille, salah satu masakan favorit Yara yang hanya disukai jika Bisha sendiri yang memasak. Tak ada kekhawatiran yang melintas di wajah cantik Bisha di tengah ruangan yang nyaris kosong itu. Terlebih saat ini, ia sudah makin membulatkan tekad dan tak ada hal apa pun yang menghalanginya lagi untuk segera pergi. Menepis segala macam pikiran yang menyerbu, Bisha beranjak kembali ke dapur kecil untuk mengambil air mineral yang dibelinya dari mini market terdekat. Sebelumnya Yara sudah memberitahunya jika ia akan datang sedikit terlambat dari seharusnya, karena siang tadi Yara memutuskan untuk mengunggah lukisan terbarunya dan seketika mendapat banyak respon dan beberapa pesanan sekaligus. Praktis Yara menjadi sibuk dalam sekejap. Dan tidak seperti Bisha tidak memahami kesibukkan sang adik, kenyataannya ia tahu semuanya. Ia bahkan tahu saat Yara memutuskan untuk hiatus. Dan hal itu juga yang makin memberatkan langkahnya untuk pergi. Ia takut sang adik begitu terbebani karena kepergiannya yang begitu tiba-tiba dan tanpa ada pembicaraan sama sekali sebelumnya. Bisha menghela napas tanpa suara kemudian berbalik kembali ke meja. Untungnya rataouille ini baru matang saat Yara mengatakan akan segera datang. Siang tadi, Bisha juga memberikan nomor ponselnya yang baru pada sang adik, sehingga sekarang mereka bisa berkomunikasi lagi. Bisha memandang menerawang ke arah tirai yang menutup pemandangan ke balkon kecil di baliknya. Sebenarnya ia masih merasa agak cemas. Mendapati sang adik harus maju menggantikan dirinya, membuat Bisha merasa sangat bersalah. Tapi melihat sendiri bagaimana reaksi Yara terasa bertentangan dengan rasa bersalahnya. Kemudian pikirannya teralih pada Ryo Sato. Yara memang tidak menjelaskan alasan jelasnya kenapa laki-laki itu juga pergi dan sang adik berakhir sama seperti Yara. Yara sendiri belum pernah melihat Ryo, baik secara langsung atau foto. Berbeda dengan Bisha yang beberapa kali menerima foto Ryo dari orang tua mereka. Jika dinilai secara jujur, Ryo bukannya laki-laki yang jelek. Tetapi benar seperti yang Yara katakan. Bisha memang sudah memiliki orang lain yang ia sukai. Hanya saja untuk saat ini, Bisha mencegah dirinya untuk memikirkan laki-laki itu. Ia tidak mau Yara sampai melihatnya bertindak bodoh. Sekitar lima belas menit berlalu, akhirnya Yara sampai dan dengan suara berisik sambil melemparkan komentar macam-macam, ia makan bersamanya. Yara tahu kebiasaan sang kakak yang selalu menutup tirai jendela sebelum tidur, membuat Yara memprotes. "Buka saja tirai jendelanya, bukan kah rasanya pengap ditutup begini," ia bangkit dari duduknya dan membuka tirai. Bahkan seolah belum cukup ia juga menggeser pintu geser kaca itu sampai terbuka. "Pintu kacanya persis seperti yang ada di studioku," ia berkomentar, lalu memandang keluar sesaat sebelum akhirnya kembali duduk dan lanjut makan. "Udara malam tak baik untuk kesehatan," Bisha berkomentar dengan kalem. "Ini masih sore," Yara bergumam tak jelas dengan mulut penuh. Bisha tertawa kecil dan meneruskan makan dengan tenang. Sudah terbiasa berada di bawah pengawasan sang ibu, membuatnya selalu diam saat sedang makan. Berbeda dengan Yara yang meski sudah dinasehati berkali-kali akan terus berceloteh. Seolah tidak pernah lelah atau kehabisan baterai. "Awalnya aku heran Nene bisa bertahan di tempat seperti ini. Karena selama ini, bahkan sejak kecil, kamar tidur Nene selalu lebih besar dariku," kata Yara sambil memandang sekeliling. Terlihat agak ngeri memandangi setiap bagian-bagian yang kosong. Bisha menyunggingkan seulas senyum. "Aku malah baru sadar jika ruangan seperti ini membuatku lebih nyaman. Tak ada banyak barang, yang berarti makin sedikit juga hal-hal yang perlu diperhatikan." Yara mengangkat bahu dengan acuh. "Apa perlu aku membawakan tanaman hias atau semacamnya? Rasa kosong ini membuat jiwa kesepianku meronta-ronta." Bisha mengeleng-geleng, seolah pusing. "Kau lupa ya, aku kan akan segera pergi." Yara berhentu mengunyah sebentar. "Oh, ya, benar juga," ia menghela napas dalam. "Aku pasti akan merindukan rataouille ini." "Bukan berarti kau tidak bisa mengunjungiku kan, saat ada waktu luang datang saja ke Kyoto. Nanti kukirimkan alamat, ajak Kira dan Zen juga, mereka pasti senang bisa main." Yara nyengir lebar dan langsung mengerti jika Bisha pasti lah sudah tahu tentang liburan singkatnya di resort dekat pantai saat itu. Padahal kenyataannya mereka tidak akan kepikiran untuk pergi ke mana pun di saat seperti ini jika bukan karena urusan pekerjaan. "Tentu saja, tapi Nene tahu sendiri, betapa kewalahannya aku siang ini." Bisha mengangguk. "Aku tahu." "Aku tidak tahu apa yang ingin Nene temui di Kyoto, aku hanya berharap perjalananmu lancar. Aku akan mengantarmu ke stasiun kapan pun," diam-diam Yara menyembunyikan senyum penuh arti. Bisha merasa agak sebal tapi menolak untuk mengatakan apa pun mengenai apa yang akan ia temui. "Aku akan pergi besok pagi." Yara menandangnya dengan santai, seolah kepergian yang mendadak itu bukan apa-apa lagi. "Semakin cepat lebih baik, aku berpikir begitu." Yara mengangguk setuju dan menelan makanannya. "Baiklah, aku akan datang pagi-pagi besok." Hening sejenak. Karena Bisha butuh waktu untuk mempertimbangkan pertanyaan yang akan ia tanyakan ini. "Lalu, bagaimana dengan ayah dan ibu?" Akhirnya Bisha bertanya. Yara mengibaskan sebelah tangan. "Tak ada yang perlu dicemaskan dari mereka. Mereka baik-baik saja, sebaik biasanya. Dan dari yang kulihat Sam mengatasi masalah perusahaan dengan sangat baik," jelas Yara sama sekali tidak tahu mengenai masalah itu, dan ia tidak terlalu memikirkannya juga. "Syukurlah.." Bisha sudah selesai makan dan melipat kedua tangannya ke atas untuk dijadikan topangan dagu. Ia sendiri mengalihkan pandangan keluar balkon. Sebentar lagi ia akan pergi dari apartemen kecil ini. Dari kota ini. Belum pernah Bisha merasa begitu antusias sekaligus cemas di saat yang sama. Ia cemas pada keadaan orang tuanya dan cemas pada Yara, terlebih pada perjodohan itu. Tapi sekali lagi Yara menyampaikan semuanya dengan enteng, Bisha tahu jika Yara mengatakannya begitu maka kenyataannya juga begitu. Ia sendiri tidak mengerti kenapa dirinya tetap merasa cemas. Ataukah kecemasan ini justru berasal dari apa yang akan ia temui di Kyoto? Entahlah, ia tidak tahu. Mengingat sudah bertahun-tahun lamanya, Bisha merasakan perasaan seperti, belum pernah sedekat ini pada sesuatu yang dia inginkan, namun juga merasa begitu jauh pada saat yang sama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD