Pagi hari setelah upacara bendera. Aku tidak mengerti apa yang merasuki pikiran Nathan sehingga ia memilih untuk duduk satu bangku denganku yang mengundang pandangan ingin tahu dari teman-teman sekelas. Termasuk aku yang memandanginya ingin tahu. “Kenapa duduk di sini?” “Tidak ada larangan untuk duduk sebangku dengan siapapun kecuali saat ulangan kenaikan kelas,” jawabnya santai. Aku yang melihatnya menjawab sedemikian rupa hanya bisa menggeleng pelan. Ia selalu saja membuatku kesal dengan jawaban darinya. Baik itu candaan atau serius. Membuatku bertanya-tanya mengenai hati dan pikirannya. Sejak dekat denganku sikap Nathan berubah. Tidak lagi meladeni siswi-siswi yang memberikan hadiah padanya. Atau, mengobrol di pojok kelas sambil membagikan lelucon konyol terhadap mereka. Ia lebih ser

