Sepanjang perjalanan di dalam taksi, aku memegangi tangan Nelly yang cukup dingin. Mama duduk di kursi depan dan membiarkanku untuk menghabiskan lebih banyak waktu untuk berbicara dari hati dengan Nelly. Selama ini aku tidak pernah menanyakan alasan Nelly menghindari untuk panggilan video. Aku baru saja mengetahui alasannya sekarang. Kalau saja aku mengetahuinya lebih awal sudah pasti akan menemuinya lebih awal. Jalanan di Amsterdam masih sama seperti ingatanku begitu padat dan beberapa pengendara sepeda dapat kutemukan di antaranya. Nelly masih saja tersenyum memandangku. Kurasa ia sangat senang melihatku berhasil menemuinya. Walaupun kami menangis sejadi-jadinya tadi di bandara. “Kau pasti tidak menyangka melihat kondisiku yang sekarang,” ucap Nelly memulai pembicaraan. Dari tadi kami

