Kania bergerak malas karena dipaksa bangun. Perempuan itu ingin sekali memaki pada lelaki tidak pengertian, jelas Kania merasa perlu tidur panjang usai bekerja sampai tengah malam. Sementara Haidar sok manis tersenyum tanpa dosa. "Gue ngantuk banget, lo nggak ada pengertiannya jadi suami, ya?" "Udah pukul sembilan, Yang." Haidar sampai membawa kalkulator dan menghadapkan ke arah sang istri. "Lihat berapa jam udah tidurnya, lama-lama mirip kebo kamu, Yang." Haidar mulai konsisten memakai aku-kamu sekalipun tidak ada balasan serupa. Mata Kania masih setengah terpejam dan terus menguap. Dia memang kekenyangan tidur alih-alih merasa kurang istirahat, bawaan janin mungkin rasanya ranjang empuk Haidar memiliki magnet yang kuat. "Yang, tadi Awal lagi nonton sama gebetan baru. jadinya aku

