Setelah beberapa hari berlalu, sejak pemakaman sang Ratu. Pihak kerajaan mulai berunding, mereka khawatir dengan masa depan kerajaan. Mereka harus menentukan siapa selanjutnya yang akan duduk di kursi pemerintahan. Hanya punya seseorang yang pantas, namun dia masih terlalu muda untuk menopang semua itu di bahunya. Hingga diputuskan pada hari itu, semua berkumpul untuk mendengarkan keputusan pihak kerajaan.
“Wahai semua rakyat Negeri Barat tercinta, kita semua tahu bahwa Raja dan Ratu sudah tidak berada di antara kita lagi. Dan mereka memiliki seorang puteri yang akan menjadi pewaris mereka. Maka sudah selayaknya tahta kita berikan padanya.”
Zargam menunjuk seorang gadis kecil.Alucia. Namun gadis tidak berbuat apa-apa. Menatap kerumunan orang yang dia tahu mengharap sosok luar biasa pada dirinya. Semakin membuatnya takut dan ragu.
Dia takut, bagaimana jika dia hanya bisa menimbulkan masalah dan mempermalukan kedua orang tua nya.
Untungnya, pamannya segera mengalihkan pandangan orang orang pada dirinya kembali.
“Dan tampak nya, seperti yang kalian lihat, Puteri masih terlalu muda untuk memikul beban berat kerajaan. Maka dari itu harus ada seseorang yang kan menjaga tahta itu untuknya sampai umurnya cukup untuk mulai memerintah kerajaan.”
Dia menoleh kearah keponakannya itu dan tersenyum.
“Jadi dengan sangat berat hati, aku Zargam, satu-satu nya adik Sang Raja dan paman dari Puteri Alucia, menyatakan bahwa aku siap memikul beban berat kerajaan sampai puteri telah siap menggantikan aku menjadi ratu yang sebenarnya.”
Yeeee!!!!!
Semua orang senang dengan keputusan itu. Mereka semua sangat bahagia dan menaruh keyakinan pasti pada Sang Penasehat Zargam dan Puteri Alucia.
Puteri menggandeng pamanya dan meninggalkan keramaian itu. Mereka tampak sangat akrab sekali.
.
.
.
.
.
Tujuh tahun telah berlalu.
Clakk! Tepat sasaran. Kemampuan memanah yang baik.
“Bagus sekali Puteri.”
“Baiklah.”
“Kenapa?”
“Ya sudah aku pergi ya paman. Terimakasih!”
“Apa, sudah? Ya ya baiklah!!” kata si penjaga sambil melambaikan tangan.
“Dah Paman Yon!”
Kini sang puteri tumbuh menjadi gadis remaja. Dia sudah cukup dewasa. Seperti selayaknya anak remaja, walaupun seorang puteri dia tetap ingin bebas.
Selalu penasaran dan penuh tanya terhadap segala hal. Terkadang usil dan suka jahil terhadap pelayan-pelayannya. Di umurnya sekarang dia mampu menguasai setiap hal mencakup pemerintahan. Dia pandai memanah, dan cukup mahir mengayunkan pedang.
Ruang keluarga tempat berkumpul bersama orang tuanya menjadi tempat pribadinya untuk menyendiri.
Tapi bukan untuk itu saja. Dia kerap memberantakkan rak rak buku untuk mencari apa yang ditinggalkan ibunya. Hal itu masih menjadi misteri.
Tanpa sadar dia selalu memegang kalungnya dan berdoa.
.
.
.
Pagi itu, terlihat dia berlari sambil merapikan bajunya. Dia menuju aula tempat pamanya sedang bekerja. Dia masuk sambil membawa setumpuk roti panggang kering diatas nampan.
“Paman!!”
“Astaga kau ini puteri kecilku atau siapa? Kau berjalan seperti seorang ahli juru masak saja.”
“Ah paman ini! Aku memang seorang juru masak tahu. Lihat dan cicipi kue ini, kau pasti tidak dapat berkomentar lagi.”
“Benarkah? Sini kucoba.” Dia mengambail sebuah kue lalu melahapnya, dan mengunyahnya pelan.
“Bagaimana rasanya?hah?”
“Em..emmm, ini enak sekali.”
“Hhahahaha, kena kau paman.” gerutunya.
“Tunggu dulu, kalau kue nya seenak ini maka..... Pasti bukan kau yang membuatnya.! Hhhaha..”
“Paman ini, jahat sekali.”
“Hhahaha...”
“Habisnya paman tidak pernah mengajariku membuat kue sih. Kata paman cuma, didalam kerajaan kita harus blablabla, dan sehingga kita akan mampu bekerjasama dan blablabla. Begitu kan?”
Alucia menirukan gaya pamannya saat berkata. Melihat kelakukan puteri nakal itu Zargam tertawa terbahak bahak.
“Hhahahahahahahah!! Dasar nakal kau ini. Paman tidak bisa mengajarimu yang semacam itu, bertanyalah pada ketua juru masak kerajaan, pasti enak.”
Dia cemberut mendengar kata-kata pamannya.
“Sudah paman. Aku sudah berlatih membuat kue dan memasak yang lainnya. Tapi setiap aku memanggang kue nya pasti selalu gosong. Ah..aku tidak pandai memasak.”
“Hhahaha, dasar manja. Berlatihlah dengan keras dan jangan mudah putus asa. Setiap kerja keras yang kau lakukan pasti ada hasilnya. Walaupun hanya sebesar biji sesawi.”
“Aku tidak tahu ah. Bahkan biji itu pun aku belum pernah melihatnya.”
“Kau itu.” Katanya sambil mengusap kepala Alucia.
Slashh..
Seketika tanpa dia sadari bandul yang menggantung di lehernya menyala redup.
Entah mengapa secara tiba-tiba jantungnya berdegub kencang dan terasa sakit.
Dalam hati dia bertanya, apa yang salah dengan dirinya. Apa yang terjadi padanya?
Sembari menyembunyikan raut wajahnya, dia meminta iijin untuk pergi.
“Emm, paman aku pergi dulu ya.”
“Kenapa, duduk lah disini dulu bersama paman.”
“A-da sesuatu yang aku lupa. Kurasa aku harus cepat-cepat, nanti aku akan kembali.”, dia berlari keluar aula.
Sekilas dia melihat cincin ular yang melingkar di jari tengah sang paman.
“Dasar anak itu.”
Dia berlari dan berlari, pikirannya berputar dan hatinya berguncang. Banyak sekali pertanyaan didalam pikirannya. Muncul perasaan curiga, dan rasa takut yang tidak terkira.
"Apa yang terjadi padaku ini? Apa yang ku lupa kan?"
Dia terus berlari tanpa menghiraukan sekitarnya. Tak peduli dia menabrak atau apa yang dia lewati. Air matanya mulai menetes.
Pintu kamar ditutupnya pelan-pelan, tubuhnya terjatuh membelakangi pintu. Perlahan dia mengatur nafasnya, namun seluruh tubuhnya masih bergetar.
"Ahh!"
Kembali dia beranjak.
Kali ini menuju ruang keluarga.
Brakk
Hoshh hoshh...
"Ibu, ayah, tunjukkan padaku. tolong tunjukkan."
Ucapnya sembari menyingkirkan tetesan air matanya.
Sringg!!
Liontinnya kembali menyala. Namun kali ini seluruh ruangan tiada yang tak terkena silauan cahaya itu.
Kemudia sinar itu membentuk garis lurus tepat didepanya. Menunjuk sebuah rak buku buku kuno.
Dia segera berlari dan mencari apa yang dimaksud sebenarnya. Dia menemukan sebuah buku besar yang memancarkan sinar dari dalamnya.
Tanpa kesusahan sedikitpun Lu membukanya. Dan tampaklah sinar yang menyilaukan. Yang seakan ingin melahapnya.
Lalu menghilang.
Dilihatnya sebuah liontin yang pecah. Menindih beberapa tumpukan kertas.
Dengan gemetar tanggannya menjangkaunya. Dibacanya pelan.
"Apa ini? Pernyataan apa?"
Pikirnya.
Penyerangan. Pemalsuan. Pembunuhan. Penyelewangan. Pemberontakan. Dan Pengkhianatan.
Ada banyak hipotesis yang tertulis dalam kertas kertas itu.
Dia terduduk bersender pada rak buku.
"Jadi selama ini ayah dan ibu menyelidiki semua ini?"
Seketika matanya terbelalak. Melihat sesuatu yang menurutnya tak asing. Ya, cincin ular itu.
Hikss hikkss
"Tidak mungkin... Tidak..."
Ya.. Dia langsung memahami arti semua itu.
Kedua orang tuanya mencurigai sang paman.
Yang selama ini merawatnya. Selepas kepergian mereka.
"Lalu apa kah aku ini? Hanya bidak baginya?"
Ucapnya sambil menangis. Lagi..
Lalu sepucuk surat yang nampak terbungkus amplop besar dia baca.
Surat dari ibunya.
“Puteri ku, sekarang saat nya ibu memberitahu mu. Maafkan ibu karena sudah terlalu terlambat untuk mengatakannya. Kalungmu?.
Awalnya kami berpikir melakukan ini untuk kebaikan kalian.
Kau dan kakak mu memiliki potensi dalam sihir. Tapi menurut kami berdua, sihir terlalu berbahaya untuk kalian. Jadi kami menekan kekuatan itu dengan kalung kalian. Dan sampai saat ini kalung kalian telah menyimpan banyak kekuatan, kekuatan yang terperangkap itu menjadi kekuatan penyembuh yang sangat ampuh. Bahkan dapat mengembalikan keadaan yang sangat kacau sekali pun. Sekarang apa kau mau memaafkan ibu karena tidak memberitahukannya kepada mu?"
"Kami berdua sadar kalau kau sangat menyukai sihir, terutama saat kau bersama paman mu. Namun yang kau lihat itu adalah pengaruh sihir baik, apabila digunakan dengan tidak benar maka akan menjadi bencana. Kakak mu sudah tahu mengenai ini dan dia sangat menerimanya. Namun dia malah pergi dengan cara seperti itu. Dan kami semakin khawatir. Segera kami harus menemukan orang itu. Kami takut kau juga akan sama seperti kakakmu.”
“Akan tetapi ayahmu menjadi korban dari pemberontakan tak terduga. Ibu merasa pemberontakan itu juga merupakan tipu muslihatnya.”
"Ibu semakin kesulitan mencari titikk terang dari masalah ini. Mencoba mengamankan mu di panti asuhan supaya aku bisa pergi meneliti tanpa takut kau mengetahui nya."
"Tapi itu malah menjadikan ini semakin rumit."
"Ibu kesulitan mencari karena orang yang dicari ternyata adalah orang yang sangat ku percayai."
"Sampai akhirnya mata pun terbuka melihat tipu muslihatnya selama ini. Namun sepertinya terlambat. Karena ibu merasa seperti diawasi."
"Jika sesuatu terjadi. Hadapilah nak. Kamu kuat. Maafkan ibu dan ayah."
"Kemudian kalung itu ternyata akan bisa melindungi mu. Kekuatan yang menurut kami awalnya akan menyulitkanmu akan mampu membantumu."
"Kau pasti akan segera mengerti percayalah.
"Selalu berada dijalan yang benar, yakinlah. Negeri ini membutuhkan mu. Maaf karena menaruh beban yang sangat berat di pundakmu."
"Kami menyayangimu.
Puteri kecil ibu.."
Didekapnya erat surat itu.
Tangisnya tertahan.
Di beranjak sembari mengusap matanya kasar.
“Apa itu benar? Apa yang aku pikirkan?” ,desah nya pelan.
“Ayah, ibu, mungkinkah ini benar?”, dalam hatinya.
Dia meyakinkan dirinya. Kini yang terpancar dimatanya adalah sebuah keyakinan, keyakinan yang sangat ia takuti kebenaranya.
"Akan ku buktikan. Akan ku bongkar semuanya. Cincin ular itu aku yakin."
Ucapnya dengan mata sembab namun terpancar keyakinan.
Dia beranjak untuk mengambil busur dan anak panah nya. Melangkah mengambil kuda nya dan melesat.
Tiba-tiba di gerbang istana seseorang mencegatnya.
“Kau mau kemana? Bukankah kau harus menyelesaikan tugasmu dulu.”
“Emm.. Paman, aku harus menyegarkan pikiran ku, tadi aku sudah mencobanya tapi aku tidak mengerti-mengerti.”
“Ya sudah, tapi hari sudah mulai sore. Kau yakin?”
Ada kekhawatiran dalam kalimat sang prnjaga itu.
Melihat mata putri yang sembab dia semakin yakin.
Apalagi dia lah yang merawat puteri kecil itu. Mengajarinya sedari kecil tentang pedang dan panahan.
“Iya! Aku tidak akan pulang terlambat. Tentu saja.”
Kuda itu lalu dipacunya dengan kencang meninggalkan istana.
Tak berselang lama suara berat seseorang terdengar.
“Hoi penjaga!!”
Beberapa penjaga lalu mulai mendekat. Kepada orang yang saat ini menduduki kursi pemerintahan.
“Apa sesuatu terjadi dengannya?”
“Aaaa.. Setahu kami tidak. Kami mohon maaf.”
“Ya sudah.” ,berbalik menuju istana.
Beberapa pengawal menanyainya.
“Memangnya ada apa Tuan Zargam?”
“Ohh, tidak ada apa-apa.”
Selangkah kemudian dia percepat untuk menghindari para penjaga. Kemudian dia masuk ke istana dan seseorang langsung menghampirinya.
“Ada apa Tuan?”
“Oh kau, apa tadi puteri telah mengerjakan tugasnya?”
“Aku tidak tahu pasti, tapi dia sama sekali tidak menemuiku.”
“Jadi begitu, ya sudahlah.”
“Apa sesuatu terjadi?”
“Tidak, tenang saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Dia meninggalkan orang-orang itu dan menghindari keramaian.
Zargam terlihat duduk di sebuah kursi di ruangannya. Tampak sangat gelisah. Terlihat dari kerutan wajah di bagian dahinya. Dia selalu mengetuk ngetukkan satu jarinya di meja. Suasana menjadi hening beberapa saat, setelah dia menundukkan kepalanya. Kemudian, dia kembali dengan senyuman di wajahnya.
"Yaa.. Tidak ada apa apa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Sebuah senyuman yang tak biasa.
Dak dak dak
Kuda itu melaju cepat. Menjauh dari istana.
.
.
.
.
.
~~~
Part selanjutnya,
Tiba-tiba wanita tua itu bertanya padanya.
Belum sempat menjawab, seseorang meneriaki nya dari belakang.
“Woiii!! Ini milik mu? Kau pasti orang asing, darimana asal mu?”
“Kenapa kau tak menjawab, apa kau tuli?”
“Hahaha..”
Beberapa penjaga menemukan kuda nya.
“Bagaimana ini? Ayo berpikir.” pikirnya