Tap tap tap..
Dia berjalan pelan menyusuri jalan lembab itu. Beberapa tetes air terkadang jatuh mengenainya.
“Huh, dingin sekali disini.”
Terkadang Alucia juga mendengar kudanya meringkik. Dia selalu mencoba menenangkannya.
“Sudah kawan, tenang saja. Sebentar lagi kita sampai, hanya dibalik batu itu.”
Flashback
Teringat masa kecil nya saat bersama sang kakak. Saat itu mereka bersama orang tua mereka, sedang merayakan piknik kecil bersama.
Mereka tertawa dan saling bercerita.
Ketika malam datang, mereka menghabiskan malam bersama di sebuah rumah kecil sederhana.
Tempat pribadi dimana mereka bebeas selayaknya rakyat bisa. Setidaknya Sang Raja dapat mengistirahatkan pikiran nya sejenak. Mereka berkumpul penuh kebahagiaan dan keceriaan.
Flashback off
Tersenyum.
Berjalan perlahan menuju rumah tua yang tidak dia yakini masih atau tidakkah keberadaannya.
“Hei, tenang kawan. Kita harus menemukan rumah itu kalau ingin tahu yang sebenarnya, kurasa jawabannya mungkin ada disana. Atau setidaknya kita bisa beristirahat disana malam ini.”
Kuda itu nampak tak menyetujui keputusan nya. Karena dia semakin merengek.
Tiba-tiba terlihat sebuah rumah tua dihadapan mereka. Tapi nampak ada seseorang mengunjungi tempat itu.
Dari kejauhan dia selalu memperhatikan. Tidak lama setelah itu, tiba-tiba seseorang dengan jubah aneh muncul, keluar dari rumah tua itu.
“Tunggu sebentar, siapa itu? Seharusnya tidak mungkin ada orang disana kan?"
Dia terus memperhatikan sambil sesekali tak terasa dia mulai melongok ke depan. Mencoba mencari tahu wajah siapakah itu? Dia tak boleh lengah sedikitpun atau kesempatan itu akan lenyap. Orang aneh itu tampak hendak menyingkap jubah kusutnya. Namun ketika hal yang dinanti dan penuh keseriusan itu akan terjadi, tiba-tiba muncul beberapa orang dengan sebuah kereta kayu tua.
Orang-orang tersebut seketika langsung berlari menghampiri orang aneh itu dan berlutut.
“Kami sangat minta maaf karena terlambat.”
Sekilas dia melihat tanda kerajaan di pakaian orang-orang itu. Akhinya dia mengerti.
“Astaga, tidak mungkin. Mereka adalah pengawal kerajaan, tapi apa maksud semua ini? Adakah suatu pengkhianatan, lagi?”
Waktu tak membiarkannya lama berpikir.
Mereka bergerak pergi dari tempat itu.
“Seharusnya itu merupakan kesempatan ku untuk mengetahui siapa dia. Atau aku juga mungkin dapat menanyakan tentang semua ini padanya."
"Tunggu mungkin kah itu paman?
Apakah dia sadar?"
Tiba-tiba dia tersadar dari lamunannya, si kuda membangunkannya. Saat itu sinar matahari mulai meredup. Malam pun melanda tempat itu.
Mereka memasuki gubuk tua itu. Didalam nya dia tak menemukan apapun selain tumpukkan jerami.
"Ibu mungkin sudah mengososngi tempat ini."
Beberapa ruangan bagian atas terlihat lebih baik, lalu dia mencoba kesana. Beruntung masih ada kamar yang masih dapat dipakai, walaupun perlu sedikit perawatan. Setelah selesai berbenah, dia pun merebahkan tubuhnya. Seakan melepas semua kesal di benaknya. Kemudian mulai muncul beberapa pertanyaan di kepala nya.
“Dulu disini kita bahagia ya bu. Tapi sekarang tempat ini seperti gudang jerami. Aku sangat merindukan kalian.”
Katanya pelan. Sambil memegangi kalung pemberian ibunya.
Perlahan matanya terlelap.
Di pagi harinya. Lu harus segera terbangun dan meninggalkan tempat itu sebelun matahari benar-benar muncul.
Untuk menghindari kemungkinan munculnya orang asing di tempat ini lagi.
Dia berjalan sambil menuntun kudanya, tidak terasa mereka sampai di daerah pedesaan. Daerah diluar istana sangat berbeda, apa yang dilihatnya sangat berbeda dengan apa yang dia kira selama ini.
“Apa yang terjadi.....pada negeri ini. Kenapa aku tak pernah tahu keadaan rakyat ku.”
Dia mengambil nafas panjang.
“Apakah sekarang aku pantas disebut sebagai penerus kerajaan?”
Desahnya pelan.
Tiba-tiba, air mata nya mulai menetes.
“Kenapa mereka semua? Keterlaluan sekali. Aku sangat bodoh! Kenapa aku tak pernah tahu? Kenapa aku tak pernah sekalipun peduli pada mereka? Apa yang harus kulakukan sekarang?!!” kata nya dalam hati.
Dia mengelap air mata nya dan menurunkan jubahnya hingga menutupi wajah.
“Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.” kata nya dalam hati, sembari menutupi sebagian wajahnya dengan kain hitam.
Pantas jika dia sangat tertekan melihat semua nya. Apa yang dia lihat sangat mengerikan. Keadaan desa yang sangat parah, rusak dan kotor. Orang-orang terlihat sangat lemah dan kusut. Terkadang dia mendengar suara tangisan dari dalam rumah penduduk. Perlahan dia lewati rumah-rumah itu, jantung nya berdegub kencang.
Brukk! Seseorang wanita terjatuh dihadapannya, wanita tua. Melihat itu Lu segera berlari menolongnya.
“Anda tidak apa-apa?”
Secepat kilat dia memberesi sisa sisa air matanya.
“Iya terimakasih. Anda orang asing?”
“Umm... Aku hanya tidak sengaja lewat.”
Seketika matanya terbuka melihat wanita itu membawa sekeranjang roti. Menyadari hal itu, wanita tersebut menawarkan sepotong untuknya.
“Kau mau?”
“Ahh...tidak tidak usah.”
Ucapnya sambil menggeleng.
“Sudah ambil saja, karena hanya ini yang ku punya. Tapi setidaknya aku masih bisa berbagi.”
Memaksa Lu menerima roti itu.
“Anda baik sekali, terimakasih banyak.”
Dia tersenyum dibalik kain hitam yang menutupi sebagian wajahnya.
“Sama-sama, senang bisa membantu. Walaupun kami hidup susah tapi kami akan saling menjaga dan bersama-sama bertahan hidup. Kami selalu berharap akan datang keajaiban di negeri ini. Seperti saat Raja dan Ratu masih hidup.”
“Tentu saja.” tersenyum.
Namun didalam hatinya Lu sangat sedih mendengarnya, selama ini dia hidup dalam kemewahan. Tapi ternyata, rakyatnya menderita.
“Tunggu apa kau ini seorang gadis?”
Tiba-tiba wanita tua itu bertanya padanya.
Belum sempat menjawab, seseorang meneriaki nya dari belakang.
“Woiii!! Ini milik mu? Kau pasti orang asing, darimana asal mu?”
“Kenapa kau tak menjawab, apa kau tuli?”
“Hahaha..”
Beberapa penjaga menemukan kuda nya.
“Bagaimana ini? Ayo berpikir.” pikirnya.
“Ohh tuan-tuan, aku hanya pengelana yang tidak sengaja mampir.”
“Untung saja cadar ini menyamarkan suara ku.” ucapnya dalam hati.
“Jadi karena kau lewat, kami harus meminta pajak juga dari mu.”
“Apa yang kalian lakukan, dia hanya lah pengelana.” ucap wanita yang berdiri disamping nya.
“Hei kami itu kelaparan, kami harus mencari uang agar bisa makan. Benar teman-teman?”
“Ya!”
“Betul sekali.”
Mereka bicara seperti orang mabuk, atau lebih tepatnya seperti orang gila. Saat itu Lu sadar bahwa rakyat nya sangat miskin dan kelaparan.
“Kami juga kelaparan. Tapi kami tidak lancang seperti kalian!” ucap wanita itu lagi.
“Hahaha sudah lah, nanti kami akan membaginya pada mu. Kami ini penjaga kerajaan, jadi kami punya hak untuk...”
Lu mengayunkan satu kakinya.
Brukk! Penjaga itu jatuh dari kudanya dengan satu hantaman Lu. Seketika dia naik ke kudanya dan memacunya keras.
“Haa!!”
“Kenapa orang itu? Kejar dia!”
Terjadi aksi kejar-kejaran di sana. Namun Lu tak berpikir panjang, dia berhenti dan menarik busur nya.
Atraksi yang bagus. Mempercayai kudanya sementara dia memanah.
Beberapa anak penah melesat. Tak.mengenai mereka.
Namun prajurit itu membuat repot orang lain. Menabrak dan membentak.
Lu pun merasa geram.
Slatttss..
Melesat dan mengenai salah satu prajurit. Dia mati seketika.
Terjatuhnya salah satu prajurit membuat yang lainnya kacau. Hingga mereka kewalahan mengendalikan kudanya yang menjadi liar. Saat itulah dia pergi.
.
.
.
Di tempat yang lain.
Seorang prajurit berjalan dengan terburu-buru memasuki istana. Setelah itu dia langsung berlutut dihadapan orang yang dia cari.
“Tuan saya ingin melaporkan suatu hal yang penting.”
“Ya aku tahu itu memang kewajibanmu sebagai pemimpin prajurit-prajuritku. Jadi jangan bertele-tele.”
“Umm, ada orang asing terlihat di wilayah ini.”
“Lalu apa masalah nya.”
“Dia menimbulkan kekacauan, dan menyebabkan seorang penjaga tewas. Dan beberapa lainnya luka-luka.”
“Apa!! Bagaimana bisa, kau sudah menangkap nya?”
“Mereka kewalahan dan dia berhasil melarikan diri.”
“Payah kalian semua! Sekarang lakukan pencarian. Kalian harus mendapatkannya.”
“Baik.”
"Orang asing? Hehh.. Apa aku mungkin mengenalnnya."
Ucapnya dengan seringai.
.
.
.
Tibalah dia disebuah tempat yang sunyi.
“Ternyata masih ada tempat yang tenang di wilayah ini.” ucapnya pelan sembari merebahkan tubuhnya diatas rumput hijau.
Matanya memandang langit.
“Huh... bagaimana sekarang. Rakyatku ingin membunuh ku.” gumamnya, dengan nafas yang masih terengah-engah.
Kemudian dia teringat dengan roti yang dia terima tadi, dan juga wanita tua itu.
Flashback
“Sama-sama, senang bisa membantu. Walaupun kami hidup susah tapi kami akan saling menjaga dan bersama-sama bertahan hidup. Kami selalu berharap akan datang keajaiban di negeri ini. Seperti saat Raja dan Ratu masih hidup.”
Flashback off
Dia beranjak dari tidurnya. Matanya yang sedih memandang roti pemberian itu.
“Ahh sudahlah, lebih baik dimakan saja dulu.”
Menyadari perutnya lapar.
Lu tersenyum dan hendak melahapnya. Namun terhenti ketika kudanya sedang memandangnya dan terlihat lapar.
“Hehe kau mau?”
Malam hari pun datang menyelimuti negeri ini. Dingin nya hawa malam juga mulai terasa menembus ke tulang. Pelarian ini tak direncanakan, jadi dia tak membawa persediaan apapun tentunya.
Kembali ke istana? Hah mana mungkin.
Hatinya tak akan kuat menatap pamannya itu.
Namun disinilah ia merasa tenang. Tak terasa dingin nya udara mulai bersahabat, matanya pun mulai terpejam.
Ringkikan kuda telah membuyarkan mimpi indah nya.
“Heii kenapa? Oh, sudah pagi.” namun matanya masih menolak untuk terjaga.
“Nanti saja.”
Kudanya terus mengganggu tidurnya seakan menyuruhnya untuk bangun.
Tiba-tiba, krekkrekk...
Lu langsung tersadar dari tidurnya.
“Jadi karena itu kau mengangguku ya. Kenapa tidak bilang.” berbisik.
Dia merasa ada sesuatu yang aneh, ada seseorang bersembunyi disana. Perlahan dia mencoba mendekat, sembari memakai jubahnya dan menutupi sebagian wajah nya itu.
Dengan perlahan, semak-semak dia dekati.
Menggapai persenjataannya. Yang dia letakkan lumayan jauh darinya.
Ketika hendak bergerak.... Terlambat seseorang mendahuluinya dari arah berlawanan.
“Prajurit istana!”
Beberapa prajurit bersiap dengan senjata ditanggan mereka. Lu mundur beberapa langkah, lalu berlari dengan cepat ke tempat ia meletakkan busur dan panahnya.
Saat itulah dia terkepung. Terlihat pula beberapa pemanah memanjat pepohonan.
“Sial, panah ku.” mengingat panahnya yang masih tergeletak.
“Harus bagaimana. Huh, tenang ini mudah.”
“Kalian ingin menangkapku eh? Kalau begitu tangkap aku.”
“Dia meledek kita. Haaa!!” teriak salah seorang prajurit yang tiba-tiba menyerang dengan liar.
Beberapa prajurit ikut menyerang, untuk saat ini Lu masih mampu bertahan.
“Aku harus waspada terhadap para pemanah itu.” gumamnya seraya menangkis beberpa serangan.
“1..,2....,3 ,ada tiga pemanah. Mereka pasti tidak akan memanah temannya sendiri kan.”
Kemudian ia merampas sebuah pedang dan melemparkannya ke arah pemanah terdekat. Pedang itu tak mengenai nya, namun cukup untuk membuatnya terkejut dan melepaskan anak panah. Dua orang lainnya ikut melepaskan tembakan, mereka mengira itu perintah. Lalu seorang berteriak.
“Berhenti...berhenti ku bilang!!”
.
.
.
.
.
~~~
Part selanjutnya,
Apa! Kau sangat tidak sopan.”
“Tunggu sebentar. Nampaknya aku tahu dia itu siapa. Ohh, dia itu seorang tuan puteri kan. Yah maaf, setidaknya mantan tuan puteri yang dibuang.”
“Apa!?”
Bukk!