8

1844 Words
Dua orang lainnya ikut melepaskan tembakan, mereka mengira itu perintah. Lalu seorang berteriak. “Berhenti...berhenti ku bilang!!” “Ahh, paman Yon.” ucapnya dalam hati. “Kita tak diperintahkan untuk membunuh nya.” Ucap orang itu. “Kenapa tak membunuh ku?” matanya menatap ke arah prajurit itu. “Karena menangkapku itu hal yang tidak mudah.” sambungnya lagi. “Kau sombong, jadi ka...” ucapannya terpotong. “Kau pasti akan kalah!” Seru Lu. “Hah!” prajurit itu terdiam, setelah itu dia tersenyum kearahnya. Lu memanfaatkan situasi itu untuk melarikan diri. "Terimakasih paman." “Bagaimana Ketua Yon?” beberapa prajurit bertanya-tanya dan bingung. “Apa yang kami harus lakukan? Apa perintahmu ketua?” Namun orang itu hanya berdiri saja. Kemudian dia duduki salah satu cabang pohon, dan memandang langit. “Begitu ya.” . . . Dia menuntun kudanya perlahan, kemudian terhenti di sebuah tempat. Pelarian tadi membuatnya kelelahan. Terik matahari siang itu membuatnya haus pula. “Huh, aku kan belum pernah bertarung sungguhan.” Duduk dan beristirahat. Terdengar suara gemuruh dari perutnya. Barulah ia menyadari bahwa ia mungkin merasa lapar. “Teman apa kau lapar? Carilah rumput, tapi jangan terlalu jauh oke.” Sambil mengelus kuda nya, dan membiarkannya pergi. Tak lama setelah itu, suara gemuruh kembali terdengar dari perutnya. Tiba-tiba seseorang muncul dibelakangnya. Seketika dia menengok, dan dia langsung terkejut. Tak mempercayai apa yang dilihatnya, seseorang berdiri dengan menawarkan sepotong roti padanya. “Apa kau lapar, tuan puteri?” dia bertanya sambil disertai sebuah senyuman. Seketika Lu beranjak, memandangnya. Mulutnya menganga tanpa mengucap sepatah kata. Kemudian orang itu kembali bertanya padanya. “Ohh, jadi tuan puteri tidak suka makanan rendahan seperti ini.” Melirik dan tersenyum sombong. Setelah itu tersirat sebuah senyuman di wajah nya. “Kemana kau selama ini? Tapi aku senang kau disini.” Dia memeluk teman lamanya itu. “Sungguh Nami.” “Apa? Kemana? Seharusnya aku yang bertanya begitu Lu.” “Ya kau benar. Aku sangat minta maaf ya.” “Sudahlah sekarang aku disini bersama mu, kau memenuhi ucapan mu.” “Ucapan ku?”, katanya dalam hati. Tiba-tiba dia terbawa ke masa lalu. Saat itu... Flashback Melihat Lu yang baru datang ke tempat itu, Nami langsung berlari menemuinya. “Lu, kau datang?” “Iya aku kan sudah janji akan sering datang kemari. Kenapa? Kau merindukan ku ya?” “Kau ini, aku hanya merasa bahwa kita tidak akan bertemu untuk waktu yang lama.” “Kenapa? Apa sesuatu terjadi?” “Tidak, semuanya baik-baik saja.” “Kau yakin?” “Iya.” dia tersenyum. “Heii aku ingin menunjukkan sesuatu pada mu, temuan ku yang baru.” “Benarkah apa itu? Kau semakin pintar saja.” “Apa iya, hhehe. Aku melihat sejumlah dokumen tua, lalu menganalisisnya. Ada peta aneh, dan yang lainnya. Aku juga telah menciptakan berbagai alat yang mungkin berguna. Kurasa aku bisa mencocokkan nya, dan merasa seperti semuanya terhubung.” “Ahahaha, jangan jelaskan padaku Nami. Aku itu tidak sepandai dirimu.” Mereka lalu tertawa bersama seperti biasanya, saling bertukar pikiran dan perasaan. Setelah sekian lama mereka berteman dan tumbuh bersama, mereka menemukan kemampuan mereka masing-masing yang lama tersembunyi. Hari mulai sore, sang Ratu mengajak puterinya untuk kembali ke istana. “Nami, nanti aku akan kembali ya.” “Lu, apapun yang terjadi selalu kuatkan hati mu. Selalu ada jalan dibalik setiap masalah yang ada.” “Iya terimakasih ya, kenapa kau mengatakan seperti itu.” “Kita akan tumbuh dewasa, dan memiliki jalan masing-masing. Untuk dapat mampu menempuhnya kita harus yakin dan berusaha, dan juga serius. Itu akan memerlukan waktu.” Lu mendekat dan memegang tangan Nami, dan sebaliknya. “Aku akan selalu menjadi temanmu, dan kau adalah teman terbaik ku selamanya. Aku tak akan pernah melupakan mu, tak akan pernah. Aku berjanji.” Genggaman tangan itu terlepas, Lu pergi. Mereka saling memandang dan melempar senyuman, Nami percaya pada kata-kata Lu. Sejak saat itu, ternyata mereka benar-benar tak bertemu untuk waktu yang lama. Sang Ratu meninggal, dan Lu dijadikan penerus kerajaan. Kehidupan berubah, tak ada waktu untuk berkunjung. Baru kali ini, setelah sekian lama. Mereka dipertemukan. Flashback off Kembali ke saat-saat sebelumnya. “Lu, apa yang terjadi?” “Kau tahu, sejak ibu ku meninggal hidup ku sangat menyeramkan. Yah, aku memang bahagia bersama paman ku. Tapi dibalik itu semua ....” Tiba-tiba air matanya terjatuh dipangkuan temannya itu. “Lu, sekarang aku disini untuk mu. Ceritakanlah apa yang terjadi padaku.” “Nami, dibalik itu, semuanya adalah paman ku yang melakukannya.” “Apa maksud mu? Dibalik apa?” “Ayah ku, ibu ku, semua bencana itu adalah pamanku yang melakukannya.” “Apa? Tidak, tidak mungkin. Kau bicara ngawur ya? Bukannya paman mu yang merawat mu selama ini. Apa yang kau pikirkan? Itu kan ....” “Iya aku mengerti. Tapi aku melihatnya dengan mata kepala ku sendiri. Dan itu tak mungkin salah. Sejak saat itu, ketika aku terbayang akan paman ku, aku melihat bayangan hitam itu. Cincin itu. Aku takut Nami. Apa yang harus ku lakukan? Aku melarikan diri sejak hari itu.” Nami memeluk teman kecil nya itu. “Stt stt sudah Lu. Kita akan mencari jawabannya bersama oke.” Tiba-tiba seseorang datang dari balik semak. Dia membawa kuda milik Lu. “Apa yang kalian tangisi? Itu tak akan merubah apapun.” Seorang pria berambut cokelat. “Apa? Memangnya kau tahu apa?” Nami melonjak dari duduknya. “Aku ini mengerti banyak hal dari pada kalian.” “Heh, aku bahkan tak mengerti ucapanmu.” “Aku melalui pengalaman yang tidak pernah kalian bayangkan.” “Benar juga. Dasar orang tua.” Sifat Nami yg usil itu kembali. Lu diam diam tersenyum melihat kedua orang itu. “Aku hanya lebih tahu. Jadi berhentilah merengek.” Karena jengkel melihat pemuda yang sombong itu, Nami menantangnya. “Hey kau! Mau apa kau? Memang nya kau tahu apa? Kau tahu dia itu siapa? Heh!” “Ya aku memang tidak mengetahui segalanya. Tapi setidak nya aku lebih pintar menghadapi masalah ini daripada kalian.” “Apa! Kau sangat tidak sopan.” “Tunggu sebentar. Nampaknya aku tahu dia itu siapa. Ohh, dia itu seorang tuan puteri kan. Yah, setidaknya mantan tuan puteri yang dibuang.” “Apa!?” Bukk! Nami menghantam pemuda itu sampai dia terjatuh. Melihat itu Lu langsung berdiri menghampiri mereka. “Cukup, apa dia tak apa?” “Hah? Aku tak peduli. Menyebalkan.” “Jangan seperti itu.” Kemudian pemuda itu berdiri, cukup lama berbaring setelah merasakan pukulan Nami. “Emm, kau baik?” Tanya Lu. “Jangan bertanya padaku.” “Ya, jangan bertanya padanya.” Nami membalas. “Nami?” “Apa? Dia yang meminta kok.” Mereka berdua saling menatap, kemudian orang itu berdiri dan hendak pergi. “Sudahlah terserah kalian saja.” Sambil berjalan pergi. “Tunggu sebentar! Apa maksud nya dengan ‘masalah ini’?” tanya Lu. “Masalah?” berfikir. “Yang kau bilang tadi.” “Ohh itu, entahlah mugkin tidak seharusnya aku bicara begitu. Lupakan saja.” Ucapnya sembari melangkah pergi. “Apa maksudmu melupakannya. Jelaskan dulu padaku!” Nami kebingungan melihat mereka berdua, dia hanya berdiam diri mendengarkan. “Kenapa kau begitu ingin tahu? Bukankah selama ini kau tak pernah berbuat apa-apa.” “Kumohon.” “Emm, kenapa harus.” sambil berpaling. “Aku berjanji, setelah kau menjelaskan semuanya kau kubiarkan pergi. Dan aku akan memberikan hadiah besar padamu.” “Apalah guna semua itu. Dengan masih hidup saja aku sudah bersyukur.” “Ayolah tuan sombong, apa kau akan terus berpura-pura angkuh seperti itu pada puteri.” tersenyum. “Emmm, begini aku akan jelaskan. Singkatnya negeri ini sedang dilanda kekacauan, kemiskinan merajalela dan kematian dimana mana.” “Apa yang terjadi?” “Kau tak tahu apapun ya, apa kau tidak sadar negeri ini sangat kacau kondisinya hampir kritis. Kau tahu, setelah kau terpilih menjadi pewaris tahta kerajaan berbagai hal telah terjadi. Secara tidak sadar kami telah diserang dan dihancurkan. Tidak, lebih tepatnya setelah kematian Sang Raja.” “Bagaimana mungkin? Serang apa maksudnya?” Sekilas Lu teringat dengan serangan malam itu, saat kematian ayahnya. Terlihat makhluk aneh, berkuku tajam. “Berbagai permasalahan terus melanda kami dari penyakit aneh dan kejadian diluar logika. Beberapa orang tiba-tiba menghilang dan kadang kami menemukan beberapa mayat. Kami hampir saja ingin meninggalkan wilayah ini, namun sepertinya keadaan itu juga tidak diperbolehkan. Bahkan aku dan keluargaku juga terkena imbasnya, padahal kami tinggal di daerah kerajaan. Kau tidak mengenalku kan?” Lu hanya menggelengkan kepalanya, dengan raut penuh duka. “Ayahku adalah seorang pandai besi yang merupakan pembuat senjata kerajaan, ayahmu pasti mengenalnya dengan sangat baik.” “Aku sangat minta maaf. Dan apa yang terjadi?” “Malam itu ibuku menghilang. Setelah beberapa hari, hal tersebut ternyata membuat ayahku sangat frustasi, dia bekerja dengan tidak baik. Kemudian pihak kerajaan mendatanginya. Dan ketika aku tiba dirumah, kutemukan ayahku telah meninggal. Aku menduga itu perbuatan . . .” “Jangan kau beranggapan buruk, dia itu kan paman Lu.” Ucapan Nami memotong kalimatnya. “Entahlah Nami, aku rasa bahkan aku sudah tak percaya lagi pada paman ku.” “Kenapa begitu, apa yang terjadi?” Tanya pemuda itu. “Aku merasa bahwa paman ku...” Dia menghembuskan nafas berat. “Dia dan kematian ayahku ibuku, kurasa, huh.. Aku tak mengerti.” “Kau berburuk sangka pada paman mu sendiri heh?” tanya orang itu, sambil menyeringai. “Entahlah, tapi aku harus tahu apa yang terjadi dan yang jelas aku akan memperbaiki kesalahan yang telah ku perbuat” Melihat itu, Nami tersenyum. Dia tahu temannya itu sudah tegar kembali. “Jadi kita mulai dari mana?” tanya Nami, mencairkan suasana. “Kita??” “Tentu saja, aku akan selalu bersama mu Lu.” "Tidak. Aku tak mau membebanimu." "Hei kau tak bisa menolakku. Okayy?!" Ucapnya dengan wajah gak terbantahkan. “Baiklah. Terimakasih.” “Jadi begitu ya, huh kalau itu niat kalian aku sih tidak bisa tinggal diam. Aku akan membantu. Yahh mungkin kalian akan perlu tenaga lelaki kan.” “Huh kenapa kau harus ikut?” tanya Nami jengkel. “Memang nya kenapa, tidak boleh?” Mereka saling bertatapan dengan raut kesal, Lu tertawa melihat keduanya. “Baiklah baiklah, aku percaya kalian akan jadi rekan yang cocok.” “Apa!!?” ,bersamaan, sekali lagi mereka saling menatap lalu berpaling. “Hahaha! Oke kurasa kita perlu kereta atau semacamnya, kuda, dan..... nama?” “Ohh benar, namaku Transcot. Transcot Evendy. Kalian bisa memanggilku Trans” Ucapnya. Nami mendengus kesal. “Hehe, dan kau bisa memanggilku Lu.” “Kurasa aku punya kendaraan yang cocok, tapi itu ada di rumah ku. Dan sepertinya aku sudah bilang bahwa tempat tinggal ku berdekatan dengan kerajaan.” “Kita harus segera kesana. Kami berharap banyak padamu.” . . . . . ~~~ Part selanjutnya, “Ini tipuan. Hubungan kerja sama apa? Tidak ada perintah seperti itu.” “Tidak mungkin. Kejar mereka.” “Gawat kita ketahuan. Ayo cepat pergi!” “Astaga, bersiap lah” “Trans, jika kita tertangkap aku yang akan membunuh mu.” ucap Nami.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD