5

1529 Words
Beberapa hari setelah sepeninggal Sang Raja, seluruh kerajaan berkabung. Tidak hanya kerajaan, tapi seluruh wilayah dan semua orang yang mencintainya pun turut bersedih. Menyertai kepergian ayahnya, Alucia mulai mengerti kepedihan yang dimaksud oleh ayah nya. Apa yang mungkin menimpa seseorang yang memiliki kekuatan dan kedudukan. Flashback “Setiap muncul kekuatan besar, muncul pula tanggung jawab yang besar. Setiap datang segala kebahagiaan maka akan mengenal benci dan kepedihan, dan kesulitan pun akan segera datang melanda.” Saat itu mereka berada di ruang arsip, hanya mereka berdua, Alucia masih berumur 9 tahun. Dia belum mendapat pelatihan sepenuhnya, tapi ayahnya sering mengatakan kata-kata yang sulit ia pahami. Dan saat itulah, ia hanya akan mendengarkan. Flashback off . . . Untuk menghibur puterinya, pagi itu ratu membawanya ke luar istana. Mereka hendak pergi kesuatu tempat. “Ibu, kenapa kita berpakaian seperti ini?” Sambil menyingkap jubah yang menghalangi pandangannya. “Jangan dibuka sayang. Nah, kita berpakaian seperti ini agar tidak ada orang yang mengenali kita.” “Bukankah mereka rakyat biasa? Seharusnya mereka tidak akan tahu.” Tanya gadis kecil itu dengan polosnya. “Benar sekali, tapi terkadang ada orang yang sangat mengenali kita, dan kita tidak mengenalnya sama sekali. Bahkan kita tidak tahu kalau ada orang yang sangat-sangat memperhatikan kita.” “Benarkah itu ibu?” Dia tersenyum pada ibunya. Ratu hanya mengangguk menanggapi pertanyaan gadisnya itu. “Lalu akan kemana kita sekarang?” “Ke tempat dimana kau akan mendapatkan banyak teman.” Alucia melihat kearah ibunya dan tersenyum. Tak lama setelah itu mereka sampai. Dua orang yang berdiri disana bertanya kepada mereka. “Siapa Anda? Dan ada perlu apa Anda kemari?” Kemudian Sang Ratu menyingkap jubahnya. Dan kedua orang itu langsung kaget saat melihatnya. “Kami hanya ingin berkunjung.”, jawab ratu dengan senyuman. “Tentu saja, silahkan masuk.” Setelah di dalam nya, Alucia kaget dengan apa yang dilihatnya. Kenapa banyak sekali anak-anak? Seseorang lalu datang dan menyambut mereka. “Silahkan-silahkan, apa perlu Yang Mulia datang kemari?” “Kami hanya ingin bermain. Bukankah begitu sayang?” Sang Ratu menoleh ke arah puterinya. Alucia tersenyum. Beberapa anak lalu mengajak Alucia untuk bermain. Sementara Ratu akan melakukan suatu pertemuan dengan kepala pengasuh tempat itu. “Kami sangat terhormat, Ratu dan Puteri mau mengunjungi tempat ini.” “Kami juga sangat senang. Apalagi jika kami dapat ikut membantu.” Ratu mengeluarkan sebuah bungkusan dari balik jubahnya. Dan memberikannya pada orang itu. “Yang Mulia sangat dermawan sekali, tapi apa kami harus menerimanya?” Orang itu tampak bingung. “Tidak, Anda harus menerimanya. Maka kami akan sangat berterimakasih.” “Tentu saja, dan kami sangat berterimakasih. Sangat sangat berterimakasih.” “Saya juga berterimakasih, setidaknya sekarang Alucia bisa bersama anak-anak yang seumuran dengannya.” Ratu mengalihkan pandangannya ke arah puteri kecilnya yang sedang bermain. Dia tersenyum bahagia. Terlihat Alucia sangat senang bersama teman-teman barunya. Kemudian dia melihat seorang anak yang terlihat duduk sendirian. Dia mencoba menghampiri dan menyapanya pelan. “Hai..” “Halo. Oh!! Puteri?” “Kenapa kau sendiri disini? Kenapa tidak bersama teman-teman yang lain?” “Emm, mereka tidak mau bersamaku.” “Kenapa?” “Karena mereka menganggapku aneh.” “Kenapa kau bicara seperti itu? Memangnya kamu pernah mendengar mereka mengatakan seperti itu?” “Mmm tidak, tapi dari pandangan mereka, kurasa mereka mengataiku seperti itu.” Jawabny tertunduk. “Itu tidak benar. Mereka hanya enggan mengajakmu untuk bermain bersama karena kau terlihat suka menyendiri, dan mereka takut kalau kau mungkin akan menolak tawaran mereka.” “Begitu kah? Ku kira mereka semua mungkin membenci ku.” “Itu hanya pendapatmu, menurutku tidak. Sesungguhnya orang yang membencimu adalah orang yang selalu suka memperhatikan mu. Mereka sangat suka memperhatikan setiap kesalahan-kesalahan mu. Mereka sama saja orang yang sangat peduli padamu. Peduli pada setiap kesalahan-kesalahan mu.” Anak itu tersenyum. “Kau lucu puteri. Tapi kata-kata mu sangat meginspirasi sekali.” Gadis itu tertawa kecil. “Sebenarnya aku tidak terlalu mengerti kalimat itu kok. Itu adalah kata-kata dari ayahku.” Diapun tersenyum jahil. “Begitukah? ayah mu memang orang yang paling bijak di negeri ini.” “Itu benar, setidaknya sebelum dia meninggal.” Tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi penuh kesedihan. Melihat hal itu, dia mencoba menghiburnya. “Jangan bersedih, Puteri sangat beruntung. Daripada aku, aku malah sama sekali belum pernah bertemu dengan kedua orang tua ku.” “Kenapa begitu?” “Saat kecil, aku ditemukan di depan pintu tempat ini. Lalu pengasuh membawaku, dan merawatku sampai aku besar. Aku ingin ketika aku dewasa nanti, aku bisa mencari dan bertemu dengan kedua orang tua ku. Aku ingin bertanya, mengapa mereka meninggalkanku. Satu satunya yang mereka tinggalkan cuma sebuah nama saja.” jelasnya tanpa memperlihatkan kilasan wajah sedih sedikitpun. Mendengar ceritanya Puteri merasa iba, tapi dia suka dengan sifatnya yang tegar. "Itu hebat sekali. Keinginan mu sangat tulus dan penuh keyakinan. Aku tidak terlalu mengerti kata-kata ku ini, tapi yang jelas aku bisa merasakan kalau kamu sangat bersungguh-sungguh.” “Terimakasih.” Mata mereka bertemu, lalu mereka tertawa bersama. Setelahnya mereka beranjak dan bergandengan menuju kearah teman-teman yang lain. “Oh iya siapa nama mu?” “Nama ku Nami.” “Wah, nama yang imut sekali.” “Ah kau bisa saja puteri.” “Sudah, jangan memanggil ku begitu terus. Aku jadi tidak enak.” Mereka berjalan bersama, terlihat sangat akrab. Hari mulai menjelang sore, Sang Ratu berpamitan dengan semua pengasuh disana. Dan puteri pun harus segera kembali ke istana. “Hei, aku pulang dulu ya.” “Iya, tapi sering-seringlah datang kesini.” “Tentu saja, jika tidak aku akan sangat merindukan mu.” “Aku juga. Kamu telah mengubah hidup ku, kau tahu?” “Emm, sampai jumpa ya!!” Alucia berbalik dan melambaikan tangannya. Berlari menghampiri ibunya yang sudah menunggunya di samping pintu. Tapi sebelum itu, tiba-tiba dia berhenti dan menoleh. “Nami, tahukah kau? Kamu bukan gadis aneh seperti yang mereka katakan.” Senyuman terlukis diwajah mungilnya. “Kamu hanyalah terlalu pandai untuk anak-anak seumuran mereka!” Dia mengedipkan sebelah matanya. Lalu dia segera berlari. Terbesit senyuman di bibir Nami, melepas kepergian temannya. “Segeralah kembali, kau berjanji bahwa kita akan bertemu lagi, Lu.” Lirih teman baru sang puteri. Namile Lucaye. Beberapa hari setelahnya Lu kembali berkunjung. Tempat Alucia mendapat banyak teman. Dan dia dapat menemukan banyak pengalaman dan kenangan bersama ibunya. Kenangan yang mampu mengusir segala kepedihan yang selalu menyayat hati kecil nya itu. Kenangan bersama sang ayah tercinta. Kini kepedihan yang selalu menghantuinya perlahan mulai runtuh dan sirna. Tak peduli apa yang diperhatikan orang lain, atau pandangan orang kerajaan yang menganggapnya tak tahu maksud kata berkabung, tapi disinilah dia merasa bahagia. . . . Beberapa hari berlalu, kehidupan kerajaan sudah berjalan seperti biasanya. Namun hal tak diinginkan kembali terjadi. Malam yang sunyi. Insiden malam itu kembali terulang, dimana sang raja meninggal kan kerajaan. Malam itu, kegelapan kembali. Malam yang dipenuhi dengan kekuatan sihir jahat. Dia berlari mencari ibunya. Semua orang tampak sangat sibuk. “Ibu-ibu! Ada yang tahu dimana ibu?” Namun tak ada yang menghiraukannya. Setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Ahli sihir kerajaan pun mulai panik, berusaha untuk mengusir kekuatan hitam itu. Saat itulah dia pun menyadari dimana ibunya berada sekarang. Terus mencari, lalu teringat kata-kata ibunya. “Jika tak ada lagi tempat berlindung, keluarga lah tempat yang teraman.” Ya, disana. Tempat dia bersama ayah ibunya biasa berkumpul. Alucia berlari. Matanya menunjukkan perasaan khawatir. Dia sampai, dan memang disanalah ibunya berada. “Ibu?” Namun dia hanya terdiam, dan tak mau menoleh. Brukk Tiba-tiba ibunya terjatuh. Tampak seseorang berdiri di belakangnya. Pedang yang dipegang ibunya terjatuh, pedang yang berlumuran darah. Orang asing itu melesat pergi. Sang Ratu tergeletak. Gadis kecil itu merasa sangat kebingungan. Air mata mengalir melewati pipinya. Namun langkahnya pelan menghampiri seseorang yang penting dihidupnya itu. Terduduk. “Tidak tidak tidak, ibu?” ucapnya pelan terisak. Dengan pelan Ratu mengelus pipi putrinya. Seakan mengisyarakan untuk mengakhiri tangisnya. Lalu ditunjuknya sebuah rak buku. Gadis itu menangkap maksudnya. Dan tanpa kata apapun, sang Ratu menutup matanya. Dia tersenyum itu yang dilihat Lu. "Hikks..hikss.. Huaaa" tangisnya pun pecah. Semua orang disana hanya tertunduk dan menangis, tak ada yang dapat membantu siapapun disini. Kemudian seseorang datang. “Puteri!” Alucia menoleh, lalu dia langsung menangis dan berlari. “Kemarilah sayang ku.” Dia membuka lenganya, dan memeluk keponakannya itu. . . . Pagi harinya, saat pemakaman sang Ratu. Terlihat tak ada air mata lagi yang mampu menetes di pipi kecilnya. Kini sang ibu telah bersama ayahnya, dia tak perlu khawatir lagi. Dia menundukkan kepala dan berdoa. Mengingat malam itu. Saat semua orang sibuk berbenah dan menyiapkan pemakaman, dia menyelinap. Mencari apa yang ingin ibunya tunjukkan. Dia singkirkarkan buku-buku. Dan memanjat tangga. Namun belum bisa menumukan apapun. Memegang erat kalung penuh makna yang dipakainya itu. "Aku akan terus mencari dan mencari." Ucapnya dalam hati. Menguatkan hatinya dan penuh keyakinan. Kini dia tak perlu mengkhawatirkan yang lain. Hal yang perlu dikhawatirkan sekarang adalah dirinya sendiri, dan apa yang ditinggalkan oleh ayah dan ibunya, negeri ini. . . . . . ~~~ Part selanjutnya, "Ahh!" Kembali dia beranjak. Kali ini menuju ruang keluarga. Brakk Hoshh hoshh... "Ibu, ayah, tunjukkan padaku. tolong tunjukkan." Ucapnya sembari menyingkirkan tetesan air matanya. Sringg!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD