Gadis kecil itu beristirahat di bawah pohon besar. Matanya sayu karena mengatuk dan lelah.
"Hah, kenapa aku harus melakukan hal semacam ini. Aku bahkan sedikitpun tidak tertarik sama sekali pada dunia pemerintahan. Apalagi tentang senjata, itu sangat memuakkan. Tapi apa yang dilakukan ayah ini memang benar, aku harus berlatih untuk menjadi pandai seperti kakak. Aku tak boleh mengecewakan ayah dan ibu, sesungguhnya aku tak boleh mengecewakan negeri ini. Tidak boleh."
Gumam gadis itu.
Dalam saat yang melelahkan itu, dia teringat akan sosok sang kakak yang amat dia cintai. Sungguh beruntung memiliki kakak seperti Loc. Saat-saat mereka tertawa bersama.
Flashback
"Alucia!!"
"Kakak!?"
"Hahaha, ayo kejar aku kalau bisa dasar cengeng."
"Kakak jahat sekali, aku kan tidak cengeng."
Saat itu dia berusia 5 tahun.
Dia juga teringat saat melihat kakak nya, walaupun berumur belasan tahun tapi dia terlihat sangat tampan dan penuh wibawa. Memegang pedang seakan tak tergoyahkan.
"Pangeran Loc, ayo hadapi saya."
"Tentu pengawal, berhati-hati lah!"
Senyum terpancar diwajahnya, dia sangat percaya diri. Percaya pada kemampuan yang dia miliki.
"Bersiap!"
"Hiaaa!!"
Cling-cling-cling-cling-cling!!
Flashback off
Kakak nya amat hebat dalam memainkan pedang. Kemampuannya dalam mengayunkan pedang kesayangannya itu sangat tak di ragukan lagi, seakan tak ada yang mampu menandingi.
Pedang baja yang dia pegang saat itu sekarang apa? Setelah dia tak ada, itu hanyalah baja kosong penuh karat dan debu.
Sekarang yang harus dilakukan nya adalah berusaha dan bekerja keras. Dia tak mau mengecewakan orang lain, seperti kakak nya.
.
.
.
.
.
~~~
Part selanjutnya,
Mereka tiba di balkon istana, lalu Zargam menunjuk ke arah tempat yang jauh.
Sesuatu mulai terlihat.
“Lihatlah, jelas sekali itu ilmu sihir.”
“Itu sihir kan? Bagaimana menurutmu?”
“Kurasa sangat kuat dan mungkin akan sangat berbahaya.”