Langkah kaki Alena menuruni tangga terasa berat, setiap anak tangga seolah membisikkan kenangan yang baru saja ia tinggalkan—kamar Darren. Aroma kopi dan kehangatan napasnya masih membekas di kulit Alena, membuat dadanya sesak. Ia menghela napas pelan, menepuk pipinya sendiri agar sadar. Sekarang bukan waktunya untuk tenggelam dalam kenangan. Begitu melewati ruang tamu, aroma roti panggang dan kopi hitam menyambutnya hangat. Namun, langkahnya terhenti di ambang ruang makan. Keandre sudah duduk di kursi, mengenakan kaus putih dan celana abu-abu. Rambutnya yang sedikit berantakan justru membuat wajahnya terlihat segar. Tatapannya langsung tertuju padanya—datar, tajam, dan terlalu tenang untuk ukuran pagi hari. “Pagi,” sapa Alena cepat, berusaha menyembunyikan kegugupannya dengan senyum

