Bab 10. Kejahatan Paripurna

1617 Words
"U ... Ustaz," aku tertegun melihat lelaki berpakaian jubah panjang ke bawah dan memakai kopiah, kini berdiri di depan pintu wisma. Seraya tersenyum sembari menangkupkan tangan di depan d**a. "Asalamualaikum ya, Ukhti," ucapnya tersenyum "Waalaikumsalam," jawabku. "Namaku, Adam. Aku adalah teman Ustaz Rahman, sewaktu di pesantren," lanjutnya memperkenalkan diri. Sejenak aku tertegun dengan tutur kalimat yang diucapkan. Bersahaja dan berwibawa, wajahnya juga tampan mirip dengan bangsa Arab, tinggi besar. "Ada apa gerangan, Ustaz datang berkunjung? Maaf, kalau Saya lancang bertanya," tuturku sopan. Pandanganku seketika menunduk kebawah. "Kedatanganku kemari untuk bersiraturrahmi, karena kita satu tim sesama dari Medan," ucapnya secara gamblang. "Maaf, Ustaz. Tapi, Ustaz Rahman ada di kamar sebelah," tujukku pada kamar di sebelah kanan. "Iya, aku tahu kalau Ustaz Rahman di kamar sebelah. Tadi sudah ngobrol dengannya duluan. "Ooh," jawabku mengangguk. "Maaf, Ukhti. Jika kedatanganku membuatmu tidak nyaman. Aku cuma ingin mengantarkan ini, saja buat Ukhti dan anak-anak," Ustaz Adam menyerahkan sebuah bungkusan kepadaku "Apa ini, Ustaz?" tanyaku kemudian "Ini, adalah makanan khas kota Jakarta kerak telor. Aku membelinya tadi, yang ada di seberang wisma ini." "Maaf, Ustaz. Bukan bermaksud menolak rezeki. Tapi ...." aku menjeda ucapan sebentar. Seolah tahu apa yang di pikirkan olehku pria bertubuh tinggi besar itu pun tersenyum dengan ramah. Barisan giginya terlihat rapi dan putih. "Jangan salah sangka dulu, Ukhti. Ini adalah makanan halal, sengaja aku berikan karena Ukhti adalah sahabat Ustaz Rahman. Bukan ada maksud tertentu. Ustaz Rahman tadi juga sudah aku berikan," jelasnya dengan senyum ramah. "Maaf, kan saya, Ustaz. Sudah berburuk sangka padamu." "Aku mengerti, di kota Jakarta besar seperti ini, wajar kalau kamu waspada." "Terima kasih, Ustaz. Sudah merepotkan," ucapku kemudian. Kuterima bungkusan kantong pelastik putih yang transfaran, dari tangan Ustaz Adam. "Kalau begitu aku permisi, Ukhti," ucapnya. Seraya tersenyum sembari pamit. "Asalamualaikum." "Waalaikumsalam," jawabku pelan. Satu menit kemudian, Ustaz Adam sudah berlalu dari hadapanku. Aku menutup pintu kamar, kembali beristirahat sembari menyandarkan tubuhku di atas ranjang. Saat badanku bersandar di tepi ranjang, Habib datang menghampiriku "Bunda, apa itu?" tanya Habib kemudian. "Kerak telor, Nak," sahutku. "Siapa yang memberikan, Bun?" tanyanya lagi. "Tadi ada yang datang, katanya teman Ustaz Rahman, namanya Ustaz Adam. Ustaz Adam memberikan ini pada kita. Dia membelinya dari depan wisma yang ada di seberang sana," jelasku. "Boleh Habib makan, Bunda?" tanyanya dengan ragu. Aku mengangguk kecil. "Boleh, Nak." Tanpa rasa curiga sedikit pun aku membiarkan Habib makan. Dengan lahapnya menikmati kerak telor pemberian Ustaz Adam. Habib menghabiskan semua makanan itu sendiri tanpa sisa. "Enak, Bun. Bunda mau?" tawarnya sembari mengunyah makanan yang penuh dalam mulutnya. Aku menggeleng pelan. "Tidak, Nak. Buatmu saja." Makanan kerak telor itu pun habis. Tanpa sisa dimakan Habib. Hatiku terasa haru melihat Habib. Makan begitu lahapnya. Maklum baru kali ini, makanan itu dirasakan. Bagi kami makanan enak adalah barang mewah. Sehari-hari kehidupanku serba kekurangan. Bahkan, untuk membeli jajanan yang seharga dua puluh ribuan pun, tidak bisa aku penuhi. Padahal, anak seusia Nara dan Habib masih membutuhkan makanan, yang bernutrisi dan bergizi. Apalah dayaku, kemiskinan dan ketidak berdayaan. Membuat hidup kami dirundung serba kekurangan. *** Jam dinding menunjukkan waktu pukul tujuh malam. Pertama kalinya, aku bermalam di kota Jakarta. Untuk fasilitas bagi peserta lomba di sediakan panitia setempat. Makanan juga mereka atur dengan detail. Setiap peserta dibawakan makan ke dalam kamar, agar tidak mengantri di dapur umum. Malam ini, petugas yang membagikan makan datang mengantar ke kamar. Aku dan Habib menikmati makan malam dengan nikmat. Meski dengan lauk yang sederhana. "Bunda, ayo kita makan!" ajak Habib. "Ayo, Nak," jawabku. Kotak sterofoam kubuka dan terhidang dengan rapi di hadapan kami bertiga. Telur bulat sambal balado, dan sayur kacang panjang adalah menu makan malam yang kami nikmati. Baru saja aku hendak menyuapkan makanan ke mulut Nara. Tiba-tiba pintu diketuk dan terdengar ucapan salam. "Assalamualaikum," ucap salam dari arah luar. "Waalaikumsalam," jawabku. Kuletakkan sterofoam kembali di atas meja. Segera kubuka pintu dengan beringsut dari tempat duduk. Ustaz Rahman sudah berdiri di ambang pintu wisma. Dengan memakai jubah panjang dan kopiah di kepalanya. "Ustaz ... ada apa berkunjung kemari?" tanyaku kemudian. "Aku cuma mau mengantarkan ini buat kalian," sebuah sterofoam di berikan Ustaz Rahman. Aku tidak tahu apa isi dari kotak makanan itu. "Terimalah!" "Apa ini, Ustaz?" tanyaku lagi. "Ini jatah makan malamku, Ay." "Lho, kenapa, Ustaz berikan padaku? Memangnya, Ustaz Rahman tidak makan?" tanyaku bertubi-tubi. Ustaz Rahman hanya tersenyum menanggapi pertanyaanku. Senyum yang berkarismatik selalu digandrungi tiap wanita. Begitu memesona bila berdekatan dengannya. "Kebetulan tadi dapat jatah dua, Ay. Perutku tidak sanggup bila harus mengabiskan makanan sebanyak ini," jelasnya. Ustaz Rahman, lalu memberikan sterofoam yang dia pegang tadi kepadaku. "Ini buat Habib dan Nara," tukasnya. "Bila sudah selesai makan malam keluarlah ke aula, kita akan mengadakan salat isya berjamaah beserta para peserta lain." Aku mengangguk mengiyakan ucapan Ustaz Rahman. "Baik, Ustaz." Ustaz Rahman kemudian menjauh, lalu pergi menuju aula yang di maksud tadi. Kulanjutkan makan malam bertiga bersama ke dua buah hatiku kembali, yang sempat terjeda. Menikmati makan malam bersama sudah menjadi kebiasaan bagi keluarga kecilku. Sesuai dengan arahan Ustaz Rahman kubawa kedua anakku menuju aula, untuk melaksanakan salat bareng berjamaah. Di wisma ini hanya tempat penampungan sementara para peserta. Jadi, tidak di sediakan musala untuk para peserta lomba. "Asalamualaikum," sapa Ustaz Iman dari arah samping kiriku. "Waalaikumsalam, Ustaz," jawabku. Kupalingkan wajahku menghadapnya. Ustaz Iman terlihat memakai jubah warna putih dan membawa sorban, di pundaknya. "Mau salat isya berjamaah juga, Habib?" tanya Ustaz Iman menghampiri Habib. Habib tersenyum menanggapi ucapan Ustaz Iman "Iya, Ustaz. Tadi Ustaz Rahman meminta kami berkumpul di sini," sahut Habib. "Kalau begitu mari kita menuju aula sama-sama," tukasnya kemudian. Kami mengikuti Ustaz Iman yang terlebih dahulu berjalan menuju aula. Di aula sudah berkumpul ramai para peserta. Para pendamping juga hadir di sana untuk melaksanakan salat isya berjama'ah. *** Pagi pukul empat aku terbangun, karena mendengar suara rintihan Habib. Kusentuh keningnya dengan punggung tanganku. Badan Habib terasa panas sekali. Dia juga mengigau tak karuan memanggil Mas Anan dengan racau. "Astagfirullahalazim, Habib. Badan kamu panas, Nak," ucapku seketika. Beberapa kali Habib terdengar menyebut-nyebut nama Mas Anan. "Ayah ... jangan tinggalin kami! Ayah, kami merindukanmu," racau Habib. Seketika aku panik tidak tahu harus berbuat apa di pagi buta seperti ini. Membangunkan Ustaz Rahman enggan kulakukan. Mengingat waktu masih pukul empat pagi dini hari. "Habib," kupanggil namanya tapi tidak ada respon. "Habib, Nak, bangun, Nak!" Habib masih saja meracau memanggil nama Mas Anan. "Bunda, Ayah mau pergi ninggalin kita," lirihnya. Segera kucari sapu tangan untuk. Mengompres keningnya. Aku berlari keluar untuk mengambil air dari dapur umum, dan meminjam wadah untuk tempat air buat mengompres Habib. Buru-buru aku bergegas menuju dapur umum meminjam mangkuk dan meminta air buat mengompres Habib. Di dalam dapur umum ada penjaga seorang ibu separuh baya. "Asalamualaikum, Bu," ucapku memberi salam. Kuberanikan diri untuk masuk ke dalam dan meminjam sebuah mangkuk. "Waalaikumsalam, Nak. Ada perlu apa, Nak?" tanyanya kemudian. "Boleh aku pinjam mangkuk, Bu? Aku juga meminta air sedikit buat mengompres anakku yang lagi sakit," lanjutku. "Anak kamu sakit apa?" "Demam, Bu." "Tunggu sebentar akan Ibu ambilkan." Dua menit kemudian, ibu separuh baya tersebut membawa mangkuk yang berisi air dan memberikannya padaku. "Ini, Nak," seraya memberikan mangkuk berisi air kepadaku. "Terima kasih, Bu," ucapku. "Permisi, assalamu'alaikum." "Waalaikumsalam, semoga cepat sembuh, Nak," ucap Ibu tadi. "Makasih doanya, Bu," tukasku sembari melangkah menuju ke kamar. Pagi harinya badan Habib masih panas, dia juga muntah-muntah hingga menyebabkan kondisinya lemah. Waktu perlombaan sudah hampir di mulai, pada pukul delapan waktu setempat. Aku panik tidak tahu harus berbuat apa dengan kondisi Habib yang makin memburuk. Di tengah kepanikkanku Ustaz Rahman datang. "Habib, sudah siap untuk perlombaan?" tanyanya kemudian. Ustaz Rahman menghampiriku dan Habib. Dia terkejut melihat kondisi Habib yang melemah, bibirnya kering kebiruan, matanya merah dan demamnya tinggi. "Ustaz, badan Habib panas," kataku panik. "Bagaimana ini, Ustaz? Sebentar lagi perlombaan akan segera di mulai." "Ay, sejak kapan, Habib mulai demam?" tanyanya gusar. Aku menggeleng-geleng, tidak tahu sejak kapan Habib mulai demam. "Entahlah, Ustaz. Sejak jam empat pagi terbangun, keadaannya sudah begini," jawabku panik. Habib terus saja muntah-muntah hingga membuat tenaganya habis. Wajahnya pun, kian memucat. "Sepertinya, Habib mengalami keracunan makanan, Ay," ucapan Ustaz Rahman sontak mengagetkanku. Seingatku aku tidak memberinya makanan sembarangan sejak pertama kali datang ke wisma. "Tapi aku tidak memberinya apa pun, Ustaz. Sejak awal datang aku hanya memberinya makanan dari jatah panitia penyelenggara." Ustaz Rahman segera bertindak membawa Habib ke rumah sakit terdekat. "Sebaiknya kita bawa segera Habib ke rumah sakit, Ay." "Iy, iya, Ustaz," jawabku gugup. Dengan sergap Ustaz Rahman mengendong tubuh Habib yang lemah, dan membawanya ke rumah sakit. Ustaz Rahman meminjam mobil salah satu dewan juri untuk membawa Habib, ke rumah sakit. Dewan juri yang dikenal, memberinya pinjaman mobil, lalu mengemudikannya. Saat membawa Habib ke rumah sakit kami berpapasan dengan Ustaz Iman. "Ustaz Rahman, Ayi, kenapa dengan Habib?" tanyanya heran. Tubuh Habib yang pucat ada dalam gendongan Ustaz Rahman. "Habib sakit, Ustaz. Kami akan membawanya ke rumah sakit," ucap Ustaz Rahman menerangkan. "Sakit? Sakit apa?" tanyanya lagi. "Sepertinya, Habib keracunan makanan, Ustaz," potongku. "Apa? Keracunan? Bagaimana ini terjadi, Ustaz?" tanya Ustaz Iman kaget. "Entahlah, Ustaz. Aku juga tidak tahu, kejadiannya begitu mendadak," sahutku. "Ustaz Iman, katakan pada dewan juri agar menunda, Habib untuk ikut perlombaan," titah Ustaz Rahman. "Baik, Ustaz Rahman. Akan dikonfirmasi, tapi aku hanya bisa membantu menunda beberapa jam saja. Selanjutnya jika, Habib tidak datang maka akan di anggap gugur oleh juri," jelas Ustaz Iman. "Baiklah, Ustaz . Secepatnya kami akan membawa Habib kembali," ucap Ustaz Rahman kemudian. Mobil pun segera meninggalkan wisma menuju rumah sakit terdekat. *** Bersambung. Akankah Habib bisa mengikuti lomba MTQ? Jawaban ada di part berikutnya. Nantikan episode selanjutnya tantangan Ayi dalam menyelamatkan Habib di tengah krisis keuangan. Siapakah yang akhirnya akan menyelamatkan Habib? Tunggu ya guys harus di gantung dulu. Jangan lupa like dan komen kasih tanda love buat author sebagai penyemanga
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD