“Kau benar-benar perusuh! Bila rencana ini gagal, kupastikan kau yang akan menanggung segalanya.”
Andrei Valdo meresponnya biasa-biasa saja. Ia tahu, laki-laki di pinggir kolam tersebut terlampau menggantungkan diri padanya, sejak pertama kali mereka menjalin bisnis haram. “Kau selalu membutuhkan permainan yang berbeda, orang-orang yang berbeda, kecuali aku! Aku telanjur hafal semua, apapun mengenai dirimu dan strategi bisnismu, termasuk caramu mempermainkan orang lain. Kau tega menghancurkan hidup orang lain hanya demi kesenangan, Dasar Psikopat! Meskipun kau adalah bosku, bukan berarti aku rela diperlakukan sama seperti korban-korbanmu. Bila kau ingin menghabisiku, itu hakmu. Aku tak terlalu khawatir.” Ia mulai naik ke tepi. Hilang sudah seleranya untuk bermalas-malasan sambil mengambang di atas air. Bila tidak segera pergi, ia takut bosnya akan berubah pikiran. Ia tahu persis watak orang itu. Tipe pembunuh yang lebih suka pisau daripada senjata api. Kata-katanya hanya sekadar di mulut saja. Sesungguhnya, ia sangat takut.
“Bola matamu bicara lain.”
Andrei menelan ludah. “Memangnya kenapa?”
“Artinya kau menutupi perasaanmu. Kau takut padaku. Aku yang mengangkatmu dari jalanan, kau tahu persis bagaimana rasanya seseorang mati perlahan karena kehilangan organ dalam. Jangan sampai aku terpaksa menjual ginjalmu yang busuk ke pasar gelap, Andrei! Ingat itu!”
“Sebenarnya … aku cuma bercanda tadi.” Andrei tersenyum perih. Seringainya menyatakan bahwa ia pura-pura menyesal, antara menjadi pengecut atau pemberani. Pria di depannya itu tidak suka main-main soal rencana agar permainan tetap berjalan. Juga tidak pernah mengizinkan seorang pun coba-coba melewati batas kekuasaannya. “Baiklah, sekarang aku mendengarmu. Apalagi yang kau inginkan?”
“Trevor sudah pada tahap selanjutnya. Sesuai perkiraanku, ia akan mencoba bertahan di penjara.”
“Lalu, apa masalahnya? Bukankah itu bagus? Merekrut orang yang tahan banting?” Andrei sedikit merinding kala melihat bosnya itu menatap lurus ke arahnya tanpa berkedip sedikit pun. Tampak berpikir dan terjebak di dunia lain, mendengarkan bisikan iblis di telinga.
“Siapkan saja orangmu di sana. Kita tidak akan mempermudah kehidupan baru Tre selama mendekam di penjara. Buat dia lupa pada istrinya.” jawab pria berkepribadian ganda itu sesudah ‘meditasi’ singkatnya.
“Haruskah sejauh itu? Menurutku, dia akan menurut selama kita terus menggunakan Vanessa sebagai jaminannya.”
“Tre bukan pria dungu. Dia akan belajar memahami keadaan dan mengingat wajah kalian satu persatu. Dia merekamnya cukup baik. Itu sebabnya aku tidak akan muncul secara terang-terangan di depannya. Sebaliknya, kau, Chuck, hakim persidangan, para juri, pengacara, jaksa, orang yang memancingnya di mini market, dan semua yang pernah menyeretnya akan merasakan akibatnya.” Berjalan menghampiri Andrei, menepuk bahunya dan berbisik, “Kalian sebaiknya berhati-hati, sebab lain kali, dia tidak hanya merobek mulut besarmu itu.” Lantas pergi meninggalkan anak buahnya itu yang duduk termangu sambil menyentuh ujung bibir yang masih terasa perih. Takkan terlupa bagaimana serangan ‘hantu’ itu tiba-tiba mendarat begitu saja. Tre mampu melukainya tanpa terlihat, gerakannya begitu cepat.
Dan sedikit embusan ketakutan itu sangat berpengaruh bagi Andrei. Menjadi bagian dari pion-pion dalam permainan bosnya, tentu menuntut dirinya untuk memiliki posisi yang terkuat. Dalam catur, dia harus raja. Ia tidak mau bila suatu saat seorang Trevor Jordan yang bukan apa-apa tiba-tiba datang mencabut nyawanya. Membalas dendam padanya. Andrei bukan jenis orang yang menyepelekan kemungkinan terkecil sekalipun. Dia selalu waspada, dan masuk akal, apabila Tre dapat menjadi lebih kuat mengingat riwayat kariernya di Angkatan Laut.
Malam hari, ia meminta Chuck mengirimkan berkas Trevor. Di hotel tempatnya menginap, ia membuka laptop dan mempelajari kehidupan pria pekerja proyek tersebut. Masa lalu yang suram mengakibatkan Tre dipecat tidak terhormat di Angkatan Laut. Ia sudah tahu bagian itu. Namun apa saja penyebabnya, akan menekuk wajah siapa saja yang membaca profilnya. Tre, bukan orang sembarangan.
Andrei sampai harus mengelap keringatnya yang tiba-tiba bermunculan dan mulai menetes, padahal ruangan itu berpendingin. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Salah satu pengawal pribadinya membukanya setelah mengintip dari lubang pintu. Ternyata seorang wanita yang sangat ia kenal. Helena Webster.
Wanita keturunan Inggris, berlogat kental Wales, lengkap dengan sopan santunnya yang menipu. Berbusana formal dengan rok selutut dan blazer, juga sepatu stiletto yang membentuk betis indahnya, pasti akan memancing pria manapun untuk berkhayal. Tetapi lain dengan Andrei. Ia sudah jera mengajak bermesra wanita yang berisiko tinggi macam dia.
Helena lantas menyapa. “Selamat malam, Sayang, apa yang kau kerjakan?” Dilemparnya tas kecil ke tempat tidur, mendekati Andrei yang duduk tak jauh dari situ, memeluknya erat dari belakang.
“Kau tak berniat membunuhku ‘kan?” tanya Andrei tanpa basa-basi.
Helena tergelak mendengar pertanyaan menggelikan itu. Kemudian turut mengamati layar laptop. “Hm, tampan. Siapa dia?” tanyanya, telunjuknya mengarah pada wajah Trevor Jordan di layar. “Trevor Jordan?” Dibacanya nama yang tertera di sana.
“Bukan urusanmu. Kau boleh menemaniku, tapi jangan banyak tanya apalagi mencampuri urusanku!” hardik Andrei pedas.
“Sejak kapan kau mempelajari musuhmu, Andrei? Kau punya semua aset yang kau butuhkan. Jika dia mengganggumu, kau tak pernah berpikir dua kali untuk memberinya pelajaran,” tutur wanita itu seolah Andrei masih bocah.
“Baca, dan cermati bila kau cerdas. Kurasa, Bos memilih orang yang salah. Buat apa menunjuk Tre sebagai kambing hitam? Hukuman enam tahun penjara tergolong singkat, dia akan memburu semua orang.”
“Dan kau takut?” Helena semakin membuat Andrei tidak nyaman dengan pertanyaan langsung seperti itu.
“Untuk menghindari itu, aku harus melakukan sesuatu. Sebuah kesempatan yang jauh lebih menarik daripada menghabisinya secara langsung.”
“Benarkah? Jangan terlalu pelit membagi rencanamu. Mulutku akan tetap terkunci.” Helena mempraktekkan gaya mengunci mulut sehingga cukup untuk membuat perasaan Andrei mulai terusik.
“Katakan sesuatu.” Andrei memutar kursinya sehingga mereka pun berhadapan.
“Apa?”
“Apakah Bos yang menyuruhmu datang untuk memata-mataiku?”
“Kau menuduhku?”
“Siapapun tahu siapa dirimu. Kau rela pura-pura buta demi mencapai tujuanmu. Sesungguhnya, kau tertarik dengan Tre karena dia lain dari biasanya. Katakan, apa tugasmu? Kau sudah tahu siapa Tre sesungguhnya ‘kan?” selidik Andrei mulai bersikap dingin.
Wanita itu sama sekali tidak merasa tersudut. Sebaliknya, timbul rasa percaya diri yang tinggi perihal Tre yang tidak disadari Andrei. “Aku akan menghabisi istrinya.” Akhirnya, Helena mengaku. Ia tidak bisa berpura-pura lagi demi mendapatkan informasi tentang Tre.
Andrei berpura tidak terkejut dan menghindari tatapan wanita itu. Melibatkan Helena adalah suatu kesalahan besar! Buat apa mengganggu istri Trevor itu? Bukankah masih banyak pria lain yang akan bertekuk lutut di depannya?
“Oh, selamat kalau begitu. Kau akan masuk dalam daftar Tre. Bila kau membunuh Vanessa, akan ada celah lebar yang menghalangimu mendekati Tre. Tre sangat mencintai istrinya.”
Sepertinya, Helena justru semakin tertantang. “Tidak masalah. Kita lihat saja bagaimana akhirnya, jika Tre memang sehebat yang kau katakan.” Usai mengatakan itu, ia pun pergi.
Sedangkan Andrei masih tak habis pikir, bagaimana otak Helena rela bersusah payah demi petualangan bersama pria yang memicu adrenalin. Mungkin menantang dan mengasyikkan bagi sebagian kecil orang, akan tetapi bisa menjadi bumerang yang mematikan. Namun ia enggan meyakinkan Helena bahwa tindakannya salah bila hanya demi seorang pria. Biarkanlah, waktu dan peluang kecil tak terlihat yang akan menyingkirkan wanita ambisius itu. Dengan demikian, pesaingnya pun akan berkurang.
Ya, benar. Batinnya.
Sesuai jadwal, angkutan calon penghuni Penjara Federal Low Beaumont akan segera tiba petang ini. Hanya Tre yang dijemput menggunakan mobil khusus. Pagar pun terbuka dan pengawalan polisi sedemikian ketat mengantar dua belas narapidana di dalam bus, masuk ke halaman. Satu persatu pesakitan tersebut keluar dan turun dari bus. Serah terima dokumen pun dilakukan.
Tak berapa lama, semua mata memandang ke arah pintu gerbang yang belum tertutup. Mobil hitam menyeruak masuk dan mengeluarkan beberapa polisi yang menjaga ketat seseorang. Narapidana yang dianggap paling berbahaya. Trevor Jordan.
Akibat perlakuan yang berbeda itu, Tre segera menjadi pusat perhatian. Akan tetapi, di dalam hati, Tre merasa geli sendiri. Pada dasarnya, mereka cuma mencemaskan seorang pekerja proyek yang tidak melakukan tindakan kriminal apapun. Betapa pintar sandiwara yang diciptakan agar citra penjahat besar melekat pada diri Tre. Siapapun pria misterius itu, otaknya sangat cerdas! Mungkin setelah ini, dia masih menyiapkan kejutan lain untuknya. Kejutan yang tidak menyenangkan.
Tatapan para napi lain masih lekat padanya apabila petugas lapas tidak segera memerintahkan mereka untuk segera memasuki bangunan di depan mereka dengan kawalan yang tidak kalah ketat. Sepertinya mereka kurang menyukai jagoan. Masing-masing akan menggunakan trik yang berbeda agar tetap waras saat keluar nanti.
“Hei, aku sepertinya mengenalmu.” sapa seorang napi yang berada tepat di belakang Trevor. Mereka dibariskan teratur untuk kelengkapan foto dan data.
Jawab Tre, “Kau pasti salah orang, maaf.”
“Tidak, kita memang pernah bertemu.” Laki-laki berperawakan seperti pemabuk itu tetap memaksa.
Tre memutuskan mengalah agar percakapan cepat berakhir. “Baiklah. Di mana?”
“Kalau tidak salah … di toilet. Saat itu aku sedang duduk dan kau berada tepat di bawahku, HA HA HA HA!!” Napi menyebalkan itu tertawa bersama napi lain di belakangnya. Mereka tampak senang mempermainkan Tre.
Tre tidak membalas. Situasi masih terkendali dan ia tidak mau terpancing banyolan konyol yang keluar dari mulut manusia tak beradab. Ia memilih diam dan terus menunggu gilirannya untuk menghadap petugas pendataan.
“Trevor Jordan alias Tre. Masuk!”
Akhirnya. Namanya resmi masuk ke dalam daftar hitam warga negara, khususnya Texas. Ia tak tahu pasti, apakah setelah ini, ia masih dapat memiliki pekerjaan yang layak. Secara materiel, ia memang dirugikan. Akan tetapi, siapa peduli?
Ia sudah sepakat untuk ikut dalam permainan orang-orang jahat yang menjebaknya.
Setelah itu, mereka dibariskan kembali untuk ditempatkan dalam sel masing-masing. Sel kali ini tentu tidak sebaik sebelumnya. Tre harus lekas menyesuaikan diri dengan bau busuk yang kadang tajam menyengat, berasal dari teman satu sel yang sedang tidur meringkuk.
Bau air seni. Orang itu pasti malas berjalan sedikit ke toilet yang sudah tersedia di setiap sel. Tak lama, terdengar suaranya, “Maaf. Tisunya habis, jadi mungkin menempel di mana-mana. Tadi aku juga tiduran di kasurmu, jadi mungkin agak sedikit bau.” terangnya, sama sekali tak ingin menengok ke belakang atau sekadar mengucap salam.
“Aku Tre. Apakah kau sakit? tanyanya, berusaha membaur. Ia tidak rewel apalagi menuntut. Ia cukup membentangkan selimut ke atas kasurnya yang sempit, tanpa mengeluh atau berkomentar lagi. Mungkin, ia akan betah.
***