Kehamilan lima bulan Vanessa memasuki masa-masa yang cukup berat. Tanpa Tre, hari demi hari dilalui dengan kecemasan dan desakan fisik yang hebat. Bagian bawah perutnya sering terasa nyeri, sakit pinggangnya menghambat aktivitasnya mengurus rumah. Tanpa ketabahan dan tekad bulat, hampir dipastikan bahwa ia takkan kuat.
Vanessa hanyalah wanita biasa. Setegar apapun dirinya, ia butuh sosok suami yang mampu menjaganya, menjadi tiang penyangga baginya. Seharusnya beberapa bulan berikutnya menjadi momen indah yang menjadi milik mereka berdua, menyambut kehadiran bayi mungil, putra pertama Tre dan Vanessa. Sayang, petir justru menyambar kala siang hari, pada saat yang tidak diduga sama sekali. Vanessa harus kehilangan suaminya, entah untuk berapa lama.
Enam tahun, menurutnya, hanyalah untuk menutupi kebohongan. Ada kemungkinan para penjahat itu berniat mengurung suaminya lebih lama. Membayangkan hal itu, batin Vanessa menjerit. Ia harus menemui Tre untuk memperingatkan kemungkinan tersebut. Cepat-cepat, ia menelepon Ben.
“Ya? Vanessa?” Suara di seberang sangat dikenalnya. Seharusnya saat ini pria itu sudah pulang kerja dan bersantai di rumah.
“Kau sudah pulang?”
“Seperti biasa. Ada apa?”
“Aku … kurasa aku merindukannya. Aku harus bertemu suamiku.” pinta Vanessa, agak memelas. Hanya begitu senjatanya untuk membujuk Ben supaya meluluskan permintaannya.
“Ta-tapi … aku tak tahu caranya,” Ben berdusta. Masih ingat pesan Tre untuk tidak mengajak Vanessa ikut berkunjung. Bila dilanggar, maka runyam nantinya.
“Bukankah kau sedang berusaha mencairkan tabungan Tre? Tanda tangannya harus asli ‘kan? Itu berarti kau harus ke sana. Pada saat itu, kabari aku.”
Ben serasa limbung. Tidak sanggup menuruti kemauan wanita itu, membuat kepalanya berdenyut. Apa yang harus ia lakukan? Membantu seorang wanita mendapatkan haknya dalam kepastian hukum, atau memenuhi janji antar teman?
“Ben, aku akan menanggung risikonya, apapun itu. Bila begini terus, aku bisa gila. Setidaknya, dengan bertemu Tre, suasana hatiku akan jauh lebih baik. Aku akan berusaha lebih tegar dalam menjalani hidup,” kata Vanessa sungguh-sungguh. Dia memang tidak berbohong. Saat ini, bicara dengan Tre adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan.
“Begitu?”
“Ya. Kau harus percaya padaku.”
“Hm, baiklah. Tapi katakan pada Tre, bahwa kau yang memaksaku.”
Vanessa tertawa. “Tentu. Jadi, kapan kita ke sana?”
“Begini saja, Sabtu depan, bagaimana? Bila kau menghubungiku, berarti kita sepakat mengunjunginya. Tetapi bila tidak, aku akan ke sana sendiri. Mungkin besok uang tabungannya cair. Kau bisa langsung membelanjakannya untuk kebutuhan sehari-hari. Aku tinggal melaporkannya pada Tre secara langsung, bahwa tugasku sudah selesai. Setuju?”
“Setuju. Terima kasih atas segalanya, Ben. Kami berhutang budi kepadamu.”
“Bukan apa-apa. Aku akan terus membantu sebisaku.”
Ben bernapas lega ketika Vanessa menutup teleponnya. Ia harap, Tre tidak memarahinya bila melihatnya membawa Vanessa ketika menjenguknya. Yah, semoga saja.
Namun, sepertinya rencana itu akan gagal, karena malam itu datanglah sosok tamu tak dikenal yang akan menyingkirkan niat Vanessa selamanya. Seorang wanita berlogat kental Wales, mengenakan blazer merah menyala dilengkapi rok hitam selutut dan stiletto warna merah senada dengan busana atasnya, mulai mengetukkan punggung jemarinya ke pintu berlapis kayu.
“Selamat malam! Apakah ini kediaman Trevor Jordan? Anda harus keluar, ada yang harus kita bicarakan.” Apapun motivasinya, ia ingin agar tak perlu repot-repot mendobrak pintu meskipun dia sanggup. Ia harus melakukan ini dengan sangat anggun dan penuh sopan santun. Sebuah kebiasaan yang sulit dihilangkan sebelum … menghabisi nyawa seseorang.
Dialah Helena Webster.
Ada niat lain yang membuatnya tak bisa menunda percakapan kecilnya dengan istri Trevor Jordan. Tak lama, pintu pun terbuka. Tampak seorang wanita cantik mengenakan baju tidur yang menyambutnya hangat.
“Anda menyebut nama suami saya?” Vanessa langsung tertarik tanpa mengerti bahaya apa yang sedang mengincar dirinya.
“Bolehkah saya masuk dan bertemu Tuan Trevor tentunya? Namaku Helena.” Helena melepas kacamatanya. Tangan kirinya menenteng sebuah tas kecil beludru yang juga berwarna merah.
“Hm, sayangnya Tre tidak ada di rumah. Adakah pesan … .”
“Memang tidak ada, karena dia di penjara, ‘kan?” bisik Helena setelah agak mendekat. “Tenang saja, media tidak akan mengekspos masalah ini. Hanya antara kita berdua saja. Sesama wanita.” Lidah ularnya terus meyakinkan Vanessa agar mengizinkannya masuk untuk sebuah sandiwara kecil-kecilan. Helena selalu menyukai saat-saat terakhir sebelum ia memutuskan mengakhiri hidup korbannya, yaitu dengan mengajak mereka bicara.
“Kalau begitu, masuklah!” Vanessa memang membutuhkan info apapun tentang suaminya dan berharap bahwa wanita tak dikenal ini bisa menolongnya. “Silakan duduk.”
Sekarang mereka telah sama-sama duduk di sofa sederhana yang tak pernah berubah bahkan sebelum Tre menikahi Vanessa. Vanessa duduk dengan kurang nyaman karena tatapan tajam Helena yang nyaris tanpa berkedip.
“Kau bilang tahu sesuatu tentang suamiku? Kumohon, katakanlah.” Vanessa memulai percakapan mereka.
“Ya, dia difitnah. Benar begitu’kan?”
Vanessa mengangguk. “Ini sebuah skandal yang besar, tapi mengapa harus Tre? Kami tidak punya urusan dengan orang-orang seperti itu!” Ia mulai kesal.
Helena menyiapkan sesuatu dari balik punggungnya. Gerakannya begitu halus, sehingga Vanessa tak sekalipun mencurigainya. “Menurutku, mereka justru senang dengan seseorang berlatar belakang kelam namun sudah membaur dengan masyarakat. Calon korban yang sempurna.” desisnya tertahan. “Seseorang yang punya kehidupan sehat dan bersih, contohnya aku sendiri.” tunjuk Helena ke arah dirinya. “Dulu, aku juga orang baik-baik, sama seperti suamimu. Namun kini tidak ada yang perlu ditakuti.”
Vanessa semakin bingung dengan arah percakapan ini. “Apa maksudmu?” Ia mulai curiga. “Kupikir kau adalah wartawan atau sejenisnya.”
Akan tetapi, tamunya itu justru tertawa, menunjukkan seringai mulut ularnya yang berbisa. Detik itulah, Vanessa sadar bahwa ia membutuhkan bantuan untuk menyelamatkan nyawanya, juga bayi dalam kandungannya. Ia segera bangkit dari sofa, berjalan menuju pintu keluar, namun sebelum sempat memegang gagangnya, wanita keji yang telanjur ia masukkan ke dalam rumah itu, menjegalnya demikian cepat, membuatnya terjatuh dengan posisi perut terlebih dahulu.
Nyeri yang teramat sangat langsung terasa. Benturan kandungannya dengan lantai mengakibatkan dampak yang fatal. Belum cukup sampai di situ, Helena membangunkan istri Tre itu dengan memelintir lengan dan menarik rambut panjangnya sehingga Vanessa mengerang kesakitan, tapi tidak berteriak untuk memanggil tetangganya. Sementara aliran darah mulai mengucur melewati betisnya hingga menyentuh lantai. Ia terus menyebut nama Tuhannya. Sedikit demi sedikit, keberanian itu pun muncul.
Ia ingat bagaimana Tre pernah mengajarinya dasar bela diri bagi pemula ketika diserang dari belakang. Suatu teknik yang pernah ia tertawakan karena merasa tidak akan pernah ia butuhkan. Tetapi inilah saatnya. Ia akan berusaha melawannya!
Vanessa nekat memukul kepala Helena dengan bagian belakang kepalanya, kemudian menyodok perut wanita tersebut dengan sikunya setelah dia melepaskan lengannya. Ia memiliki kesempatan untuk kabur, namun tidak digunakannya. Inilah saat yang tepat untuk menghentikan perburuan dirinya! Bila ia melarikan diri, Helena pasti akan mengejarnya di manapun juga.
Sakit pada bagian perut tidak dipedulikannya, berharap bahwa ia masih memiliki janinnya. Tetapi apa yang terjadi kemudian, tentu harus dibayar sangat mahal. Ia harus memilih menyelamatkan jiwanya terlebih dahulu. Sebuah keputusan yang sangat berat! Ia tahu, dengan melakukan ini, ia akan kehilangan calon buah hatinya.
Menundukkan Helena bukan berarti mudah. Vanessa menggunakan alat sekadarnya untuk mempertahankan diri, mengingat dia bukanlah petarung dan minim pengalaman bela diri. Musuhnya berkali-kali menyakitinya, bahkan pada bagian yang cukup fatal baginya dan bagi janinnya. Wanita itu memang sengaja hendak menggugurkan kandungannya. Berkali-kali menyerang pada bagian yang sama.
“AARRGGH!!” Vanessa berteriak. Ini benar-benar sakit! Tapi jika tidak bangkit, maka ia akan tewas malam itu juga. Ia harus berpikir cepat! Merayap di atas lantai, matanya menangkap sesuatu yang dapat membantunya melepaskan diri.
“Kau memang payah! Bosku sudah mengizinkanku untuk melenyapkan dirimu. Tanpa Vanessa Heart, Tre akan lebih fokus pada pekerjaannya. Itu adalah rencana panjang jika ingin mencetak seorang pria biasa menjadi pembunuh profesional yang ditakuti. Dia harus dijauhkan dari orang-orang tertentu yang disebut ‘keluarga’. Dia akan memiliki keluarga sendiri di lingkungannya. Jangan khawatir, Vanessa. Sepeninggal dirimu di alam baka, Tre akan hidup lebih tenang dan bahagia. Tidak ada lagi istri manja yang merengek-rengek minta pelukan dan sebagainya … .”
Vanessa berhasil membuat wanita yang besar mulut itu terjatuh setelah menendang lututnya dari bawah. Sebuah momen yang sangat berharga kala lawannya lengah karena terlalu menikmati adegan perundungan yang akan berakhir pada suatu akhir yang mengerikan bila ia tidak melawan. Kemudian, dengan cepat meraih sebuah dumbbell dua kilo yang biasa ia gunakan untuk berolahraga sebelum mengandung, dan ia tahu ke mana harus mengarahkan beban benda itu ke bagian tubuh lawannya.
Helena yang tidak siap dengan ‘senjata’ Vanessa, akhirnya tergeletak di lantai dengan tulang tengkorak pecah dan darahnya membasahi lantai. Melihat itu, Vanessa cepat berdiri untuk menguasai keadaan. Ia harus segera pergi ke rumah sakit. Sadar bahwa seluruh tubuh dari ujung kepala hingga ke ujung kaki telah terkena hantaman beberapa kali, takut waktunya takkan sempat.
Kepalanya berdenyut hebat, keseimbangannya mulai runtuh. Tangannya mencoba meraih telepon genggam, namun karena gemetar, usahanya gagal. Benda itu justru tersingkir lebih jauh. Sudah tak kuat lagi, Vanessa pun ambruk, tak sadarkan diri.
Menjelang fajar, belum banyak tetangganya yang bangun, Vanessa telah membuka mata, tetapi dalam tingkat kesadaran yang berbeda, mulai kehilangan sebagian daya ingatnya. Kedua matanya buram, sehingga tidak melihat keberadaan mayat yang berada tak jauh darinya. Menangis sambil bergerak sekuat tenaga, ia terus merayap hingga berhasil meraih telepon genggam yang tampak oleh matanya yang basah. Nyaris menghubungi Ben, tapi jarinya justru menghubungi panggilan layanan darurat.
“Ada yang bisa kami bantu? Tolong jangan panik dan katakan situasi Anda.”
“A-aku … tak ingat di mana. Mungkin di pinggir kota? A-aku … .” Ia menjatuhkan telepon genggam tersebut. Sedangkan petugas 911 yang menerima teleponnya kesulitan menindaklanjuti keadaannya. Wanita itu memutuskan pergi.
Terseok-seok, tanpa seorang pun yang melihatnya, Vanessa terus menyusuri jalanan sepi dengan penampilan berantakan. Terus berjalan, setapak demi setapak, tanpa alas kaki, sampai seseorang baik hati memundurkan mobilnya dan memutuskan balik arah ke tengah kota Houston untuk cepat membawanya ke rumah sakit. Pada saat itulah, babak baru kehidupannya dimulai.
Beberapa hari dirawat tanpa kejelasan identitas, mengakibatkan pihak rumah sakit kesulitan melacak keluarga Vanessa. Mengapa dia sampai seperti itu. Bahkan sore itu, dokter dan seorang perawat bercakap-cakap, dan telinganya yang tidak tidur akhirnya turut mendengarkan rencana mereka.
“Kita harus menghubungi polisi. Telepon kembali orang terakhir yang menyelamatkannya. Kita harus tahu dari mana asalnya, mengapa dia sampai seperti ini.” perintah dokter langsung dilaksanakan perawat tersebut. Sementara dokter tersebut hanya menghela napas setelah menangani pasiennya.
Namun, Vanessa tergerak oleh keinginannya sendiri. Ia tidak boleh ‘tersentuh’ oleh polisi. Maka, dengan sisa-sisa daya ingat, ia berusaha kabur dari rumah sakit, dan pergi naik taksi. Tak tentu arah tujuannya. Yang ia tahu, ia harus pergi ke suatu tempat tanpa seorang pun yang mencarinya atau mengusik masa lalunya.
Sementara itu, polisi yang dihubungi pihak rumah sakit berhasil melacak rumah pasien misterius yang kini telah melarikan diri entah ke mana. Orang yang menolong Vanessa hanya memberitahu lokasi terakhir ia menemukan wanita itu.
Tiba di rumah Vanessa, satu-satunya rumah kosong berdasarkan laporan warga, polisi tidak perlu mengetuk beberapa kali sebab yakin bahwa rumah tersebut tidak berpenghuni. Mereka hanya harus mendobrak masuk tanpa kesulitan yang berarti.
Situasi di dalamnya sangat normal. Meja kursi, lampu berdiri yang tertata rapi. Karpet yang bersih dan lantai kayu yang tidak menampakkan bercak apapun, apalagi darah. Semua tampak baik-baik saja.
Salah seorang polisi yang lebih senior menerima laporan rekannya. “Ini rumah Trevor Jordan. Dipenjara karena kasus berat. Mungkinkah, istrinya stres berat dan meninggalkan rumah? Kemudian sampai di jalan, ia tertabrak dan itu menjelaskan mengapa ia hilang ingatan dan keguguran. Kita harus menindaklanjuti keberadaan Vanessa.”
Seniornya yang bernama Chuck itu membaca kertas dengan detail informasi yang sudah ia dapatkan. Ia pura-pura terkejut dan terenyuh dengan kisah mengharukan keluarga Tre. Jawabnya, “Tentu. Akan kuurus ini, jangan khawatir. Sekarang, sebaiknya kita mencari sarapan. Ada kedai enak di kota. Kau mau coba? Biar kutraktir.” Ia mengalihkan perhatian.
“Tentu, tapi, bagaimana dengan kasus ini?” tanya polisi yang lebih muda.
“Nanti, kuhubungi Kapten. Dia yang akan menentukan orang yang tepat untuk menangani kasus ini, tapi yang jelas, bukan kita. Kita hanya diperintah untuk memeriksa, jadi jangan sentuh apa-apa.”
Polisi muda tersebut menyahut, “Baik, Pak!” Kemudian dipersilakan untuk keluar lebih dahulu.
Chuck mengamati sekitar. Senyum itu muncul setelah paham situasinya. Juga kabar bahwa Helena telah tewas dan anak buah Bosnya telah merapikan Tempat Kejadian Perkara. Memegang gagang pintu, tersenyum sebentar, lantas kembali menuju ke mobil di mana rekannya tadi telah menunggunya.
Usai ditinggalkan, rumah kayu itu kembali sepi. Menyisakan segelintir kisah pahit yang dialami sepasang suami istri yang tinggal di sana. Trevor Jordan dan Vanessa Heart. Derita mereka mungkin belum akan berakhir seiring roda kehidupan yang terus berputar, tetapi akan selalu muncul secercah harapan untuk mereka kembali bersatu apabila Tuhan masih mengizinkan.
***