“Saya terima nikah dan kawinnya Aluna binti Rahman…”
Suara itu terdengar jelas. Tegas. Tanpa sedikit pun keraguan.
Sementara aku…
Duduk diam dengan tangan yang saling menggenggam di atas pangkuan, berusaha menahan gemetar yang tak bisa sepenuhnya kuhilangkan.
Gaun putih yang kukenakan terasa terlalu berat. Bukan karena kainnya, tapi karena makna di baliknya.
Ini bukan pernikahan yang kuimpikan.
Bahkan… bukan pernikahan yang kuinginkan.
“…dengan maskawin tersebut dibayar tunai.”
Sah.
Satu kata yang langsung mengubah segalanya.
Aku menunduk, menatap jemariku yang kini telah dihiasi cincin. Kilauannya indah, tapi entah kenapa terasa begitu asing.
Ruangan itu sunyi. Hanya beberapa orang yang hadir, berbicara pelan, seolah peristiwa ini memang tidak pantas diketahui banyak orang.
Dan memang begitu adanya.
Pernikahan ini… harus dirahasiakan.
“Sekarang kamu sudah sah jadi istri saya.”
Aku mengangkat kepala perlahan.
Pria itu berdiri di hadapanku—tenang, rapi, dan sulit ditebak.
Arkana.
Nama yang sejak beberapa hari terakhir tak pernah benar-benar lepas dari pikiranku.
Aku menatapnya sebentar, lalu menunduk kembali.
“Baik… Pak,” jawabku pelan.
Kata itu keluar begitu saja. Terbiasa. Sopan.
Meski di dalam hati, ada sesuatu yang terasa mengganjal.
Suami… tapi aku bahkan tidak bisa memanggilnya seperti itu.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Aku menarik napas perlahan, mencoba menenangkan diri.
“Aku akan menjalani pernikahan ini dengan baik,” lanjutku, masih tanpa menatapnya. “Jadi… tidak perlu khawatir.”
Kalimat itu terdengar seperti penerimaan.
Seperti keikhlasan.
Tapi hanya aku yang tahu
bahwa itu hanyalah cara paling aman untuk bertahan.
Arkana tidak langsung menjawab. Aku bisa merasakan tatapannya, meski aku tidak berani mengangkat wajah.
“Aku juga tidak mengharapkan apa pun,” katanya akhirnya.
Singkat. Datar.
Aku mengangguk kecil.
“Baik.”
Dan percakapan itu berakhir begitu saja.
Beberapa saat kemudian, kami sudah berada di luar gedung kecil tempat akad berlangsung.
Langit mulai berubah gelap. Udara terasa dingin, atau mungkin hanya perasaanku saja.
“Pernikahan ini tidak boleh diketahui siapa pun.”
Aku menoleh sedikit ke arahnya.
Nada suaranya tidak tinggi. Tidak mengancam.
Tapi cukup jelas untuk dimengerti.
Aku menunduk sebentar sebelum menjawab.
“Ya,” kataku pelan. “Saya mengerti.”
Aku mencoba tersenyum tipis.
“Tidak ada yang perlu tahu.”
Kalimat itu terdengar ringan.
Seolah aku benar-benar tidak keberatan.
Padahal di dalam hati…
aku ingin bertanya—
Kenapa hidupku harus disembunyikan seperti ini?
Tapi pertanyaan itu hanya berhenti di dalam kepala.
Tidak pernah benar-benar keluar.
Mobil hitam berhenti di depan kami.
Pintu belakang terbuka.
Aku berdiri diam beberapa detik, menatap jalanan yang mulai sepi.
Dunia di luar sana tetap berjalan seperti biasa.
Tidak ada yang tahu bahwa hidupku baru saja berubah sepenuhnya.
Aku melangkah masuk ke dalam mobil tanpa berkata apa pun.
Arkana menyusul duduk di sampingku.
Hening.
Tidak ada percakapan.
Hanya suara mesin mobil dan napas yang berusaha kutahan agar tetap stabil.
Aku menatap ke luar jendela.
Pantulan diriku terlihat samar.
Seorang gadis dengan gaun putih… yang kini telah menjadi istri.
Aku menunduk, menggenggam ujung gaun itu pelan.
“Kalau ada yang ingin kamu tanyakan, kamu bisa bicara,” ujar Arkana tiba-tiba.
Aku terdiam.
Ada begitu banyak hal yang ingin kutanyakan.
Terlalu banyak.
Tentang malam itu.
Tentang orang tuaku.
Tentang dirinya.
“Tidak ada,” jawabku akhirnya.
Pelan. Sopan.
Seolah semuanya baik-baik saja.
Padahal—
Kalau saja malam itu tidak terjadi… mungkin aku tidak akan duduk di sini sekarang.
Tanganku mengepal perlahan di atas pangkuan.
Aku menatap lurus ke depan.
“Terima kasih… sudah bertanggung jawab,” ucapku.
Kalimat itu terasa berat.
Bukan karena aku tidak tahu arti terima kasih.
Tapi karena aku tidak yakin… aku benar-benar ingin mengucapkannya.
Arkana tidak menjawab.
Dan aku tidak berharap dia menjawab.
Beberapa hari yang lalu…
Hidupku masih sederhana.
Aku masih bisa pulang ke rumah dengan santai, mendengar suara ibuku dari dapur, dan melihat ayahku yang selalu menanyakan hal-hal sepele.
Semua terasa biasa.
Hangat.
Sampai telepon itu datang.
Kecelakaan.
Dua korban.
Duniaku runtuh dalam sekejap.
Dan di antara semua kepanikan itu… aku melihatnya.
Pria yang kini duduk di sampingku.
Berdiri tak jauh dari ruang IGD, dengan wajah yang terlalu tenang untuk seseorang yang berada di tempat seperti itu.
Sejak saat itu, aku tahu—
ini bukan sekadar kebetulan.
Dan sejak saat itu juga…
aku tidak benar-benar punya pilihan.
Mobil terus melaju.
Aku memejamkan mata sejenak, menahan sesuatu yang terasa sesak di d**a.
Air mata itu hampir jatuh.
Hampir.
Tapi aku menahannya.
Perlahan.
Seperti semua hal lain yang harus kutahan sejak hari itu.
Aku membuka mata kembali.
Menatap lurus ke depan.
Dalam diam, aku berkata pada diriku sendiri—
Aku akan menjalani ini dengan baik.
Aku akan tetap menjadi diriku yang biasa.
Tenang. Sopan. Tidak menyulitkan siapa pun.
Meski di dalam hati…
aku belum benar-benar baik-baik saja.
Aku melirik sekilas ke arah Arkana.
Pria yang kini menjadi suamiku.
Tak ada kebencian yang kutunjukkan.
Tak ada amarah yang kuucapkan.
Semua tersimpan rapi.
Terlalu rapi.
Dan mungkin…
suatu hari nanti,
aku sendiri tidak tahu apakah aku benar-benar bisa memaafkan—
atau hanya terbiasa menyembunyikan semuanya.
Aku kembali menatap jendela.
Langit sudah gelap sepenuhnya.
Seperti hidupku saat ini.
Sunyi.
Tertutup.
Dan tak terlihat oleh siapa pun.
Karena mulai hari ini…
aku adalah
istri yang tak boleh dunia tahu.