Bagian 08

1355 Words
Deru mobil baru saja memasuki pekarangan rumah yang tidak terlalu besar. Sesosok wanita yang tidak sekali pun melepaskan maskernya itu segera keluar bersama dengan sebuah tas belanja ditangannya. Citra baru saja kembali dari supermarket untuk berbelanja beberapa bahan makanan yang mulai menipis. Jika biasanya sang ibu mertua atau adik ipar bisa berbelanja melalui pedagang sayur keliling, sejak berita sang suami menjadi perbincangan umum mereka tak lagi bisa melakukannya. Para tetangga bukannya bersimpati, malah menunjukkan tatapan serta sikap menghina setiap kali berpapasan. Bahkan tak jarang dari mereka yang mengatai secara langsung saat bertemu di luar. Maka tak heran jika keluarga Arsya kini bagaikan terkurung di rumahnya sendiri. “Kayaknya mulai sekarang kita belanjanya online aja deh, Bu. Agak mahal sedikit sih, tapi seenggaknya kita juga nyaman, gak jadi pusat perhatian terus,” ujar Citra sambil memindahkan belanjaannya ke kulkas. “Di supermarket pun kamu masih dilihatin, Nak?” tanya Rini yang ikut membantu. “Harusnya mereka gak ngenalin kalau penampilanku serapet tadi, tapi dilirik dan diomongin di depan muka gak enak banget rasanya,” jawab Citra mengadu. “Mungkin aku aja kali ya, Bu yang kepedean?” Rini mengusap bahu menantunya dengan lembut. “Kamu yang sabar, ya! Ibu yakin, Arsya gak salah dan ini pasti segera berlalu.” “Aamiin,” sahut Citra semangat. “Oh ya, Bu. Aku lihat ada motornya Nadia di depan. Bukannya tadi udah berangkat ke kantor, ya?” Wanita yang kulitnya telah keriput dimana-mana itu menghela napasnya panjang. Pandangan matanya kemudian tertuju pada tangga yang mengarah ke lantai dua. “Beberapa menit lalu dia pulang dan kelihatan murung. Ibu sama bapak nebaknya sih paling dia diomongin orang, tapi adikmu gak mau cerita. Langsung masuk aja ke kamarnya dan belum keluar-keluar,” adunya. “Coba kamu tengokin, Nak! Siapa tahu Nadia mau cerita sama kamu.” “Iya, Bu,” setuju ibu satu anak tersebut. Citra pun beranjak dari dapur dan hendak naik ke lantai atas seperti yang diminta ibu mertuanya. Sebelum itu, ia juga melihat putrinya yang tengah bermain ditemani sang kakek. Sempat wanita itu merasa sedih sekaligus bingung saat putri semata wayangnya itu terus mengeluh bosan. Tiara ingin kembali ke sekolah, bertemu teman-temannya, atau setidaknya bermain di kompleks seperti saat mereka berkunjung sebelum-sebelumnya. Namun, Citra tidak mengizinkan dengan berat hati. Semua demi melindungi mental putrinya. Meskipun sulit untuk memberikan pengertian, tertapi ia memiliki kedua mertua dan juga adik ipar yang selalu membantunya. Citra sungguh bersyukur memiliki mereka disaat keluarganya sendiri tidak mendukung untuk bertahan dalam kondisi sulit seperti ini. ===== Sementara itu, Arsya baru saja menyelesaikan kegiatan olahraga bersama dengan para napi lainnya. Ia termasuk golongan yang pasif dan memilih berada di pinggir lapangan sepanjang kegiatan. Meskipun tidak ingin membeda-bedakan antara manusia satu dan lainnya, tetapi Arsya juga ingin membatasi diri supaya tidak terlibat terlalu jauh dengan mereka. Keyakinannya masih sangat kuat bahwa ia bisa segera bebas dari tempat ini. Entah bagaimana caranya menyangkal semua tuduhan, tetapi ia selalu meyakini dirinya tidak bersalah. “Eh, Kung, tumben lo gak ada yang jenguk? Udah bosen keluarga, lo?” tanya si Gondrong sambil menyeka keringat dengan handuk kecilnya. “Udah nyerah kali, Bang,” seloroh si Arang. “Atau takut mungkin? Secara ‘kan si Jangkung jago banget matiin lawannya,” tambah Abu yang disambut gelak tawa yang lainnya. Arsya hanya bergeming dan membiarkan orang-orang itu mengejeknya. Anggap saja sebagai suara bising radio rusak. Namun, tiba-tiba ia teringat pada obrolannya dengan Deva beberapa waktu lalu dan berniat mengkonfirmasi dugaannya. “Bang, gue mau tanya,” ujar Arsya yang selama berada di dalam tahanan berusaha menyesuaikan cara bicara dan sikapnya pada tahanan lain, hanya agar ia tidak ditindas oleh mereka. “Apaan?” “Selama beberapa minggu gue disini, kalian pernah lihat gue aneh-aneh gak?” tanya Arsya memastikan. “Aneh gimana?” si Botak memastikan. “Ngomong macem-macem, bertingkah yang bikin kalian bahaya, atau ngelindur mungkin?” Teman-teman satu sel Arsya tertawa, termasuk si Tindik yang baru saja keluar dari kamar kecil di sel mereka. “Badan, badan dia, nanya aneh sama kita,” ejek Gondrong. “Lagian kalau lo ngelindur, kita-kita juga bakalan mukul lo biar bangun.” “Jadi gue gak pernah aneh-aneh?” Arsya kembali memastikan. “Ada satu yang aneh,” ujar Tindik. Arsya langsung memasang telinganya lebar-lebar, siapa tahu itu adalah salah satu trigger dari kepribadiannya yang lain. Karena sampai detik ini, dosen itu masih belum bisa menemukan keanehan apa pun dalam dirinya. “Lo udah tobat jadi penjahat, Kung?” tanya si Tindik melanjutkan. “Hah? Maksudnya?” “Oh iya, yang itu!” Abu menjentikkan jarinya. “Baru kali ini kita satu sel penjahat bajingann yang rajin ibadah. Kirain cuma yang disebelah-sebelah aja. Ngakunya ahli agama, tapi bejatt juga.” Raut wajah Arysa langsung mendung saat semua orang menertawakannya. Bukan ini yang ingin ia dengar. Jika mereka tidak bisa menjawab pertanyaan yang ia lontarkan, seharusnya tidak perlu mencela, apalagi mengenai kewajibannya. Arsya pun segera menyudahi pembicaraan tak berarti ini dan mulai membersihkan dirinya, sebentar lagi sudah masuk waktunya zuhur. ===== Di rumah, Citra sedang duduk di pinggir ranjang adik iparnya, Nadia yang sedang berbaring memunggunginya. Sudah beberapa menit ia dalam posisi itu, tetapi belum juga mengeluarkan suaranya. Atensinya terus menatap pada bahu sang adik ipar yang bergetar dan sesekali terdengar suara isakan dari gadis berhijab tersebut. Citra menghela napasnya panjang seraya meraih bahu Nadia dengan perlahan. Ia tidak bisa terus mendiamkan gadis itu dan membiarkannya terpuruk sendirian. Saat ini, hanyalah keluarga yang mereka miliki satu sama lain. “Nad,” panggil Citra yang tak ditanggapi oleh Nadia. “Aku disini siap dengerin kamu loh, kalau kamu mau berbagi. Siapa tahu kita bisa cari solusi masalah kamu bareng-bareng.” Gadis itu masih terus terisak tanpa sedikit pun menutupi perasaannya pada sang kakak ipar. Beberapa menit terdiam, ia pun mulai menunjukkan respon. “Gak akan ada solusi, Mbak. Ini udah final,” gumam Nadia sambil sesenggukan. Ia masih memunggungi Citra. “Ada masalah di Bank?” tanya Citra. Adik iparnya itu memang seorang pegawai di sebuah bank swasta terkenal di negeri ini. Nadia menggeleng seraya membalik tubuhnya dan duduk berhadapan dengan Citra. Tampak matanya yang sembab lengkap dengan sisa-sisa airnya yang sesekali masih terjatuh serta bola matanya yang berwarna kemerahan. “Di Bank iya, tapi telingaku udah tebel dengerin cibiran temen-temen sama senior,” sahut Nadia dengan sendu. “Lalu?” Gadis itu menarik napasnya agak berat hingga suara ingusnya terdengar. “Rezvan, Mbak.” Citra menangkup kedua tangan Nadia. Kepalanya menebak permasalahan yang sedang dialami oleh gadis itu, tetapi hatinya berharap jika dugaannya tidaklah benar. “Rezvan kenapa?” tanya Citra ragu. “Kami putus, dia tadi di kawal mamanya ke Bank buat mutusin aku di depan semua pegawai dan nasabah. Kan malu banget, Mbak,” adu gadis itu. Citra beringsut mendekat dan ia merengkuh tubuh Nadia. Dugaannya benar. Masalah keluarganya kali ini benar-benar memberikan efek yang sangat besar pada mereka. Jika Citra masih bisa kukuh pada pendiriannya dengan alasan pernikahan yang sakral, Nadia tidak bisa bertahan. Sebenarnya Nadia dan Rezvan sudah akan bertunangan, rencana kedua keluarga pun sudah dibicarakan. Namun, kejadian ini sepertinya menggagalkan semua rencana tersebut. “Maafin Mbak sama mas Arsya ya, Nad. Karena masalah kami, kamu jadi kena dampaknya juga,” sesal Citra. “Mbak sama mas gak salah, kita semua tahu ini musibah. Mas Arsya pasti segera bebas, kok,” balas Nadia. “Aku memang sedih karena patah hati dan malu, tapi dengan kejadian ini, aku tahu kalau keluarga Rezvan gak baik buat aku.” “Terima kasih, Nad. Kamu yang sabar, ya! Semoga cepat ketemu gantinya,” Citra menepuk punggung Nadia pelan. “Aamiin.” Keduanya menguraikan pelukan tersebut dan saling melemparkan senyum tulus. Usia yang sepantaran membuat kedua ipar ini sedekat saudara kandung. “Kamu bersih-bersih, gih terus turun ketemu bapak sama ibu. Mereka khawatir kamu pulang-pulang langsung nangis begini,” usul Citra. Nadia mengangguk sambil mengusap air matanya yang masih sesekali turun. Meskipun ia ikhlas, tetap saja rasa sakit itu masih ada. Tak perlu dipermalukan, ia sudah kenyang dengan semua gunjingan orang yang mengatainya sebagai adik penjahat. Dituduh sebagai komplotan pun seringkali keluarga ini dengar, tetapi mereka semua sedang dalam mode menebalkan telinga dan menyaring pemandangan. =====
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD