Bagian 02

1575 Words
“Apa yang sudah kamu lakukan sampai hal ini terjadi, Sya? Aku seperti tidak mengenalimu,” ujar Komandan Radeva setelah memasuki ruang interogasi yang dingin dan senyap. Didalam ruangan itu hanya ada sebuah meja, dua kursi berhadapan yang salah satunya telah diduduki oleh Arsya dengan kedua tangan yang disatukan oleh borgol. Dosen itu tampak kacau dan terpukul. Biasanya Arsya memasuki ruangan ini untuk mempelajari kasus yang akan ia ajarkan di kampus, tetapi kini posisi berbalik. “Kenapa aku?” Tanya Arsya beberapa saat kemudian setelah terdiam cukup lama. Radeva menghela napasnya panjang, menutup berkas-berkas dihadapannya, lalu bersandar pada kursi dengan kedua tangan bersedekap. Ia harus bersikap profesional meskipun Arsya adalah teman dekatnya. Dari balik kaca hitam dibelakang Arsya, beberapa polisi serta pegawai kejaksaan tengah mengawasi mereka dan mengikuti jalannya interogasi. “Apa maksudmu dengan ‘kenapa aku?’ Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu melakukan hal itu? Apa kamu tidak ingat punya istri dan anak? Kamu juga punya ibu dan adik perempuan, Sya,” sahut Komandan Radeva tak percaya. Arsya mengangkat kepalanya dan menatap datar pada temannya sekaligus penegak hukum yang sangat taat aturan tersebut. “Bukan aku pelakunya,” ujar Arsya seperti tanpa nyawa. “Semua bukti mengarah padamu,” balas Radeva yakin. Radeva kembali menegakkan tubuhnya, lalu membuka berkas dokumen diatas meja. Ia membeberkan beberapa foto yang menunjukkan kondisi korban-korban pembunuhan saat ditemukan. “Jelita, dua puluh satu tahun. Mahasiswi merangkap sebagai bayi gula,” jabar Radeva pada foto korban pertama. “Berapa kali kamu pakai dia?” Arsya tersenyum miris dan terus bungkam tanpa berkata apa pun. “Oke, lanjut! Indira, dua puluh tiga tahun. SPG showroom Auto Mobil. Empat bulan lalu kamu beli mobil disana, ‘kan? Ketemu perempuan ini disana?” Selidik Radeva yang sekali lagi tak dijawab oleh Arsya. Polisi senior itu kembali mengulurkan foto lainnya yang merupakan sosok yang sangat dikenal keluarga Arsya. “Nara Adriyani, dua puluh satu tahun juga. Mahasiswi yang seharusnya tahun depan sudah wisuda sekaligus guru les piano Tiara, anak kamu,” beber Radeva. “Kalau ada yang gak puas sama kinerja dia, ngomong, Sya! Kenapa harus dibunuh? Salah dia apa?” Pria tiga puluh tahun itu mengalihkan pandangnnya dan enggan melihat foto-foto korban tersebut. Radeva memaksanya kembali melihat keatas meja, memperhatikan sosok-sosok yang kini tak lagi bernyawa dan telah terkubur dua meter dibawah tanah. “Perhatikan wajah mereka! Perhatikan orang-orang yang sudah kamu bunuh ini!” Seru Radeva dengan emosi, bahkan menggebrak meja. Perlahan, Arsya mulai menguasai dirinya. Ia tahu jika ini tidak akan mudah dan sebisa mungkin dirinya harus bertahan. Demi keyakinannya dan juga orang-orang yang ia sayangi di luar sana. “Korban keempat Kalila, dua puluh empat tahun, pemilik kafe di Pondok Indah. Bisa kamu jelaskan hubunganmu dengan wanita ini? Kami belum bisa menarik benang merahnya,” tanya Radeva lagi. “Lalu yang kemarin, Riana pegawai perpajakan. Apa masalahmu dengan dia? Bukankah dia teman adikmu, Fara? Apa dia menyakiti Fara? Apa Fara yang memintamu melakukannya? Kalian berkomplot? Katakan pembelaanmu, Arsya!” Si empunya nama yang disebut menghela napas panjang, lalu mengangkat kedua tangannya yang diborgol keatas meja. Ia menumpukan sikunya disana serta mencondongkan badannya kedepan. Tatapan kalutnya kini telah berubah menjadi begitu tenang dan justru membuat Radeva agak merinding. Orang-orang dibalik kaca yang menyaksikan proses itu juga turut merasakan ketegangan. Tak satu pun dari mereka yang berbicara. Satu diantaranya yang masih mengenakan setelan formal di tengah malam ini mulai menggigit bibir bawahnya waswas. “Aku hanya akan bicara melalui pengacaraku,” ujar Arsya tanpa emosi sedikit pun. Radeva menghela napasnya panjang lalu menatap teduh teman dekatnya tersebut, “Mungkin istrimu masih menghubungi pengacara yang bisa membantumu.” “Kalau begitu aku akan menunggunya,” balas Arsya. “Sampai saat itu, aku akan tetap diam.” Radeva menyanggupi permintaan tersebut. Meskipun status Arsya saat ini adalah seorang tersangka, tetapi ia masih memiliki hak untuk diperlakukan secara manusiawi oleh aparat kepolisian. Seorang dengan setelan formal dibalik kaca menghembuskan napas panjang lalu menepuk lengan atas kepala polisi yang menemaninya menyaksikan interogasi tersebut. “Terus kawal kasus ini. Penjahat seperti dia harus mendapatkan balasan yang setimpal,” geram pria yang tak lain adalah seorang jaksa tersebut, Aldiola namanya. “Baik, Pak,” balas si kepala polisi. “Dan peringatkan komandan Radeva untuk bisa lebih tegas lagi menghadapi tersangka. Jangan karena mereka saling mengenal, kinerja komandan Radeva jadi melempem,” peringat Aldiola lagi. “Akan saya sampaikan,” sekali lagi si kepala polisi menyanggupi. Setelah itu Aldiola keluar ruangan diikuti si kepala polisi serta beberapa orang lainnya. Hal serupa juga dilakukan oleh Radeva yang meninggalkan Arsya seorang diri di dalam ruangan interogasi. Sunyi, dingin, serta mencekam kembali menghampiri Arsya. Pria tiga puluh tahun itu mengusap wajahnya dengan kasar lalu menggeram penuh amarah. Ia tidak pernah menyangka jika hidupnya akan menemui titik ini. Menjadi seorang pengamat dari setiap kejahatan saja rasanya sudah sangat cukup untuk hidup Arsya, tetapi menjadi salah satu yang duduk di bangku pesakitan tentu tidak pernah terlintas dalam benaknya. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa pelaku sebenarnya? Bagaimana bisa DNA-nya berada di sekitar korban? Apakah ada yang sengaja menjebaknya? Pertanyaan-pertanyaan itu silih berganti berdenging di telinga Arsya. Dalam kesendirian, Arsya kembali memperhatikan meja di depannya. Radeva meninggalkan foto-foto korban disana beserta kertas putih serta pensil. Arsya tersenyum miris saat menyadari hal itu. “Deva, kamu benar-benar,-” decak Arsya kesal seraya meraih kertas serta pensil dihadapannya. Saat Arsya mulai mendapatkan rasa tenangnya, ia pasti tidak akan tinggal diam dan mulai menganalisis kasus ini melalui sudut pandangnya sebagai seorang akademisi. Deva sangat memahaminya, karena itulah diam-diam komandan itu meninggalkan alat tulisnya agar bisa Arsya gunakan. Meskipun saat ini Deva berperan sebagai penyidik dan Arsya sebagai tersangka, tetapi Deva juga tidak akan setega itu pada temannya sendiri. Benar saja, otak Arsya segera bekerja dan tangannya mulai mencoret-coret kertas kosong dihadapannya, membuat Arsya larut dalam pemikirannya sendiri. Beberapa jam kemudian pintu ruang interogasi itu kembali dibuka dan Radeva muncul dari baliknya. Komandan polisi yang telah mengganti seragamnya dengan pakaian santai itu terlihat lelah dan hanya berdiri diambang pintu. “Kenapa?” Tanya Arsya. “Udah Subuh, ayo salat!” Ajak Radeva. Arsya mengangkat tangannya yang masih terkunci borgol. Radeva segera menghampirinya dan membuka kuncian borgol tersebut lalu mengantarkan Arsya untuk bersuci. Kedua pria dewasa itu kemudian melakukan kewajibannya dibawah pengawasan polisi lain. Lima belas menit kemudian, keduanya telah kembali ke ruang interogasi. Tanpa di duga, di dalam ruangan itu telah ada seorang wanita dengan setelan formal serta riasan wajah rapi meskipun hari masih sangat pagi. Wanita itu mengulurkan tangannya pada Arsya dan Deva. “Lama tidak bertemu, Pak Arsya,” ujar wanita itu. “Viola? Apa kamu pengacara yang akan mewakili saya?” Tanya Arsya penasaran. “Begitulah. Semalam istri dan ayah bapak yang mencari saya,” jelas wanita bernama Viola tersebut. Radeva mempersilakan Arsya dan Viola untuk duduk, sementara ia kembali keluar untuk mengambil berkas-berkasnya. Matahari bahkan masih malu-malu di ufuk timur, tetapi ia sudah harus mulai melakukan tugasnya. Viola Sarasvati, seorang pengacara muda dengan spesialisasi kejahatan berat. Dua tahun lalu ia baru menyelesaikan jenjang masternya dalam bidang tersebut dan ia adalah salah satu mahasiswa bimbingan Arsya. Karena itulah keduanya saling mengenal dan tidak menyangka akan bertemu dalam situasi pelik seperti ini. “Jadi, bagaimana bisa Pak Arsya ditetapkan sebagai tersangka?” Tanya Viola setelah Radeva siap diposisinya bersama dengan seorang penyidik lain. Radeva menunjukkan beberapa barang bukti yang telah diamankan keatas meja, “Bukti paling kuat yang menjadi kunci penetapan status Pak Arsya sebagai tersangka adalah hasil tes DNA ini.” Arsya kembali menggeleng, menyangkal keterlibatannya dalam aksi kejahatan tak bermoral tersebut. “Bukan saya pelakunya,” ujar Arsya menegaskan. “Sebutkan alibi anda untuk memperkuat penyangkalan tersebut,” pinta Radeva formal. “Korban pertama, Jelita ditemukan tiga hari setelah meninggal di apartemennya. Dimana anda pada saat kejadian?” Arsya menghirup napasnya panjang lalu menghembuskannya perlahan, “Saya tidak ingat, tapi kemungkinan sedang bersama keluarga saya jika tidak sedang di kampus.” Penyidik yang berada di belakang Radeva terus mencatat setiap kalimat pembelaan yang Arsya ungkapkan tanpa menyela sedikit pun. Hanya Radeva yang terus bertanya. Sesekali Viola menyela saat pertanyaan Radeva mulai terasa menyudutkan klien yang juga mantan dosennya tersebut. “Dari semua korban, saya hanya mengenal korban ketiga dan kelima, itu pun hanya sekedar mengenal. Istri saya yang lebih sering berinteraksi dengan korban Nara. Lalu korban Rania juga merupakan teman adik saya saat kuliah. Setelah mereka lulus, saya sudah tidak pernah lagi bertemu dengannya,” jelas Arsya mengungkapkan semua yang ia tahu. “Tapi itu tidak bisa membuktikan alibi anda, Pak Arsya,” ungkap Radeva menekan. “Ya, benar,” lirih Arsya tak bisa membela diri. “Selain hasil tes DNA, apakah ada bukti lain yang menyatakan bahwa klien saya terlibat dengan kasus ini?” Tanya Viola kemudian. “Apakah tes DNA bisa berbohong?” Radeva balik bertanya. “Sayangnya tidak dan bukti ini sangat kuat. Jika klien anda ingin bisa lolos dari tuduhan, silakan buktikan dengan alibi-alibi yang bisa menyangkal hasil tes ini!” “Bagaimana jika tes tersebut sudah dimanipulasi dan seseorang sengaja menjebak klien saya?” Tanya Viola lagi. “Silakan buktikan pernyataan tersebut secara ilmiah, kami akan menunggu sebelum menyerahkan kasus ini ke kejaksaan,” jawab Radeva terdengar tak acuh. Merasa tak mendapatkan apa-apa, Radeva menyusahi sesi interogasi pagi ini. Ia meninggalkan Arsya dan Viola yang masih akan berdiskusi mengenai nasib pria itu selanjutnya. Viola juga akan mengajukan permohonan penangguhan penahanan setelah pertemuan ini. Setelah itu mereka akan bersama-sama mencari bukti-bukti penyangkalan Arsya meskipun mereka sama-sama tahu jika itu tidak akan mudah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD