Bab 2

2048 Words
Pertengkaran Angelica dan Shane sebenarnya bukanlah yang pertama. Kalau ada keributan di kelas mereka pastilah karena kedua orang ini. Saking seringnya mereka bertengkar, teman-teman sekelas sampai-sampai menjuluki mereka sebagai Tom dan Jerry. Angelica yang selalu merasa dirinya yang paling-paling tidak pernah menyukai Shane yang menurutnya bukan dari golongannya. Sementara Shane juga sangat tidak menyukai Angelica yang sombong dan selalu memamerkan apa yang dimilikinya. Angelica menggeram kesal, wajah cantiknya terlihat memerah. Apa maksud perkataan Shane tadi? Apakah pemuda miskin itu menantangnya? Sialan! Ia tidak akan memaafkan Shane kalau seandainya teman-teman sekelas mereka tidak mempercayai dan menjauhinya. Shane tidak tahu apa-apa. Pemuda itu sudah terbiasa hidup dalam kegelapan. Shane tak pernah mereguk indahnya popularitas. Dan ia tidak akan membiarkan tantangan Shane membuatnya kalah. "Angelica, apa kau akan menerima tantangan Shane?" tanya Madison Eve. Gadis itu adalah salah satu yang tidak mempercayai perkataan Angelica. Pikiran Madison sama dengan pikiran Stephanie, meski itu tak membuat mereka berteman. Hal yang paling disukai Madison adalah melihat Angelica terjatuh karena kata-katanya sendiri. Angelica tak menjawab. Mulutnya tertutup rapat. Hanya matanya saja yang menatap Madison dengan tatapan membunuh. "Kalau aku tentu saja akan sangat malu kalau besok tidak membawa bukti foto kedekatanmu dengan keponakan Nona Elizabeth Bryant." Tak memedulikan tatapan Angelica, Madison meneruskan ucapannya. "Untungnya bukan aku yang diminta Shane untuk menunjukkan bukti, karena aku memang tidak mengenalnya. Setidaknya belum." Madison tersenyum. Senyum yang mengejek Angelica. "Sampai nanti, Angelica. Jangan lupa besok bawa fotonya, karena aku juga sangat ingin melihatnya," lanjut Madison sebelum meninggalkan Angelica bersama teman-teman satu gengnya. "Astaga, aku tidak mengerti kenapa Madison sangat menyebalkan!" gerutu Zara Lyod, salah satu teman satu geng Angelica. "Mulutnya sangat keterlaluan!" "Kenapa kau tadi hanya diam saja, Angelica?" tanya Megan Linn kesal. Megan juga salah satu teman satu geng Angelica. "Kenapa kau tidak melawannya seperti biasa?" Angelica tetap diam. Wajah cantiknya sekarang terlihat mengeras. Pertama Shane, kemudian Madison. Angelica heran dengan mereka berdua kenapa sangat suka mengganggu kesenangannya. Ia tidak tahu apa yang diinginkan kedua orang itu darinya. Apa ia salah mengatakan kalau ia berteman dengan keponakan orang terkaya di kota mereka? Ia pikir kedua orang itu hanya iri, karena mereka tidak bisa sepertinya. Kepopuleran kedua orang itu sangat jauh di bawahnya. "Bisakah kalian diam?" tanya Angelica setelah menghela napas. Dari nada suaranya sangat kentara kalau gadis itu sedang kesal. Zara dan Megan langsung diam. Kedua gadis itu memang sangat takut dengan Angelica. Mereka selalu mengandalkan Angelica dalam segala hal. Mereka berdua seperti anak buah Angelica, bukan sahabatnya. "Aku sedang memikirkan cara untuk mengalahkan tantangan yang diberikan Shane!" Angelica menatap kedua sahabatnya. "Kalian harus membantuku agar aku bisa membungkam mulut kurang ajar Shane Miller!" seru Angelica dengan suara lirih. Bagaimanapun mereka masih di sekolah. Sangat berbahaya berbicara dengan suara keras. Angelica tidak ingin ada yang mendengar dan tahu rencananya. Ia tak ingin rencananya tersebar atau semuanya akan berantakan. Semua usahanya akan sia-sia. Bukan kepopuleran yang didapatnya melainkan cemoohan. Dan Angelica sangat tidak menginginkan itu. Ia adalah gadis yang seharusnya dipuja bukan dicemooh apalagi dihina. Membayangkannya saja ia tidak sanggup, apalagi kalau sampai semua itu terjadi. Angela menggeleng pelan dengan wajah yang memucat. "Angelica, kau kenapa?" tanya Megan khawatir. Angelica tidak terlihat baik-baik saja. "Kau terlihat pucat, apa kau sakit?" Angelica menatap Megan sambil terus menggeleng. "Tidak," jawabnya dengan bibir sedikit bergetar. "Sebaiknya kita ke klinik kesehatan sekolah kalau kau memang sakit," usul Zara. Gadis itu juga tampak khawatir. Angelica tetap menggeleng. Kali ini lebih cepat. "Aku baik-baik saja," sahutnya. Suara Angelica terdengar serak, makin menambah kekhawatiran Megan dan Zara. Kedua gadis itu saling menatap kemudian sama-sama mengangguk. Tanpa suara mereka sepakat untuk membawa Angelica ke klinik kesehatan sekolah. Mereka khawatir kalau-kalau serangan panik yang diderita Angelica kambuh. *** "Apa menurutmu Angelica akan membawa bukti foto itu besok?" tanya Stephanie di sela-sela kunyahannya pada roti keju di depannya. Mereka sedang di kantin menikmati makan siang. Dari pagi sampai siang ini, tidak ada guru yang memasuki kelas mereka. Sehingga kelas menjadi sangat bising seperti pasar. Sepertinya para guru itu juga sedang membicarakan tentang keponakan Nona Elizabeth Bryant yang kabarnya Minggu depan akan bersekolah di sekolah mereka. Para guru terlihat sangat bersemangat. Mereka berencana untuk mengadakan acara penyambutan untuk gadis yang belum pernah mereka lihat sama sekali itu. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Nona Elizabeth Bryant memang selalu menjadi hal yang diutamakan di kota mereka. Bahkan Sherif pun juga ambil bagian kalau itu untuk kepentingan Nona Bryant. Brian mengangkat bahu. Ia tak peduli dengan itu. Tidak ada untungnya mengurusi Angelica. Meskipun ia sedikit diuntungkan dengan kehadiran keponakan Nona Elizabeth Bryant. Angelica hari ini tidak lagi terlalu mengganggunya. Biasanya gadis itu selalu saja membuntutinya. Mulai dari duduk berdekatan saat di dalam kelas –Angelica selalu mencari tempat duduk di dekat Brian dan akan mengusir orang yang sudah lebih dulu duduk di tempat itu– sampai ikut makan siang di mejanya. Singkat kata, tak ada tempat aman dan nyaman bagi Brian kalau di sekolah. Angelica selalu saja berhasil menemukannya ke mana pun ia bersembunyi. Tempat teraman hanyalah rumahnya, berada di dalam kamarnya. Selain itu rasa-rasanya tidak ada. "Aku tidak peduli," jawab Brian. "Walau sebagian diriku mengharapkan ia tidak membawanya." Shane tertawa. Pemuda itu mengangkat kepalan tangannya, mengacungkannya di depan Brian. Brian menyambut kepalan tangan itu dengan keoakan tangannya juga. Tos. "Aku juga tidak peduli," sahut Shane. "Tetapi aku berharap semoga saja ia tidak membawanya. Karena dengan begitu ia tidak akan berani banyak omong lagi. Aku bosan mendengar semua kebohongannya." "Tapi aku heran, ada saja yang masih mempercayai kebohongan Angelica." Stephanie menggeleng pelan, masih mengunyah roti kejunya. "Padahal sudah beberapa kali kalau Angelica membohongi mereka." "Gadis-gadis itu para penggemar fanatik Angelica," ucap Shane kemudian tertawa keras, yang mengakibatkan mereka menjadi pusat perhatian. Stephanie memukul lengan Shane. "Hentikan tawa bodohmu, Sialan!" bentaknya dengan bola mata yang melebar. "Mereka sedang memperhatikan kita!" Bukannya berhenti, Shane malah semakin tertawa. Sangat menyebalkan bagi Stephanie, tetapi sangat menyenangkan bagi Shane. Melihat Steph memelototinya merupakan sesyatu yang menghibur bagi Shane. Mata hijau Stephanie makin terlihat cemerlang saat matanya membelalak. Shane memang menyukai Stephanie. Pembawaan Stephanie yang santai dan cuek sangat menarik dimatanya. Stephanie mendengus kesal. Ia tidak terlalu suka diperhatikan. Menjadi pusat perhatian bukan sesuatu yang diharapkannya. Ia tidak suka menjadi bintang, berada di belakang layar lebih menyenangkan bagi Stephanie. Rasanya sangat nyaman saja saat orang-orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan tidak memperhatikanmu. "Dasar sinting!" maki Stephanie geram. Gadis itu membuang muka. "Maafkan aku, Steph!" ucap Shane setelah tawanya reda. "Tapi aku merasa lucu saja saat mengatakan penggemar fanatik Angelica." Shane langsung menutup mulutnya menggunakan kedua tangan setelah berkata seperti itu. Pemuda itu berusaha menahan tawanya yang kembali akan meledak. "Kau menertawakan perkataanmu sendiri, Bodoh!" geram Stephanie tertahan dengan gigi yang tertutup. Shane mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Ia tidak akan berdebat dengan Stephanie lagi, tak ingin Stephanie semakin kesal padanya. Brian menggeleng pelan dengan kelakuan kedua sahabatnya. Selain Angelica, Shane juga sering ribut dengan Stephanie. Bukan karena Shane yang selalu mematahkan setiap perkataan Stephanie seperti yang dilakukannya terhadap Angelica, tetapi ini lebih terlihat seperti menggoda. Menurut Brian, Shane itu menyukai Stephanie. Hanya saja Shane belum mau mengutarakan perasaannya itu. Padahal mereka pasangan yang cocok. "Sudahlah, teman-teman. Bisakah kita tidak membicarakan Angelica lagi? Kalian membuatku mual." Brian menggeliat jijik. "Astaga, Brian. Tidakkah itu keterlaluan?" tanya Stephanie. Bertanya seperti itu, tetapi raut wajah Stephanie menunjukkan rasa geli. Apalagi matanya, mata hijau itu tampak tersenyum geli. "Ya ya menurutku juga begitu." Shane mengangguk mengiakan pertanyaan Stephanie. Brian mengernyit. Duduknya yang tadi santai dengan punggung menyender ke senderan kursinya sekarang menjadi tegak. "Apa maksud kalian?" protes Brian. Padahal tadi kedua sahabatnya ini bertengkar, sekarang mereka malah saling mendukung. "Maksudku begini." Stephanie menjilat bibir sebelum meneruskan, membersihkan sisa krim keju yang menempel di sudut bibirnya. "Kau mual dan jijik pada semua yang dikatakan Angelica atau pada Angelica?" "Kalau aku pada keduanya," sahut Shane cepat. Pemuda itu mengerang. "Sama sepertiku," balas Stephanie. Gadis itu memberikan kepalan tangannya pada Shane. Yang disambut Shane dengan kepalan tangan juga. Brian memutar bola mata. "Haruskah aku menjawab pertanyaan tak bermanfaatmu itu?" tanyanya malas "Harus!" jawab Stephanie dengan nada memerintah yang sangat kentara dalam suaranya. "Kau harus menjawab pertanyaanku!" Brian mengerang. Kedua sahabatnya sekarang berkomplot untuk mengoloknya. Kurang ajar memang, tapi memang begitulah keadaannya. Mereka saling melengkapi. "Ayolah, Brian," bujuk Shane. "Apakah sangat sulit mengatakan hal apa yang membuatmu merasa mual pada Angelica? Kau tinggal menjawabnya saja, yang A atau yang B, beres." Shane membuka kedua tangan sambil mengangkat bahu. "Aku rasa tidak ada manfaatnya bagimu meskipun aku tidak menjawab pertanyaan Stephanie, Shane." "Kata siapa tidak ada manfaatnya!" seru Shane cepat. "Manfaatnya sangat banyak, sampai-sampai aku tidak dapat mengatakan semuanya hanya dalam waktu satu hari." "Astaga, apakah memang sebanyak itu?" tanya Brian tak percaya. Shane memang terlalu mengada-ada. Brian terlalu kecil. "Tentu saja." Shane mengangguk. "Iya kan, Steph?" tanyanya pada Stephanie yang sejak tadi diam memperhatikan. Gadis itu seolah sedang memikirkan sesuatu. Stephanie mengangguk tanpa semangat. Ia masih merangkai setiap kata yang ingin dikatakannya. Brian mengembuskan napas melihat anggukan itu. Pemuda itu mengerang tertahan, meletakkan dagunya di meja, di antara nampan berisi sisa makan siang mereka. "Brian, jangan katakan kalau kau juga menyukai Angelica." Bukan hanya Shane yang tersedak jus jeruk yang baru saja diminumnya, Brian juga lututnya sampai terantuk meja saking terkejutnya. "Apa maksud pertanyaanmu itu?" tanya Brian horor. Stephanie mengangguk. Menatap kedua pemuda tampan di depannya bergantian. Kemudian tatapannya terhenti pada Brian. "Katamu kau mual mendengar kami membicarakan Angelica." Brian mengangguk. "Saat aku bertanya apa yang membuatmu mual kau malah tidak menjawab." "Lalu?" tanya Brian. "Apa hubungannya dengan pernyataan mengerikanmu tadi?" Pemuda itu menggeliat. Rasanya sangat geli saat mendengar kalau ia juga menyukai Angelica. "Tentu saja ada, Bodoh!" Stephanie membelalak kesal. "Kau mual itu disebabkan oleh dua hal." Stephanie mengangkat kedua jarinya, memperlihatkannya di depan Brian dan Shane. Shane mengangguk. "Iya?" "Pertama!" Stephanie menyimpan satu jarinya. "Kau mual karena kau memang benar-benar jijik pada orang itu." Shane dan Brian mengangguk bersamaan. Wajah kedua pemuda berbeda warna rambut itu terlihat serius. "Kedua, kau mual hanya berpura-pura saja." Alis Brian mengerut. "Aku tidak mengerti perkataanmu yang ini," ucapnya. "Maksudku, kau hanya berpura-pura saja mengatakan hal itu." Stephanie kembali menjilat bibirnya. Kali ini hanya untuk membasahi bibirnya yang terasa kering saja. Ia memang tidak mengenakan pelembap bibir, tidak pernah malah. Menurutnya ia akan terlihat sangat aneh kalau mengenakan benda itu. "Kau mengatakan mual hanya karena kau ingin kami menghentikan percakapan kami yang jelas-jelas hanya membicarakan keburukan Angelica. Kau tidak suka mendengarnya. Kau ingin kami berhenti membicarakannya tapi tidak tahu bagaiman caranya sehingga kau mengatakan kalau kau mual mendengar itu. Kau mengerti sekarang?" tanya Stephanie kesal. "Aku masih kurang paham." Brian menggeleng pelan. Mengangkat kedua tangannya setinggi kepala. Stephanie berdecak. Gadis itu semakin kesal saja. Ia sudah menjelaskan panjang kebar sampai mulutnya terasa berbuih dan Brian dengan tanpa rasa bersalahnya mengatakan kalau ia masih belum paham? Astaga! "Jadi kesimpulannya apa?" tanya Shane. Pemuda berambut cokelat gelap itu menggaruk pelipisnya. Ia juga sama tidak mengertinya dengan Brian. "Astaga, kalian ini!" Stephanie menggeleng kesal. Haruskah ia menjelaskan penjelasan panjangnya sekali lagi? "Maafkan aku, Steph. Tapi sungguh, aku masih belum mengerti dengan penjelasanmu tadi," ucap Brian menyesal. Stephanie menghela napas, kemudian mengembuskannya pelan. "Kesimpulannya adalah Brian tidak ingin mendengar kita membicarakan Angelica karena Brian menyukai Angelica." "Apa?" tanya Brian dan Shane bersamaan. Stephanie mengangkat alisnya kemudian tersenyum. "Astaga, ini gila!" ucap Brian tak terima. "Kesimpulanmu kali ini benar-benar gila, Steph." Brian menggeleng-geleng pelan. "Aku sependapat denganmu, kawan," sahut Shane menepuk bahu Brian. "Bagaimana mungkin kau bisa membuat kesimpulan seperti itu?" tanya Brian memencet pangkal hidungnya. Kepalanya terasa sedikit pusing mendengar kesimpulan Stephanie. Karena ia tidak menyukai Angelica, dalam artian lebih dari seorang teman. Bukan karena ia bekum menyadari perasaannya, tetapi itu adalah fakta. "Sementara aku tidak pernah berpikir tentang hal itu." Stephanie memundurkan duduknya sampai punggungnya menyentuh senderan kursi. Kedua tangannya bersedekap. "Wajar kan aku berpikir seperti itu?" tanya Stephanie. Tatapannya kembali menyapu dua orang pemuda di depannya yang menatapnya masih dengan tatapan tidak percaya. "Kau sangat mencurigakan, Brian." Stephanie memicing menatap Brian. Brian bergidik, ngeri dengan tuduhan Stephanie yang tidak berdasar. Di dalam mimpi pun ia tidak pernah berpikir untuk jatuh cinta kepada Angelica, apalagi di kehidupan nyata. Jangan sampai hal itu terjadi. Karena ia akan menjadi pemuda paling bodoh di kota ini kalau ia sampai jatuh cinta kepada Angelica.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD