episode 3

1644 Words
"Saya yang melakukannya" ucap seseorang dari arah pintu masuk. "Beraninya!! Kau!!" Geram Dika yang langsung berjalan cepat kearah Aldrinan dan hendak melayangkan pukulan kepada Aldrinan, namun satu tangannya di cekal oleh seorang laki-laki yang baru datang. "Ada apa ini?" Ucap Nala sambil mengunci pergerakan Dika yang masih tersulut emosi. "Lepasin! Coba lihat itu leher mbak Ell! Perbuatan dia!" triak Dika sambil mengarahkan dagunya pada Aldrinan. Nala mengalihkan pandangannya pada Elliana, beberapa detik kemudian pada Aldrinan, beberapa detiknya lagi pada Andika adiknya yang sedari tadi brontak. "Pipi mbak Ell memar juga karena dia?" Pertanyaan Nala membuat Dika terpaku dengan rasa bersalah "Jadi dia yang brani menyakiti mbak Ell? Benar begitu Dika?" Tanya Nala tetap dengan nada datar dan dingin. "Bu-Bukan, itu ak-aku" jawabnya terbata Nala menarik nafas dalam, kemudian menendang belakang lutut Dika agar terduduk, menghempas tubuh Dika kasar. "Jadi siapa yang melakukan kekerasan disini? Kamu atau dia?" "Tapi kan ak--" "Dengan emosimu, apa cukup pantas kamu melukai kakakmu? Sekarang kamu lihat mereka baik-baik, apa terlihat seperti seseorang yang telah menyakiti mbak Ell? Apa mbak Ell terlihat ketakutan melihatnya? Trauma atau semacamnya? Tidak seperti kamu saja main hakim sendiri seperti ini" Dika menetralkan deru nafanya, mencoba menurunkan emosinya, detik kemudian ia mengamati Aldrinan dengan baik dari bawah hingga atas. "woooo..... jadi, ini maksud mbak Ell dengan bersenang-senang di Bali?" teriaknya seraya berdiri dengan cepat saat tatapannya terpaku pada kissmark yang terlukis pada leher Aldrinan, sementara Elliana hanya diam menahan malu di depan kedua adiknya itu. "See? Siapa yang menyakiti siapa sekarang?" Tanya Nala kembali Aldrinan hanya diam mengamati drama persaudaraan mereka. "Saya Nala, maaf atas perlakuan adik dan kakak saya tuan Aldrinan Drake Lewis" Nala mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri, sembari meminta maaf dengan melirik Dika dan Elliana bergantian. "Tidak masalah" menjabat tangan Nala sambil tersenyum. "Mari masuk" nala mempersilahkan Aldrinan masuk ke ruang tengah ia duduk berhadapan dengan Aldrinan. Memang di situasi genting cuma Nala yang bisa diandalkan, sikapnya yang rasional membuatnya tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Elliana masih berdiri di tempat semula terkejut dengan kehadiran Aldrinan, begitu pula dengan Dika yang mematung mendengar nama yang sangat familiar di dunia bisnis. "Mbak.." Panggil Dika lembut kemudian mengelus pipi Elliana yang memerah, "maafkan Dika" Elliana hanya tersenyum kemudian memeluk adiknya dengan sayang, dia sudah memaafkan sikap adiknya, karena dia tau adiknya hanya takut ada orang yang menyakiti atau melecehkannya. "Its oke Dika" mengelus kepala Dika yang cukup tinggi lalu mengecup keningnya. Setelah mengobati pipi Elliana yang memerah, Dika dan Elliana bergabung dengan Nala dan Aldrinan yang terlihat sedang terawa akrab. "Jadi apa maksud anda mendatangi mansion saya tuan Aldrinan?" Tanya Elliana dingin kemudian mendudukkan dirinya disofa. "Mbak kok kasar gitu sih sama calon suaminya?" Tanya Nala, Elliana mengerutkan keningnya menatap kearah Aldrinan yang terngah menampakkan senyum kemenangan. "Dek, dia itu buk--" "Sepertinya kita harus bicara berdua, boleh saya pinjam kakak kalian?" Potong Aldrinan, kemudian menarik lembut tangan Elliana setelah mendapat kode senyum dan anggukan dari Nala. "Apa yang kau mau?" Elliana menghentikan langkahnya ketika sampai di tamam samping. "Kamu" ucapnya kemudian membalikkan tubuh untuk menghadap Elliana. Elliana mendengus kesal, "Oke, aku minta maaf atas perlakuan kemarin, mohon untuk tidak memperpanjang masalah Tuan, aku tidak mengingat apa-apa" "Woaaahh, itu ucapammu? Setelah dengan sengaja kau melibatkan aku pada masalahmu dengan mantan kekasihmu?" "Bukan begit--" "Jadi bagaimana? Aku telah terjerat pesonamu Elliana" Aldrinan menyingkirkan rambut samping Elliana hingga kebelakang telinga "Apa maumu?" Tanya Elliana "Menikahlah denganku Elliana!" Ucapan Aldrinan mampu membekukan seluruh tubuh Elliana. "Lupakan aku Aldrinan, lupakan kejadian kemarin, dan maaf aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu" Elliana mengalihkan pandangannya kelain arah "Kamu bisa, kau pasti akan mencintaiku" ucap Aldrinan penuh keyakinan. ***** Elliana masih sibuk dengan berkas-berkas dan laporan keuangan kantor, setiap akhir bulan kantor memang selalu mengadakan pengecekan ulang, mulai dari keuangan, pembangunan project, kestabilan server, perkembangan jumlah pengguna, hingga respon dan masukan pengguna guna memperbaiki setiap kekurangan yang mereka miliki. Tok Tok Tok .. "Masuk!" "Siang ini ada meeting di rumah sakit Kusuma" ucap Dika sambil berjalan ke arah sofa yang berada di ruangan Elliana "Tentang apa dek?" tanya Elliana bingung, karena jujur dia tidak pernah mengingat setiap jadwalnya "Aplikasi kita yang telah menyelesaikan tahap testing" jawab Dika sambil memakan anggur yang ada di mejanya. "Oke, kita brangkat" Elliana dan Dika berjalan beriringan menuju ruangan meeting di rumah sakit Kusuma, disusul beberapa orang di belakang mereka yang merupakan divisi pembangungan aplikasi tersebut. Sepanjang koridor, mereka berdua tak lepas dari pandangan takjub setiap mata yang mereka lewati, Elliana dan Dika memang seperti pasangan serasi mata mereka yang sama berwarna grey seperti kakek mereka, juga rambut dengan warna coklat tua bergelombang, tampak sangat mempesona. "Mbak, btw mas yang datang minggu lalu itu pemilik Drake Corp?" Bisik Dika ketika hampir sampai di ruang meeting. "He'em" hanya deheman, karena Elliana tidak ingin membahasnya. "Tapi jujur kak, siapapun orangnya, Dika gak suka kakak seperti itu" ucap Dika dengan nada sendu yang mampu menghentikan langkah Elliana, Dengan satu tarikan nafas dalam "Dika kok dibahas lagi sih? Kan sudah diomongin kemarin? Itu bukan kesengajaan kakak ataupun Aldrinan, itu karena obat si Bastian, lagian Dika sudah lihat bukti rumah sakit bahwa kakak tidak melampaui batas" Elliana berjalan kembali mengabaikan adik protektifnya, beruntung beberapa langkah lagi sampai di pintu ruang meeting, Dika membuka pintu, membiarkan Elliana masuk terlebih dahulu, memundurkan kursi untuk mempersilahkan Elliana duduk. Selama 2 jam meeting berjalan dengan lancar tanpa adanya revisi pada project, project dinyatakan kelar dan selanjutnya tinggal launching aplikasi dan pemabayaran juga telah dilunasi, setelah Elliana menyelesaikan berkas serah terima aplikasi dan membubuhkan tanda tangan pernyataan pelunasan aplikasi, ia persiap untuk kembali ke kantor karena masih banyak berkas yang harus di selesaikannya. "Ayo balik dek" ucapnya sambil menoleh kebelakang namun tidak menemukan keberadaan Dika, Elliana celingukan memasang tampang konyol mencari keberadaan adiknya, "Heh" tapukan dari belakang Elliana dengan suara tegas namun lembut yang jelas bukan suara adiknya yang konyol itu, Elliana menoleh ke bahunya yang masih di pegang oleh tangan yang kini  sedang membalik tubuh Elliana dengan perlahan dan lembut, memegang kedua bahunya, ketika tubuh Elliana berbalik menghadap pria tersebut senyum hangat terbit di wajah Elliana, senyum yang juga mengandung kerinduan pada pria di depannya. "I miss you so bad sweety" ucapnya sambil memeluk tubuh langsing Elliana. "Miss you too Dam, kamu kemana aja?" tanya Elliana sambil mendongak pada sahabatnya dari masih SMA itu Dika mempercepat langkahnya ketika melihat Elliana sudah di peluk seorang laki-laki tampan "Lah! Mas Damian! Main peluk-peluk kakak aku! Lepas lepas" ujarnya sambil berusaha melepaskan pelukan Damian "Hahaha, kamu sudah besar ya!" Ujar Damian sambil mengacak rambut Dika seperti anak kecil. "Ih, memangnya Dika anak kecil apa! Mas Damian tadi kemana? Kok gak ikut rapat?" canda Dika pada Damian Kusuma yang merupakan anak pemilik rumah sakit. "Mas tadi ada oprasi, jadi ini baru bisa hadir pas tanda tangan deh sekalian ketemu kalian" Dika melemparkan senyum jahil pada damian. "Ih ketemu kita apa ketemu mbak Ell?" Ujarnya pada Damian yang sedang menatap kagum kakaknya. "Ya ketemu-" "Ehhmmm, Dam, maaf nih aku masih banyak urusan di kantor, aku balik dulu ya" pamit Elliana sambil merentangkan tangannya untuk merangkul leher sahabatnya itu kemudian memberikan cipika cipiki. "Aku akan mengunjungimu" ucap Damian di sela cipika cipikinya . "Oke! Ayo dek!" Elliana berjalan terburu di susul Dika dibelakangnya "Dahh mas" ujar Dika sambil melambaikan tangan pada Damian Elliana memasuki ruangan kantornya kemudian melanjutkan pekerjaannya dengan sedikit terburu, karena ia tak ingin mengambil lembur Drrrt ... Drrrt ... Telpon dari nomor tidak dikenal "Halo.. " sapa Elliana namun tidak ada jawaban dari sebrang "Hallooo ... " sapa Elliana lagi namun tetap tal ada jawaban kemudian Elliana mematikan telponnya sepihak 'Orang iseng kali' pikirnya Drrrtttt.. Drrrrttt.. Drrrrtt.. Telpon dari nomor yang sama 'Oke dia mulai main-main' batin Elliana bergumam "Haloo, dengan siapa disana?" Sapa Elliana dengan lembut namun tetap tak ada jawaban dari seberang 'Oke! Stok sabar tinggal sehelai nih' ucap Elliana dalam hati Elliana menarik nafas kasar hingga dapat didengar penelfon. "Suaramu masih mempesona Elliana" ucapnya sensual "Bastian!" Triak Elliana "Kau masih mengenal suaraku sayang, kau memang hanya untukku!" "Bass! Tolong berhenti ganggu aku!" "Aku tidak mengganggumu sayang, aku hanya ingin mendengar suaramu, aku merindukanmu, bahkan aku merindukan setiap pukulanmu seperti saat kita berlatih dulu Elliana" "Bass! Aku sangat tidak memiliki waktu untuk meladenimu! Jadi stop jangan telpon aku! Tolong hargai permintaanku! Aku sibuk!" Elliana menutup telponnya sepihak kemudian nendengus kasar Tok..  tok.. tok.. "Masuk!" Nala berjalan kearah meja Elliana, kemudian memberikan beberapa file yang harus di tandatangani. "Apa ini?" Tanya nya dengan sedikit nyolot karena rasa kesalnya belum sepenuhnya hilang "Itu bukti penyelesaian dan pelunasan PT. Antera kak" ucap Nala sambil berdiri di sebelah Elliana. Drrrrttttt.. Drrrrtttt.. Drrrtttt .. "Kak, handphonenya bunyi lo" ucap Nala, kedua sepupu Elliana memang memanggil kakak saat sedang dalam lingkup kerja "Iya tau" jawabnya ketus "Nala yang angkat ya?" Tanya Nala karena tau siapa penelfon usai melirik hp kakaknya "Jangan! Biarkan saja!" Ucapnya masih tersirat rasa kesal Drrrttt.. Drrrrttt.. Drrrrttt.. Handphone Nala berbunyi "Kak, pelefon barusan menghubungi nomor Nala nih" ucap Nala. 'astaga Bastian kurang kerjaan banget sampe nelponnin adekku' ucapnya dalam batin serasa mengambil nafas dalam "Biarkan saja" "Pasti habis ini Dika yang bakalan dihubungi, angkat aja tanya ada perlu apa" ucap Nala setelah telponnya mati "ya pasti! dari dulu dia memang sudah seperti itu kan! Udah biarkan saja jangan di tanggapi, dia gak ada perlu apa-apa kok" jawab Elliana yang mempu membuat Nala mengernyitkan dahi Drrrttttt.. Drrrrrttttt.. Drrrrttt.. Kembali ponsel Elliana yang berbunyi "Kak, emangnya ada apa sih?" Tanya Nala pelan Elliana menarik nafas kesal, dengan satu hembusan nafas kemudian mengangkat tepon tersebut. "Aaaaaaaaa!!!! Apaaaaa siiiiihhh!!! Sudah dibilang jangan pernah tellpon lagiiii!!! Kok gak punya muka ya jadi orangg!!!!!" Sangking kesalnya Elliana berteriak, hingga Nala menutup telinganya sambil berjongkok "KURANG AJAR!! SEKARANG BRANI YA BENTAK SAMPAI TERIAK SEPERTI ITU! UNTUNG DADDY GAK PUNYA PENYAKIT JANTUNG! PULANG KAMU!!" "Da-daddy .." ucap Elliana gelagapan "PULANG !!!" Deg 'Yak Elliana, nasi sudah menjadi bubur, setelah ini bersiaplah kau menjadi lauk bubuk Elliana' ucapnya dalam hati
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD