"Apa yang kalian lakukan?" Gema suara Hariawan dengan nada dinginnya.
"Da-ddy, ini bukan seperti yang daddy pikirkan .."
"Masuk kalian!" Sahut Hariawan datar sambil melangkah kearah ruang tengah.
Elliana dan Aldrinan menyusul Hariawan seusai berbilas dan berganti pakaian. Elliana mengernyitkan dahi mendapati ruang tengah kosong 'kok gak ada orang?' Pikirnya.
"Non ditunggu bapak di meja makan" ucap bik Yum
Dengan malas Elliana berjalan kemeja makan yang ternyata telah terisi oleh beberapa orang.
"Duduk kita makan dulu" ucap Hariawan.
Elliana mendudukkan dirinya di sebelah Atika, yang sialnya harus berhadapan dengan Aldrinan, rasa malu dan juga jengkel menyelimuti dirinya, Elliana jengkel atas perbuatan dirinya sendiri beberapa menit lalu.
"Jadi, kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" Ucap Hariawan dengan santai sambil meneguk air minumnya.
Uhkk .. uhk .. uhh ..
Pertanyaan Hariawan yang spontan membuat Elliana tersedak dari makannya, "M-maksud Daddy apa?"
"Iya kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian?" Hariawan dengan santai melirik Aldrinan dan Elliana bergantian.
"Kami tidak menjalin hubungan apa-apa dad!" Sungut Elliana
"Jadi, tadi di kolam apa? Apa memang sudah terlalu biasa untuk kamu mencium laki-laki Ell?"
Tanya Hariawan dengan mengangkt sebelah alisnya.
"Bu-bukan begitu Dad" jawab Elliana terbata yang dibalas usapan lembut pada tangan Elliana oleh Atika yang berada di sebelahnya.
"Sudahlah Ell! Sampai kapan lagi kalian menyembunyikan ini? Sampai kapan juga kamu mau melajang? Usia kamu sudah gak muda lagi sayang!" Ucap Atika kepada anak sulungnya itu.
"Mom, ini bukan soal muda atau tua, tapi Ell beneran tidak ada apa-apa dengannya"
"Sudah sayang, mommy sama daddy setuju dengan hubungan kalian, mommy juga sangat bahagia ternyata kalian saling mengenal, karena sebenarnya mommy dan daddy memintamu pulang untuk mengenalkan kalian berdua"
"Maksud mommy mau menjodohkan Elliana?" Elliana meringis mendengar ucapan Mommynya, namun berbeda dengan Aldrinan yang mengumbar senyum dari tadi.
"Tidak Ell, bukan menjodohkan"
"Terus apa namanya kalau bukan menjodohkan mi?" Ucap Elliana
"Hanya mengenalkan sayang, bukan merati menjodohkan, mungkin kalian cocok sebagai teman atau kolega bisnis, memangnya kamu berharap dijodohkan dengan Aldrinan?" Timpal Atika dengan senyuman jahil pada anaknya
"Ah tidak" jawab Elliana dengan rona merah di wajahnya
"Kamu ingat tante Diandra? Tetangga kita waktu di Bandung dulu?" Ucap Atika sambil melihat ke arah Diandra dan Allison bergantuan
Elliana mengamati seksama Diandra dan Alison
"Ah ya! Apa kabar tante? maaf sebelumnya Elliana tidak mengenali tante dan om"
"Tidak apa Elliana, memang wajar Ell tidak mengenali kita, dulu kamu masih sangat kecil sekali, sekarang sudah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik" ucap Diandra tulus
"Jadi mereka itu orang tua dari Aldrinan sayang, kami mengadakan makan malam ini meresmikan salah satu project yang dipegang daddy dan om Alison" sambung Hariawan
"Hah? Tapi mom, dulu sepertinya tante Diandra tidak memiliki anak?"
"Ssstt! Jaga ucapan kamu Elliana!" Tegas Hariawan menegur putrinya
"Tidak apa-apa kok wan, jadi gini Ell, dulu waktu kecil Aldrinan bersama kakek neneknya di Singapure karena om dan tante saat itu masih susah membagi waktu untuk Aldrinan dan bisnis kami" Jawab Alison atas pertanyaan Elliana tadi yang hanya dijawab anggukan tanda mengerti dari Elliana.
"Jadi kalian benar menjalin hubungan?" Tanya Hariawan sambil menatap Aldrinan dan Elliana bergantian
"Ya"
"Tidak"
Jawab Aldrinan dan Ellina bersama
"Hmm?? Daddy sudah mendengar semuanya Ell, jangan menutupi apa-apa lagi" Hariawan menautkan kedua tangannya sembari menatap putri sulungnya tersebut
"Hmm maksud daddy?"
"Ya semuanya yang terjadi diantara kalian!" ucap Hariawan sambil kembali menyuap makannya ke mulutnya, membuat Elliana menelan ludahnya dengan berat, Elliana melupkan bahwa ayahnya tidak pernah melepaskan pengawasannya pada Elliana sejauh apapun Elliana pergi, Hariawan pasti memiliki mata-mata untuk mengawasinya khusunya untuk masalah laki-laki karena hariawan tidak ingin Elliana salah memilih pasangan hidup.
Elliana terpaku mendengar penuturan ayahnya 'daddy mengetahui sampai mana?' Ucapnya dalam hati, suasana meja makan menjadi hening beberapa saat hanya ada bunyi ketukan antara alat makan, Hariawan menyelesaikan makannya dengan cepat.
"Sudah jangan ditutupi lagi, Daddy setuju dengan hubungan kalian" Ucap Hariawan
"Papi juga setuju" timpal Alison melanjutkan, Aldrinan tersenyum mendapati persetujuan dari kedua belah pihak
"Terimakasih pi, om" ucap Aldrinan
"Panggil Daddy, jangan panggil om dong" goda hariawan pada Aldrinan yang hanya dibalas senyuman tipis oleh Aldrinan
"Daddy apaan sih?" Protes Elliana
"Emang kenapa? Dia calon suami kamu kan"
"Ih siapa bilang?"
"Kamu sendiri yang bilang"
Spontan Elliana mengingat kata-katanya ketika mengenalkan Aldrinan sebagai calon suaminya kepda Bastian ketika di Bali .
'Aduh harus bilang apa ini? Gak mungkin kan aku bilang itu hanya pura-pura didepan kelurga Aldrinan' gerutunya dalam hati
"Sudahlah Ell, daddy sudah tau semuanya, jangan di tutupi lagi, kamu mau mengeles seperti apa juga kami sudah melihat sendiri kalian bemesraan tadi pagi dan semalam"
"Semalam?"
"Kamu pikir siapa yang pindahkan kamu ke kamar? Daddy semalam yang antar Aldrinan yang lagi gendong kamu yang tertidur dari perpustakaan ke kamar kamu"
"Haa!? Jadi semalam daddy sudah pulang? Ah, tunggu! aku di gendong?"
"Iya, kebetulan daddy baru pulang tadi malam, melihat Aldrinan menggendong kamu sambil kebingungan mencari kamar kamu, ya daddy antar"
Elliana menarik nafas dalam untuk kesekian kalinya, ia merasa seperti terjerat di sebuah ranjau yang ia buat sendiri.
"Oke, jadi kapan kalian akan melangsungkan pernikahaan?"
"Gak perlu terburu-buru juga dad"
"Terburu-buru bagaimana setelah melihat kalian b******u seperti tadi?"
"Ah, Elliana belum mau menikah muda Daddy!"
"Dengan usiamu yang sekian kamu masih bisa bilang seperti itu? Usiamu sudah cukup untuk menikah Ell"
"Ah terserah Daddy saja, om, tante, mom, Elliana pamit ke kamar dulu boleh?
"Boleh sayang" jawab Diandra dengan senyuman manisnya
"Maaf Daddy" ucapnya lalu pergi meninggalkan ruang makan
"Anak itu, masih saja ke kanak-kanakan"
"Sudah lah wan, anakmu mungkin masih terkejud dengan semua ini" ucap Alison
"Aku sangat tidak enak dengan kalian son" timpalnya
"Tidak apa-apa dad, Al mengerti posisi Elliana sekarang" ucap Aldrinan
"Maafkan sikapnya Elliana ya Al, dia sangat mencintai perusahaan rintisannya, itu sebabnya dia selalu menghindar seperti ini kalau kita membahas mengenai pasangan hidup" timpal Atika
"Tidak apa-apa mom, mungking Elliana belum yakin dengan keseriusan Al, tapi Al akan membuktikan kepada Elliana bahwa Al tulus mencintanya" ucap Aldrinan
"Kamu memang anak baik, tidak salah daddy mempercayakan Elliana sama kamu, untuk keputusan Elliana, daddy serahkan semuanya sama kamu, semakin kemari saingan Elliana semakin banyak, yang ingin menjatuhkannya bahkan yang ingin mencelakakannya juga banyak, walaupun dia pandai berkelahi tapi daddy tetap khawatir karena biar bagaimanapun dia tetap seorang wanita, dia butuh seorang pasangan hidup yang mampu mengarahkan dan menjaganya, setelah mengenal kamu cukup lama, daddy yakin kamu sempurna untuk Elliana" ucap Hariawan
******
Elliana menggigit kuku jarinya sambil mondar mandir di kamarny "itu tadi daddy bercanda apa gimana? Main nikah-nikah aja, lagian apaan itu si Aldrinan dari tadi cuma dirm aja denger daddy mau nikahin kita?"
Tok Tok Tok ...
"Masukk"
"Ini non jus melon sama kacang almonya"
"Terimakasih bi, tolong bawakan buku yang kemarin aku taruh dimeja baca ya bi"
"Siap non"
Tok Tok Tok ...
"Masuk"
"Kalau lagi minum duduk dong"
Uhk .. uhk .. uhk ..
"Ell, kamu gak apa-apa? Mangkanya kalau makan dan minum jangan berdiri" Aldrinan mendekati Elliana dan mendudukkannya di pinggir ranjang
"Siapa yang suruh kamu seenaknya masuk kamarku!"
"Kamu" jawabnya jahil dengan membungkukkan badannya 90 drajat untuk menatap Elliana yang sedang duduk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti, jantung Elliana berdegup cepat mendapati mata mereka yang saling menatap dengan posisi yang sedekat ini dengan sangat jelas Elliana dapat melihat ukiran wajah tampan Aldrinan yang bak Dewa Yunani dengan kulit putih, dagu runcing, dan bibir seksi yang terdapat belahan dibagian bawah dengan senyuman yang sangat manis membuat siapapun terpesona melihatnya, dilengkapi mata berwarna hazel yang membuat ketampanan Aldrinan menjadi sempurna
'Sungguh Al kamu sangat tampan, membuatku selalu hilang kendali' ucapnya dalam hati
Aldrinan semakin mendekatkan wajahnya pada Elliana, membuat Elliana memundurkan badannya hingga hampir terbaring, Aldrinan memperpendek jarak mereka, mendekatkan bibirnya pada leher sebelah kanan Elliana, Elliana yang sadar Aldrinan seoalah akan mencium lehernya, memejamkan mata sesaat menikamati deru nafas Aldrinan pada kulit putih lehernya, Aldrinan mengecupnya mesra membuat Elliana mengeram nikmat dan lebih mendongakkan dagunya juga sedikit membusungkan badannya, mendapat respon positif dari Elliana, Aldrinan menyudahi aksinya dengan senyum kemenangan
"Mengapa kau tidak mau menikah denganku sedang tubuhmu selalu menerimaku dengan baik" bisiknya pada Elliana.
"Keluar Al!" Ucapnya memalingkan wajah
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu" Ucapnya sambil mengangkat dagu Elliana.
"Oke kalau begitu aku keluar dulu ya calon istriku" Aldrinan mengecup kening Elliana singkat kemudian menaruh buku yang Elliana titipkan pada bik Yum di pangkuan Elliana sebelum meninggalkan kamarnya.
"Hahhh" Elliana merebahkan dirinya dan melepas nafas lega seakan sudah lama menahan nafas ..
'Iblis tampan itu tidak akan pernah melepaskanku' ucapnya dengan tersenyum dan memegang keningnya ..