Pagi-pagi bangun, Velyn sudah merasa tak semangat saja. Ini karena otaknya langsung memberikan sebuah papan raksasa bertuliskan memimpin perusahaan padanya. Hal yang akan ia lakukan hari ini. Velyn benar-benar tidak niat, kalau saja bukan karena papanya, ia takkan pernah mau melakukan ini.
Ketika Velyn mendongak dan melihat jam yang menunjukkan pukul enam. Entah kenapa kantuknya kembali datang dan akhirnya ia memutuskan untuk tidur sesaat. Lima belas menit kemudian ia terbangun, melihat jam lalu tidur kembali. Hal itu terjadi sampai tiga kali sebelum akhrinya Velyn melompat turun dari tempat tidurnya.
"Bisa gila kalau gitu terus-terusan," gumamnya mengucek kedua matanya dengan kedua tangannya. Ia berjalan ke arah kamar mandi dan mempersiapkan dirinya serapi mungkin.
Velyn menatap dirinya di cermin panjang di sudut kamarnya. Ia memakai dress selutut bermotif flowers yang rasanya cocok dengan musim kemarau sekarang ini. Lagipula dress yang ia kenakan termasuk semi formal, jadi jika hanya untuk berjalan kesana-sini melihat-lihat perusahaan saja menurutnya tidak aneh. Tapi ada yang kurang, yakni high heels berukuran lima sentimeternya. Yang satu itu jangan sampai kelupaan karena mampu menambahkan tinggi badannya yang jelas akan terlihat lebih cantik.
Kalau tas ....
"Hmm ...." Velyn berdiri menatap tas-tas miliknya yang tergantung rapi di dalam raknya. Ia tak begitu hobi memakai tas. Paling-paling hanya memakai pakaian yang memiliki saku jadi bisa meletakkan ponselnya di sana, sama seperti dress yang ia pakai sekarang, ada sakunya juga.
Velyn menggelengkan kepalanya. Ia berbalik, mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Tapi tunggu, ia teringat sesuatu.
"Apa masih di dalam sini, ya?" tanya Velyn pada dirinya sendiri sebelum menarik laci pertama di mana ponsel lamanya ia letakkan di sana.
Sudah lima tahun lamanya, dan ternyata ponsel itu masih ada di sana. Senyum Velyn terbit, ia mengambil ponsel itu. Bentukannya masih sama yang artinya tidak ada seorang pun yang menyentuhnya. Baguslah. Velyn sebenarnya penasaran bagaimana isi ponsel lamanya, sebanyak apa chat dari teman-teman sekolahnya, dan yang lebih penting dari Valerio. Tapi ia rasa penasarannya lebih baik di kubur dalam-dalam, bisa saja hal yang ia temukan di ponsel lama itu akan mengguncang dirinya. Jadi, lebih baik tidak dulu.
"VELYN!"
Kepala Velyn berputar ketika ia mendengar teriakan mamanya yang super duper membahana. Heran juga, mamanya sudah paruh baya pun masih berteriak kencang layaknya seorang ibu di umur tiga puluhan.
Ia pun dengan perlahan meletakkan kembali ponsel lamanya ke tempat awalnya dan menutup lacinya. Velyn tersenyum simpul, memegang kembali ponsel itu rasanya seperti semua kenangannya mendadak menyerang memorinya, memaksanya untuk mengenang.
Sementara itu. Mama di bawah sudah berkacak pinggang kesal karena Velyn begitu lama padahal suaminya sudah menunggu selama sepuluh menit.
"Sabar, Ma. Bentar lagi paling keluar," ujar papa mencoba menenangkan mama yang sudah terlanjur sebal.
"Udah hampir jam delapan, Pa. Ngapain aja coba dari tadi di dalam kamar?" seru mama.
"Mungkin udah biasa bangun agak siangan. Jadinya masih nyesuaiin."
Mama mendengus tidak menjawab. Papa memang selalu saja membela Velyn. Padahal dirinya sedang membela papa. Aneh sekali.
Mata mama bersinar tajam ketika ia melihat Velyn turun dari tangga dengan cepat. Anaknya itu memakai heels tapi jalannya begitu cepat seolah memakai flat shoes. Hal ini sebenarnya tidak heran dari seorang Velyn. Tapi resiko ada kapan saja, mamanya selalu mengingatkan akan hal itu. Lebih baik menghindari resiko, bukan? Jadi harusnya Velyn melangkah hati-hati.
Velyn sendiri meringis melihat wajah kesal mamanya. Ia menggaruk pipinya. Mamanya tidak suka orang yang bangun lebih dari jam tujuh. Ia dalam bahaya sekarang. Mana ketika ia melirik papanya ternyata papanya sudah rapi lagi. Bahaya yang Velyn terima dua kali lipat sekarang.
Velyn dengan polosnya melakukan gestur Namaste di mana kedua telapak tangannya saling menyentuh di depan tubuhnya dan didukung dengan wajah tak bersalah meminta ampun dari mamanya. Papa yang melihatnya tak kuasa menahan tawa. Kelakuan Velyn ada-ada saja, selalu random dan tak bisa di tebak.
"Maaf, Ma. Velyn ngantuk banget tadi," ujar Velyn memelas. "Mama tau sendiri kemaren penerbangannya lama banget. Kasih dispensasi dong, Ma."
Mata mama memicing dan menelisik tajam wajah Velyn. Tangannya yang berkacak pinggang akhrinya terurai dan melemah di sisi tubuhnya. Mama berdecak kesal. Benar juga yang dikatakan Velyn, penerbangan anaknya itu lama sekali. Jadi ia akan memberi dispensasi kali ini.
"Yauda. Tapi jangan ulangin, ya. Kamu anak perempuan, bangun tuh pagi, ke dapur. Paham, kan, Vel?"
Velyn tersenyum lebar dan mengangguk senang. Gestur Namastenya terurai.
"Terus itu poni masih aja begitu. Kamu gak pengen tukar gaya rambut? Dari dulu gitu terus. Kayak anak-anak tau, Vel."
Velyn tertawa. Ia malah sengaja mengibaskan rambutnya dengan gaya ala model iklan shampo. Ia tahu mamanya bercanda makanya ia tidak tersinggung sama sekali.
"Ma, ini tuh namanya beauty and cute bergabung jadi satu," ujar Velyn dengan percaya diri yang begitu tinggi. "Di luar sana ada banyak orang yang pengen gaya rambut begini cuma kurang cocok sama bentuk wajah mereka. Jadi, aku harus bersyukur dong, Ma."
Mama menyerah, ia mendekati Velyn dan mengacak tatanan poninya sesaat. "Pinter. Yauda sana ikut papa. Jangan lakuin hal aneh-aneh. Dengerin aja intruksi dari papa," ujar mama memperingatinya.
Velyn mengacungkan kedua jempol tangannya serta mencium pipi mamanya sebelum mengikuti langkah papa yang sudah berjalan lebih dulu keluar dari rumah.
***
Valerio sedang melajukan mobilnya membelah jalanan ketika ponselnya berdering. Ia sudah bisa menebak siapa yang meneleponnya karena kontak orang itu ia khususkan nada deringnya.
"Halo, Ra?" sapa Valerio sembari memasang headset bluetooth di telinganya. Mobilnya yang tiba-tiba masuk rute macet tidak mengijinkannya memegang ponsel atau ia akan tidak fokus dengan jalan di depan.
"Valerio. Aku kesepian di rumah. Mama sama kak Farhan lagi pergi. Aku boleh gak ikut kamu aja? Janji gak bakal ngerepotin kok."
Valerio terdiam sesaat karena ia harus memotong mobil di depannya. Sampai sudah berhasil barulah ia menjawab perkataan Fara.
"Boleh aja, Ra. Aku seneng kalau kamu dateng."
"Beneran?! Tapi ... supir dipakai mama. Jadi gak ada orang lain selain bibi di sini."
Valerio langsung paham maksud Fara menyuruhnya menjemputnya. Tapi ia cukup mengagumi bagaimana Fara tidak langsung melontarkannya. Ia memakai kalimat lain tapi maknanya sama.
"Kamu mau aku jemput?"
"Kamu di mana sekarang?"
"Di jalan nih."
"Em kalau gitu gak usah deh. Nanti aku naik taksi aja."
Fara dengan kursi rodanya itu sebenarnya cukup susah kalau tidak naik mobil pribadi. Ini membuat Valerio khawatir juga.
"Enggak. Gak papa. Aku jemput sekarang ya. Kamu siap-siap aja. Tunggu aku."
Fara bersorak senang dan Valerio tersenyum manis karenanya. Fara kemudian memutuskan sambungan telepon sedangkan Valerio mencoba menggeser mobilnya ke jalur kanan agar ia mudah berbalik arah. Padahal, ia hampir keluar dari macet. Tapi tidak apa, Valerio juga tak merasa dibebani.
Valerio sampai di rumah Fara puluhan menit setelahnya. Ini akibat kemacetan lalu lintas dan karena arah rumah Fara dan kantor Valerio itu berlawanan. Jadi lebih jauh sebenarnya.
Fara sendiri melihat Valerio benar-benar datang menjemputnya sungguh merasa senang. Tak bisa dideskripsikan bagaimana bahagianya ia. Melihat Valerio sudah seperti melihat seorang pangeran yang begitu setia dan perhatian pada tuan putrinya.
Fara bahkan tak bisa menahan senyumnya ketika Valerio menggendongnya dari kursi roda sampai mendudukkannya di atas kursi penumpang di sebelah Valerio.
"Kenapa senyum-senyum gitu? Ada yang lucu, ya?" tanya Valerio ketika ia masuk ke dalam mobil.
Masih dengan senyum yang bertengger manis, ia menggeleng pelan. "Enggak, kok. Cuma ngerasa seneng banget aja."
"Oh ya? Seneng kenapa?"
"Seneng karena punya kamu."
Valerio tertawa mendengarnya. Ia berpikir jika Fara sedang membual sekarang, padahal kan Fara sedang berbicara serius. Tapi tidak apalah, Fara tetap senang juga.
"Omong-omong, gimanapun aku ini adik kelas kamu pas SMA. Gak papa aku manggil nama doang? Kalau kamu keberatan aku bisa ubah ke 'kakak' kok."
Valerio menoleh sesaat ke Fara. Ia mengernyit. "Kok tumben? Kenapa baru nanya ini setelah lima tahun terakhir kamu cuma manggil nama aku doang?"
Fara tertawa canggung. "Iya baru teringet aja," ringisnya pelan.
Padahal alasan sebenarnya Fara memanggil Valerio tanpa embel-embel 'kakak' hanya agar terdengar lebih akrab. Lebih dekat. Dan karena sekarang sudah dekat bahkan mau tunangan, rasanya tidak apa jika ia menanyakan perihal ini pada Valerio.
"Gak perlu, cuma beda setahun. Biasa aja, ya."
Fara terperangah. Di luar ekspetasinya ternyata respon Valerio biasa saja. Ia pikir Valerio akan kesal karena ia baru sadar sekarang, rupanya tidak. Fara pun mengangguk dan tak berbicara apapun selanjutnya karena Valerio tampak sangat fokus dengan jalan di depannya.
***
Kedatangan Velyn dan papanya disambut dengan baik oleh petinggi lainnya. Aura Velyn yang begitu kental juga membuat orang di sekelilingnya mengaguminya. Dia sudah seperti sang tokoh utama di sana. Tapi memang tidak hanya dari segi kecantikan saja Velyn unggul, tapi dalam kepintaran ia sudah sangat tidak diragukan.
Selama pengenalannya berlangsung, Velyn bersikap dan terlihat seperti perempuan dewasa pada umumnya. Semuanya berjalan dengan sebagaimana mestinya.
Velyn yang merasa semua orang memperhatikannya dengan kagum karena berpikir ia pintar atau apapun jadi berpikir, bagaimana jika mereka tahu sifat asli Velyn yang suka bersikap acak? Maksudnya sifat Velyn itu tidak bisa ditebak. Kadang ia bisa sangat gila, kadang sedih tiba-tiba, kadang panik dan banyak lagi. Mungkin ketika mengetahui hal itu akan berpikir apakah Velyn memiliki kepribadian ganda?
Tapi sebenarnya tidak. Velyn hanya cerdas dalam bersikap sesuai waktu dan kondisi, seperti kebanyakan orang lain lakukan.
Sudah tiga jam Velyn berjalan kesana-sini. Mengenalkan padanya setiap inch dari perusahaan dan sekarang ia duduk di sofa di ruangan papanya dengan memijat pelan betisnya yang terasa pegal.
"Kamu capek, Vel?"
Velyn mendongak menatap papa dan menggeleng. "Enggak kok, Pa. Tenang aja, Velyn ini kuat, kalau masih ada yang ditunjukin, Velyn siap berangkat," ujarnya semangat.
"Tumben. Kok tiba-tiba? Papa pikir kamu bakalan lesu hari ini."
Velyn mengernyit. "Iya, ya? Kenapa Velyn begini ya, Pa?"
Papa menghela nafas pelan, anaknya ini memang ....
"Kamu masih semangat, 'kan?"
Velyn menatap papanya yang sepertinya ingin berkata serius. "Iya. Kenapa, Pa?"
"Oh sebelum itu. Papa mau bilang kalau kamu belum sanggup urus perusahaan ini, gak papa. Perusahaan masih Papa yang handle, tapi kamu harus bantu, ya. Karena suatu saat perusahaan ini jatuh ke tangan kamu."
Mata Velyn membesar bahagia. Ah akhirnya!
"Oke, Pa! Papa memang yang terbaik!" seru Velyn tertawa. "Jadi apa yang mau Papa bilang tadi?"
"Em Papa tiba-tiba kedatangan tamu penting dari Australia. Tapi sebenarnya Papa ada janji bertemu dengan Valerio di jam sebelas nanti. Perusahaan ini dengan Gilbert Group punya satu projek, Vel."
Velyn diam tak menyahut untuk sesaat. Ia menatap lurus papanya tapi sebenarnya ia sedang berpikir keras. Ia paham papanya menyuruhnya untuk menggantikan dirinya pada pertemuan dengan Valerio nanti. Tapi ... apa ia bisa?
"Kamu sebenarnya udah ngelupain Valerio belum?" tanya papa serius. "Soalnya dia udah punya Fara, Vel."
Ah ya benar. Ada Fara.
"Enggak lagi kok, Pa," sahut Velyn semangat. Ia terlihat ceria. "Papa tenang aja. Serahin ke Velyn. Biar nanti Velyn sama Valerio yang bahas selanjutnya."
Papa mengangguk dan tersenyum. "Oke nanti tinggal bahas pemasarannya aja. Abis itu selesai."
Velyn menunjukkan simbol ok darinya. "Aman, Pa."
Dan di sini ia sekarang. Di lantai tiga puluh dari sebuah gedung tinggi bernama Valo Tower yang memiliki lima puluh lantai. Dari lantai dua puluh sampai tiga puluh adalah perusahaan Valerio yang bernama Gilbert Group dan sekarang Velyn berdiri di depan ruangan Valerio.
Sekretaris pria itu sedang tidak ada di tempat. Ia juga lupa meminta nomor Valerio pada papanya. Tidak mungkin juga nomor telepon pria itu masih sama dengan nomor yang lima tahun lalu. Kalau samapun, ia tak ingat nomornya.
Tangan Velyn dari tadi mengepal lalu terurai, mengepal lagi lalu terurai, begitu terus sampai ia bosan dan akhirnya nekat mengetuk pintu itu beberapa kali. Tapi anehnya tidak ada sahutan. Pintunya juga tidak di tutup rapat.
Dengan berani, Velyn mendorong pelan pintu itu. Perlahan namun pasti, pintu yang terbuka menampilkan sebuah pemandangan yang membuat d**a Velyn sesak saat itu juga. Di sana ada Valerio yang sedang berlutut di hadapan seorang perempuan yang duduk di atas kursi roda. Perbincangan mereka tampak sangat hangat. Valerio bahkan menyentuh pipi perempuan itu dengan lembut.
Velyn terkelu di tempat. Matanya tak mampu mengerjap dan darahnya berdesir hebat ketika perempuan yang ia tebak bernama Fara itu mendongak dan menatap ke arahnya. Diri Velyn seolah di hempaskan kuat ke dinding batu ketika mata mereka bersirobok.
"Ka--kamu ...."
***