Ada Apa Ini

1107 Words
Anna turun dari benda berbentuk persegi panjang itu, ia mulai menyusuri ruas jalan. Langkah demi langkah diusung gadis berambut hitam dengan kulit eksotis ini. Ia pun tiba di depan sebuah gedung minimarket tempatnya bekerja. Anna masuk dengan langkah perlahan, entah mengapa rasanya sangat lelah beberapa hari ini. Segera tangan mungil mengambil keranjang dan kaki melangkah menuju rak-rak berisi aneka makanan dan minuman. Anna mengecek barang-barang yang sudah tidak layak untuk di buang di tong sampah sebelum ada pemeriksaan oleh pihak terkait. Jika hal itu terjadi, bisa- bisa minimarket ini akan mendapat masalah besar. Baru beberapa menit melakukan pengecekan, tiba-tiba perut Anna terasa diaduk-aduk dan rasa ingin muntah muncul seketika. Anna berlari secepat yang ia bisa meninggalkan pekerjaannya. Anna mengeluarkan semua yang ingin ia keluarkan saat setelah sampai di kamar mandi. Anehnya tidak ada apa pun yang ia keluarkan. Oke ia memang belum makan apa pun pagi dan siang ini akibat ulah saudara sialannya itu. Anna melihat hanya cairan bening yang keluar dari tubuhnya. Rasa mual yang ia rasakan semakin menjadi, bahkan rasa pusing di kepala menyertai penderitaan gadis cantik ini. Ada apa ini?, begitulah kiranya pemikiran Anna. Sebenarnya rasa mual sudah dirasakan sedari pagi, tapi Anna tidak menghiraukan hal itu. “Kau sebaiknya istirahat, kau tak boleh pergi”, begitulah kalimat yang terucap dari bibir tua sang nenek kala Anna mendapat keluhan pertama kali di pagi ini. Namun, Anna tidak terlalu ambil pusing, ia harus bekerja sebab sudah banyak ia mendapat masalah. Jika ia tidak masuk bisa-bisa akan dipecat nantinya. “Anna ada apa...?”, Anna menoleh sebentar ke arah sumber suara. Ah, ternyata Cecil yang bertanya. “Kau kenapa...?, jika sakit kenapa harus pergi bekerja..?” Cecil datang menghampiri Anna, gadis berkacamata itu membantu mengurut pelan pundak Anna. Ya sekedar memberi rasa nyaman. “Entahlah Cecil, rasanya mual dan pusing sekali, tapi tak ada satu pun yang keluar” jawab Anna. Cecil tak menanggapi dengan kata lagi, ia bergegas pergi dan tak lama datang kembali dengan sebotol kecil minyak dengan aroma terapi. Ia mulai mengoleskan minyak tersebut ke pundak Anna secara perlahan. “Terima kasih” hanya kalimat itu yang terlontar dengan sedikit senyum kecil di wajah manis Anna. Setelah beberapa waktu berkutat di kamar mandi, keduanya keluar dan bergegas untuk melanjutkan pekerjaan masing-masing. “Enak ya tidak banyak kerja tapi dapat gaji”, baru beberapa langkah kaki meninggalkan pintu kamar mandi, suara menjengkelkan terdengar. “Hah...” Anna hanya menghela nafas dan memutar bola matanya. Sangat malas sekali meladeni pemilik suara. “Kita bukannya tidak bekerja, tapi Anna sedang sakit” Cecil membuka suara untuk meruntuhkan tuduhan yang dilayangkan oleh Yuri. Ya, siapa lagi yang suka usil terhadap kehidupan Anna di tempat kerja selain gadis bernama Yuri ini. “Alah...!, jangan bohong deh kalian berdua” teriak Yuri. “Jangan teriak-teriak dong” balas Cecil. “Kenapa....?, takut ketahuan” tanya Yuri dengan ekspresi merendahkan. “Siapa yang takut, cuma nggak perlu teriak-teriak kalo ngomong sama orang” balas Cecil. Kali ini terjadi perang adu mulut antara Yuri dan Cecil, sedangkan Anna hanya diam tanpa menjawab sedikit pun. Terlalu lelah dan lemah rasanya. Bruk..!! Dua pasang mata melirik arah sumber suara. Mata Cecil membelalak tatkala melihat apa yang ada di depan mata, betapa kagetnya saat mengetahui Anna pingsan dan terjatuh ke lantai. “A...Anna..Anna.., bangun Anna..!” teriak Cecil panik. Cecil berusaha untuk membangunkan Anna, ia dengan sekuat tenaga mengguncang tubuh gadis berkulit eksotis tersebut. “Hei kau..!, jangan diam saja, cepat telpon 911” titah Cecil kepada Yuri. “Hah.., aku?” tanya Yuri dengan nada tak percaya, ia juga menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya. “Iya, siapa lagi yang ada di sini..” teriak Cecil, marah melihat reaksi yang ditampilkan Yuri. “Ada apa ini...?” tiba-tiba saja bunyi suara berat terdengar. “Syukurlah kau datang Mr. Hans, cepat buat panggilan 911” titah Cecil kepada Manager Minimarket tersebut. “Kenapa..?, apa yang terjadi..?” tanya Mr. Hans “Ini Anna tadi sakit, ia muntah-muntah dan barusan pingsan” Cecil menjelaskan. “Sudahlah pak, sebaiknya kita tak perlu menelpon 911, kita harus segera membawa Anna secepatnya” Cecil bertambah panik tatkala melihat tubuh Anna semakin melemah. “Baik ayo kita bawa dia ke klinik terdekat, saya siapkan mobil dan kau Yuri cepat panggil beberapa pegawai pria untuk membantu Cecil mengangkat tubuh Anna” ucap Mr. Hans yang mulai bergegas pergi. “Baik pak..” ucap Yuri tak bersemangat • • “Silahkan bapak dan ibu tunggu di sini ya..” ucap salah satu perawat “Hm.., baik sus” jawab Cecil lesu. Pintu perlahan tertutup, menyisakan dua anak manusia yang berdiri dengan pikiran masing-masing. Ada banyak sekali pertanyaan bermunculan di kepala Cecil, terutama mengenai teman kerjanya saat ini. Bagaimana bisa gadis cantik tahan banting seperti Anna bisa terbaring lemah dengan wajah yang sangat memprihatinkan. “Sabar Cil, coba tenangkan dulu dirimu” ucap John, teman kerja Cecil dan Anna. “Bagaimana aku bisa tenang, lihatlah Anna di dalam sana sangat lemah dan tak berdaya” ucap Cecil dengan nada cemas. “Ya aku tahu, tapi..., dengan kau yang seperti ini juga tidak dapat menyelesaikan masalah” ucap John sedikit tegas. “Huh, seharusnya kau tenang agar kita dapat menghadapi ini dengan mudah” John sudah menggenggam erat kedua bahu Cecil. Lelaki bertubuh jangkung itu membawa paksa Cecil untuk duduk di kursi tunggu. “Apa yang sebenarnya terjadi dengan Anna?” tanya John setelah mereka duduk “Entahlah, waktu aku menemuinya di kamar mandi ia sudah muntah-muntah dengan wajah yang pucat” jawab Cecil lesu. “Setelah itu kami berjumpa dengan Yuri dan aku terlibat perkelahian kecil dengannya” Cecil menghela nafas sejenak, “Lalu tiba-tiba saja Anna terjatuh dan tak sadarkan diri” air mata di sudut mata sudah berhasil jatuh menelusuri pipi mulus milik Cecil. Bahkan cermin mata yang ia gunakan sudah mulai buram”. “Hm.., sebaiknya kita tunggu dulu saja” John berbicara sembari mengelus lembut punggung Cecil. • • “Apa istri Anda di rumah sedang hamil..?” pertanyaan dari sang dokter membuat mata dengan iris biru melebar sempurna. “Ah tidak dok, saya masih sendiri” ucap pria tampan itu dengan senyum dipaksakan. “Hm..., saya jadi bingung” dokter menjeda sebentar ucapannya dengan ekspresi bingung. “Dari hasil pemeriksaan, tidak ada masalah apa pun. Tubuh Anda sehat tanpa ada masalah sedikit pun” lanjut dokter. “Apakah dokter benar-benar sudah yakin dengan hasil pemeriksaan itu.” Tanya Carl sedikit ragu. “Ya, saya sangat yakin Anda saat ini dalam kondisi baik. Em..., saya sebenarnya sering menghadapi kondisi seperti Anda ini, baik itu pasien saya maupun teman saya, dan hasilnya ternyata mereka sedang mengalami siklus mengidam mengganti istri mereka” jelas dokter panjang lebar. “Tapi itu tidak mungkin dok, saya belum pernah menikah. Bagaimana bisa memiliki istri yang sedang hamil” ucap Carl dengan nada sedikit tidak percaya. “Hm..., baiklah, kita tunggu saja kedepannya. Biasanya, jika Anda merasa merasakan keluhan maka kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut” balas Dokter. “Baiklah Dok” ucap Carl pasrah, wajah pucatnya tidak melunturkan ketampanan yang ia miliki. ‘Ada apa ini?’ batin Carl.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD