KHAWATIR

1431 Words
Anggun mengehela nafasnya dengan kasar, merasa jengkel setiap kali bertemu dengan pemilik suara itu. "Ya salaaaam.... Kenapa harus ketemu sama nih orang lagi sih? " Sungut nya pelan seraya memijit pelipisnya. "Aku tanya kenapa kamu disini? " Ulang Devan lagi tanpa melepaskan tangannya dari lengan Anggun. "Bukan urusan lo. " Anggun menyentak tangan Devan dengan kasar. Berusaha untuk melepaskan diri dari lelaki dingin yang selalu mengusik dirinya akhir akhir ini. "Udah sana minggir! " Anggun menubruk bahu Devan dan hendak melenggang pergi. Tapi lagi lagi Devan mencegat langkahnya. "Apa kamu tau jika Mama kamu sedang khawatir? " Ujar lelaki itu seraya menggeram kesal. Anggun lantas memutar badannya, menatap Devan dengan wajah santai. "Apaan sih? Lo itu bukan siapa siapa gue ya Dev. Dan gue nggak suka kalo lo ikut campur urusan pribadi gue. " Sarkasnya. Devan membuang nafasnya, mencoba bersabar meladeni gadis bar bar di hadapannya ini. "Aku bukannya mau ikut campur urusan pribadi kamu. Tadi aku nggak sengaja ketemu sama Mama kamu di jalan. Dia tanya sama aku kalo tadi aku nganter kamu ke butik atau tidak, karena biasanya jam segini kamu sudah ada di rumah. " Jelasnya agar Anggun tidak salahnpaham padanya. Anggun memutar bola matanya malas seraya berdecak. "Elah, gue udah gede Devan! Nggak perlu di khawatirin selebay itu. " Ujarnya. "Mama kamu juga bilang, dia udah coba telpon kamu. Tapi nomor kamu nggak aktif. " Tambah Devan lagi. Karena bagaimanapun juga, dia juga punya tanggung jawab disini. Ririn menitipkan Anggun padanya pagi tadi. Namun Anggun justru main ke club tanpa pulang terlebih dahulu. Mendengar penuturan dari Devan, Anggun lantas merogoh slingbag nya, mengeluarkan benda pipih itu dari dalam sana. Mengecek jika apa yang di ucapkan Devan tadi benar adanya. "Hape gue mati. " Lirihnya ketika menyadari bahwa ponselnya sudah habis daya. "Ya sudah, sekarang kamu ikut aku. " Devan kembali menarik pergelangan tangan Anggun. "Eh, nggak bisa gitu donk! Gue baru aja kesini. " Anggun mencoba berontak. Lagi dan lagi, Devan selalu saja bertindak sesukanya. Bersikap otoriter layaknya majikan Anggun. Cih,mana mau Anggun punya majikan seperti Devan. Amit amit!! Anggun masih berusaha untuk lepas dari Devan. Dan bertepatan dengan itu, Jisa dan Erfi yang kebetulan di sana karena hendak menyusul Amel yang katanya sedang ke toilet pun, tak sengaja melihat Anggun dan Devan. Sontak, Jisa langsung merentangkan tangannya untuk mencegah langkah Devan. "Eh, ini kenapa temen gue diseret seret kaya kucing yang maling yang maling ikan? " Omelnya mulai beraksi. "Jangan ikut campur! " Sarkas Devan dingin. Mata elangnya melotot pada Jisa dan juga Erfi. "Tolongin gue guys... " Anggun memelas pada kedua temannya itu. "Tenang Gun, kita pasti bakalan nolongin elo." Balas Jisa dan di angguki oleh Erfi. Devan tak menghiraukan kedua gadis di depannya itu. Merasa tak penting sama sekali jika harus mendengar komentar tak berfaedah dari mereka. Lantas, Devan kembali melanjutkan langkahnya. Jisa dan Erfi tak mau kalah, dia langsung menarik Anggun agar lepas dari Devan. Kini Anggun bak tali tambang dalam permainan tarik tali. Ditarik oleh Devan dan juga Jisa. "Eh,gue tanya lo mau kemanain temen gue?" Tanya Jisa berapi api masih berusaha merebut Anggun dari Devan dibantu oleh Erfi juga. Devan terdiam untuk sesaat. Sontak, Jisa dan Erfi menghentikan gerakannya. Dia melangkah mendekat pada Jisa tanpa melepaskan tangannya dari Anggun. Karena jika itu dia lakukan maka Anggun pasti akan kabur. Devan semakin mendekat, hingga dia dan Jisa hanya satu jengkal. Jisa mengerjap bodoh, memperhatikan wajah Devan. Lampu yang gemerlap ternyata membuatnya tak begitu melihat dengan jelas wajah lelaki dingin itu. "Anjir, ganteng banget sih nih cowok! Kan gue jadi lemah! " Beonya yang juga di dengar Erfi. "Buset, ya juga sih ya. Kalo gue jadi Anggun gue sih rela rela aja deh dibawa ma nih cowok. " Erfi ikut menimpali dengan berbisik. Anggun melihat kedua ekspresi Jisa dan Erfi secara bergantian. Sekarang keduanya justru tersenyum manis pada Devan. "Sialan ya kalian! Bukannya nolongin malah sibuk natap si es balok ini! " Gerutunya kesal seraya memanyunkan bibir tipisnya dan menghentakkan kakinya. Dia sudah cukup lelah karena Devan, ditambah lagi dengan aksi tarik menarik tadi. Rasanya, dia ingin mencekik kedua temannya itu sekarang. Jisa terkesiap, tersadar dengan apa yang baru saja dia lakukan. "Tuh kan, jadi lupa mau nolongin Anggun. " Ujarnya seraya menepuk jidatnya. Ternyata pesona Devan berpengaruh sekali. Emosinya yang tadi meluap luap seketika hilang begitu saja saat melihat wajah tampan dan maskulin dari seorang Devan. Jisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Itu..." Jisa tergagap,lidahnya tiba tiba terasa kelu untuk berucap. Devan hanya terdiam, menunggu jawaban dari Jisa. Ekspresi wajahnya masih sama. Dingin! Jisa menelan ludah sebelum berujar. Ternyata selain wajah tampannya, auran dingin Devan kini mulai menguar. Jisa bahkan bisa merasakannya sekarang. Dia mulai merinding disko. Jari telunjuk jisa menaut satu sama lain. "Anu...itu....Anggun temen gue. Lo mau bawa dia kemana? " Suara Jisa pelan, tidak galak seperti tadi. Devan benar benar membuatnya lemah. Sekuat itukah auranya? Sial! "Jangan ikut campur! Ini bukan urusan kalian! " Setelah mengucapkan kalimat sarkasnya, Devan kembali menyeret Anggun. Bagi Devan, dia harus segera keluar dari tempat itu detik ini juga. "Tap___" Erfi yang hendak memberi komentar,namun dia tak dapat melanjutkan kalimatnya karena Devan sudah pergi lebih dulu. "Yah, Anggun udah di bawa Sa, gimana donk! " Tanya Erfi menyaksikan Anggun yang sudah ndi seret oleh Devan. Jisa masih belum merespon. Erfi lantas menoleh, Jisa masih bengong ditempat. "Jisa! Woy Jisa....!!" Erfi melambaikan tangannya di depan wajah Jisa. Jisa terkesiap dan tersadar. "Eh iya, kenapa? " Tanyanya. "Malah bengong!? Anggun udah di bawa ma tu cowok tadi. " Ulang Erfi. Dia khawatir pada Anggun karena tak bisa melepaskan Anggun dari Devan. "Ya biarin aja lah. Gue kalo jadi Anggun juga bakalan sukarela di bawa sama tu cowok tadi. " Balas Jisa enteng. "Ya tapi kalo tu cowok ngapa ngapain Anggun, gimana? " Tanya Erfi penuh kekhawatiran. Jisa emang nggak ada akhlak! "Lo liat sendiri kan tadi, tatapan matanya aja kaya mau ngebunuh. " Lanjutnya lagi mengingat wajah dingin Devan yang teramat menakutkan untuk nya. Jisa hanya mengedik acuh kemudian mengibaskan tangannya. "Udahlah, nggak usah dipikirin! Anggun kan bukan tipe cewek yang lemah. Gue yakin, dia pasti nggak akan di apa apain sama tuh cowok ganteng tadi. So, lo nggak perlu khawatir sama dia. " Balas Jisa berusaha meyakinkan Erfi. "Iya juga sih, tapi tetep aja gue takut. Kita kan' nggak kenal sama cowok tadi. " Jisa terdiam sesaat. Benar juga apa yang di katakan Erfi. Mereka belum pernah melihat Devan sebelumnya. Mungkin setelah ini dia harus menanyakan itu pada Anggun secara langsung. "Udahlah....,mending kita cari Amel aja. Tuh anak kemana sih? Tiba tiba ngilang aja, udak kaya jelangkung. " Jisa mengalihkan pembicaraan. Devan menghempas tubuh Anggun ke jok penumpang. "Masuk! " Titahnya. Anggun meringis dengan sikap Devan yang sangat kasar. "Apaan sih, selalu aja lo ngatur gue sesuka hati lo! " Ucapnya lirih seraya mengelus bahu. Devan mulai menyalakan mobilnya dan menjalankan kereta besinya itu. "Otoriter! " "Es balok! " "Suka ngancem! " Anggun dengan segudang kalimatnya menggerutu sendiri. Sedangkan Devan sama sekali tak mempedulikannya, membuat Anggun menjadi tambah jengkel sendiri. "Dasar nyebelin!!! " Omelnya lagi. Devan menoleh, memberikan tatapan tajamnya seperti pisau yang hendak menusuk seperti biasa. "Apa.kamu bisa diam? " Salaknua kemudian. Seketika atmosfer di tempat itu terasa dingin dan mencekam. Anggun yang bisa merasakannya lantas diam. "Seharusnya kamu pulang dulu, jangan langsung main seenaknya ke club malam begini? " Devan mulai buka suara. "Apa kamu tau, jika kamu kenapa napa orang pertama yang akan disalahkan itu adah aku. Karena Mama mu menitipkan mu padaku. " Lanjut Devan lagi. "Gue udah gede Devan. Dan Mama gue juga pasti tau kalo gue lagi di club bareng temen temen gue. " Jawab Anggun. Devan tersenyum tipis seakan meremehkan. "Nongkrong di club, minum minum sambil joged nggak jelas. Terus nanti ketemu ma cowok dan la___" "STOP!! " Anggun memotong ucapan Devan sebelum kelakon itu melanjutkan kalimatnya. Dia sudah bisa menebak apa uang akan dikatakan Devan lagi dan lagi. Anggun menjulurkan kan kedua telapak tangannya kedepan. "Oke oke, gue udah nurut buat pulang bareng lo. Dan sekarang gue minta supaya lo jangan bahas itu lagi. " Ucapnya pelan. Dia tidak mau lagi membahas masalah itu disini. Sudah terlalu dan teramat sangat bosan! Devan mengangguk. "Bagus,kamu memang pantas buat nurut! " Balasnya. Sedangkan Anggun, terdiam seribu bahasa mencoba meredam emosinya. Berhadapan dengan Devan memang butuh kesabaran tingkat dewa. Jika bukan karena alasan Mamanya, Anggun mungkin sudah menghajar kaki itu. Alkohol yang sempat dia minum tadi cukup membuatnya jadi lebih bar bar. Tapi, Anggun mencoba untuk tidak melakukannya. Dia tidak ingin kena masalah lagi dengan Devan. Cukup karena kejadian malam itu saja, dia kini harus terus terusik oleh lekaki itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD