Anggun yang belum siap dengan tindakan Devan lantas berjengit kaget."Eh..! " desis Anggun pelan.
Melly tersenyum. Namun tersirat raut kecewa di wajahnya. "Oh, jadi begitu. Baiklah, kalau begitu silakan anda nikmati pestanya. Saya permisi dulu. '' pamit Melly kemudian.
" Hmm. " balas Devan datar.
"Ngapain sih' lo narik narik gue? " protes Anggun setelah kepergian Melly.
"Temani aku berdansa, " jawab Devan seraya menarik Anggun ke lantai dimana acara dansa itu dilaksanakan tanpa menunggu persetujuan dari Anggun lebih dulu.
"Kalo gue nggak mau? " ledek Anggun setelah berhasil melepaskan tangannya dari Devan.
Devan menghentikan langkahnya sejenak kemudian berbalik menatap Anggun yang masih menunggu jawabannya. "Coba saja! Kalau kamu mau saya memutar rekaman malam itu disini. Kamu pasti akan malu! " ancam Devan telak membuat Anggun langsung kicep.
"Jadi lo ngancem gue? " cibir Anggun kesal.
Sudut bibir Devan menukik kebawah, "Anggap saja begitu. " balas Devan enteng lalu kembali meraih tangan Anggun kemudian kembali menyeretnya. Anggun yang tadinya berontak akhirnya hanya bisa pasrah mengikuti keinginan pria dingin ini. Anggun pasti akan selalu kalah jika Devan mengaitkan segala sesuatu yang menyangkut kejadian malam itu.
Ckk! Kenapa waktu itu ia dengan bodohnya mau menerima saran dari Amel yang harus mencium Devan? Padahal saat itu juga banyak pria yang tak kalah ganteng dari Devan. Ini semua karena ulah Amel, jika saja Anggun tidak menuruti saran gila temannya nya itu, sekarang Anggun pasti tak akan terjebak dengan pria dingin bak kulkas berjalan seperti Devan ini.
Awas aja tuh Amel!!!
Tapi tak apalah. Toh, hanya malam ini saja, kan? Selanjutnya Anggun tidak mau lagi berhubungan dengan kulkas berjalan ini lagi. Semoga saja mereka tidak dipertemukan kembali untuk ketiga kali atau bahkan seterusnya.
Setelah bergulat dengan pikirannya yang kesal pada Devan dan juga Amel tentunya. Tanpa Anggun sadari, kini mereka berdua sudah berada di tengah - tengah area dansa. Mendengus pelan, Anggun mau tak mau mengalungkan kedua tangannya pada leher Devan. Begitu pula dengan Devan yang memegang pinggang Anggun untuk berdansa. Mereka berdua terhanyut dalam alunan musik yang diputar. Anggun dan Devan tampak sangat cocok. Anggun yang cantik serta Devan yang tampan membuat para tamu yang juga sedang berdansa di sana menatap kearah mereka. Ada yang merasa iri pada Anggun karena bisa berdansa dengan Devan. Ada juga juga yang justru takjub dan bahkan memuji kedekatan Anggun dan Devan. Karena menurut desas desus, Devan adalah sosok yang dingin terutama pada makhluk yang bernama wanita. Bahkan kabarnya pria itu tidak pernah diketahui dekat dengan wanita. Sifat Devan yang sangat privasi membuat semua orang tidak begitu mengetahui banyak hal tentang CEO dari Fandarez corp itu.
Masih dalam posisi yang sama, Anggun dan Devan berdansa mengikuti alunan musik. Ada keheningan sesaat, Anggun seakan terlena dengan alunan musik di acara itu. Ditambah lagi posisi mereka yang sangat dekat. Anggun bahkan bisa mencium aroma maskulin dari tubuh Devan. Hingga pada akhirnya Anggun membuka percakapan untuk memecah keheningan. "By the way, lo kenal sama Melly? " tanya Anggun disela sela dansa nya.
"Hmm. " seperti biasa, jawaban pria dingin itu sangat singkat, padat dan tentu nyelekit.
"Apa dia temen lo? "
"Hmmm. "
"Lo, udah berapa lama kenal sama dia? " Anggun terus mencerca Devan dengan pertanyaan yang tidak penting.
"Tidak begitu lama. "
"Tapi gue liat dari tatapan matanya ke elo, dia naksir deh sama lo. "
"Mungkin. " Devan menggedikkan bahunya acuh.
Anggun semakin bertambah kesal, "Bisa nggak sih' kalo ngomong sama gue jawabnya jangan pendek pendek? " geram Anggun pada akhirnya. Sedari tadi ia bertanya tapi tak pernah mendapatkan jawaban yang bisa memuaskan hatinya. Aduh, dia melupakan bahwa pria di depannya ini kan' dingin, mirip es balok untuk pengawet ikan di pasar. Eh?!
"Memangnya kamu mau saya menjawab dengan apa? " balas Devan santai.
Anggun mengerucutkan bibirnya. "Ya apa, kek? Jangan dingin dingin banget jadi cowok. Ntar nggak ada yang naksir tau rasa! " ledek Anggun, berharap Devan akan berpikir jika Devan akan merasa kesal dengan ucapannya. Jadi setidaknya ia dapat membalas kekesalannya sedari tadi.
"Aku tidak berharap ada yang naksir padaku. "jawab Devan membuat Anggun melongo. Bukanlah seharusnya semua pria akan sangat senang jika banyak yang suka padanya. Tapi kenapa Devan malah mengatakan hal yang berbanding terbalik? Atau jangan jangan Devan ini bengkok alias Ga__
"Terlebih lagi orangnya seperti kamu. " lanjut Devan lagi, membuat Anggun semakin terbelalak. Baru kali ini ia menghadapi pria yang super duper menyebalkan macam Devan. Tidaklah Devan tau jika Anggun adalah sosok wanita yang sangat dipuja puja oleh kaum adam. Tapi Anggun adalah tipe wanita pemilih, ia harus benar benar menyeleksi pria yang mau mendekatinya.
"Cih, siapa juga yang mau sama lo. Sorry lo bukan tipe gue. " balas Anggun angkuh, salah satu sudut bibir nya terangkat. Tak ingin lagi Devan menginjak injak harga dirinya.
"Aku juga tidak ingin sedikitpun bagian dari diriku sesuai tipemu. Karena bagaimanapun kamu berusaha, kamu juga tidak akan pernah bisa membuatku tertarik, nona. Gadis sepertimu sudah terlalu banyak yang di obral!" demi alis tebalnya sinchan, Anggun kali ini benar benar ingin mencekik Devan. Devan adalah satu satunya pria yang berani mengatainya dan merendahkannya dengan blak - blakan.
"Bisa nggak sih' jangan menghina gue terus? Hanya karena sebuah ciuman lo jadi nyalahin gue terus, " ketus Anggun.
"Tidak bisa. Karena kamu sudah lancang mencuri ciuman pertamaku. "jawab Devan dengan gamblangnya.
Jawaban Devan sontak membuat Anggun menganga lebar. "Hah, serius? Lo belum pernah ciuman? " tanya Anggun tidak percaya. Namun Devan justru terdiam, sambil memalingkan wajahnya. Sama sekali tidak berniat untuk menjawab. Tapi sepertinya Anggun sudah tau jawabannya dilihat dari raut wajah Devan kini.
"Hahaha, berarti kita seri dong, " celetuk Anggun membuat Devan menatapnya penuh tanya.
"Maksud kamu apa? " tanya Devan belum paham.
Anggun terkikik sebelum melanjutkan kalimatnya. "Gue juga belum pernah ciuman, lo tuh first kiss gue. Dan harusnya lo bersyukur untuk itu, " papar Anggun dengan enteng dan gamblang. Merasa bangga atas ucapannya itu.
Devan tersenyum miring sambil menggelengkan kepala pelan. "Cih, kamu berharap jika saya akan percaya? Mimpi! " sarkas Devan. Jawaban yang ternyata diluar dugaan.
"Ih, gue serius. " balas Anggun tak main main. Karena memang begitulah kenyataannya. Walau ia sudah beberapa kali sempat menjalin kasih dengan beberapa pria, namun Anggun tidak mudah untuk melakukan ciuman pada pasangannya. Good job Anggun!
"Saya sudah selesai. Pergilah, aku tidak membutuhkan kamu lagi. " usir Devan tiba tiba sambil mendorong tubuh Anggun agar menjauh darinya. Tubuh Anggun linglung, bahkan hampir saja terjatuh. Tapi untung saja Anggun bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Devan benar benar kejam, setelah puas menghina dan memanfaatkan Anggun sebagai pasangan dansanya, sekarang ia malah dengan teganya mengusir Anggun begitu saja.
"Sial_ " Anggun sudah siap akan mengumpat. Namun seketika ia kembali mengatupkan rahangnya ketika menyadari jika kini ia tengah berada di keramaian.
Anggun menghela nafas dalam dalam seraya mengelus dadanya pelan. "Sabar Gun, sabar.. untung rame. Kalo nggak, udah gue tampol muka lo. Dasar kulkas berjalan! Udah dingin, ngeselin, sok cakep lagi. Eh, tapi emang dia cakep, sih. Mirip sama pangeran dalam mimpi gue. Hihihi... apa jangan jangan dia pangeran yang dikirim buat gue, ya? " Anggun membatin ketika kembali mengingat pangeran dalam mimpinya. Sepertinya ia sudah lupa jika tadi ia sempat ingin mengumpati Devan.
Anggun menepuk bibirnya ketika menyadari apa yang baru saja ia ucapkan dalam hati. "Eh, gue ngomong apa sih? Mana ada pangeran dingin kaya gitu. Amit amit deh, " rutuknya lagi seraya menggelengkan kepala. Anggun tidak mau menyamakan pangeran dalam mimpinya dengan pria macam Devan. Pria yang hanya bisa menghinanya terus menerus dan tidak menghargai dirinya sebagai seorang perempuan sama sekali .
Anggun tak bisa menahan kekesalannya sejak tadi lantas menghentakkan kakinya untuk menyalurkan amarah yang terpendam sejak pertemuan dengan Devan barusan.
Devan benar benar sialan! Bisa bisanya ia mengusir Anggun pergi lalu meninggalkan Anggun begitu saja tanpa permisi setelah berdansa dengan Anggun. Kini Anggun butuh sesuatu untuk meredakan amarahnya. Dan salah satu caranya yaitu dengan minum. Gadis itu lantas berjalan kearah meja dimana sudah tersedia beraneka ragam makanan dan juga minuman. Sambil mendumel dalam hati, Anggun meraih segelas bir dari sana dan meneguk nya langsung hingga tandas. Belum merasa cukup, Anggun kembali mengambil satu gelas dan kembali meminumnya kasar. Pada saat ia hendak mengambil gelas yang ketiga, sebuah tangan kembali mencekal lengannya membuat Anggun urung meminum birnya.
"Kamu jangan cari gara gara lagi disini, "
Anggun menoleh, lagi lagi harus mendapati si es balok dengan campuran bon cabe level 30 di dalamnya ini tengah menatap garang kearahnya. Anggun berdecak, "Lo lagi. Mau ngapain lagi? Gue cuma mau minum, gue haus! " papar Anggun seraya menghempaskan tangan Devan.
Namun Devan kembali sigap memegang tangannya. "Kamu bisa minum yang lain. ''
Anggun menggertakkan gigi. Kesabarannya sudah terkuras habis sejak tadi. Berdosakah ia jika memberi Devan sianida sekarang?
''Tapi gue maunya yang ini. Udah deh, jangan ganggu gue lagi bisa nggak? "
"Kalau kamu berani minum ini lagi, maka aku tidak akan segan segan menggendong mu keluar dari gedung ini, " ancam Devan.
"Ckk.... Ngancem lagi ngancem lagi. Lo mau apa sih' sebenarnya? Kenapa lo terus gangguin gue? " Anggun menyesal sekarang. Seharusnya tadi ia menyiapkan racun tikus saja sebelum datang ketempat ini.