Aku duduk termenung di sisi kasur, memeluk kedua kaki ku yang tertekuk seraya memikirkan penderitaan ku yang tiada habisnya. Pandangan ku kosong, air mata ku seakan menolak untuk keluar, karena sudah begitu banyak air mata yang ku keluarkan di hari sebelumnya.
Kematian suami ku beberapa hari lalu begitu menguras tenaga, rasanya aku sangat lemah dan tidak ada semangat untuk menjalani kehidupan ku setelah kepergiannya.
Suami yang begitu ku cintai, kekasih ku yang baru tiga bulan menyandang gelar sebagai suami ku, harus pergi karena kecelakaan pesawat yang menimpanya. Andai saja waktu itu aku melarangnya untuk pergi keluar kota, mungkin dia tidak akan pergi secepat ini.
Aku menunduk lalu mengelus perut ku, kembali ku merasakan sakit yang begitu dalam. Padahal baru sebulan yang lalu aku dan suamiku sedang bahagia karena kabar kehamilan ku, tapi mengapa Tuhan mengambilnya secepat itu? Mengapa Tuhan menyiksa ku seperti ini? Bahkan anakku belum berbentuk di dalam sana, tapi kenapa tuhan memisahkan dia dan papanya?
Hancur, aku begitu hancur saat ini. Ingin rasanya aku pergi, pergi menyusul suami ku yang telah tenang di alam sana. Aku begitu mencintai suami ku, mencintai sosok suami yang baik dan lembut sepertinya.
????ℎ??, ??? ???? ℎ???? ?? ??????? ?????????
•••
Author POV:
[Beberapa hari sebelumnya]
"Sayang kamu yakin gak mau aku temani ke Busan?"
Seorang wanita duduk di tepi kasur, memperhatikan suaminya yang sedang memakai kemeja. Sedetik kemudian pria tampan itu menoleh pada sang istri, tersenyum seraya menghampirinya.
"Aku pergi sendiri aja sayang, lagi pula hanya sebentar."
"Tapi aku khawatir, perasaan ku tidak enak Jungkook."
Pria bernama Jungkook itu terkekeh, mencubit gemas pipi sang istri dan sesekali menciumnya.
"Perasaan ku lebih tidak enak kalau kamu ikut ke Busan."
"Kenapa begitu?"
"Karena kamu sedang hamil Jeon Taqiya, jadi aku tidak mau kehamilan mu terganggu."
Wanita bernama Taqiya itu menjeling. Pintar sekali suaminya ini berbicara.
"Bilang aja, kalau kamu yang terganggu."
Jungkook terkekeh, merangkul sang istri untuk di peluk. "Pemikirannya gak boleh gitu. Aku kan pergi kerja sayang, istri ku, cinta ku, belahan jiwa ku." Goda Jungkook, berharap Taqiya bisa tenang.
Taqiya sedikit luluh. Benar juga yang Jungkook katakan, pria itu kan pergi untuk kerja, bukan untuk melakukan hal aneh.
"Baiklah. Tapi jangan lupa untuk selalu kabari aku, oke?" Taqiya menjulurkan kelingkingnya, dia ingin suaminya ini berjanji padanya.
Jungkook tersenyum, menyatukan kelingking miliknya dengan kelingking sang istri. Keduanya saling tatap, ada rasa gelisah ketika Taqiya memperhatikan wajah sang suami. Wajahnya terlihat lebih pucat namun sedikit bercahaya, tidak seperti hari-hari biasanya.
"Kalau begitu aku berangkat yah. Jaga diri mu baik-baik," setelah berucap Jungkook sedikit menunduk lalu mencium perut datar sang istri. "Anak papa sehat-sehat di dalam yah, jangan repotin mama kalau papa gak ada yah nak."
"Kok ngomong gitu sih," Taqiya memukul bahu Jungkook, sedikit takut dengan nada bicara suaminya itu.
"Hanya mengingatkan sayang. Aku takut kalau kamu ngidam aneh-aneh lagi, kan aku gak ada di rumah." Jungkook.
"Tapi kan kamu pergi cuman dua hari aja," Taqiya mulai menangis, takut jika terjadi apa-apa pada Jungkook. "Ucapan mu itu kayak mau pergi selamanya tau gak!" kesalnya.
Jungkook meresponnya dengan tawa, ??? ???????? ?????? ??? ℎ???? ???? ????ℎ ????????? ??????? ?????????
"Jangan menangis, nanti anak kita marah loh. Masa papanya sering buat mama menangis, nanti kalau anak kita membenci ku bagaimana?" Jungkook mengelap air mata Taqiya, seraya memperhatikan wajah istrinya dengan tatapan sendu. "Mau seperti itu?" Tanyanya lagi.
Taqiya menggeleng, memeluk erat Jungkook. Rasanya dia tidak ingin melepaskan pelukannya, seolah pelukan ini akan menjadi pelukan terakhir yang akan dia rasakan.
"Jangan menangis lagi, aku tidak bisa pergi dengan tenang kalau kamu menangis. Kalau kamu rindu bisa langsung menghubungi ku, mengerti?" Jungkook.
"Iya."
"Kalau begitu aku pergi dulu yah. Aku mencintaimu istri ku dan selamanya akan tetap mencintaimu," Jungkook.
•••
Taqiya POV:
Kira-kira seperti itulah moment terkahir sebelum kepergian Jungkook. Aku masih tidak percaya dengan kabar kepergiannya, kabar menyakitkan yang menghancurkan hati, jiwa dan seluruh raga ku.
Pesawat yang Jungkook tumpangi jatuh di sebuah pulau. Setelah di cari selama dua hari, ternyata pesawat itu sudah meledak dan hancur berkeping-keping.
Kaki ku mati rasa ketika melihat jasad tak berbentuk milik suami ku. Aku ingin memeluknya, menyalurkan rasa sakit ku pada dia yang telah pergi namun semua orang melarang ku untuk memeluk jasad Jungkook. Aku tidak ingin kehilangannya, aku tidak ingin hidup tanpa dia, tanpa sosok suami yang selalu sayang pada ku. Karena aku mencintai Jungkook lebih dari apapun.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Aku masih seperti hari sebelumnya, hancur dan seperti tidak bernyawa. Semenjak kepergian Jungkook, aku jadi wanita yang pemurung. Tidak ingin menemui siapapun yang ada di rumah ini.
Hanya keheningan yang ku butuhkan, berharap semua kabar ini hanya mimpi ataupun sebuah halusinasi ku karena begitu merindukan sosok Jungkook.
??????ℎ ??? ?????? ?????????? ??, ????????.
•••
Author POV:
"Jadi bagaimana ini pa? Sudah berhari-hari menantu kita mengurung diri di dalam kamar," Minzy tampak khawatir dengan keadaan menantunya.
Sudah beberapa hari ini menantunya selalu menolak untuk makan, bahkan wanita hamil itu terlihat tidak pernah tidur jika di perhatikan dari kantong mata yang dia miliki.
Siwon menatap gusar sang istri, takut jika terjadi sesuatu pada calon cucu mereka.
"Bagaimana kalau kita nikahkan dengan Yoongi? Walaupun Yoongi dan Jungkook bukan saudara kandung, tapi Qiya pasti bisa melupakan Jungkook ketika bersama Yoongi." Minzy mendekat pada suaminya, berharap keputusannya itu dikabulkan.
"Tapi kamu tau kan Yoongi itu seperti apa. Dia itu keras, belum tentu dia mau menikah dengan adik iparnya itu." Siwon.
"Yoongi selalu menuruti perkataan mu pa, dia pasti mau kalau kamu yang meminta. Ku mohon, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan menantu dan calon cucu kita." Minzy mulai menangis, perasaannya sangat khawatir ketika memikirkan menantunya itu.
Siwon terlihat berpikir sejenak. "Baiklah, aku akan membujuk Yoongi." Akhirnya pria paruh baya ini menuruti permintaan istrinya.
•••
"Apa?! Apa kalian sudah gila?! Kalian memanggil ku hanya untuk hal konyol seperti ini?!"
"Tenanglah dulu Yoongi," Siwon berusaha menenangkan Yoongi. Permintaannya malah membuat anak sulungnya itu benar-benar emosi.
"Bagaimana bisa aku menikah dengan Qiya! Dia itu adik ipar ku," kesal Yoongi.
"Papa tau. Tapi kamu tau kan kalau Qiya itu sedang hamil, dia hamil anak adikmu." Siwon.
"Lalu apa urusannya dengan ku?! Itu bukan anakku," nada Yoongi semakin tinggi. Sungguh dia tidak suka jika di paksa menikah dengan Taqiya, sang adik ipar.
"Anak Jungkook adalah cucu pertama papa, bagaimana jadinya kalau Qiya menikah dengan pria lain? Pasti mereka tidak akan tinggal bersama kami," Siwon.
"Ya kalau begitu jangan suruh wanita itu untuk menikah dengan pria lain, apa susahnya." Yoongi.
"Jangan egois Yoongi, Qiya juga butuh sosok suami untuk anaknya." Siwon.
Yoongi tertawa kesal. Egois? Apa mereka tidak sadar, kalau mereka juga egois untuk menikahkan dia dan wanita hamil itu. Menj*jikkan.
"Aku tidak perduli," Yoongi beranjak, persetan dengan perjodohan ini. Dia tidak akan pernah mau.
"Hanya itu permintaan papa. Apa kamu tidak ingin menurutinya Yoongi?" Suara Siwon lirih, berharap sang anak dapat mengerti dengan apa yang dia rasakan saat ini. "Papa tidak ingin kehilangan Qiya ataupun cucu pertama papa. Taqiya anak yatim-piatu, jadi bagaimana dia bisa menghidupi anaknya. Apa kamu tega dengan anak yang sedang di kandungnya?"
Langkah Yoongi terhenti, hatinya tiba-tiba sakit mendengar perkataan terakhir papanya.
"Apa kamu tega membiarkan anak yang dikandung Qiya hidup menderita, bahkan tanpa sosok ayah di sampingnya. Apa kamu setega itu Yoongi?" Siwon.
Tubuh Yoongi kaku, memikirkan betapa kasiannya calon anak itu jika tumbuh tanpa sosok ayah. Cukup dia saja yang tumbuh tanpa sosok ibu, dia tidak ingin di keluarganya ada yang merasakan hal serupa.
"Baiklah. Aku akan menerima perjodohan itu, hanya untuk anak Jungkook. Bukan karena Qiya ataupun Jungkook," ucapnya setelah itu pergi dari rumah orangtuanya.
Siwon terlihat senang, bahkan Minzy yang memperhatikan dari jauh juga mengucap syukur. Akhirnya anak keras kepala itu mau di jodohkan dengan istri dari adik tirinya.
•••
Taqiya POV:
"Apa?"
Aku terkejut ketika mendengar penuturan mertua ku, tidak habis fikir dengan segala rencana yang mereka fikirkan.
"Iya sayang, kamu dan Yoongi akan menikah."
"Mama, aku gak mau. Aku cuman cinta sama Jungkook, aku gak mau nikah lagi." Air mata ku semakin deras mengalir, bagaimana bisa mereka berniat menikahkan ku dengan Yoongi.
Bukan hanya hubungan ku dan Yoongi, bahkan hubungan Yoongi dan Jungkook tidak pernah baik-baik saja. Jadi bagaimana bisa aku menikah dengan Yoongi? Pria itu sangat membenci ku, bahkan dia tidak pernah perduli dengan kehadiran ku maupun Jungkook.
Aku tidak mau, menikah dengannya sama saja berkhianat dari cinta suami ku.
"Ini semua demi anak yang kamu kandung nak, apa kamu tega jika melihatnya tumbuh tanpa sosok ayah?" Mama Minzy berusaha meyakinkanku. "Yoongi dan Jungkook adalah saudara, pastinya anak mu akan merasakan sosok Jungkook dalam diri Yoongi."
Air mata ku semakin deras mengalir, apa yang harus ku perbuat sekarang? Kata-kata mama mertuaku memang benar, anakku pasti akan sedih jika hidup tanpa sosok ayah. Tapi kenapa harus Yoongi? Kenapa harus pria dingin itu?
"Ma, aku gak mau nikah sama kak Yoongi." Lagi-lagi aku menolak, sungguh aku tidak mau menikah dengannya.
Namun mama mertua ku tetap kekeh untuk menikahkan ku dengan Yoongi. Mama mertua ku yakin, jika Yoongi adalah pasangan yang tepat untuk ku.
"Jujur mama ini sangat egois karena tidak ingin melepaskan kalian, tapi itu juga terbaik untuk mu dan anak yang kamu kandung. Mama juga tidak ingin kehilangan sosok Jungkook, anak semata wayang mama." Mama Minzy mulai menangis sesegukan.
Dapat ku cerna dari perkataan mertua ku, aku yakin jika mereka tidak ingin berpisah dengan anak yang ku kandung. Karena hanya anak ini satu-satunya harta berharga yang di tinggalkan oleh Jungkook untuk kami semua.
"Baiklah," aku luluh. Lagipula aku tidak punya tempat untuk pulang, aku hanya anak yatim-piatu. Jadi siapa lagi yang akan menampung ku kalau bukan mereka?
"Terimakasih nak," mama Minzy memelukku.
Sedangkan aku masih termenung, apakah ini bisa di anggap keputusan yang tepat? Yatuhan, tolong berikan jalan terbaik untukku dan calon anakku.
•••
Sebulan telah berlalu. Pernikahan ku dan Yoongi telah di persiapkan dan tinggal beberapa hari lagi akan berlangsung.
Kedua mertuaku tampak senang karena aku tidak akan berpisah dengan mereka, tapi tidak dengan ku maupun Yoongi. Kami seperti tertekan, diantara kami tidak ada yang saling mencintai. Jadi bagaimana bisa kami bersatu?
"Setelah menikah, kamu akan tinggal bersama dengan Yoongi." Siwon.
Seperti tertusuk, hati ku sakit ketika mendengar penuturan papa mertua ku. Aku tidak ingin tinggal dengan Yoongi, aku takut jika perkataan yang pernah pria itu lontarkan akan menjadi kenyataan.
??? ????? ????????? ??, ???? ?????? ℎ???? ????????? ?????? ???? ??. Kira-kira seperti itulah yang Yoongi katakan ketika kami membeli cincin pernikahan beberapa hari lalu. Aku takut.
????????, ??? ???? ℎ???? ?? ??????? ????????? ??? ℎ???? ????? ??????? ??, ????? ?????? ???? ???????.
•
•
Bersambung.
_____________