????????, ??? ???? ℎ???? ?? ??????? ????????? ??? ℎ???? ????? ??????? ??, ????? ?????? ???? ???????.
•••
Author POV:
Hari pernikahan Yoongi dan Taqiya berlangsung tertutup, karena Yoongi tidak ingin menikah jika pernikahannya di ketahui orang lain selain keluarga. Malu, itulah alasannya.
"Sekarang kalian sudah menjadi sepasang suami istri. Bawa pulang istri mu Yoongi, perlakukan istri mu dengan lembut." Siwon menasehati Yoongi, pria tua ini merasa jika anak sulungnya itu masih belum bisa menerima kehadiran Taqiya.
Yoongi hanya mengangguk, namun ekspresinya tetap datar. Setelah acara selesai, Yoongi membawa Taqiya untuk pulang ke rumah miliknya.
Rumah Yoongi minimalis namun terkesan mewah, furniture nya tersusun dengan rapi. Taqiya terkagum, bibirnya menganga seakan berkata ??? ketika memperhatikan sekeliling.
"Koper nyonya diletakkan dimana tuan?" Pembantu menghampiri keduanya, sedikit menunduk agar terkesan sopan.
"Kamar tamu," ucap Yoongi setelah itu naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Taqiya tercengang. Kamar tamu? Jadi mereka tidak sekamar? Wanita hamil ini sedikit bersyukur, lagipula dia juga tidak ingin sekamar dengan Yoongi. Karena hati dan raganya masih untuk Jungkook, sang suami tercinta.
Ketika di kamar, Taqiya memperhatikan sekeliling. Ruang kamar baru, suasana baru bahkan kehidupan baru. Seketika Taqiya merindukan sosok Jungkook, merindukan semua hal konyol yang sering dilakukan oleh almarhum suaminya itu.
Taqiya merebahkan diri di kasur, tubuhnya lelah namun matanya menolak untuk tertutup. Wanita hamil ini mengelus perutnya sendiri, teringat ketika Jungkook sering mengelus perutnya sebelum tidur.
Hati Qiya kembali sakit, air matanya juga kembali mengalir. Seolah rasa cinta dan rindunya pada Jungkook tiada habisnya, walaupun dia sudah seberusaha untuk mengikhlaskan, tapi tetap saja dia masih tidak bisa menerima kenyataan pahit tersebut.
•••
Taqiya POV:
Keesokan harinya, pukul 06.12 KST. Aku pergi ke dapur untuk membuat sarapan, berusaha menyesuaikan diri di rumah baru ini. Rumah ini indah, namun terasa sangat sepi. Seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan didalamnya.
Setelah selesai memasak aku mencari letak kamar Yoongi, bagaimanapun dia adalah suami ku, sudah jadi kewajiban untuk membangunkan dan menyediakan sarapan untuknya.
Di lantai atas ada dua kamar. Aku bingung, yang mana kamar milik Yoongi?
Ku buka salah satu kamar, ternyata ini bukan kamar Yoongi. Kamar ini sangat indah, desainnya sangat lucu. Seolah sengaja di desain untuk kamar anak-anak, apa Yoongi sengaja mendesain kamar ini untuk anaknya kelak?
Aku memperhatikan segala furniture di dalamnya, semua sangat mahal dan sederhana. Namun ada satu furniture yang sedikit menyakiti perasaan ku, sebuah foto Yoongi dan seorang gadis terletak di meja.
Yoongi terlihat bahagia di foto itu, bisa di lihat dari caranya tersenyum. Hati ku sakit, bukan karena cemburu. Melainkan merasa bersalah pada Yoongi, ternyata pria itu punya seseorang yang begitu dia cintai.
Dengan tidak tau dirinya aku malah masuk dalam kehidupannya, membuat pria tampan itu harus mengubur dalam-dalam keinginannya untuk menikah dengan gadis yang dia cintai.
"Ngapain kamu disini?" Suara Yoongi mengejutkan ku, aku berbalik dan tersenyum canggung padanya. Aku sedikit takut, tatapan Yoongi begitu tajam pada ku seolah tidak suka melihat ku masuk ke dalam kamar ini.
"M-maaf. Aku tadi ingin membangunkan kakak untuk sarapan, ternyata salah kamar."
Yoongi melirik foto yang ada di meja, foto yang sedang ku belakangi. "Kamu sudah liat foto itu kan?" Ucapnya dengan ekspresi datar.
Aku mengangguk sebagai jawaban, masih takut dengan ekspresi Yoongi saat ini.
"Dia kekasihku dan sampai sekarang masih menjadi kekasihku," ucapnya.
Aku terkejut, bahkan mata ku sampai membulat sempurna. Ternyata Yoongi masih menjalin hubungan dengan kekasihnya.
"Kamar ini sengaja ku desain untuk anakku dan dia," Yoongi sedikit menjeda ucapannya lalu kembali menatap ku. "Dan akan tetap menjadi kamar anak kami," lanjutnya.
[Deg]
Nafas ku sesak, sakit luar biasa yang kurasakan ketika mendengar ucapan terakhir Yoongi. Seakan memberitahukan ku, jika dia tetap akan menikah dengan kekasihnya. Lalu bagaimana dengan ku? Setidaknya ceraikan aku jika memang ingin bersama dengan kekasihnya.
Aku tersenyum, berusaha menyembunyikan rasa sakit yang ku rasakan. Tidak ada gunanya aku sakit hati, lagipula pernikahan kami juga tidak di dasari oleh cinta. Yoongi mencintai kekasihnya dan aku masih mencintai Jungkook, tapi kenapa hati ku tetap saja merasakan sakit?
"Kamarnya bagus kak, pasti anak dan istri kakak bakal senang." Aku berbicara seolah bukan siapa-siapa Yoongi, padahal menurut hukum akulah istri sah nya.
"Baguslah kalau kamu sadar diri," Yoongi berucap ketus lalu keluar dari kamar.
Aku tersenyum seraya menatap kepergiannya, sepertinya ada lebih banyak rasa sakit yang akan ku rasakan lebih dari ini kedepannya. Apakah aku masih bisa bertahan?
•••
Setelah sarapan, Yoongi pergi bekerja sedangkan aku uring-uringan di rumah. Bingung ingin melakukan aktivitas apa, akhirnya akupun membersihkan rumah.
"Ehh nyonya ngapain nyapu, biar saya saja nyonya." Pembantu panik ketika melihat ku menyapu, wanita paruh baya ini mengambil alih sapu yang ku pegang lalu menuntun ku untuk duduk.
"Gapapa bu, lagipula aku bingung mau ngapain."
"Jangan nyonya, nyonya kan lagi hamil muda. Tuan besar menyuruh saya untuk memperhatikan kesehatan nyonya."
Aku tersenyum tipis, ternyata mertuaku begitu perhatian pada kesehatan ku.
"Ibu namanya siapa?"
"Ijah nya."
"Jangan manggil nyonya yah bu, panggil nak aja." Aku tersenyum, lagipula aku sangat suka jika di anggap anak oleh orang-orang terdekat ku.
"Gak enak nyonya."
"Jangan gitu bu, malah aku yang gak enak kalau di panggil nyonya terus."
Bu Ijah pun menuruti keinginan ku, kami mulai akrab. Bu Ijah banyak bercerita tentang keseharian Yoongi, suami ku itu sangat jarang berbicara pada siapapun. Bahkan pada bu Ijah sekalipun.
Karena masih penasaran akan satu hal, aku bertanya pada bu Ijah tentang hubungan Yoongi dan kekasihnya.
"Bu, kak Yoongi sering bawa pacarnya kerumah?"
Bu Ijah tampak terkejut, terlihat jelas kalau dia tidak tau harus menjawab jujur atau bohong tentang kekasih Yoongi.
"Jangan merahasiakan apapun bu, aku juga sudah tau tentang hubungan mereka. Cuman penasaran aja, aku takut kalau pacarnya sering kesini."
Bu Ijah terkejut dengan ucapan ku. "Kamu dan tuan Yoongi menikah tanpa ada rasa cinta?" Tanyanya dengan hati-hati.
Aku mengangguk sebagai jawaban, Bu Ijah tampak sedih. Bagaimanapun, aku dan Yoongi memang tidak saling mencintai.
"Baru beberapa hari yang lalu pacar tuan Yoongi datang, sepertinya dia belum tau kalau tuan Yoongi akan menikah dengan mu nak."
Aku tersenyum, lalu ku genggam tangan Bu Ijah dengan lembut. "Rahasiakan status kami yah bu. Aku gak mau hubungan mereka hancur," lirih ku.
Bu Ijah menangis, tidak habis fikir dengan permintaan ku. Hatinya juga sakit, seolah merasakan hal yang serupa.
"Tapi nak, bagaimanapun tuan Yoongi itu suami sah mu. Jadi bagaimana bisa tuan Yoongi menjalin hubungan dengan wanita lain, sedangkan statusnya sudah menjadi suami?"
"Aku gak masalah bu, setidaknya dia tidak menderita menikah bersama ku. Itu saja sudah cukup," aku memeluk bi Ijah yang menangis sesegukan. Aku malah merasa sedih karena bu Ijah menangis dengan status ku yang tak di anggap, padahal aku tidak mempermasalahkan hal seperti itu.
Biarkan saja Yoongi menjalin kasih dengan pacarnya, lagi pula aku bukan siapa-siapa baginya. Hanya seorang wanita hamil yang menumpang di rumahnya.
•••
Author POV:
Yoongi duduk di kursi kebesarannya, menatap kosong kearah berkas-berkas yang tergeletak di meja. Pria tampan ini terlihat stres, memikirkan bagaimana dia menjelaskan pada sang kekasih tentang pernikahannya dengan Taqiya. Menikah dengan Taqiya bukanlah keinginannya, jadi alasan apa yang harus Yoongi berikan?
Toktoktok.
Pintu ruangan Yoongi terketuk, sedetik kemudian terbuka. Seorang wanita cantik masuk seraya tersenyum, membuat Yoongi merasa sedikit tenang ketika melihatnya.
"Kenapa kamu kesini Jihyo?"
"Aku merindukanmu sayang hehe, apa kamu sibuk Yoongi?"
Wanita bernama Jihyo itu duduk di pangkuan Yoongi, memeluk leher sang kekasih dengan posesif. "Udah makan?"
Yoongi tersenyum, memeluk pinggang kekasihnya agar tubuh mereka semakin berdempetan.
"Belum. Mau makan bersama?"
Jihyo menggigit bibir bawahnya, lalu berbisik di telinga Yoongi. "Mau makan aku gak?" godanya seraya mengecup leher Yoongi.
Yoongi merasa sesuatu bergejolak dalam dirinya, seketika libidonya naik. Sudah beberapa mereka tidak bercinta, membuat mereka berdua menginginkan kenikmatan bsatu sama lain.
"Mau dimana? Hotel?" Yoongi bertanya seraya meremas dada Jihyo, membuat sang kekasih mendesah kenikmatan.
"Disini saja, aku sudah tidak sabar ingin di masuki oleh mu." Jihyo meremas bagian bawah Yoongi, membuat sang pemilik mendesis nikmat.
Kedua pasangan itu pun bercinta disana, menikmati hal yang sudah menjadi rutinitas setiap hari bagi keduanya. Seolah lupa, Yoongi tidak berpikir sedikitpun perasaan Taqiya yang sekarang sudah menjadi istri sahnya.
•••
Hari menjelang sore. Terlihat Taqiya sedang duduk di tepi kolam, menenggelamkan kakinya ke dalam air. Wanita hamil itu terlihat bosan, sesekali air matanya mengalir ketika mengingat kenangan lama. Cintanya begitu besar, hingga membuat wanita itu tidak bisa melupakan Jungkook, almarhum suaminya.
"Yoongi sedang apa yah? Apa dia sudah makan?" Qiya menatap pantulannya di air. Wanita hamil ini tersenyum getir, dia kembali mengingat hal-hal kecil yang Jungkook sering lakukan ketika bersama dengannya.
Mengapa susah sekali baginya untuk melupakan Jungkook? Pria itu telah tenang di alam sana, Qiya harus bisa melupakan dan memberikan rasa cintanya pada Yoongi. Namun tetap saja Qiya mengklaim, jika dia hanya mencintai Jungkook, untuk saat ini maupun dimasa depan.
Hati Taqiya bimbang, mengikhlaskan kepergian Jungkook dan memberikan cintanya pada Yoongi, atau tetap bertahan dengan rasa cintanya pada Jungkook?
??ℎ??, ????ℎ?? ??? ???? ℎ???? ?? ????ℎ?
•
•
Bersambung.
-----------
Sepi yah kek hati wkwkwk.