5.Karma

1525 Words
"Maafkan aku. Aku tidak bisa membahagiakan mu, karena aku tidak bisa meninggalkan Jihyo, kekasihku." Taqiya menangis sesegukan, dia berusaha untuk tersenyum di sela tangisannya. Tidak tau haru merespon seperti apa, dia hanya bisa mencengkram dadanya yang terasa sesak. "Apa kamu masih mencintai almarhum Jungkook?" Dengan bodohnya Yoongi bertanya seperti itu, apa dia tidak sadar ketika melihat air mata Taqiya? Wanita itu menangis karena terluka, itu semua karena wanita itu telah mencintainya. "Iya," terpaksa Taqiya berbohong. Lagipula Yoongi tidak akan pernah jatuh cinta padanya, jadi percuma berkata jujur. Yoongi memalingkan wajah, ada perasaan kecewa ketika mendengar jawaban dari Taqiya. "Apa yang membuat mu jatuh cinta pada Jungkook?" Taqiya mengelap air matanya sendiri, mungkin lebih baik jika dia berpura-pura baik-baik saja dari pada ketahuan telah jatuh cinta pada Yoongi. "Segalanya," jawabnya. "Jungkook sangat beruntung." Bodoh, harusnya kamu juga merasa beruntung Yoongi. Taqiya berhasil mengikhlaskan Jungkook, dan sekarang dia begitu mencintai mu hingga dia rela terluka hanya demi berada di sisi mu. "Kekasih kakak juga sangat beruntung. Padahal kakak sudah menikah, tapi kakak tetap mencintainya." Yoongi tersindir dengan ucapan Taqiya. "Seandainya saja kita tidak di nikahkan, mungkin aku sudah menikah dengan Jihyo." Balasnya. Lagi-lagi Taqiya sakit hati. "Aku masuk dulu yah kak, ngantuk." Qiya beranjak lalu berjalan masuk, tidak ada gunanya berbicara dengan Yoongi. Malahan akan semakin membuatnya terluka. Yoongi menatap kepergian Taqiya, dia tertunduk sedih. Hatinya sakit, ada sebuah rahasia besar yang Yoongi sembunyikan. Sebuah rahasia yang tidak seorang pun tau, bahkan Jihyo juga tidak tau apa rahasia terbesar Yoongi. ••• Bulan kembali berganti. Hubungan Yoongi dan Taqiya lumayan akrab semenjak pengakuan Yoongi, keduanya tidak menjalin hubungan seperti suami istri, namun tetap seperti adik dan kakak ipar saja. Segala perhatian Yoongi berikan pada Taqiya, wanita hamil itu berusaha untuk tidak jatuh hati lagi. Berusaha mengikhlaskan Yoongi untuk tetap bersama kekasihnya. Ada niat terselubung dari Qiya, dia ingin bercerai ketika bayi yang di kandungnya telah lahir. Beberapa minggu ini Yoongi selalu berada di rumah, bahkan sangat jarang baginya telat pulang setelah bekerja. Ada yang aneh, tapi Taqiya tidak ingin salah paham lagi dengan perlakuan lembut Yoongi. "Kandungannya sehat, ibunya juga sehat." Dokter menjelaskan kesehatan Taqiya seraya memperlihatkan hasil USG. Mereka berdua sedang mengecek kandungan Taqiya, takut jika ada apa-apa pada bayi di dalamnya. "Tapi kenapa akhir-akhir ini dia sering pingsan yah dok?" Yoongi bertanya, sebab dia khawatir dengan keadaan Qiya yang sering pingsan tiba-tiba. "Mungkin istri anda terlalu banyak fikiran," dokter menjeda ucapannya untuk menatap Taqiya. "Jangan terlalu banyak pikiran yah bu, itu tidak baik untuk pertumbuhan bayi di dalam perut." Taqiya hanya mengangguk. Sejak menikah dengan Yoongi dia menjadi banyak fikiran, memikirkan kehidupannya yang sangat rumit dan penuh siksaan batin. "Apa kalian mau tau jenis kelamin anak kalian?" "Iy-." "Tidak dokter!" Taqiya menyela ucapan Yoongi, membuat sang suami sedikit terkejut. "S-saya ingin itu menjadi suprise setelah melahirkan dia," lanjutnya. "Haha, ternyata ingin jadi suprise yah." Dokter berbicara seraya terkekeh, sedangkan Yoongi hanya tersenyum. "Baiklah. Kalau begitu kami pamit dulu, terimakasih dokter." Yoongi menjabat tangan dokter yang tadi memeriksa Taqiya, setelah itu mereka keluar bersama. Dengan hati-hati Yoongi menuntun Taqiya, wanita hamil itu terlihat susah berjalan dengan usia kandungannya yang sudah beranjak delapan bulan. "Mau ku gendong?" Taqiya terkekeh mendengar pertanyaan Yoongi, memangnya pria itu mau melakukan hal konyol seperti itu? "Aku hanya hamil kak, bukan lumpuh." "Barangkali kamu lelah." "Aku gapapa kok." Yoongi diam, tidak tau lagi harus menjawab apa. Mereka terus berjalan berdampingan, hingga pandangan Yoongi terfokus pada seorang wanita yang baru keluar dari ruang kandungan lainnya. "Jihyo?" Mata Yoongi membulat sempurna, bukan karena melihat Jihyo, melainkan melihat pria yang berada di sebelah Jihyo. Jihyo ikut terkejut. "Yoongi?" "Kamu kenapa disini? Siapa dia?" Yoongi terlihat emosi, ketika menatap pria yang bersama Jihyo. "D-dia," Jihyo menjeda ucapannya, seolah sedang menutupi sesuatu. "Saya tunangan Jihyo," tanpa di suruh, pria itu memperkenalkan dirinya sendiri. Yoongi marah, tatapannya sangat tajam ketika menatap dua orang didepannya. Hati Yoongi sakit, selama ini dia begitu mencintai Jihyo, tapi ternyata dia malah di khianati. "Benarkah itu Jihyo?" Tanyanya lagi. Jihyo hanya mengangguk, tidak sanggup untuk menatap wajah pria yang dia cintai itu. "Dia siapa Jihyo?" Tunangan Jihyo kembali bertanya, ada yang janggal karena sikap posesif Yoongi. "Teman," kata yang singkat dan sangat menyakitkan bagi Yoongi. Semudah itu Jihyo menggambarkan hubungan mereka. Teman? Apa ada teman yang pernah tinggal bersama? Bahkan bercinta setiap ada kesempatan, apa hubungan berlebihan seperti itu pantas jika hanya di ibaratkan dengan kata teman? Yoongi tersenyum paksa, miris sekali. Ternyata selama ini hanya dia yang begitu mencintai. Taqiya yang berada di antara mereka hanya diam, tidak tau harus bereaksi seperti apa. Wanita hamil ini masih terkejut, karena baru pertamakali melihat Jihyo secara langsung. Cantik, itulah yang Taqiya nilai saat pertama kali melihat kekasih suaminya. "Oh teman. Apa dia istri mu bung?" Tunangan Jihyo menatap Taqiya, ada tatapan kagum ketika melihat wajah cantik wanita hamil itu. Yoongi ikut menatap Taqiya, menatap istri yang selalu dia sakiti perasaannya. Istri yang tidak pernah menuntut apapun darinya, Taqiya, wanita baik hati dan penyabar. Tangan Yoongi masih memegang bahu Taqiya, dia berusaha tersenyum agar tidak terlihat lemah didepan Jihyo. "Iya. Dia istri ku," jawabnya. Jihyo terkejut, bahkan obat yang dia pegang sampai berjatuhan di lantai. Sejak kapan Yoongi menikah? Apa anak yang dikandung wanita itu darah daging Yoongi? Kebohongan seperti apalagi ini? "Yoongi, apa itu benar?" Jihyo bertanya dengan lirih, tidak habis fikir dengan jawaban Yoongi. "Iya. Dia istri ku, namanya Taqiya." Dada Jihyo sesak, jadi selama ini mereka berdua sama-sama mengkhianati pasangan mereka sendiri. Menjalin hubungan terlarang, tanpa sepengetahuan pasangan mereka. "Kalau begitu kami duluan," Yoongi kembali menuntun Taqiya untuk berjalan, meninggalkan sepasang tunangan yang menatap kepergian mereka. ••• Sesampainya di rumah, Yoongi terlihat sangat frustasi. Bahkan dia sampai memecahkan semua bingkai foto dan merobek semua fotonya bersama dengan Jihyo. Yoongi terluka. Ternyata selama ini mereka telah melakukan hal yang tidak berguna, mengkhianati pasangan mereka masing-masing. "Sialan!" Teriakan Yoongi mengisi kekosongan rumah. Pemuda itu terlihat sangat frustasi, semua benda kaca di kamar telah dia hancurkan tanpa tersisa. Taqiya takut, wanita hamil ini hanya berdiam diri di kamarnya. Tidak berniat menenangkan Yoongi, karena dia tau jika Yoongi butuh waktu untuk sendiri. Tiba-tiba ponsel Yoongi berdering, hatinya semakin sakit karena melihat nama sang kekasih di layar ponselnya. Yoongi enggan menjawab, namun panggilan berulang itu terus mengusiknya. Akhirnya dia pun mengangkat panggilan dari Jihyo. "Yoongi maafkan aku," terdengar isak tangis dari Jihyo. Yoongi tidak respect, pria ini sangat kecewa dengan sang kekasih. "Tidak ada lagi yang perlu di bahas, semua sudah berakhir." "Dengarkan dulu penjelasan ku Yoongi. Sejujurnya aku memang sudah di jodohkan, tapi aku tidak mencintai nya." "Tidak mencintainya?" Yoongi tertawa dengan keras, merasa lucu dengan penjelasan Jihyo. "Tidak cinta tapi kamu bisa hamil?" "Yoongi, ini anak mu." "Anakku? Hahaha apa kamu berakting Jihyo? Kita tidak pernah melupakan pengaman setiap ingin bercinta, kamu selalu bilang kalau takut hamil duluan. Apa kamu lupa?" Jihyo semakin menangis. "Baiklah, ku akui ini anakku dan dia. Tapi bagaimana dengan mu? Apa kamu tidak sadar dengan kesalahan mu?! Istri mu hamil besar dan kamu malah tidur dengan ku? Di mana hati nurani mu Yoongi?!" "Itu semua karena aku mencintaimu Jihyo! Aku rela menyakiti perasaan istri ku sendiri hanya karena ingin membahagiakan mu!" "Cukup! Bahagia?! Apa kamu pikir merahasiakan pernikahan mu bisa membuat ku bahagia?! Aku kecewa Yoongi, kenapa kamu tega melakukan hal menyakitkan seperti itu pada ku?!" Yoongi diam, kepalanya pusing. Dia memang salah, tapi ini semua karena rasa cintanya pada Jihyo. "Sudahlah, kita akhiri semua sampai disini." "Baiklah kalau itu mau mu, terimakasih karena pernah membahagiakan ku." Jihyo langsung mematikan panggilan mereka. Yoongi terduduk lesu, percuma jika menjelaskan semua fakta pada Jihyo, lagipula wanita itu sudah hamil dengan pria lain. Jadi tidak ada lagi yang perlu di jelaskan ataupun di pertahankan. Andai saja Jihyo tidak hamil, mungkin Yoongi akan tetap mempertahankan Jihyo. Tapi semua tidak sesuai dengan ekspektasi nya. Kenangan bersama Jihyo semakin menyakiti Yoongi, cahaya yang selama ini di perjuangkan malah meredup dengan sendirinya. Pupus sudah harapan Yoongi untuk membangun rumah tangga dengan kekasihnya itu. Tidak ada lagi yang perlu di rencanakan kedepannya, dia sudah tidak ada keinginan lagi. Mungkin memang Yoongi telah menikah dengan Taqiya, tetapi pria ini selalu menjaga hatinya untuk Jihyo. Bahkan dia tidak pernah mau menyentuh Taqiya seperti layaknya suami-istri lainnya, hanya karena tidak ingin mengkhianati kepercayaan kekasihnya. Tapi ternyata, itu semua sia-sia. "Kak?" Taqiya menghampiri Yoongi, wanita hamil ini takut jika Yoongi berbuat aneh. Hati Taqiya sakit ketika melihat Yoongi yang terduduk lemah di lantai, mungkin ini karma yang cocok untuk suaminya itu. Taqiya berlutut didepan Yoongi. Tiba-tiba Yoongi memeluknya, menumpahkan rasa sakit itu dengan tangis kesedihan. "Sakit Qi," lirihnya. Air mata Taqiya ikut berjatuhan, ingin rasanya dia menjawab. ??????? ?????ℎ? ??ℎ??? ??? ????? ????? ????????? ?????? ???? ????? ???? ?????? ??? ?? ???????. Seandainya berani, mungkin Taqiya sudah berkata seperti itu pada Yoongi. Tangan Taqiya bergerak untuk mengelus punggung Yoongi, berharap pria itu bisa tenang. Tidak ada sedikitpun rasa senang ketika melihat suaminya menderita seperti itu. Taqiya malah merasa sedih dan kasihan. Padahal itu karma yang cocok untuk kejahatan yang selama ini Yoongi berikan padanya, bahkan tidak sebanding. "Maafin aku Qiya, maaf karena aku menyakitimu. Ini karma yang pantas untukku," lirih Yoongi seraya mempererat pelukan serta tangisnya. • • Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD