Berbeda

1717 Words
??ℎ??, ????ℎ?? ??? ???? ℎ???? ?? ????ℎ? ••• Kembali pada dua insan yang habis dilanda kenikmatan. Sepasang kekasih itu telah memakai pakaian masing-masing, duduk di sofa untuk merilekskan tubuh mereka karena lelah bercinta. "Kenapa akhir-akhir ini kamu sibuk Yoongi?" Jihyo bersandar di dada Yoongi, perasaannya sedikit khawatir karena beberapa hari terakhir Yoongi susah untuk di temui. Sedangkan Yoongi tampak kebingungan, jawaban apa yang harus dia berikan, jujur atau berbohong? Yoongi diam sejenak, memikirkan alasan yang tepat untuk di berikan pada sang kekasih. Di tatapnya wajah Jihyo, ekspresi wanita cantik itu terlihat khawatir. Terdengar helaan sebelum Yoongi ingin menjawab, "Aku sibuk dengan urusan kantor." Terpaksa Yoongi berbohong, dia tidak ingin menyakiti perasaan kekasihnya. Namun Jihyo masih merasa cemas, wanita ini merasa ada yang sedang di sembunyikan oleh kekasihnya. "Benarkah?" tanyanya lagi. "Iya sayang. Sudahlah jangan berpikiran yang aneh-aneh, lebih baik kita pulang." Jihyo menghela nafas lelah, dia cemas karena sejak dulu Yoongi tidak pernah berbagi keluh kesah padanya. "Mau menginap di apartemen ku baby? Sudah lama kita tidak tidur bersama," Jihyo. "Apa kamu begitu merindukan ku?" Yoongi mengecup bibir Jihyo, membuat wanita itu terkekeh karena geli. "Sangat. Aku sangaaaaattt merindukan mu Yoongi," kekehnya. "Baiklah kalau begitu, ayok kita pulang." Keduanya pergi, pulang ke apartemen milik Jihyo. Entahlah apa yang ada difikiran Yoongi, dia begitu mencintai Jihyo sampai tidak memperdulikan statusnya yang sudah menjadi suami wanita lain. Pria ini tidak perduli, lagipula dia tidak mencintai Taqiya. Menurut Yoongi, wanita hamil itu telah merusak impiannya, jadi biarkan saja dia terluka. ••• Taqiya POV: Aku duduk sendirian di ruang tamu, menatap kosong ke arah plafon, seraya memikirkan sesuatu yang bisa menghilangkan rasa jenuh ku. Aku bosan, bosan karena tidak ada yang mengajak ku ngobrol. Bu Ijah telah pulang kerumahnya, jadi hanya tinggal aku sendirian di temani keheningan malam. "Nonton juga bosan," keluhku. Ku pegang perut ku yang mulai keroncongan, cacing pita di perutku meronta ingin di beri asupan. Sepertinya aku lapar, tapi aku tidak selera makan kalau tidak ada yang menemani. Aneh, tidak biasanya aku seperti ini, apa jangan-jangan bawaan bayi ku? Tadi siang saja, bu Ijah yang menemani ku makan. Sekarang aku lapar, tapi tidak ada orang yang menemani ku. "Kenapa Yoongi belum pulang yah? Apa dia biasa bekerja sampai selarut ini?" Kembali ku cek jam di ponsel ku, ternyata sudah pukul 11 malam. Kenapa Yoongi belum pulang? Padahal sejak tadi aku telah menunggunya, berharap bisa makan malam bersama. Aku ingin menjalin hubungan baik dengan Yoongi, ya walaupun dia masih belum bisa menerima keberadaan ku. Setidaknya aku sudah berusaha, berusaha untuk menerima dia sebagai suami ku dan mengikhlaskan kepergian Jungkook. "Kruuukkk," bunyi suara perut ku semakin jelas terdengar. Aku lapar, tapi seperti tidak ada nafsu makan. Bawaan bayi ku sangatlah aneh, aku hanya nafsu makan jika ada orang yang menemani. Seandainya saja Jungkook masih hidup, mungkin aku tidak akan merasa kesepian seperti ini. Sudahlah, seharian ini aku telah menghabiskan waktu dengan bersedih. Tenaga ku juga sudah habis karena menangis memikirkan Jungkook. Aku tidak boleh egois, Jungkook pasti sudah tenang di alam sana, sekarang tugasku hanya untuk mendoakannya. "Huft," beberapa kali aku menghela nafas, menetralkan perasaan sedih yang bercampur dengan rasa lapar. Karena sudah tidak tahan, aku pergi ke dapur untuk makan. Namun baru saja sekali suapan, aku malah mual dan seperti kehilangan selera makan. Oh tuhan, ini sangat menyiksa. Air mata ku mengalir, rasanya sangat lelah hidup sendiri di kehamilan pertama. Aku butuh sosok suami yang senantiasa memperhatikan ku, memenuhi apapun yang sedang ku inginkan. Tapi nyatanya aku hanya sendiri, tidak ada siapapun yang perduli dengan ku. "Jungkook, aku kangen." Aku lelah, lelah dengan semua hal yang menimpa ku. Kesehatan ku sudah menurun, di tambah bawaan bayi ku yang begitu aneh. Sekarang apa yang harus ku lakukan? Hanya Yoongi satu-satunya tempat pelarian ku sekarang, tapi maukah dia mengabulkan permintaan aneh dari bayi ku ini? Lebih baik aku bertanya langsung padanya, dari pada harus bertempur dengan fikiran ku sendiri. "Tuuuttttt." Aku menghubungi nomor Yoongi, panggilan berdering sangat lama. Entahlah apa yang sedang dia lakukan, sampai-sampai tidak menerima panggilan ke-5 dari ku. "Tuuuttttt," ketika panggilan ke-6 dia baru mengangkatnya. "Halo, siapa ini?" Bibir ku bungkam, aku terkejut ketika mendengar suara perempuan yang sedang mengangkat panggilan ku. Siapa dia? Ini benar nomor Yoongi kan? "Siapa sayang?" Terdengar samar suara Yoongi di telinga ku. "Entahlah, dia tidak bicara." Aku masih diam untuk berpikir sejenak, apakah jangan-jangan ini kekasih Yoongi. Segera ku putuskan panggilan kami, semoga saja kekasih Yoongi tidak curiga. Karena aku tidak ingin hubungan mereka hancur karena kehadiran ku. "Yaampun, hampir saja." Aku terkekeh sendiri, mengumpati diri ku yang sangat bodoh. Bisa-bisanya aku berharap lebih dari Yoongi, padahal aku sudah tau kalau dia masih memiliki kekasih. Harusnya aku sadar, ??? ??? ?????? ••• Author POV: Beberapa hari telah berlalu. Sejak malam itu sampai hari ini, Yoongi belum juga pulang kerumah. Taqiya khawatir, takut jika terjadi apa-apa pada suaminya. Cukup hanya dengan kehilangan Jungkook, dia tidak ingin jika harus merasakan luka yang sama. "Sebenarnya Yoongi kemana?" Taqiya duduk di teras rumah, harap-harap cemas seraya menunggu kedatangan Yoongi. Ternyata firasat wanita hamil itu benar. Sebuah mobil masuk ke perkarangan rumah, Yoongi telah pulang ke rumah mereka. Taqiya tersenyum senang ketika melihat Yoongi yang baru turun dari mobil, ada perasaan bahagia ketika melihat pria tampan itu. Entahlah, mungkin itu bawaan dari bayinya. "Kak, kenapa kakak baru pulang?" Qiya menghampiri Yoongi, menatap suaminya dengan tatapan penuh tanya. Namun Yoongi enggan menatap Qiya, pria itu malah berlalu begitu saja. Mengabaikan sang istri yang mulai terlihat sedih. Taqiya ingin menangis, namun wanita hamil itu berusaha menahan rasa sakitnya. Tidak masalah jika Yoongi masih mengabaikannya, setidaknya suaminya itu telah pulang dengan keadaan sehat. Taqiya ikut masuk kedalam rumah, lalu pergi ke dapur untuk memanaskan makanan yang telah dia masak tadi. Semoga saja Yoongi mau makan malam dengannya. "Mama dan papa mau datang," suara Yoongi membuat Taqiya terkejut. [Prank] Gelas yang Taqiya pegang sampai terlepas, wanita hamil ini refleks memegang dadanya karena kaget dengan kehadiran Yoongi. Suaminya itu selalu saja datang dadakan. Qiya berjongkok, lalu membersihkan serpihan gelas yang berhamburan di lantai. Yoongi marah. "Bisa hati-hati gak sih kalau pegang gelas?!" suara Yoongi meninggi, membuat Qiya kembali terkejut ketika sedang membersihkan serpihan gelas. "Barang itu mahal! Apa kamu bisa ganti?!" Qiya menggeleng ketika mendengar pertanyaan kasar Yoongi, membuat pria itu semakin kesal padanya. "Makanya hati-hati kalau gak bisa ganti! Bersihkan itu secepat mungkin, jangan sampai mama dan papa melihat mu seperti ini. Menyusahkan sekali," kesalnya setelah itu pergi. Taqiya masih berjongkok, memunguti serpihan gelas dengan terburu-buru. Kepala wanita hamil itu tertunduk, air matanya ingin mengalir namun secepat mungkin dia lap. "Qiya gak boleh nangis, Qiya pasti kuat." Taqiya menyemangati dirinya sendiri. Ini pertama kali baginya di bentak oleh seseorang, Qiya wanita yang lembut, jadi dia akan sedih ketika menerima perlakuan kasar dari siapapun. Setelah membersihkan serpihan gelas, Qiya kembali memasak. Membuat banyak hidangan untuk kedua mertuanya yang akan datang berkunjung. Tingtong. Bel rumah berbunyi. Taqiya ingin membuka pintu, namun sudah di duluani oleh Yoongi. "Maaf yah mama berkunjung ke sini," Minzy sedikit tidak enak ketika melihat wajah datar Yoongi. Pria tampan itu malah tak menggubris omongan basa-basi dari mama tirinya. "Masuk ma, pa." Taqiya menyambut hangat mereka, membawa langsung kedua orang tua itu kedapur untuk makan malam bersama. "Masakan Qiya gak berubah, tetap enak. Yah kan pa?" "Iya." Taqiya tersenyum malu ketika mendengar pujian dari mama mertuanya. Namun senyuman itu tidak bisa menutupi rasa sakit yang dia rasakan, karena Yoongi tidak ingin makan bersama mereka. Siwon memperhatikan gerak-gerik anak dan menantunya, pria tua itu merasa kasian pada sang menantu. Terlihat ada kesedihan yang berusaha wanita hamil itu sembunyikan. Setelah selesai makan malam, mereka pergi ke ruang tamu untuk sekedar mengobrol. "Taqiya sudah minum susu ibu hamilnya?" Siwon bertanya, tidak ingin jika kesehatan menantunya itu menurun. Taqiya mengangguk. "Sudah pa," wanita hamil ini berbohong. Padahal sejak tinggal di sini, dia tidak pernah mengkonsumsi susu kehamilan karena tidak ada stok. Dia juga tidak memiliki uang untuk membeli susu. Meminta dengan Yoongi? Tidak, Qiya tidak ingin menjadi beban untuk suaminya itu. "Baguslah. Jaga kesehatan bayi mu itu, jangan telat makan." "Iya pa." "Tapi Qiya kok agak kurusan sekarang? Gak nafsu makan yah?" Minzy khawatir dengan kondisi Taqiya, berat badannya terlihat menurun. "Memang beberapa hari ini Qiya gak nafsu makan ma, mungkin bawaan bayi." "Wajar kok nak, mama waktu hamil Jungkook juga seperti itu." Tiba-tiba Minzy menangis, masih tidak habis pikir Dengan kepergian anak pertamanya. "Mama jadi kangen Jungkook," lirihnya. Siwon berusaha menenangkan sang istri, bagaimana pun dia juga merasakan hal yang sama walaupun Jungkook hanya anak tiri. Taqiya ikut menangis, cintanya pada Jungkook tidak akan pernah hilang semudah itu. Bahkan mendengar namanya saja sudah membuat dia merindukan sosok suami baik seperti Jungkook. Berbeda dengan Yoongi yang berada di antara mereka. Pria tampan itu hanya diam, tidak tau harus berekspresi seperti apa. Dia juga sedih, tapi tidak ada hal yang harus dia sedihkan karena kehilangan Jungkook. Mereka memang tidak dekat, jadi wajar saja kalau Yoongi tidak respect sedikit pun. ••• Karena malam semakin larut, kedua orang tua Yoongi memutuskan untuk menginap. Terpaksa Taqiya tidur di kamar Yoongi, karena kamar miliknya di tempati oleh kedua mertuanya. Untung saja barang Taqiya belum sempat di tata, jadi mereka tidak ketahuan jika tidur terpisah. Ketika memasuki kamar, Qiya bingung ingin tidur di mana. Yoongi sama sekali tidak menyuruhnya tidur, bahkan pria itu terlihat acuh padahal sejak tadi Taqiya sedang berdiri di dekat pintu. "K-kak, aku tidur di mana?" Taqiya bertanya dengan gugup, takut jika Yoongi akan membentak seperti sebelumnya. Yoongi melirik sekilas, tatapannya terlihat sangat tajam. "Terserah, tapi jangan di kasur." Singkatnya, setelah itu merebahkan diri di kasur. Taqiya menatap sekeliling, untung saja ada sofa kamar. Jadi Qiya bisa tidur di sana. Taqiya pun merebahkan dirinya, jiwa dan raganya sangat lelah, jadi dia butuh tidur untuk melupakan rasa sakitnya hari ini. Hening. Padahal belum sejam Taqiya memejamkan mata, dia kembali terbangun karena merasakan dinginnya hawa AC. Tidak ada selimut yang menutupi tubuhnya, bahkan bantal pun tidak di berikan oleh Yoongi. Taqiya menatap wajah lelap Yoongi, terlihat sangat tampan dan begitu damai. Qiya tersenyum, mungkin memang benar, kehadiran Yoongi bisa sedikit membantunya untuk mengikhlaskan kepergian Jungkook. Andai saja wanita hamil ini tau kalau suaminya itu masih bersetubuh dengan wanita lain, apakah dia tetap menerima Yoongi sebagai suaminya? • • Bersambung. __________ Jadi Qiya tuh sakit banget, gapercaya? Tanya aja sama pak haji.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD