Nasimun Ikut ke Kota

1131 Words
SUAMI RAHASIA 2 *** “Nih! Kebanyakan. Nanti simpananmu habis kalau diberikan semuanya padaku.” Maya hanya mengambil lima lembar uang berwarna merah, sisanya ia lemparkan kepada Nasimun. Untung dengan sigap laki-laki itu menangkapnya, sehingga uang itu tidak jatuh dan terselip di dalam mobil. “May, yang sopan sama suamimu.” Tika—mamanya Maya mengingatkan. “Nggak apa-apa, Tante,” sahut Nasimun tersenyum tipis. Gadis itu diam saja, langsung menemui pegawai SPBU dan menunggu mobilnya di isi bahan bakar. Setelahnya ia mengucapkan terimakasih dan kembali duduk ke belakang kemudi. Di jalan hatinya masih bertanya-tanya dari mana pria desa itu memiliki uang banyak. ‘Emm, jangan-jangan dia sering kelayapan kalau malam, jadi babi ngepet? Atau ... pesugihan yang lainnya.’ Maya melirik Nasimun dari spion yang ada di atas dashboard mobil. Laki-laki itu masih komat-kamit membaca berbagai macam doa supaya selamat sampai tujuan. ‘Dih, mimpi apa sih bisa nikah sama pria sekatrok itu.’ batinnya kesal. Setelah melalui perjalanan yang panjang, akhirnya mereka sampai juga di kota. Gadis itu membelokkan mobilnya ke arah kanan memasuki area halaman rumah, lalu berhenti tepat di depan rumah dia lantai berwarna putih. Maya turun lebih dulu, disusul oleh mamanya, lalu Nasimun. Laki-laki itu menengadahkan tangan lega, lalu mengusapkannya ke muka, tanda ia baru selesai berdoa. “Nah, kita sudah sampe Nasimun,” kata Tika. “Iya, Tante, alhamdulillah selamat sampe tujuan.” “Untung nggak mabok perjalanan. Nggak kebayang kalau sampe mabok, pasti ngerepotin banget,” kata Maya dengan wajah super juteknya. “Nggak Mbak, saya itu nggak pernah mabok perjalanan, Cuma ya takut tabrakan aja.” “Mbak Mbak Mbak, kapan bapakmu melahirkanku? Panggil nama aja. Maaayaa! Nggak usah Mbak! Berasa tua banget.” “Duh May, kamu kok marah-marah terus sih? Sudah yuk kita masuk!” “Suruh dia tuh bawain masuk semua barang-barang. Maya capek nyetir dari desa ke kota, Ma!” Gadis itu pergi begitu saja meninggalkan mama dan suaminya. Tika geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya. Ia merasa tidak enak dengan Nasimun yang diperlakukan demikian. “Maaf ya, Nak. Maya memang agak jutek orangnya.” “Iya Tante, nggak apa-apa, tapi sepertinya Mbak Maya bukan agak jutek Tante, tapi super jutek.” Tika tertawa mendengar kalimat menantunya. “Kamu ini ada-ada saja. Udah yuk, kita beresin barang-barang yang ada di bagasi mobil.” “Iya, Tant. Ayok!” Tika dan Nasimun bergotong royong membawa barang-barang masuk ke rumah, sementara Maya memilih merebahkan tubuhnya di kasur dalam kamarnya. Nampaknya gadis itu benar-benar kelelahan. Ia sampai tertidur nyenyak meskipun baru saja sampai. “Nah, jadi kamar kamu dan Maya ada di atas. Ini yang di bawah kamar Tante.” Tika menjelaskan. “Sa ... saya sekamar sama Mbak Maya?” “Iya. Kenapa? Dia kan istri kamu Nasimun.” “Nanti kalau Mbak Mayanya marah gimana Tante?” “Udah nggak apa-apa, nanti Tante yang urus kalau dia marah-marah.” Nasimun dengan hati was-was akhirnya naik ke lantai atas. Sesampainya di depan pintu kamar, dengan sangat hati-hati ia membuka pintunya, lalu terlihatlah Maya yang sudah tertidur nyenyak di pembaringan. Nasimun memasukkan barang-barangnya. Tas dan karung yang ia bawa dari rumah, barulah menutup kembali pintunya. Ia duduk di sebuah sofa berukuran panjang yang ada di dekat jendela, lalu bingung harus berbuat apa. Kemudian matanya melihat Maya yang tidur masih mengenakan sepatu. Pria itu takut spreinya kotor, sehingga mendekati gadis itu, lalu dengan sangat hati-hati melepas sepatunya. Setelah itu ia meletakkan sepatu di dekat pintu. Nasimun yang tidak terbiasa tidur siang memilih keluar dari kamar. Ia berjalan keluar rumah, lalu melihat taman mini yang ada di depan. ‘Gimana kalau nanti Mbak Maya bangun dan melihatku ad di kamarnya? Dia pasti ngamuk-ngamuk dan marah. Duh, jadi bingung harus bagaimana.’ “Loh, kok malah di sini? Kamu nggak capek habis dari perjalanan jauh?” “Oh, nggak kok Tant. Jujur saja saya malah bingung harus ngapain, soalnya di jam seperti ini biasanya saya masih ada di sawah.” “Ya ampun, jadi kamu kebingungan mau ngapain? Kenapa, apa berada di rumah tante itu membosankan?” “Oh tentu saja nggak kok, Tante. Mungkin karena kebiasaan yang berbeda, jadi membuat saya merasa agak aneh saat sampai di sini.” “Oh begitu. Ya udah, kalau begitu, Tante masuk dulu ya! Tante mau masak untuk makan malam kita nanti.” “Iya, Tante. Apa perlu bantuan?” “Nggak usah Nasimun, kamu istirahat aja ya di atas.” Pria itu hanya menjawab dengan senyum, kemudian Tika meninggalkan pria itu sendirian ke dapur. Bosan duduk di teras ia kembali naik ke atas menuju ke kamar. sesampainya di sana ia kembali duduk di sofa. Maya yang tadinya tidur terlentang, kini sudah berganti posisi jadi tengkurap. Pria itu memandangi wajah sang istri. “Cantik, tapi kok yo jutek banget!” katanya pada diri sendiri. Nasimun beranjak, lalu membuka tasnya. Ia menyusun baju-bajunya ke lemari pakaian. Saat sedang asik menyusun baju di lemari pakaian, ponselnya jadulnya berdering nyaring. Sontak ia kaget, kemudian buru-buru mengangkat telepon itu. Ternyata buleknya yang menelepon. “Iya, Assalamu’alaikum, Bulek.” “Waalaikumsalam. Gimana, udah sampe?” “Udah Bulek.” “Yo syukur. Bulek khawatir, kok belum ada kabar sampai kini.” “Maaf, Nasimun lupa Bulek.” “Yo wes kalau gitu. Kamu baik-baik di sana. Jadi suami yang baik dan bertanggung jawab. Nggak boleh kasar sama perempuan, karena laki yang kasar sama perempuan itu cuma banci. Kamu laki tulen to?” “Wo iya jelas. Aku nggak mungkin kasar sama perempuan Bulek. Orang ibuku juga perempuan kok.” “Bagus. Yo wes istirahat sana! Assawamualaikum.” “Wa’alaikumsalam.” Nasimun menyimpan ponselnya, kemudian kembali sibuk menyusun pakaian. Tiba-tiba ia seperti merasa diperhatikan oleh seseorang. Nasimun menoleh ke arah ranjang, terlihat Maya sudah terbangun dengan menatap wajahnya tajam. “Ngapain?” tanya Maya” “Nyusun pakaian, Mbak.” “Nggak usah pake Mbak! Panggil aja Maya!” “Oh iya, maaf Maya. Saya lagi nyusun pakaian.” “Siapa yang suruh kamu susun pakaian di lemariku?” “Lah, jadi susun di mana?” “Di neraka sana!” “Wuih, kok serem. Hati meninggal dulu baru bisa susun pakaian.” “Duh ampun, deh. Maksudnya di mana saja asal jangan lemariku. Lagian lancang banget sih masuk ke kamarku. Siapa yang suruh, siapa yang kasih ijin? Jangan mentang-mentang kita sudah nikah kamu mau seenaknya tidur sama aku. Ingat pernikahan kita itu Cuma nikah siri, perjanjiannya kalau dalam waktu tertentu kita tidak menemukan kecocokan maka kita akan pisah. Jadi, jangan coba-coba berpikir untuk menyentuhku. Paham?” “Paham, May, tapi tadi Tante Tika yang minta aku masuk ke kamar ini. Mama kamu yang nyuruh kita tidur dalam satu kamar.” “Apa? Jadi Mama yang nyusuh kamu ke sini?” “Iya.” “Ya ampun, Mama!!! Keluarkan pria katrok ini dari kamarku!!” teriak Maya kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD