Hukuman William

1263 Words
Alicia hanya bisa meratapi nasibnya saat ini. Samar-samar suara pesta mulai mereda. Alicia duduk meringkuk di sofa dekat jendela. Alicia menyandarkan kepalanya ke bingkai jendela sambil menatap gelapnya langit dari kaca jendela. "Apakah nasibku selalu seburuk ini?" keluh Alicia, setetes demi setetes air mata mulai mengalir lagi di pipinya. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Alicia terkejut, dia menoleh ke pintu. Alicia menjadi ketakutan, dia mengira William kembali ke kamarnya. Ternyata seorang pelayan rumah datang membawa sebuah nampan berisi sepiring makanan dan segelas minuman. "Nona, tuan William meminta saya mengantarkan makanan ini" ucap pelayan sambil menaruh nampan itu di meja kopi dekat sofa. Alicia menjawab dengan anggukan, lalu pelayan itu keluar. Alicia tak merasa lapar. Dia kehilangan nafsu makannya. Alicia kembali menyandarkan kepalanya ke bingkai jendela, lalu dipejamkan matanya. Tanpa sadar, Alicia ketiduran karena lelah menangis sejak tadi. Keesokan paginya, Alicia dibangunkan oleh sinar matahari. Alicia menghalang sinar matahari menyinari matanya dengan mengangkat tangannya. Alicia meregangkan tubuhnya. Ternyata semalaman dia tertidur di sofa. Alicia melihat ke sekeliling kamar, dia tak melihat tanda-tanda kehadiran William semalam. Ranjang masih tertata rapi, seperti belum ada yang meniduri. Alicia bangun lalu berjalan ke kamar mandi. Dia juga tak mendapati kehadiran William disana. Semua perlengkapan mandi juga masih tertata rapi dan kering. "Apakah semalam dia tidak kesini? Segitu marahnya kah dia padaku hanya karena Antonio mencoba menciumku? Segitu cemburunya kah dia? Apa....dia mencintaiku? Ah...gak mungkin! Manusia dingin seperti dia bisa mencintai?" gumam Alicia pada dirinya sendiri. Alicia merasa sedikit lega karena dia tak perlu bertemu dengan William pagi ini. Alicia menyegarkan dirinya. Setelah selesai mandi, dia ingin keluar kamar. Alicia berjalan ke pintu, namun saat dia memutar gagang pintu, ternyata pintu terkunci. Alicia menggoyang-goyangkan gagang pintu berkali-kali, lalu saat dia memastikan pintu benar-benar terkunci, Alicia mundur beberapa langkah. Raut wajahnya memucat. "Jadi, dia benar-benar mengurungku disini? Gila ..ini benar-benar gila! Sampai kapan dia akan mengurungku?" ujar Alicia. Alicia berjalan ke jendela, lalu dibuka nya daun jendela. Alicia melongok ke bawah, dia melihat jarak ke bawah ternyata cukup jauh. "Jika aku melompat, kaki ku bisa patah! Tapi bagaimana aku bisa keluar dari sini?" Alicia ingin melarikan diri. Saat Alicia tengah memikirkan cara untuk keluar dari kamar, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Alicia tak mendengar suara pintu terbuka. Kali ini bukan pelayan yang masuk, ternyata William yang masuk. "Sedang apa kamu disana? Mau melompat?' tanya William dengan nada sarkastik. Alicia terkejut, dia langsung memutar tubuhnya. Maniknya membulat saat melihat William berdiri di tengah kamar dengan membawa nampan di tangannya. William melihat nampan yang semalam, isinya masih utuh. William menaruh nampan baru itu diatas meja buffet. "Kenapa kau tak makan semalam? Takut aku racuni?" tanya William dengan nada sarkastik. "Aku tak lapar!" jawab Alicia dengan wajah ketakutan. "Tuan, tolong lepaskan saya! Jujur, saya tidak ada hubungan apapun dengan Antonio. Tuan jangan salah paham!" sambung Alicia memohon pada William. "Apa yang kau katakan saat ini dengan apa yang kulihat semalam tak sesuai. Aku hanya percaya dengan apa yang kulihat, jadi jangan berharap aku bisa percaya pada perkataanmu!" ujar William. "Jadi sampai kapan tuan akan mengurung saya disini? Saya bukan tahanan, saya tunangan anda, tuan!" Alicia tak mau mengalah, dia terus mencoba membela diri. William tertawa licik, "Sampai aku puas!" jawab William. Manik Alicia kembali membulat saat William mengatakan Alicia akan terkurung disini sampai dia puas. "Kau pria tak punya perasaan! Kau...MANIAK!" hujat Alicia sambil terus berjalan menjauhi William. Ha...ha...ha... William tertawa lagi. William mendekati Alicia. Alicia mulai terpojok. Dia sudah tak dapat bergerak kemana-mana karena dia sudah berada di sudut kamar. William mengurung tubuh Alicia dengan kedua tangannya di kiri dan kanan pundak Alicia. "Ya, aku memang gila! Aku memang MANIAK yang akan memakanmu hidup-hidup hingga kau tak bisa jauh dariku!" ujar William dengan wajah yang mendekat. Alicia dapat merasakan hangatnya nafas William di pipinya karena Alicia memalingkan wajahnya sesaat William mendekatkan wajahnya. "Malam ini bersiaplah! Kau harus melayani ku! Jika pelayananmu memuaskan ku maka mungkin kau akan kubebaskan!" perintah William. Spontan Alicia menoleh ke William dengan maniknya yang membulat sesaat mendengar kata melayani. Alicia menduga dia akan kembali berhubungan intim dengan William. "Jangan memandangku begitu, sayangku! Kau akan mulai terbiasa, aku juga akan memberikan sesuatu yang tak akan kau lupakan seumur hidupmu!" sambung William, lalu dia mengecup bibir Alicia dengan singkat. Alicia tak dapat berkata apapun, dia seperti tersihir. William melepas kurungannya, lalu dia beranjak pergi meninggalkan Alicia yang masih berdiri bersandar di sudut kamar. Kaki Alicia terasa lemas seketika. Alicia duduk bersimpuh di lantai sambil menunduk. "Tuhan, lebih baik kau ambil nyawaku daripada aku harus kembali melayani pria maniak seperti dia!" gumam Alicia. Sepanjang hari, Alicia hanya berbaring di ranjang. Walaupun makanan diantar oleh pelayan, namun tak disentuh oleh Alicia. Dia tak ada nafsu makan sama sekali. Alicia tidak berniat untuk bangun, dia terus berbaring sampai akhirnya dia kembali tertidur hingga hari kembali gelap. Lampu kamar tak dinyalakan. Kamar masih dalam kondisi gelap gulita. Alicia terbangun, dia mulai merasa lambungnya sakit. Alicia bangun lalu duduk bersandar sesaat sambil memegangi perutnya. Tiba-tiba rasa mual mulai terasa. Alicia langsung turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi. Alicia membungkuk di depan wastafel. Seluruh isi perutnya tumpah keluar hingga terasa cairan asam yang keluar. Setelah seluruh isi perutnya keluar, Alicia merasa lemas, dia duduk di lantai kamar mandi. Seluruh tubuhnya terasa lemas, kepalanya mulai terasa pening. Alicia mencoba bangun namun dia mendadak kehilangan keseimbangan, akhirnya terjatuh dan tak sadarkan diri. Hari sudah larut malam, William baru kembali dari pekerjaannya. William masuk ke kamarnya, namun suasana kamar gelap gulita. William menyalakan lampu. Namun dia tak menemukan Alicia disana. William mulai cemas. William melihat ada cahaya dari kamar mandi. Dia langsung berjalan ke kamar mandi. Saat William membuka pintu kamar mandi, ditemukan nya Alicia tengah terbaring di lantai. William buru-buru menghampiri Alicia, lalu diangkatnya tubuh Alicia. Tubuh Alicia terasa lembab dan dingin karena keringat yang keluar. Wajahnya pun memucat. "Al...Alicia...bangun Al!" panggil William sambil menepuk-nepuk wajah Alicia. Namun Alicia tak merespon. William segera menggendong Alicia dan membawanya turun. Kakek Raffael melihat William berjalan terburu-buru sambil menggendong Alicia. "Mau kemana dia? Alicia kenapa?" tanya kakek pada seorang pelayan. "Sepertinya Nona pingsan, tuan Raffael. Tuan William mau membawa Nona ke rumah sakit" jawab pelayan. Kakek Raffael menggelengkan kepalanya, lalu menghela nafas. "Kenapa hatinya masih seperti itu? Aku berharap Alicia dapat bertahan disisi William!" gumam kakek Raffael. Setibanya di rumah sakit. Alicia langsung ditangani dokter keluarga Stefano. Alicia ditempatkan di kamar VVIP. Rumah sakit ini merupakan salah satu aset milik keluarga Stefano. Jadi, saat William datang, mereka sudah langsung memberikan service yang terbaik. "Bagaimana dok? Ada apa dengan nya?" tanya William saat dokter Carlos selesai memeriksa Alicia. "Istrimu mengalam luka pada lambungnya. Sepertinya dia tidak makan apapun seharian ini ya? Sehingga asam lambungnya naik dan melukai dinding lambung. Ini bahaya jika dia terus mengalami hal ini " jawab dokter Carlos dengan wajah kuatir. "Wil, jaga istrimu baik-baik! Ingat, dia bukan ibumu!" pesan dokter Carlos dengan wajah serius sebelum beranjak pergi. William hanya mengangguk. Setelah dokter Carlos meninggalkan kamar, William menghampiri Alicia yang terbaring lemah dengan jarum infus di tangan nya. Alicia masih terpejam. "Maafkan aku, Al! Aku tak menyangka tubuhmu selemah ini dan...aku telah menyakitimu!" ujar William sambil duduk di sebelah Alicia dengan menggenggam tangan Alicia. Trauma yang dialami William ketika remaja membuat nya membenci kaum hawa. Ibunya sering bergonta ganti pria sejak diceraikan ayah William karena ketahuan berselingkuh. William diambil ibunya karena berdasarkan hukum, anak dibawah umur harus bersama ibunya. Ibunya sering memukuli William ketika ibunya dalam keadaan mabuk atau putus dengan kekasihnya. Pada akhirnya kakek Raffael mengambil William saat usianya 15 tahun dari ibunya karena merasa William akan hancur jika terus bersama ibunya dengan imbalan uang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD