"A...Apa yang mau kau lakukan?" tanya Alicia yang terpojok sesaat William telah berdiri dihadapannya.
Alicia dapat melihat jelas wajah William yang bersemu merah seperti orang yang kebanyakan minum alkohol. Tiba-tiba mata William tertuju pada gundukan dibalik gaun Alicia. William semakin tak dapat menahan rasa panas dalam dirinya. William mengurung Alicia dengan menahan kedua tangan Alicia ke atas kepala Alicia. Alicia sangat terkejut dan ketakutan.
"Tu...tuan...apa yang kau lakukan? Auch...sakit tuan! Tolong lepaskan saya!" keluh Alicia sambil meronta mencoba untuk terlepas dari genggaman tangan William yang menahan pergelangan tangannya. Tiba-tiba wajah William menjadi sangat dekat hingga Alicia dapat merasakan hembusan nafas William. Sebuah ciuman mendarat di bibir Alicia tanpa seijinnya. Ciuman itu pun terasa canggung untuk Alicia, karena ini adalah pertama kalinya dia dicium seorang pria.
Awalnya hanya ciuman singkat, namun tiba-tiba William mendesak dan semakin menuntut. Ciuman itu berubah menjadi ciuman yang penuh gairah. Alicia berusaha melepaskan diri tapi sia-sia karena tubuh William yang lebih besar darinya, juga tenaga nya yang lebih kuat dari Alicia. William melepas ciumannya ketika dia mulai kehabisan oksigen. Alicia menarik nafas sebanyak-banyaknya, dia pun kehabisan oksigen. Mata Alicia mulai berkaca-kaca, dia sangat ketakutan. Tubuhnya mulai gemetar.
"Tuan, tolong lepaskan saya!" pinta Alicia memohon pada William yang masih menahan kedua tangan Alicia di atas kepala Alicia.
Mata William menatap tajam Alicia. Tatapan nya pun nampak mulai berkabut gairah. William melepas genggamannya, namun tiba-tiba tubuh Alicia diangkat lalu dihempaskan ke ranjang. Alicia sangat terkejut, dia langsung meringsuk ke pojok ranjang. William tidak tinggal diam, dia menarik kaki Alicia hingga Alicia terjebam dan berbaring di bawah tubuh William.
"Aku sudah tak dapat menahan lagi!" ujar William tiba-tiba sambil menatap wajah Alicia.
William mulai menghujani Alicia dengan ciuman, mulai dari bibir hingga ke cerug lehernya. Alicia mencoba menahan tubuh William agar menjauh darinya, namun sia-sia. Tangan William pun tak tinggal diam. Tangannya mulai merambah ke punggung Alicia dan menarik turun resleting gaun yang dipakai Alicia. Alicia terkesiap, maniknya membulat saat dirinya merasa gaunnya mengendor akibat resleting gaunnya sudah full terbuka. William dengan satu gerakan saja menarik gaun Alicia dan melemparnya ke lantai. Alicia secara spontan menutup tubuhnya dengan menyilangkan tangannya di atas dadanya yang polos karena saat mengenakan gaun itu Alicia tidak mengenakan bra. Alicia benar-benar bingung. Tadi sikap William masih begitu manis dan hangat, sekarang William nampak seperti singa kelaparan. William turun dari ranjang untuk membuka sisa pakaiannya, namun tak selang lama William kembali naik ke ranjang dan sudah berada di atas Alicia. Tangan Alicia yang menyilang di atas dadanya langsung ditarik ke atas dengan satu tangan William. Alicia sudah tak dapat menahan tangisnya. Air matanya mulai mengalir di kiri dan kanan ujung matanya.
"Tuan...kumohon...jangan lakukan ini! Tolong...tuan...lepaskan saya!" mohon Alicia sambil menggelengkan kepalanya dengan air mata yang terus mengalir, memohon agar William tidak melakukan hal yang sangat tidak diinginkan Alicia.
Namun William seperti kerasukan, dia tak mendengar permohonan Alicia. William terus memberikan serangan yang Alicia tak siap menerimanya, tubuh Alicia pun telah banyak mendapatkan tanda merah akibat sentuhan William. Serangan terakhir terjadi saat William merobek kain segitiga yang menutupi daerah intim Alicia. Alicia meronta-ronta namun sia-sia, tenaga William dua kali lipat darinya.Akhirnya Alicia hanya bisa pasrah, dia memalingkan wajahnya sambil menggigit bibirnya.
"AAAGGHHHH....!" teriak Alicia saat William menyatukan dirinya dengan Alicia yang sangat tidak siap.
Alicia tak tahan dengan rasa sakit yang hingga ke ubun-ubun kepalanya saat William menyatukan dirinya dengan tubuh Alicia. Gerakan kasar yang diberikan William membuat Alicia akhirnya hanya bisa meringis kesakitan, menggigit bibirnya hingga terluka. Ketika William telah sampai puncak, Alicia baru bisa bernafas kembali. Seluruh tubuhnya lebab dan sakit, terutama bagian intimnya. William berbaring di sebelah Alicia setelah pelepasan itu. Alicia memiringkan tubuhnya, dia menekuk kedua kakinya. Tubuhnya berguncang karena tangisnya yang meledak. William yang sudah setengah sadar, dia menoleh ke Alicia. Ada rasa bersalah di d**a William. Efek obat perangsang itu sebenarnya masih ada, namun William tak dapat melakukannya lagi dengan Alicia karena dia melihat Alicia yang terguncang. William menarik selimut untuk menutupi tubuh Alicia, lalu tanpa berkata apapun dia masuk ke kamar mandi untuk lanjut melepaskan dirinya dari efek obat itu.
Setelah merasa telah sepenuhnya sadar, William yang telah mandi keluar dari kamar mandi. William mendapati Alicia yang telah tertidur pulas. William secara perlahan naik ke atas ranjang. Dia menarik tubuh Alicia untuk masuk ke dalam pelukannya. Kepala Alicia dibaringkannya di atas lengannya.
"Maafkan aku, Al! Aku telah membuatmu menderita malam ini! Aku tak tahu kalau Gina menaruh obat dalam minumanku dan aku juga tak ingin berhubungan dengan Gina, jadi kau lah tempat pelampiasan ku!" gumam William sambil menatap Alicia yang telah tertidur pulas dalam pelukannya.
Namun ternyata Alicia sempat terbangun sesaat saat William menarik tubuhnya untuk masuk ke dalam pelukan William. Alicia sempat mendengar permintaan maaf William. Setetes air matanya mengalir di ujung matanya. Alicia tak dapat berpikir apa-apa kecuali ingin melarikan diri dari William.
~0O0~
Keesokan paginya William bangun lebih dulu. Dia membiarkan Alicia tidur lebih lama. William telah pergi ke kantor saat Alicia terbangun. Alicia melihat ke sekeliling kamar, dia tak menemukan William sama sekali disana. Alicia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Dengan susah payah dia turun dari ranjang. Rasa sakit itu masih terasa di bagian bawah tubuhnya. Dengan langkah perlahan, Alicia berjalan menuju kamar mandi. Dia melihat beberapa tanda kemerahan di leher dan dadanya. Alicia mengingat kembali kejadian semalam. Hatinya sangat sakit, karena kesuciannya terenggut secara paksa oleh pria yang tidak dicintainya. Alicia mencengkram erat kain selimut yang menutupi tubuhnya.
"Aku tidak bisa tinggal disini lebih lama, aku harus pergi!" batin Alicia sambil menatap dirinya di cermin.
Alicia bertekad akan pergi dari kediaman Stefano, namun niatnya terhenti ketika dia melihat notifikasi di ponselnya.
(Al, papa minta kamu untuk tetap tinggal di kediaman Stefano hingga masa jatuh tempo hutang papa lewat, karena di perjanjiannya kalian harus tetap tinggal satu atap sampai masa jatuh tempo hutang itu lewat. Kamu harus tetap tinggal disana selama setahun ini, jadi jangan coba-coba untuk melarikan diri! Jika kamu coba melarikan diri, akan papa patahkan kakimu!)
Alicia duduk dengan lemas di lantai kamar mandi. Dia benar-benar sendiri. Tak pernah mengira kalau hidupnya akan hancur seperti ini. Dirinya harus berkorban demi membayar hutang agar perkebunan kakek tidak beralih ke keluarga Stefano. Alicia menangis sejadi-jadinya, dia merasa sangat sendirian dan tak ada yang dapat menolongnya saat ini. Alicia harus menerima nasibnya tanpa dapat memberontak.