"MENIKAH?" seru Alicia spontan sesaat ketika Hemando, ayah angkatnya menyuruhnya menikah.
Alicia berdiri terpaku di dekat perapian sambil meremas celana jeans nya yang lusuh. Sebagai anak yang diadopsi, Alicia tak pernah merasakan kasih sayang orang tuanya. Alicia diadopsi oleh kakek Franky ketika usia 10 tahun. Kakek Franky jatuh cinta pada pandangan pertamanya ketika melihat Alicia di sebuah acara amal yang diadakan oleh perkumpulan petani anggur. Panti asuhan tempat Alicia diasuh menjadi tempat diselenggarakannya acara amal tahunan itu.
Kakek Franky mengadopsi Alicia setelah acara usai dan membawanya pulang ke rumahnya. Keluarga Gustavo memiliki perkebunan anggur yang luas dan menjadi salah satu pemasok anggur untuk perusahaan pembuatan wine keluarga Stefano.
Namun sangat disayangkan. Ketika kakek Franky meninggal tepat diusia Alicia menginjak 17 tahun, sikap orang tua angkat Alicia dan kakak angkatnya berubah 180 derajat. Alicia tidak diijinkan untuk tinggal di rumah utama. Alicia disuruh tinggal di sebuah pondok dekat kandang kuda dan juga diharuskan membantu di kebun bersama para buruh harian. Alicia tidak diijinkan untuk melanjutkan sekolah setelah dia tamat SMA.
3 tahun sudah sejak kematian kakek Franky. Tiba-tiba hari ini ayah angkat Alicia meminta nya untuk menikah. Alicia seperti disambar petir. Dirinya sadar kalau dia memang bukan bagian dari keluarga Guztavo, namun dia tak menyangka kalau ayah angkatnya akan mengorbankan dirinya demi membayar hutang pada seorang pria yang terkenal dingin serta beredarnya isu jika pewaris tunggal perusahaan Stefano ini tidak menyukai wanita dan sangat kasar.
"Pa, haruskah aku yang menikah? Kan ada kak Gina, dia lebih tua dari aku. Bukankah harusnya kak Gina yang lebih dulu menikah?" ujar Alicia dengan wajah bingung. Dia belum siap untuk menikah. Usianya baru saja menginjak 20, dimana dia masih ingin bebas.
"Memangnya kamu siapa? Beraninya kamu yang atur-atur kami?" bentak Emilia, ibu angkat Alicia dengan maniknya yang membulat menatap Alicia dengan penuh kemarahan.
"Tapi ma...Aku..." Mata Alicia mulai berkaca-kaca. Rasanya begitu tak adil untuknya. Alicia tahu kalau dirinya memang bukan berdarah Guztavo, tapi paling tidak dia telah diadopsi oleh kakek Franky dan telah diberi nama belakang yang sama.
"Tidak ada kata 'TAPI'! Bulan depan kalian bertunangan. Untuk tanggal dan harinya sudah ditetapkan oleh keluarga Stefano, jadi kau hanya tinggal membawa diri saja.
Alicia ingin sekali membantah, namun sepertinya sia-sia karena disini sejak kakek Franky meninggal, tak ada lagi seorang pun yang menyayanginya seperti kakek Franky. Setiap hari selama 3 tahun terakhir, Alicia selalu diperlakukan semena-mena oleh keluarga angkatnya. Tak ada lagi kasih sayang yang dia dapatkan.
Alicia meringkuk di atas tempat tidurnya setelah dia kembali ke pondok nya. Hanya isak tangis yang bisa dia lakukan saat ini. Alicia belum pernah bertemu dengan William, sang calon suami yang terkenal dingin dan angkuh. Begitu pula dengan ayah dan ibu angkatnya, mereka hanya mendengar isu atau gosip dari luar. orang tua dan kakak angkat Alicia sama sekali belum pernah bertemu dengan William.
Malam pun tiba. Alicia duduk sambil menekuk kedua kakinya bersandar di dinding diatas ranjang nya yang hanya terbuat dari sebuah dipan sederhana dilapisi kasir tipis.
"Apakah aku harus melarikan diri? Agar aku bisa lepas dari semua ini?" gumam Alicia sambil memeluk kedua kakinya.
"Andaikan kakek masih hidup, dia pasti tak akan setuju dengan semua ini. Hanya kakek yang peduli padaku! Oh, betapa aku sangat merindukan mu, kek! Kenapa kakek meninggalkan ku sendirian?" Tangis Alicia kembali pecah. Alicia membenamkan kepalanya diantara kedua kakinya.
Saat hari menjelang subuh, terdengar suara kuda dan ayam mulai berbunyi. Alicia membuka matanya perlahan. Ternyata dia sempat tertidur sebentar sambil duduk meringkuk.
"Aku harus pergi! Aku tak bisa terus disini!" gumam Alicia, lalu dia melompat turun dari ranjangnya. Alicia dengan tergesa-gesa memasukkan bajunya ke dalam sebuah tas travel yang kusam. Dia tak membawa apa-apa kecuali baju dan beberapa lembar uang yang dia simpan selama ini. Orang tua angkatnya memberikan gaji padanya saat bekerja di kebun namun jumlahnya lebih kecil daripada buruh di kebun dengan alasan dia dapat makan gratis sedangkan buruh-buruh tidak. Padahal kenyataannya Alicia hanya dapatkan sisa sayur dari makanan yang dimakan keluarga angkatnya.
Alicia melongok ke kiri dan ke kanan saat dia membuka pintu pondoknya. Alicia tidak melihat siapapun. Dengan langkah cepat, Alicia berlari kecil menuju gerbang utama perkebunan. Alicia berjalan mengendap-endap saat melewati depan rumah utama yang dipagari dengan pohon teh-tehan berbentuk kotak persegi panjang.
KREK!
Tanpa sengaja Alicia menginjak sebatang ranting, hingga membuat anjing penjaga rumah yang tengah tertidur mendadak terbangun dan langsung melolong. Alicia menjadi panik. Dia langsung berlari secepatnya menuju jalan utama, namun sayang. Pelarian nya tertangkap basah oleh penjaga kebun yang mendengar suara lolongan anjing. Tubuh Alicia yang kecil dihadanv oleh dua orang penjaga bertubuh besar nan kekar.
"Mau kemana Nona Alicia?" tanya salah satu penjaga kebun sambil bertolak pinggang.
"Ng...nggak kemana-mana! Saya hanya...!" jawab Alicia terbata-bata sambil melangkah mundur dengan memeluk tas travelnya.
"ALICIA!" teriak Hermando sambil berjalan menghampiri Alicia yang sedang berdiri terpaku. Alicia menoleh ke belakang, wajahnya langsung memucat.
"Matilah aku!" seru Alicia spontan.
Hermando menarik lengan Alicia dengan kasar hingga Alicia hampir terjungkal.
"Mau kemana kamu?" bentak Hermando dengan wajah marah.
"Aku ...aku...." Belum selesai Alicia bicara, Hermando langsung menariknya untuk berjalan kembali ke dalam rumah utama.
Tubuh Alicia dihempaskan seketika saat masuk ke dalam rumah oleh Hermando. Emilia dan Gina yang ikut terbangun hanya memandangi Alicia yang tersungkur ke lantai.
"Anak tak tahu diuntung! Sudah bagus kami mengambilmu dari panti itu! Sekarang ini kah balas budimu?" ujar Emilia sambil menunjuk ke wajah Alicia.
"Kami hanya minta kau menikah dengan pria dingin itu agar kami terbebas dari hutang! Susah amat sih!" timpal Hermando sambil bertolak pinggang berjalan memutari Alicia yang bersimpuh di lantai.
"Aku belum siap menikah, pa..ma...Tolong jangan paksa aku! Aku juga gak kenal sama pria yang akan menjadi suami ku! Orang-orang bilang dia itu seperti es dan kasar! Aku takut, pa...aku takut!" ujar Alicia membela diri.
"Jadi haruskah kakakmu yang kami korbankan? Cih...jangan harap! Lagipula, kamu tuh bukan siapa-siapa kalau bukan karena kakek Franky dulu mengambil mu dari panti! Pada akhirnya kau akan ditendang keluar ketika usia mu sudah dewasa!" ujar Hermando dengan sinis.
"Jadi, sama aja kan kalau sekarang kau membalas budi dengan membantu kami melunasi hutang-hutang kami!" sambung Hermando.
Alicia tak dapat berkata-kata. Satu sisi perkataan ayah angkatnya benar. Jika dia masih di panti 3 tahun lalu, sudah pasti dia harus keluar dari panti dan mencari tempat tinggal sendiri. Alicia duduk bersimpuh dengan kepala tertunduk.
"Sekarang kembali ke pondokmu! Dan jangan coba-coba melarikan diri lagi atau akan kupatahkan kakimu!" ancam Hermando.
Alicia bangkit berdiri sambil memeluk tas nya. Dengan langkah lunglai, Alicia berjalan keluar rumah utama untuk kembali ke pondok nya. Alicia berjalan sambil terisak. Sepertinya ini sudah menjadi takdirnya. Alicia harus menjadi korban untuk melunasi hutang keluarga Guztavo.