Lagi-lagi salah satu sudut kepala Dante terasa pening. Ia terbangun di kamarnya sendiri sambil mencoba mengingat sesuatu. Langkahnya turun dari tempat tidur perlu benturan kecil setelah jatuh terpeleset selimutnya sendiri.
“Shiva!” panggilnya pada makhluk virtual buatannya. Yang dipanggilpun langsung muncul di hadapannya.
“Ada masalah?”
“Apa yang terjadi padaku sepulang dari klub? Tampilkan memori sel otak beberapa jam terakhir.”
“Tapi kau tahu risiko membuka memori sel otak walaupun hanya beberapa detik.” Shiva mengingatkan.
“Ya, aku tahu. Beberapa data baru bisa hilang, termasuk tentang Dual Exchanger, atau justru … membuka ingatan masa lalu yang pernah dihapus Lethal-X Academy.” gumam Dante, setengah bicara pada dirinya sendiri, lalu bergegas menghidupkan layar virtual. “Hubungkan sekarang!” perintahnya.
“Dante, kau lolos dari program cuci otak Lethal-X! Tak ada yang perlu diungkap! Akibat lainnya kau bisa gila! Permanen!”
“Sekarang, Shiva, atau akan kulakukan sendiri secara manual apapun risikonya!” ancam Dante tegas.
Secara manual berarti Dante akan menyetrum otaknya dengan sesuatu agar bisa dihubungkan dengan komputer. Risiko yang lebih buruk bisa terjadi dan itu berarti Shiva akan kehilangan ‘rumah’ induknya sebab chip di otak Dante bisa terbakar. Maka ia pun mengalah.
“Menghubungkan memori.” perintah Shiva pada sistem layar, dan detik itu juga tampil rekaman visual yang dilihat Dante dimulai sejak ia masih show di atas panggung DJ.
“Apa yang … ,” desis Dante, tampak jelas ia meninggalkan panggung begitu saja saat pertunjukan hampir selesai lalu berjalan di antara kerumunan clubbers yang mengelukan namanya tanpa menghiraukan mereka, menuju ke seorang …. “Wanita? Siapa dia? AAARRGGH!”
“Dante!” Shiva memutuskan koneksi dan layarpun padam. “Wajahnya terlihat sekilas. Akan kucari tahu datanya. Kau baik-baik saja?”
“Entahlah, aku masih kuat beberapa detik lagi namun sesuatu menahanku dari melihat matanya. Seakan-akan … dia tak mengizinkan aku mengingatnya. Apa yang kami bicarakan atau yang kulakukan saat bersamanya.”
“Tidak mungkin … sehina itu.” kata Shiva sinis. “Wanita yang bisa melakukan ini punya kemampuan istimewa, dan berita ‘bagusnya’, dia tidak terdata di Saturn Gallant baik sebagai tamu, staf maupun warga. Sama sekali bukan penggemar maniak, psikopat, atau sejenisnya. Aku yakin itu. Bagaimana jika membobol pusat data Dewan Bumi? Bila dia manusia, datanya pasti ada sebagai warga bumi.”
“Butuh waktu lama untuk mengakses data warga bumi selama kita masih di sini. Aku tak punya waktu mengurusi itu.” Dante berpikir sebentar, lalu mengucapkan perintah baru, “Tampilkan rekaman wajahnya di layar meskipun sebentar. Tahan.” Setelah di depannya muncul paras cantik walau tak terlalu jelas, Dante mulai mengingat sesuatu dalam mimpinya. “Dia … pernah mendatangiku dalam mimpi.”
“Apa pentingnya menghubungimu lewat mimpi?”
“Shiva, dia mengenalku. Lebih dari sekadar kenal, maksudku … kami pernah bersama tapi aku benar-benar lupa! Kapan, di mana … pastilah ada dalam ingatanku namun aku tak pernah menganggapnya penting. Satu hal yang pasti, dia berusaha meyakinkanku. Peristiwa semalam hanyalah peringatan. Peringatan bahwa dia benar-benar nyata dan mampu melakukan apa saja. Jika aku tak menganggapnya serius, dia pasti kembali.”
Membicarakan ini dengan Shawn tak membantu sama sekali.
“Apanya?” tanya Shawn malas, ketika Dante mencegatnya lewat di lorong pintu masuk khusus staf klub.
“Kejadiannya di sini, di area bar. Semua orang termasuk dirimu melihatnya. Dia bahkan duduk tak jauh darimu sebelum aku mengajaknya keluar. Tidakkah kau mengajaknya ngobrol seperti tamu-tamu wanita yang lain? Apa yang dia katakan padamu?”
“Tidak ada.”
“Apa?”
“Dia hanya menatapmu dari jauh sambil menunggumu, apakah menurutmu dia peduli pada bualanku? Aku tak mau tampak bodoh di depan wanita, dude. Hanya saja … kau menyambutnya begitu mesra, seperti sudah mengenalnya, kemudian terpancar bahagia di matanya. Kalian pergi, dan tak ada yang bisa kami lakukan.”
“Kami?”
“Yeah, aku dan Ray. Saranku, siapkan jawaban terbaikmu meski kau tak tahu. Jaga dirimu, Dante. Kami belum siap kehilangan Space DJ lagi.” Usai menepuk lengan Dante, Shawn pun berlalu, menghilang di persimpangan lorong.
Dante mengacak rambutnya, reaksi tanpa sadar ketika menghadapi situasi pelik yang susah dijelaskan dengan logika. Mungkin jika pelakunya alien, ia masih bisa menangani. Akan ada konsekuensi logis terkait gangguan alien yang dapat ia ajukan pada Kapten Skivanov untuk mengatasi hal itu. Masalahnya ….
“Istirahatlah, Dante. Sementara kau tak aman di sini. Aku bisa mengajukan perlindungan ketat pada Kapten Skivanov jika kau khawatir peristiwa yang sama akan terulang.” saran Ray serius namun tak membuat Dante puas.
“Perlindungan? Di mana lagi aku bisa sembunyi jika dia bisa mendatangiku dalam mimpi?”
“Dalam … apa?”
“Mimpi, Ray. Kau tak salah dengar. Jika itu satu-satunya solusi yang bisa kau tawarkan sehubungan dengan kontrak kerjaku di sini, maka aku memilih untuk melindungi diriku sendiri. Jangan memberitahu Kapten. Aku bukan bocah TK yang merengek karena diganggu orang. Dan percayalah, begitu aku tahu, aku takkan sudi membagi informasi itu dengan siapapun, termasuk dirimu.”
Ray menempelkan punggungnya di kursi kerja yang empuk sambil menerawang, mengingat kembali sosok wanita itu. Kedua tangan menahan kepalanya, menambah santai posisi duduknya. “Aku melihatnya, sayang kau tak ingat. Wanita tercantik yang pernah kulihat. Sesungguhnya aku sedikit iri begitu dia menyebut namamu, tapi … kau beruntung. Pastikan saja niatnya baik, selebihnya terserah kalian berdua. Tak ada gunanya aku ribut jika kau tak mengeluh akan kehadirannya.”
Dante mengangguk pelan. “Jangan cemas. Lain kali, tidak mungkin kubiarkan dia menguasai diriku seperti saat itu.”
“Yah, meskipun firasatku buruk tentang ini. Lakukan saja yang terbaik seperti biasanya.”
“Baik. Aku pergi dulu.”
Seharian penuh Dante menghabiskan waktu di lab senjata, meneruskan pekerjaannya yang lain. Ia memanfaatkan jadwal kosong di klub untuk memecah materi ionos menjadi lebih kecil, sesuai rencananya. Satu tim palsu yang mengerjakan purwarupa yang takkan terwujud dalam waktu dekat, dan tim rahasia yang bertugas memecah materi ionos untuknya. Dante sengaja mengalihkan perhatian penjaga dengan terus bekerja mengerjakan purwarupa bersama tim palsu-nya. Informasi yang diestafet diam-diam adalah satu-satunya cara berkomunikasi dengan tim rahasia. Apapun yang Dante inginkan, perkembangan terakhir … apapun, akan mereka kerjakan demi rampungnya Dual Exchanger versi portable. Dalam waktu empat hari, benda itu pun akhirnya siap. Saatnya Shiva mengambil alih dengan mengisi program ke dalamnya sesuai keinginan Dante.
“Bagaimana membawanya keluar melewati pemeriksaan penjaga?” tanya salah seorang tim rahasia.
“Itulah gunanya mode kedua. Berubah menjadi DJ turntable set.” Dante mempraktekkan. Bentuk semula berupa senjata lengan, lalu berubah menjadi piranti DJ yang mudah dibawa ke mana-mana. “Program DJ yang diinstal di dalamnya hanya sederhana. Fungsi utamanya tetap sebagai senjata. Nah, doakan misi transport selesai. Sesudah ini, kita tetap harus menyelesaikan purwarupa yang satunya walaupun makan waktu cukup lama.”
Dante leluasa membawa Dual Exchanger keluar dari lab. Para penjaga yang memeriksanya sama sekali tak curiga. Tiba di dalam ruang pribadinya, Dante segera meminta Shiva ‘menghidupkan’ Dual dengan mengisi program senjata yang sudah dirancang sebelumnya.
“Dual system?”
“On and ready to use. Activate now?”
“Negative. Kita tidak ingin meledakkan kamar ini, Shiva.”
“Dengan demikian, selesai. Kau bisa memakainya besok di klub untuk menguji mode DJ-nya.”
“Baik. Setidaknya semua sistem stabil. Kabari aku jika ada perkembangan ionos di dalamnya. Jika mampu bertahan selama dua puluh empat jam, maka tak ada yang perlu kita cemaskan lagi.”
“Sekarang, apa yang akan kau lakukan? Ini malam terakhir sebelum besok mulai bekerja lagi di klub.”
“Tidur. Hanya itu yang kuinginkan saat ini. Selamat malam, Shiva.”
“Selamat malam, Carlo Dante.” jawab Shiva, meredupkan cahaya kamar sehingga Dante dapat langsung berbaring dan memejamkan mata.
Kemudian, kembalilah ia, pada tempat dalam mimpi yang pernah ia datangi. Kali ini, cuaca sedikit lebih cerah, matahari baru akan terbenam menyisakan sedikit cahaya jingga pada bunga-bunga. Di tengah hamparan padang bunga, Dante tak bertemu siapapun.
“Untuk apa aku di sini jika tak melihatmu.” ucapnya seorang diri, berharap wanita yang sama mendengar kata-katanya dan muncul di depannya.
“Benarkah? Atau kau hanya takut berada di sini dan tak bisa kembali?” Suara itu seperti berbisik.
Terasa ganjil, bagaimana Dante mengingat peristiwa sebelumnya padahal ia yakin sedang bermimpi. “Katakan, mengapa kau membawaku pergi dari klub? Apa yang kita lakukan saat itu? Mengapa aku tak ingat apapun?”
“Meminjammu. Boleh’kan? Saat itu, kita hanya duduk menikmati pemandangan luar angkasa sementara aku bisa tenang berada di dekatmu. Sangat nyaman, terima kasih.”
Dante tetap sulit menerima alasan itu. “Jangan bercanda. Aku harus tahu siapa dirimu. Bila kau mengaku bagian dari masa laluku berarti mustahil aku percaya padamu. Dulu aku penjahat, Nona. Apa yang kau harapkan dariku?”
“Sama seperti yang diharapkan dunia. Kemunculan seorang pembela kebenaran, bukan sekadar pahlawan kesiangan yang tak tahu apapun. Orang bilang, hanya penjahat yang mampu mengatasi penjahat. Lagi pula, pribadimu sekarang sangatlah jauh berbeda.”
Dante tersenyum kecut, mulai merasa tak nyaman bila seseorang mulai memuji dirinya. “Caramu bicara mengingatkanku pada seseorang. Biar kuingat, ehm … Kapten Skivanov. Benar, kau tak berbeda dari dia. Awalnya menganggapku berbeda dan penting, lama-lama menjadikan aku sebagai b***k yang seolah pernah berhutang padamu. Kalian semua, membuatku berpikir tak seorang pun yang benar-benar tulus mengenalku. Jadi, lupakan saja, lupakan apapun yang kauinginkan dariku.”
Tiba-tiba wanita misterius itu muncul di depannya, menembus tubuhnya. Bersamaan dengan itu, Dante merasakan sesuatu yang hangat merasuki raganya. Angin mendadak bertiup kencang dan mengelilingi mereka berdua. “Kau salah menilaiku. Aku, Eyn Mayra, sudah memindahkan Zeal ke dalam tubuhmu. Carlo Dante, penuhi takdirmu!”
Dante terseret pusaran angin tanpa kuasa melawannya. Teriakannya sia-sia. Dunia perlahan semakin gelap hingga tiada lagi yang mampu dirasakan indranya. Kelam, penuh kebisuan. Seperti waktu itu, bertahun-tahun yang lalu.
Mimpi kali ini diingatnya.
Sebuah peringatan bahwa tak bijak menganggapnya main-main. Apa maksud wanita yang mengaku bernama Eyn Mayra itu, telah memindahkan Zeal ke dalam dirinya? Hingga detik ini belum dirasakannya efek apapun sebagai akibat dari kalimat Eyn Mayra. Haruskah ia menganggapnya serius? Takdir apalagi yang harus ia penuhi? Tanpa sadar semua pertanyaan tak terjawab itu memengaruhi konsentrasinya, seperti saat ini.
****