BAB 19 HATI YANG TAK BERTAUT

1698 Words
“Dasar lemah! Sudah tiga hari dia belum pulih juga.” “Al Hadiid, jangan!” “Biarkan aku menggambar muka jelek di punggungnya.” “Al Hadiid!” “Sebenarnya, dia cukup tampan.” “Benarkah, Eyn Rasyid? Menurutku, sangat.” “Minggir, aku harus mengganti ramuannya. Hei, Al Hadiid, apa yang kau lakukan?!” “Sedikit kenang-kenangan. Tato naga dariku.” “Itu bukan naga.” “Ya, lebih mirip … cacing kecil.” Suara-suara itu semula terdengar samar, perlahan semakin jelas. Dante merintih kecil ketika matanya menangkap sosok tubuh di sampingnya meskipun belum jelas karena Eyn Huza membaringkan tubuhnya dengan posisi punggung di atas. Indra penciumnya pun tak mungkin salah mengenali aroma ini. Eyn Mayra, itu pasti dia. Tapi … mengapa mereka semua ada di sini? Eyn Rasyid, bahkan Al Hadiid? Eyn Huza di luar hitungan sebab pasti sibuk merawat luka-lukanya. “Dia siuman.” Suara bijak Eyn Rasyid menentramkan. “Kupikir kita akan menyiapkan pemakamannya.” Itu pasti suara si culas Al Hadiid. “Dante, kau sadar? Bisakah kau buka matamu?” pinta Eyn Mayra lembut. Wajah ayu itu berada di depannya dan sudah pasti diciumnya bila ketiga saudaranya tidak di sini. Pertanyaan itu menjadi sulit dijawab. “Sebelah kiri, bengkak, sakit sekali. Rasanya bola mataku mau keluar.” Al Hadiid menekuk alis, seolah menyangsikan ucapan Dante yang hanya ingin dimanja kakaknya. “Aku serius, Al Hadiid. Jangan berprasangka buruk padaku. Separuh luka-lukaku akibat bertarung denganmu.” keluh Dante. “Payah! Eyn Mayra, kau tidak salah? Masa depan kerajaan Eyn ada padanya? Yang benar saja!” protes Al Hadiid yang justru menimbulkan senyum terbentuk di bibir Dante. “Akuilah, Al Hadiid. Tapi tenang saja, aku tidak pernah merasa unggul darimu sebab itu tidak penting bagiku. Yang terpenting adalah sesuatu yang lain. Seseorang.” Kalimat Dante membuat semua terdiam, lalu bicara lagi, “Aku ingin tidur. Mungkin, tak lama lagi akan lebih baik. Maaf …. ” Setengah melantur, namun mereka memakluminya. “Aku takut, kita baru saja menciptakan monster. Eyn Mayra, yakin dengan keputusanmu?” Al Hadiid mengernyit. Eyn Mayra memandang adiknya, bertanya setengah berbisik sambil menggandeng Al Hadiid menjauh dari Eyn Rasyid dan Eyn Huza yang sedang berdiskusi. “Mengapa? Kau masih ragu?” “Dia manusia biasa, tiba-tiba memiliki dua kekuatan besar, inti Zord dan roh pedang Zeal. Bisa saja, kau tahu, berakibat buruk. Entah kapan, cepat atau lambat, Dante bukan dirinya sendiri.” “Penilaianmu subjektif. Dante sudah membuktikan bahwa dia sanggup berkorban demi orang lain. Bagiku itu cukup.” sanggah Eyn Mayra meskipun dalam hatinya gemetar tiap kali silang pendapat dengan adik laki-lakinya. “Ada binar di matamu tiap kali melihatnya, bukti bahwa kau juga subjektif. Bila benar-benar memikirkan rakyat, semestinya kesatria pilihanmu adalah yang berjiwa bersih, bukan mantan pembunuh yang sewaktu-waktu dapat mengulang perbuatannya di masa lalu.” ujar Al Hadiid tenang tanpa khawatir menyakiti perasaan Eyn Mayra. “Lama … lama sekali aku memikirkannya, bahkan bertahun-tahun sejak kami pertama bertemu. Bahkan seharusnya Dante sudah bersama kita sebelum dia pergi ke Saturn Gallant tapi aku terlalu lama ragu, hingga seseorang …. ” “Siapa?” Eyn Mayra terpaksa membongkar rahasianya. “Diriku dari masa depan. Entah bagaimana, dia datang, meyakinkanku bahwa kesatria Eyn harus dibangkitkan. Carlo Dante, hanya dia orang yang tepat.” Al Hadiid mendengus meremehkan, memang sejak awal ia tak menaruh simpati pada manusia biasa yang bereputasi buruk itu. Carlo Dante seharusnya dibuang, sejarah manusia akan melupakannya, bukan malah memberinya kesempatan dan posisi bagus. Sampai kapanpun Al Hadiid akan sulit memercayai dongeng Eyn Mayra dari masa depan yang diceritakan kakaknya. “Dengar, sebelum terlambat, cabutlah Zeal dari tubuh orang ini. Salah besar percaya pada orang yang sudah masuk daftar hitam. Dia hanya akan memperkeruh keadaan.” “Al Hadiid!” “Terserah, aku pergi.” Dengan napas naik turun, Eyn Mayra berusaha  menguasai emosi dan kesedihannya. Watak keras memang tidak bisa ditaklukkan, tentu percuma mati-matian meyakinkannya. Tangan Eyn Rasyid menenangkan bahunya, putri kerajaan Eyn itu hampir menangis. “Al Hadiid memikirkanmu lebih keras, percayalah, ia menyayangimu. Ia harus benar-benar yakin bahwa Carlo Dante adalah orang yang tepat. Itu saja.” Kepala Eyn Mayra bersandar di pundak kakaknya, sama-sama menatap Carlo Dante yang masih terbaring. “Lalu, bagaimana dengan Anda, Yang Mulia? Bila ragu, Zeal akan kembali padaku.” tanyanya lirih, takut Eyn Rasyid akan berpendapat sama dengan Al Hadiid. “Bukankah kita sudah sejauh ini? Bukan saatnya untuk mundur, lanjutkan saja apa yang sudah kau mulai. Aku tak pernah sekalipun meragukan keyakinanmu.” Mendengar titah Eyn Rasyid, Eyn Mayra tersenyum sambil berharap Al Hadiid akan berubah pikiran seiring waktu. “Terima kasih, Yang Mulia. Aku dan Dante akan mengingat kebaikan kalian semua.” Eyn Rasyid mengangguk. “Saatnya ke balairung, kau akan bergabung?” “Pasti. Eyn Huza yang akan menjaganya.” “Tak perlu malu mengakuinya, Eyn Mayra. Aku tahu kau mencemaskannya hingga ingin menemaninya sampai kapanpun, tapi …. ” “Tidak apa-apa. Aku akan segera siap.” “Bagus. Eyn Huza?” pamit sang raja. “Ya, Yang Mulia.” Eyn Huza mengangguk, menghormat pada kakaknya. Sepeninggal Eyn Rasyid, ia memberi isyarat pada Eyn Mayra agar mendekat. “Ada apa?” “Lihat, tonjolan tulang pada punggung Dante telah kembali normal.” Eyn Huza membuktikan kata-katanya. Eyn Mayra takjub. “Bagaimana bisa? Apakah Zeal … ?” “Inti Zord. Separuh diri Dante bukan milik Eyn, masih ada pengaruh jahat yang dicemaskan Al Hadiid. Kekuatan yang diberikan Roughart itu tidak mungkin dilepas sehingga berpotensi menarik perhatian orang-orang jahat yang menginginkannya. Bila dia tinggal di Eyn, apalagi menjadi kesatria … keadaannya mungkin lebih buruk, kecuali …. ” “Kecuali?” “Kau menghindarinya. Bukankah Eyn Mayra dari masa depan tak memberitahu nasib Dante kelak? Dia hanya memberi petunjuk bahwa Dante sanggup menyangga Zeal dan inti Zord secara bersamaan.” Eyn Mayra menatap Eyn Huza dengan pandangan tak percaya. “Kau sependapat dengan Al Hadiid? Eyn Huza, kupikir …. ” “Al Hadiid bersikap begitu karena mendengar pendapatku. Eyn Mayra, maafkan aku. Walaupun aku memihak keberadaan Dante tapi keraguan yang lebih besar kadang menutupi jalan pikiranku.” Eyn Mayra mundur perlahan, sepasang matanya basah namun masih menahan jatuh air matanya. “Kau salah. Dalam mimpiku, Dante akan menjadi …, ” teringat sesuatu, Eyn Mayra tak melanjutkan ucapannya. “Eyn Huza, jika kau pikir Dante melakukan semua itu demi diriku, maka akan kubuat kau percaya bahwa kami tidak ditakdirkan untuk bersama. Dia rela mati demi sesamanya, jadi pengorbanan kecil juga harus kulakukan. Tapi tolong, pastikan dia tetap bernapas. Kumohon, itu saja yang kuminta darimu.” Eyn Huza membiarkan adiknya berlalu sambil membawa kesedihan. Ia baru saja menghancurkan sebuah harapan, namun mungkin lebih baik, mengingat penderitaan yang tak boleh terjadi. Perhatiannya kembali beralih pada Dante. “Apa yang sesungguhnya terjadi di masa depan? Benarkah kau orang yang kami cari? Bila kau mencintai Eyn Mayra, sebaiknya kau mundur demi keselamatannya.” Tak lama, terdengar suara pintu kayu tertutup. Eyn Huza telah pergi. Mata Dante terbuka. Percakapan Eyn bersaudara sangat jelas didengar dan dipahaminya. Perasaannya berkecamuk, ada sebuah kepingan yang hilang yang harus ia satukan. Sebuah alasan mengapa Eyn Mayra begitu yakin pada dirinya. Yang jelas, gadis itu memang ada untuknya. Pengorbanan? Eyn Huza jelas kurang paham makna kata itu. Dante duduk setelah menyingkirkan selimut, memandang sekitarnya seraya berkata, “Dengan senang hati akan kutunjukkan padamu, Eyn Huza.” Cahaya sore meninggalkan gurat emasnya, terpantul pada setiap detil ornamen istana Eyn yang tampak semakin mewah. Sayangnya keindahan ini berbanding terbalik dengan suasana hati Eyn Mayra. Ia memang tertawa tapi batinnya menangis. Bersama para dayang, ia memetik beberapa apel yang menjuntai dari pohonnya. Kebun luas yang terletak di belakang istana milik Eyn Mayra, merupakan tempat teduh untuknya melarikan diri dari masalah, namun … ternyata penyebab masalah itu, Dante, justru berdiri tak jauh darinya, tanpa alas kaki. Melihat perubahan suasana, dayang-dayang pun segera meminta diri untuk meninggalkannya. “Dante …, ” tenggorokannya tercekat, bibirnya serasa terkunci, Eyn Mayra hanya bisa menunduk ketika pria itu mendekatinya, menarik nikab untuk menutupi wajahnya. Dante bertelanjang d**a dan hanya mengenakan celana panjang yang diberikan Eyn Huza padanya. Seketika jantungnya berdetak kencang dan berharap tiga saudaranya tidak di sini. “A-aku yang akan pergi, kau boleh di sini.” Gadis itu berusaha menghindar tetapi genggaman erat Dante menariknya kembali ke pelukannya. Saling menatap pun tak terhindarkan lagi. “Tidak, jangan berpaling dariku, Eyn Mayra. Kau tahu kau takkan sanggup. Aku datang untuk pamit. Bukan tempatku di sini.” “Apa maksudmu?” Dante melepaskan tubuh Eyn Mayra, lalu bersimpuh di depannya. “Aku … hanyalah sampah yang kau pungut di jalan. Tak mengapa jika ternyata kau harus meletakkan diriku di tempat yang seharusnya. Eyn Mayra, ambil kembali Zeal dariku. Kau harus melakukannya. Eyn lebih penting daripada seonggok kotoran yang enggan diinjak orang. Kau memilih orang yang salah, cuma itu, jangan mempersulit keadaan, kumohon.” “Dante …. ” Eyn Mayra tetap tegak namun berlinang air mata. “Kuharap, aku tidak perlu memohon dua kali.” “Baik, jika itu maumu.” Eyn Mayra mundur, hatinya hancur lebur. Ia telah gagal menunaikan tugasnya. Dante tak sekalipun menghargai diri sendiri, bahkan tunduk padanya seolah ia adalah seorang ratu padahal sangat mudah bagi pemuda itu untuk menculik dan membawanya ke suatu tempat. Menunjukkan pada tiga saudaranya kekuatan seorang Dante yang sesungguhnya. Tangan Eyn Mayra memberi perintah pada Zeal agar keluar dari tubuh Dante untuk selamanya. Namun, tiada sesuatu yang terjadi. Berkali-kali Eyn Mayra memanggilnya, ke sekian kali pula ia berujung pada rasa heran meskipun akhirnya tahu penyebabnya. “Kau lihat sendiri, Zeal memilih menjagamu. Dia takkan meninggalkanmu.” “Cobalah lebih keras! Ancam dia, hukum dia karena menentang perintahmu.” “Dante …. ” “Hidup kita akan kembali normal, lagi pula kau terlalu berharga. Eyn Mayra …. ” “Tidak! Dengarkan aku! Hidup siapa yang selalu normal? Kau? Aku? Tak seorang pun! Kecuali jika seseorang mencabut nyawaku, mungkin akan normal bagimu?” Dante menatap tak mengerti. Semua terjadi di luar rencana. Seharusnya Zeal menuruti majikannya dan ia tinggal membereskan sisanya. Kini Eyn Mayra menjauhinya. Gadis itu tak tampak lagi dalam jangkauan pandangannya. Meninggalkan Eyn, hanyalah kepedihan yang ia berikan untuk Eyn Mayra. Mungkin … hati mereka memang tak mungkin bertaut.   ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD