Bab 02. Cinta Satu Malam

1331 Words
Pria itu tak hanya membiarkan, justru membalas ciuman Aluna dengan gairah yang menyala-nyala. Bibirnya menempel hangat di leher Aluna, tangan-tangannya yang liar menyusup ke balik pakaian, menelusuri setiap lekuk tubuh mulus yang seolah memanggilnya. Kesadaran akan tempat yang tidak tepat menghentikan sejenak hasrat mereka, namun pria itu segera mengangkat tubuh Aluna, membawanya ke ruangan tertutup yang gelap dan sunyi. Di atas meja kayu itu, tubuh Aluna tergeletak, napas mereka memburu dan d**a mereka berdebar tanpa henti. Aluna menggeliat, gelora panas merambat liar dalam dirinya. Dengan penuh nafsu, ia menciumi dan menggigiti leher sang pria, membuka satu per satu kancing baju pria tersebut hingga d**a bidang itu tersingkap. "Kamu benar-benar menarik." Suara pria itu menggoda. "Kamu yakin, ingin melakukan ini denganku?" Aluna menatap sayu, tanpa ragu dan dengan suara serak penuh keinginan ia menjawab, "Iya … tolong, aku benar-benar butuh." Kalimat itu terucap begitu saja, mengalir dari lubuk hatinya yang paling dalam tanpa bisa dia tahan. Aluna kini seakan benar-benar berubah, bukan lagi gadis pemalu yang dulu. Semua yang pernah dia percaya hancur saat dirinya tiba-tiba menjadi sosok yang asing di cermin jiwa. Dia, yang tak pernah merasakan getar asmara apalagi berciuman, kini menunjukkan agresivitas yang membingungkan bahkan bagi dirinya sendiri. Ingatannya samar, hanya satu momen jelas: sebelum mengantar minuman untuk pria paruh baya yang hendak melecehkannya, dia sempat menyesap minuman yang diberikan Mika. Karena haus dan menganggap Mika teman baiknya, Aluna meneguk tanpa curiga sedikit pun. Apakah ini efek dari minuman itu? Ataukah sesuatu yang lebih gelap tengah merayap dalam darahnya? Dia sendiri tak tahu, yang jelas, tubuh dan pikirannya seperti dirampas oleh sesuatu yang tak terjelaskan. Ia terhanyut dalam pusaran perasaan asing dan membutuhkan pertolongan yang belum pernah ia bayangkan. Pria itu menatap Aluna dengan senyum licik yang menusuk. "Kamu yakin, tidak akan menyesal?" Aluna menggigit bibir, suaranya serak namun penuh tekad, "Iya … saya yakin. Tolong, bantu saya." Tanpa aba-aba, pria itu melepaskan pakaian dari tubuh Aluna dan mereka tenggelam dalam cinta satu malam, di balik pintu tertutup, di antara desir napas dan nafsu yang tak bisa lagi dikendalikan. Sebuah malam yang seolah menjebak jiwa Aluna dalam bayang-bayang diri yang tak dikenalnya. *** Lima tahun berlalu, seorang wanita cantik melangkah keluar dari pesawat, menggandeng erat tangan bocah kecil laki-laki berusia empat tahun yang matanya berbinar penuh penasaran. Suasana bandara seolah ikut bergemuruh menyambut kedatangan mereka yang telah lama dinanti. Dari kejauhan, sosok pria muncul dengan senyum lebar yang tak pernah pudar meski waktu memisahkan mereka. "Hai, Aluna! Welcome back to Jakarta! Hampir lima tahun ya, akhirnya kamu pulang juga," sapanya dengan hangat, suaranya mengandung sejuta kenangan. Aluna tersenyum malu, hatinya penuh campur aduk. "Terima kasih ya, sudah mau repot-repot jemput aku, Nathan." Nathan Adriano, melangkah ringan hingga mendekati Aluna. "Repot apanya, Lun? Kita ini kenal sudah lama, bahkan sebelum kamu pergi ke Jogja." Dia menoleh ke samping Aluna, lalu menyapa dengan lembut, "Oh iya, ini Leo, 'kan? Keponakan ganteng Om Nathan." Nathan tersenyum lebar, menatap bocah kecil itu. "Hai Leo!" Leo membalas dengan semangat yang tulus, "Hai Om! Akhirnya bisa ketemu Om Nathan juga!" Nathan membalas hangat, "Iya. Om juga senang. Akhirnya, kita bisa bertemu lagi, setelah sekian lama." Dalam momen itu, hangat persahabatan dan ikatan keluarga melebur menjadi satu, seperti sinar matahari yang menembus kelabu hari, menandai awal baru penuh harapan. Dua tahun lalu, itu adalah pertemuan terakhir Nathan dengan Aluna di Jogja, sekaligus melihat Leo yang masih kecil, masih terlalu mungil untuk benar-benar mengenalnya. Namun, di dalam ingatan Aluna, bayangan Nathan tak pernah pudar. Sahabat sejatinya itu sudah melewati jarak dan waktu, tetap setia menyokongnya dari Jakarta hingga ke Jogja, saat dia memutuskan melahirkan sendiri di sana. Nathan tak pernah henti mengulurkan tangan, bahkan saat jarak memisahkan, dengan kiriman uang yang selalu datang tepat waktu, menopang hidup Aluna yang penuh perjuangan. Aluna menerima bantuan itu dengan hati yang getir, karena kenyataan hidup memaksa dia bertahan, terkepung dalam sepi tanpa kehadiran suami, terkurung di rumah kecil bersama saudara Nathan yang tak lebih dari sekadar saksi bisu penderitaannya. "Ayo, Aluna, Leo." Suara Nathan lembut namun tegas, mengusik keheningan sore itu. "Aku antar kalian ke rumah kontrakan. Sesuai permintaan kamu, kontrakannya sederhana, tapi cukup nyaman untuk kalian berdua." Aluna tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. "Nathan, terima kasih. Kamu sudah begitu banyak membantuku selama ini. Kalau bukan karena kamu, entah bagaimana aku menjalani hari-hariku." Suaranya bergetar saat ia menambahkan, "Sejak hari itu, hidupku hancur. "Tapi, aku nggak pernah menyesal sudah melahirkan Leo. Dialah harta paling berharga yang aku miliki." Nathan menggenggam erat tangan Aluna, menatap wanita itu penuh pengertian. "Luna, kamu nggak perlu sungkan seperti itu. Aku ikhlas membantu kamu. Ini bukan beban bagi aku." "Sekali lagi, terima kasih, Nathan. Kamu benar-benar sahabat terbaik aku. Suatu hari nanti, aku akan membalas semua kebaikan kamu." Nathan tersenyum sendu, batinnya bergejolak. "Sebenarnya, dengan kamu mau menjadi istriku ... itu sudah lebih dari cukup, Luna. Aku sangat mencintai kamu, tapi entahlah, sampai kapan kamu akan menyadarinya?" gumamnya dalam hati. Tanpa sepatah kata lagi, dia meraih koper Aluna, menggendong Leo dengan penuh kasih, seolah anak itu adalah darah dagingnya sendiri. Bersama, mereka melangkah mantap menuju mobil, menyambut masa depan yang penuh teka-teki. *** Baru dua hari saja Aluna menginjakkan kaki kembali di Jakarta, tapi dia tak mengizinkan dirinya berleha-leha. Waktu terus berjalan, sementara beban hidup menekan dadanya semakin berat. Uang untuk menghidupi dirinya dan Leo kecil yang kini sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya. Aluna menolak untuk terus-menerus membebani Nathan, yang sudah terlalu sering membantu tanpa henti. Meski tabungan hasil jerih payahnya selama bekerja di warung sembako saat di Jogja masih tersisa sedikit, Aluna tahu itu tak akan lama menolongnya. Di kota besar ini, harapannya sederhana: mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang cukup agar hidup bisa berjalan setidaknya sedikit lega. Aluna juga sudah memasukkan Leo ke sekolah TK, ada yang menjaga dan menjemput anaknya kelak saat ia berjuang mencari nafkah. Semua itu tak lepas dari kebaikan hati Nathan yang tak pernah lelah membantu, meski nyatanya Aluna tak ingin terlalu bergantung. * Pagi itu, saat ia melangkah keluar rumah bersama Leo, sosok Nathan sudah berdiri di depan pintu dengan senyum hangat yang menenangkan. "Hai, Aluna, Leo. Selamat pagi. Kalian sudah siap?" sapa Nathan ramah, seolah memberi kekuatan di tengah derasnya badai hidup yang harus mereka hadapi. "Loh, Nathan? Kamu kenapa ke sini?" tanya Aluna, terkejut. "Yey … asik, ada Om Nathan," ucap Leo dengan antusias dan sangat senang. Nathan menjawab santai, "Mau jemput kalian berdua lah. Ayo, sekarang kita pergi." "Ya ampun … Nathan. 'Kan aku sudah bilang, nggak perlu repot-repot terus seperti ini. Aku bisa kok cari ojek atau taksi," kata Aluna, benar-benar merasa tidak enak. "Siapa yang repot, Lun? Ayo, kita pergi sekarang," ajak Nathan, tak menerima penolakan. Pada akhirnya, Aluna terpaksa menerima tawaran itu. Apalagi, ia juga akan bekerja di perusahaan yang sama tempat pria itu bekerja. Hanya saja, Nathan di sana menjabat sebagai Manajer Pemasaran, sementara Aluna menjadi cleaning service karena Nathan juga yang memasukkan lamarannya di sana, sesuai dengan job desk yang dibutuhkan cepat oleh perusahaan. *** "Semangat, ya, Lun! Aku yakin, kamu pasti bisa." Suara Nathan penuh keyakinan mengiringi langkah mereka. "Iya, terima kasih, ya. Kamu juga harus semangat," balas Luna dengan senyum yang mencoba menyembunyikan kecemasannya. Mereka segera memasuki gedung salah satu perusahaan terbesar di Kota Jakarta, gedung yang megah dan penuh aura ketegangan. Sesampainya di sana, Aluna langsung dipertemukan dengan kepala OB yang memberinya pakaian ganti dan penjelasan singkat tentang tugasnya. Jantung Aluna berdebar kencang saat kepala OB menyerahkan tugas pertama: membuatkan kopi untuk sang CEO sesuai arahan. Tanpa menunda, dia bergegas menyiapkan minuman itu dengan hati-hati, berusaha menenangkan segala kegelisahan dalam d**a. Setelah semuanya siap, ia melangkah mantap menuju ruang CEO. Pintu yang berat itu ia ketuk perlahan, dan ketika sang pemilik suara mempersilakan masuk, Aluna membuka pintu dan melangkah masuk. Namun, begitu matanya menangkap sosok yang duduk di dalam, dunia seakan berhenti berputar. Jantungnya berdetak seperti ingin melompat keluar dari rongga d**a, napasnya tersengal dan seluruh tubuhnya membeku oleh rasa terkejut yang tak tertahankan. Sosok itu seperti pernah dilihatnya, menghantui setiap sudut ingatannya dan kini menghadang di hadapannya. Bersambung …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD