"Tumben mengajakku bertemu biasanya kamu sibuk sendiri," sindir Anggara ketika Meliana memasuki ruangan Reno. Wanita paruh baya itu tampak menahan amarah yang telah mencapai puncak ubun-ubun. "Jangan berkata tumben jika kamu sendiri susah aku hubungi. Susah aku minta bertemu padahal kita tinggal satu atap dan satu rumah. Tapi kamu kenapa bersikap seolah-olah seperti orang lain seperti itu, Mas apakah kamu …" "Katakan berapa uang yang kamu inginkan?" "Bukan uang yang aku inginkan. Bisa tidak kamu menganggapku seperti suami-suami lain menganggap istrinya …" "Masalah apa yang sedang kamu hadapi?" Anggara tidak menjawab pertanyaan Meliana tapi, justru mengajukan pertanyaan lain kepada istrinya itu karena dia tahu setiap Meliana memaksanya bertemu pasti ada maksud dibalik itu semua. Entah i

