82

1391 Words

Di ruangannya, Victoria duduk diam terlalu lama. Layar laptop menyala, kursor berkedip tanpa arah, tapi pikirannya tidak ada di sana. Dia menopang dagu dengan satu tangan, menatap kosong ke arah jendela kaca yang memantulkan bayangan wajahnya sendiri, tenang di luar, kusut di dalam. “Tetap bersama Alex hingga Rana pergi.” Kalimat Mutiara itu berulang di kepalanya. “Mudah,” gumam Victoria lirih, nyaris tanpa suara. “Mudah dari mana?” Dia menghela napas, menyandarkan punggung ke kursi. Tangannya terlipat di d**a, lalu terbuka lagi, gelisah. “Pergi ke mana?” bisiknya. “Dan kenapa?” Dia sudah bertanya tadi pagi, pada Muatira, dia ingat jelas. *** “Kalau tugasku apa?” “Mudah,” jawab Mutiara sambil tersenyum. “Definisi mudah versi siapa?” “Kamu,” kata Mutiara santai. “Lalu?” “Bersama

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD