63

1357 Words

Victoria menarik napas panjang, lalu memecah keheningan yang sejak tadi menggantung di ruang tengah apartemen Alex. “Aku nggak bisa tinggal di sini,” katanya akhirnya. Alex yang sejak tadi bersandar di meja dapur mengangkat wajah. Tatapannya tajam, tapi tidak terkejut. Seolah dia sudah menduga kalimat itu akan keluar cepat atau lambat. Bena menoleh pada Victoria. “Kamu yakin?” Victoria mengangguk. “Iya. Untuk sementara aku pindah ke apartemenmu saja, Ben.” Kalla yang duduk di ujung sofa refleks meluruskan punggungnya. “Itu keputusan yang masuk akal,” katanya, nada suaranya netral, profesional meski matanya sempat melirik Alex sekilas. Alex tidak langsung menanggapi. Rahangnya mengeras sedikit. “Kenapa?” tanyanya akhirnya, singkat. “Karena ini apartemenmu,” jawab Victoria jujur. “D

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD