Restoran The Lune siang itu tampak ramai, dipenuhi cahaya lembut dari jendela besar yang menghadap ke taman kota Kinlope. Suasana siang menjelang sore itu terasa hangat, namun tetap berkelas. Pelayan dengan seragam hitam-putih berjalan anggun membawa piring-piring porselen yang menebar aroma menggoda. Alex duduk di meja pojok dekat kaca, setengah bersembunyi di balik deretan anggur mahal yang dipajang vertikal. Dia datang untuk bertemu seorang rekan bisnis lama, Maxime Calix, investor yang kini tengah mempertimbangkan menanam modal di salah satu proyek baru perusahaan. “Seperti biasa, Alex. Kau tak pernah terlambat.” Maxime Calix tersenyum lebar begitu datang, menggenggam tangan Alex dengan gaya akrab. Alex hanya menanggapi dengan senyum tipis, lalu mempersilakannya duduk. “Bagaimana p

