Suara hujan di luar terdengar samar, namun cukup untuk mengisi jeda panjang yang menggantung di antara mereka. Lampu-lampu kuning keemasan di bawah gedung itu memantulkan bayangan Alex yang tegas dan tinggi, sedangkan Victoria berdiri beberapa langkah darinya, memeluk dirinya sendiri sebagai bentuk pertahanan yang rapuh namun tetap keras kepala. “Aku tidak menerima perjanjian apa pun,” ulang Victoria dengan suara serak namun tegas. “Aku akan membayar. Setiap sen sekalipun. Tapi dengan caraku.” Alex menatapnya lama, terlalu lama malah. Tatapan gelap yang tidak mudah terbaca, seolah sedang menilai berapa banyak ketegaran yang masih tersisa pada perempuan di hadapannya. “Dengan caramu?” Alex menyeringai tipis. “Caramu jelas-jelas membuatmu hampir dibawa paksa oleh dua orang sampah tadi.”

