Pagi itu, kantor terasa lebih sunyi dari biasanya. Hujan tipis turun sejak subuh, menyisakan udara dingin yang menusuk ketika Victoria melangkah masuk ke gedung VD Group. Langkahnya pelan, pikirannya masih bercampur antara pekerjaan, ucapan Tian semalam, dan rasa tak nyaman yang tak bisa dia jelaskan. Dia berusaha mengatur napas panjang saat masuk ke lift. Cermin besar di dalam lift memantulkan wajahnya sendiri, pucat, dengan lingkar mata yang lebih jelas dari biasanya. “Harusnya aku tidur lebih cepat,” gumamnya lirih. Namun sejujurnya, bukan itu penyebabnya. Semalaman, dia sulit memejamkan mata karena satu pemandangan yang terputar ulang seperti film tanpa henti di kepalanya. Tatapan Alex di basement. Perpaduan dingin, tajam, dan entah apa. Victoria benci mengakuinya setelah tak seng

