Victoria pulang lebih larut dari biasanya. Lampu-lampu jalan berkelebat di balik kaca mobil, tapi pikirannya berusaha tetap kosong. Dia memutar musik pelan, berharap suara itu bisa menenggelamkan percakapan barusan dengan Mutiara. Dia tidak ingin mengulangnya di kepala. Tidak malam ini. Baru beberapa menit mobil melaju, ponselnya bergetar. Nama Ibu muncul di layar. Victoria mendesah kecil sebelum mengangkatnya. “Iya?” “Victoria, kamu pulang malam sekali,” suara ibu tirinya terdengar datar, tanpa basa-basi. “Ada kerjaan,” jawab Victoria singkat. “Ada hal penting yang harus kamu tahu.” Nada itu terlalu tenang, membuat d**a Victoria mengeras. “Apa?” “Kamu sudah dijodohkan.” Victoria menekan setir lebih kuat. “Dengan siapa lagi?” Dia menahan kesal dan amarah yang muncul saat itu.

