Prolog

1018 Words
"Naomi!!!" Teriakan yang begitu nyaring itu membuat sang empu nama menghelakan napasnya dengan panjang. Hingga membuat kepulan asap tipis menyertainya. Naomi menoleh ke belakang, mendapati Ninra, sang kakak yang terpaut usia 5 tahun darinya sudah berdiri dengan jarak 3 meter. "Kamu benar-benar mencobanya lagi?" tanya Ninra. "Mencoba apa?" tanya Naomi kembali. "Aku hanya berdiri di sini, mencari udara," ujarnya. Ninra mendengus kesal. Bagaimana tidak? Ia baru saja mendapatkan laporan dari salah satu karyawannya. Memberitahukan kalau Naomi pergi ke lantai 25 gedung itu. Yang tidak lain adalah rooftop gedung. "Mencari angin malam-malam begini dan berdirinya harus di sana?" tanya Ninra kesal. "Di sini udaranya lebih enak," jawab Naomi dengan santai. "Enak! Tapi kamu tahu kalau jatung Cici hampir jatuh?!" tanya Ninra yang semakin kesal. "Kenapa pula sampai jantungnya mau jatuh? Dia nggak pegangan?" Pertanyaan yang keluar dari mulut Naomi dengan begitu asal itu, membuat Ninra kehilangan kesabarannya. Kini, Ninra menghampiri Naomi, lalu menariknya dengan kasar – membawa adiknya itu kembali ke dalam area gedung. Ninra membawa adiknya itu ke dalam ruang kerjanya. Bahkan ia melempar Naomi ke sofa panjang yang ada di sana. "Gue berusaha keras untuk sampai di titik ini, Mi! Ini semua untuk elo dan gue! Untuk kita melanjutkan kehidupan yang keras ini! Jangan hanya karena putus cinta, lo mau bunuh diri!" Naomi benar-benar bisa bersikap santai di hadapan Kakaknya yang sudah murka itu. "Aku mencari seorang lelaki yang bisa mencitaiku dengan tulus. Tapi apa? Mereka sama seperti Daddy. Yang nggak bisa mencintai aku dengan tulus, 'kan?" "Suatu saat lo akan menemukannya, Mi," sahut Ninra. Naomi tertawa hambar. Kemudian ia berkata, "Kalaupun aku mati, Cici masih bisa cari Daddy." "Gue sudah anggap dia mati. Gue juga anggap, keluarga yang gue punya, hanya elo. Satu-satunya," sahut Ninra dengan penuh penekanan. Ninra menghela napasnya dengan panjang, kemudian ia mengajak Naomi untuk pulang. "Bagaimana hubungan Cici dengan Max?" tanya Naomi sembari bergelayut manja di pergelangan Ninra. Seolah, tidak terjadi pertengkaran di antara mereka sebelumnya. "Gue nggak kayak elo. Yang kalau mulai menjalin kasih, langsung naruh harapan yang tinggi," sahut Ninra. "Bukannya Cici dengan Max sudah pacaran? Sudah 3 bulan, 'kan?" tanya Naomi memastikan. Ninra mengangguk, membenarkan hal itu. "Lalu? Kenapa Cici bicara kayak tadi?" tanya Naomi lagi. "Artinya, gue nggak terlalu berharap sama Max. Supaya, kalau dia pergi, gue nggak galau-galau banget," sahut Ninra. "Tapi, aku enggak yakin dengan jawaban itu. Pasti ada sesuatu yang lain," Naomi membatin. *** Setelah mengantar Naomi pulang, Ninra langsung pergi lagi. Bahkan, ia tidak menginjakkan kakinya di rumah. Tujuan Ninra adalah sebuah club malam milik Deon, sahabatnya. Melihat kedatangan Ninra yang langsung meminta sebotol alkohol itu, ia jelas sudah bisa menebak kalau ada sesuatu yang terjadi lagi pada diri Naomi. "Naomi lagi?" tebak Deon. "Lebih baik lo ambilin dulu pesanan gue, De," ucap Ninra. Deon pun meletakkan sebuah gelas dan sebotol alkohol di atas meja hadapan Ninra. Bahkan, Ninra tidak menggunakan gelas itu untuk minum. Ia langsung menegak minumanya langsung dari botolnya. Sekali tegak, Ninra hampir menghabiskan setengahnya. "Anak itu mau bunuh diri lagi?" tanya Deon. "Baru 2 bulan pacaran, pacarnya minta putus dengan alasan jenuh dengan hubungannya yang begitu-begitu aja. Taunya, dia selingkuh. Gimana adik gue nggak kacau dibuatnya?" "2 bulan, Nin?!" pekik Deon seolah tak percaya dengan apa yang diungkapkan oleh Ninra barusan. Sebab, Setahu Deon. Naomi tidak pernah menjalin kasih sampai sesingkat itu. Paling sebentar, ia menjalin kasih selama setahun. "Terlalu berharap sama cowok, ya begitu jadinya," kesal Ninra. Sebuah kecupan singkat mendarat di kening Ninra. Gadis itu tidak menoleh ke belakangnya, karena ia tahu siapa pelakunya. "Kok nggak marah?" tanya orang itu. "Dari wangi kamu, aku tahu siapa pelakunya," sahut Ninra. "Siapa yang kasih tahu kamu kalau aku di sini?" tanyanya. "Tadi aku telfonin kamu berkali-kali, tapi nggak kamu angkat," ungkap Max. Yang tidak lain adalah kekasih Ninra. Sekaligus orang yang sudah mencium Ninra tadi. "Mau nggak mau, aku lacak GPS kamu," sambungnya. "Jangan bilang kalau HP lo, lo tinggal di mobil, Nin," timpal Deon. Ninra mengangguk, membenarkan perkataan Deon. "Cuman lo satu-satunya perempuan yang gue temuin, yang bisa jauh-jauh dari HP-nya," ujar Deon. "Kayak salah banget gitu sebentar aja jauh dari HP?" tanya Ninra. "Ngomong-ngomong, lo jadi kerjasama dengan Will's Group?" tanya Deon. "Rencananya, gue mau kasih proyek kerjasama ini ke Naomi. Biar anak itu nggak mikirin cowok mulu," sahut Ninra. "Mereka kan kalau mau kerjasama, nggak mau dipermainkan, Nin," ucap Deon lagi. "Makanya itu gue kasih ini ke Naomi. Biar dia belajar juga. Meskipun kuliahnya nggak tahu kapan selesainya itu," sahut Ninra. "Kalau mereka nggak setuju?" Ninra pun menatap tajam ke arah Deon. Karena ini, sudah kesekian kalinya Deon melontarkan pertanyaan. "Kalau mereka nggak setuju, akan gue buat mereka setuju," timpal Max. Baru saja Deon hendak berucap lagi. Ponsel yang ia letakkan di saku celananya itu berdering. Menandakan sebuah panggilan masuk di sana. Deon bergegas menarik benda persegi panjang itu dari sakunya. Ketika melihat nama yang tertera di layar, ia segera menggeser layar itu dan menempelkannya ke telinga kanannya. "Kenapa adik manisku?" tanya Deon kepada penelepon di seberang sana. "Ciciku ada di sana, ya?" "Mi...kenapa suara kamu berat begitu?!" tanya Deon yang mulai khawatir. Seketika itu juga, Ninra menangkap, siapa yang sedang menelfon Deon itu. Ninra berdiri dan langsung menarik ponsel itu dari tangan Deon. "Naomi?" "Kenapa Cici nggak angkat telfon aku?" "HP gue di mobil. Lo kenapa?" "Daddy, Ci..." Isak tangis dari seberang sana membuat Ninra mengumpat asal. Ia mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya. Kemudian, ia meraih kunci mobilnya yang tadinya tergeletak di atas meja. Ninra pun bergegas pergi dari sana. Max dan Deon yang tahu dengan keadaan, keduanya langsung menyusul Ninra. Meski sedikit terlambat, mereka bisa mengejar mobil Ninra yang sudah melaju kencang di seberang sana. "Kira-kira, hal apa yang dikatakan Naomi sampai Ninra mengumpat kayak tadi?" tanya Deon. "Ini bukan saatnya main teka-teki, Deon!" kesal Max. "Tapi, gue penasaran," sahut Deon. "Lo baru seminggu temenan sama Ninra? Sampai hal begini saja, lo nggak hapal?" tanya Max dengan sedikit emosi. Sementara itu, Ninra benar-benar harus berusaha keras agar segera sampai di rumah. "Sudah kubilang jangan ganggu adikku lagi. Ternyata, masih saja, ya?!" Ninra meluapkan kekesalannya pada dirinya sendiri. "Tunggu Cici, Mi. Cici akan segera sampai."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD