Bab 2

1082 Words
"Sepatu aku mana!" "Dasi aku mana? Ibunnn ..." "Hesaa ... topi aku mana?!" "Aaa ... kamu umpetin di mana kaus kaki akuu Noah?!" Begitulah setiap harinya yang selalu di dengar oleh Rhea. Ibu muda dengan dua anak itu hanya bisa menghela napasnya, sabar. Ini masih pagi, belum juga mereka sarapan tapi kedua anaknya itu sudah mulai mendrama. "Ibun itung sampai 3. Kalau kalian belum sampai meja makan, Ibun tinggalin!" Seru Rhea kepada kedua anaknya itu. Si kembar tak seiras yang berada di lantai atas kamarnya, segera bergegas. Mereka buru-buru turun ke lantai bawah, menuju ruang makan sebelum ibunya itu kembali menegurnya. "Astaga! Kalian ini kenapa belum siap?!" Rhea menggelengkan kepalanya melihat Noah yang masih acak-acakan rambutnya, belum tersisir rapih. Sedangkan Mahesa sebaliknya, dia sudah rapih sih hanya saja belum memakai dasi, dengan kerah kemejanya yang tinggi. "Noah hilangin dasi aku!" "Kamu juga hilangin topi aku!" "Stop! Kalian kalau masih mau ribut, Ibun bener tinggalin yah!" "Adek, Ibun gak suka kamu panggil Mahesa doang. Meskipun kalian beda 10 menit, kamu tetep Adek, paham?!" Noah mengangguk sambil memakan serealnya. "Bagus," Dan meja makan itu kembali hening, hanya di isi oleh bunyi sendok yang beradu dengan mangkuk. Jika begini kan terlihat normal, tidak seperti di kebun binatang. Rhea benar-benar kewalahan jika kedua anaknya itu sudah bertingkah, ada saja yang membuatnya tarik urat. Rhea bukan ibu yang sabar dan diam saja ketika anaknya itu bertingkah, dia justru sebaliknya. Karena dia tidak mau menahan apa yang dirasakannya, takut dirinya meledak dikemudian hari jika tidak tersalurkan. Itu lebih buruk menurutnya, namun dia juga akan meminta maaf pada anaknya dan menasehati mereka tentunya. Rhea mengambil tasi dan topi yang disembunyikan oleh anaknya itu, lalu menaruhnya di atas meja. Membuat kedua anaknya itu menatap Rhea dengan pandangan berbinar. "Lain kali jangan umpetin barang-barang sekolah yah, apalagi yang penting. Ibun gak mau dipanggil ke sekolah gara-gara hal kayak gini, nggak banget." Kedua anaknya itu mengangguk sambil tersenyum. "Oh, jadi kalau gara-gara nakal. Ibun mau ke sekolah Adek?" "Nggak gitu juga Adek! Ih kamu ini, nggak ngerti deh." Mahesa membalas ucapan adiknya itu. "Pokonya kalian jangan aneh-aneh yah, terutama sama Rio." "Kalau itu Adek gak bisa janji, Rio suka duluan jailin Adek. Dia ngeselin yah, Kakak yah." Noah meminta persetujuan Mahesa yang disetujui oleh kakaknya itu. "Iya Ibun, Rio itu nakal, dia juga suka julid." Alis Rhea tertarik ke atas mendengarnya, dari mana lagi mereka tahu istilah 'julid'? "Kakak tau julid? Kakak tau kata-kata itu dari mana? Emang tau julid artinya apa?" "Umm kata Dery. Katanya Rio suka julid, suka ngomongin orang yang jelek-jelek." Mata Rhea mengerjap-erjap kaget. Sumpah? Anaknya tau soal bahasa beginian? Sulit dipercaya. "Kakak gak boleh ikut-ikutan yah, diem aja kalau di ajakin." Mahesa mengangguk sambil memakan serealnya. "Adek juga, gak boleh ikutan." "Ikutan apa?" Noah bertanya polos, dia tidak mendengarkan obrolan kakak dan ibunya itu. Sedari tadi dia asyik memakan serealnya sambil memainkan lego. "Kalau diajak buat kumpul-kumpul ngomongin temen gak boleh yah, Adek." Rhea menasehati anaknya, sambil tangannya sibuk merapikan rambut Noah. "Oh, nggak kok. Adek gak suka ikutan geng Rio. Adek paling suka ikutan kumpul sama temen-temen cewek Adek aja." "Heeehhh ..." Rhea seketika menghentikan aksi menyisir rambut Noah. "Iya Ibun, adek kadang suka kumpul sama Tania, Audy, Lusi. Mereka suka bawa bekel makanan lucu-lucu, terus Adek suka di ajakin buat cobain. Yaudah deh adek ikut aja, kalau adek udah kenyang baru deh Adek balik lagi ke bangku Adek." Ibu dua anak itu menggelengkan kepalanya tidak percaya. Bisa-bisanya anak bungsunya itu memanfaatkan keadaan. "Nggak boleh gitu ah sayang, nanti kalau mereka nggak kenyang gimana?" "Nggak kok! Orang mereka suka bawain khusus buat Adek. Asal Adek duduk sama mereka makanya." Lagi Rhea dibuat syok oleh Noah. Apa maksudnya nih? Anak bungsunya itu apakah sudah disukai oleh lawan jenisnya? "Terus Kakak-nya gak dikasih?" "Kakak gak mau kumpul sama mereka," balas Mahesa yang kini telah selesai menyelesaikan sarapannya. "Kenapa?" "Cerewet, mereka berisik. Kakak gak suka." Wow sungguh perbedaan yang besar sekali, dia pikir jika memiliki anak kembar sifat mereka pasti akan sama. Tapi rupanya berbeda, Mahesa lebih kalem, sedangkan Noah kebalikannya. Sarapan telah usai, waktunya Rhea mengantarkan kedua jagoannya untuk sekolah. "Ingat no nakal-nakal, no aneh-aneh club di sekolah. Ibun gak mau dipanggil lagi Minggu ini." Rhea menasehati kedua anaknya begitu telah sampai di sekolah si kembar. Mahesa dan Noah mengangguk sambil menyalami kedua tangan Rhea. "Okay, Ibun ke restoran dulu. Nanti Ibun jemput jam 2 oke?" Lagi kedua anaknya itu mengangguk mengerti. Setelah itu mereka masuk ke dalam sekolah, sedangkan Rhea masih memperhatikan mereka dari kejauhan. 9 tahun ... anaknya itu sudah 9 tahun. Tidak terasa waktu sudah berlalu secepat itu. Kehidupannya jauh lebih baik sekarang, memiliki dua orang anak menggemaskan, dengan restoran yang selalu ramai, adalah impiannya sedari dulu. Ia berharap hidupnya tetap seperti ini, tanpa ada gangguan dari mana pun. Batinnya. *** "Mau sampai kapan kamu gini terus, Jer. Mama udah tua," Nyonya Gautama itu memandang putra satu-satunya itu dengan pandangan jengkel. Bagaimana tidak sudah 35 tahun anaknya itu sekarang dan masih belum memiliki anak. "Mam tolong, ngertiin Jerry." Jerry pria yang duduk ditengah kursi kebanggaannya itu menatap lelah sang ibu. Selalu saja meminta cucu-cucu, memangnya mendapatkan cucu gampang? "Mama udah ngertiin kamu, kamu sekarang udah 35 tahun! Mau sampai kapan Mama ngertiin kamu?!" Jerry diam, tidak ingin membalas ucapan sang mama. "Ah udah lah, percuma ngomong sama kamu, emang Mama gak dianggap lagi sama kamu!" Hana bangkit dari duduknya, lalu keluar meninggalkan ruangan Jerry. Kembali Jerry menghela napasnya kasar, ibunya itu benar-benar membuatnya kehilangan kata-kata. Mata Jerry lantas terfokus pada salah satu bingkai foto di sana. Ia menatap wanita yang ada di sana dengan pandangan cinta juga sendu. *** Di tempat lain, Rhea tengah sibuk oleh pekerjaannya. Hari ini restorannya kedatangan tamu penting untuk acara makan siang dengan jumlah besar. Sedang sibuk-sibuknya membantu karyawannya, ponsel Rhea berbunyi. Awalnya Rhea membiarkan saja, namun ponselnya itu tidak mau diam, terus saja berbunyi membuat Rhea kesal. Ia lalu meninggalkan karyawannya dan kembali menuju ruangannya. "Hallo?" "Hallo, maaf Bu Rhea. Bisa Ibu datang ke sekolah?" Rhea seketika memegangi kepalanya, apa lagi yang dilakukan anaknya itu! Apakah mereka tidak mendengarkan apa yang dikatakannya tadi pagi. Sambil memijit pelipisnya, Rhea bertanya. "Bisakah saya ke sana setelah makan siang, Bu?" "Maaf, Bu Rhea tidak bisa. Anak Ibu berkelahi, lebih tepatnya Mahesa menonjok wajah Rio." Astaga naga, apalagi kali ini? Tapi tunggu, Mahesa? Anak tertuanya yang kalem itu menonjok Rio? Wow sulit dipercaya. Dia jelas saja kaget, dengan cepat dia menyetujui permintaan wali kelas si kembar untuk segera datang ke sana. *** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD