"Selincah apapun aku berlari, akhirnya juga aku akan tertatih"
-----
Dan benar saja, Minggu ini Sheila sudah berpakaian rapi dan siap untuk pergi ke Gereja, ia akan menunjukkan kepada semua orang bahwa ia adalah anak yang sangat baik.
"Adek, udah selesai?" tanya Anin keluar dari dalam kamar.
Sheila yang sejak tadi menatap dirinya dari pantulan kaca, tersenyum kecil kepada dirinya lalu berjalan kearah suara yang memanggilnya.
"Sudah, ayo berangkat" Melihat anaknya yang begitu manis, Anin mengulas senyum bahagia karena Sheila akhirnya mau diajak ke Gereja. Doanya yang ia lambungkan disepanjang Minggu ini akhirnya dijawab Tuhan. Sheila dengan senyum yang sangat manis berdiri didepannya dan siap untuk pergi ke Gereja bersama dengannya.
"Adek, cuma pakai kaos oblong aja ke Gereja? " tanya Anin merasa tidak nyaman dengan pakaian Sheila.
"Iya, baguskan, Mak? sederhana tapi terkesan elegan " pujinya kepada dirinya sendiri, mendengar itu Anin menahan nafasnya, jika ia melanjutkan ucapannya tentulah berakhir dengan Sheila mogok pergi, moodnya yang seperti jaringan akan membuat hari ini berantakan, jadilah Anin hanya tersenyum dan merangkul lengan anak bungsunya itu untuk pergi menuju motor yang akan membawa mereka ke Gereja.
Disepanjang jalan yang dipikirkan Sheila adalah dia akan duduk dengan manis dan mengikuti serangkaian ibadat dengan khusyuk.
"Ini Sheila yang bakal jadi suster? wah anaknya manis ya, duduknya juga sopan."
"Enggak nyangka ya, Sheila punya keinginan semulia itu"
"Bahagia sih punya anak seperti Sheila "
"Kalau aku jadi ibunya Sheila pasti aku akan menjadi Ibu yang paling beruntung di dunia, selain Sheila cantik dia juga menjadi Suster."
Membayangkan itu semua, Sheila senyum-senyum sendiri. Ia berpikir bahwa dia akan mampu bersikap layaknya anak perempuan yang duduk dengan rapi dan bersikap dewasa. Namun, semua yang dipikirkan Sheila disepanjang jalan tidak satupun yang terjadi. Setelah turun dari motor, Sheila langsung duduk dan menaikkan kakinya diatas kursi, memainkan benda pipih miliknya kemudian sibuk bertukar cerita dengan teman bicaranya lewat telepon sampai ibadat dimulai, hingga kegiatan ibadah sudah dipertengahan barulah Sheila selesai menelpon temannya, membuat umat distasi melihatnya dengan tatapan tidak suka. Meskipun begitu Sheila belum sadar jika ia sudah membuat hati semua orang sibuk mengatai dia, Sheila tetap dalam mode santainya berjalan dari arah pintu dan duduk kembali dengan posisi tubuh yang tegap, lima menit kemudian sudah berubah menjadi agak miring karena Sheila sudah merasa bosan, seperti itu sampai ibadat selesai.
"Akhirnya" ucap Sheila bernafas lega. Ia melangkahkan kaki jenjangnya dan bersiap untuk keluar dari dalam Gereja, sebelum suara bernada bass menghentikan langkahnya.
"Sheila..."
"Iya, Pak. Ada apa ya?" tanya Sheila kikuk, dengan pelan ia berjalan mendekati ketua stasi dan duduk tepat didepannya.
"Kapan kamu berangkat ke Biara?" tanya ketua stasi dengan penuh wibawa. Meskipun secara fisik ketua stasi itu terlihat menyeramkan tapi sebenarnya ia sangat perhatian, itu yang Sheila yakini dari cara ketua stasi menyapa umat dan memberikan solusi setiap kali ada umat distasi yang membutuhkan solusi.
"Emm.... kurang tau, Pak. Belum ada informasi dari Pastor Hendra" jawab Sheila dengan pelan, karena seingatnya Pastor rekan diparoki mengatakan untuk menunggu informasi kapan jadwal keberangkatannya ke Biara. Karena dari Pastor itulah Sheila mengetahui Biara mana yang akan dia tuju. Sebenarnya ada empat pilihan yang diberikan kepada Sheila, Biara didaerah Jakarta, Bangka Belitung, Medan atau Palembang, tapi karena Anin ingin Sheila tidak jauh-jauh darinya dan bisa bertemu nantinya dengan kakak sepupunya yang kebetulan tahun ini akan kembali ke Sumatra Utara jadilah Anin meminta agar Sheila memilih Biara yang berada di Medan saja, selain itu ada beberapa keluarga yang juga tinggal di Medan, jadi jika Sheila jatuh sakit akan mudah dihubungi, itu menurut pemikiran Anin, orangtua yang lahir tahun 1977 itu.
"Jika seperti itu, kamu sabar saja menunggu informasi dari Pastor Hendra" Sheila mengangguk. Beberapa menit ketua stasi diam dengan isi pikirannya sendiri, Sheila pun jadi bingung apakah dia harus pamit untuk pulang atau tetap duduk menunggu ketua stasi menyuruhnya untuk pulang?
"Kamu sudah menyiapkan diri untuk pergi ke Biara?" mendengar pertanyaan itu, hati Sheila tercubit karena bukan maksud untuk menanyai kesiapannya yang sebenarnya ingin ditanyakan oleh ketua stasi, melainkan keyakinan Sheila atas keputusannya untuk menjadi Suster dan menjalani hidup di Biara yang sebentar lagi akan ia alami.
"Sudah, Pak." Jawab Sheila singkat, Ketua Stasi menatapnya dengan pandangan yang masih ingin terus bertanya tapi melihat respon Sheila yang sepertinya tidak ingin ditanyai lebih dalam membuat ketua stasi mengurungkan niatnya.
"Harus yakin ya, Sheila" ujar ketua stasi akhirnya menepuk pelan pundak Sheila, kemudian berlalu pergi, tinggal Sheila seorang diri ditempat duduk itu. Tatapan Sheila seperti kosong menatap jauh ke depan, Anin yang melihat anaknya dari parkiran pelan-pelan melambungkan doa singkat agar Tuhan memberikan kekuatan kepada anak bungsunya itu.
"Kamu mau makan apa?" tanya Anin ketika motor yang mereka kendarai, berhenti didepan warung bakso kesukaan Sheila.
"Bakso jumbo" jawab Sheila dengan gembira, dengan semangat Sheila turun dari motor dan duduk disalah satu kursi yang disediakan oleh pemilik warung bakso itu. Melihat anaknya yang sudah kembali ceria, Anin merasa lega, setidaknya dengan cara melihat Sheila terus tersenyum Anin merasa bahwa dia berhasil menjaga kebahagiaan anak-anaknya. Itulah yang diinginkan Anin, seorang ibu dengan dua anak itu. Anin tidak ingin apa yang dia alami sewaktu kecil dikampung bersama orangtuanya, dialami oleh kedua anaknya. Anin benar-benar ingin terus dan selalu melihat wajah bahagia yang terbit dari wajah Edghard maupun Sheila, dengan ada atau tidaknya dirinya nanti. Satu yang paling diminta Anin dalam doa-doanya adalah agar kedua anaknya memiliki kehidupan yang beruntung dan bahagia dari dirinya.
"Sebelum kamu pergi, kita ziarah ke makam Bapak ya. Pasti Bapak kamu senang banget ternyata anaknya yang super manja udah dewasa dan bakal menjadi suster untuk mendoakannya dan seluruh keluarga" ucap Anin setelah membersihkan jejak makanan dari bibirnya. Sheila tertawa kecil mendengar ucapan Anin, apalagi dengan penekanan pada kata 'manja' Sheila merasa telinganya terasa geli. Sheila berjanji didalam hati, ia akan mendoakan Bapaknya dan seluruh keluarganya secara khusus untuk ketenangan jiwa Bima yang telah dipanggil Tuhan. Dan akan membuktikan kepada semua orang secara khusus seluruh umat distasi bahwa dia akan menjadi gadis remaja yang baik dan tidak akan bermain-main saat diBiara nanti, Sheila pun memiliki komitmen bahwa dia tidak akan meminta untuk mundur atau menyerah dalam panggilannya sebagai Suster meskipun nanti akan banyak tantangan yang akan ia hadapi.