Pukul 7 pagi
Hari ini tidak seperti biasa, sebab rumah mungil yang hanya di huni oleh dua orang itu kedatangan tamu jauh. Biasanya pun pukul 7 pagi rumah itu sudah tampak kosong, penghuninya sudah pergi mengais rezeki ke tempat masing-masing.
Berbeda dengan hari ini, Darta masih duduk di depan teras sambil meneguk kopi buatan Harumi ditemani Tanta dengan minuman yang sama. Harumi menata meja makan menyusun piring dan juga lauk untuk mereka sarapan. Setelah selesai Harumi berjalan menuju teras memanggil ayahnya dan juga Tanta yang sedang asik mengobrol. Obrolan mereka dari kemarin tak ada habisnya. Selalu saja ada yang mereka bahas.
“Ayah, Pakde, ayo sarapan,” ajak Rumi. Kedua orang tua itu menoleh ke arah panggilan suara itu lalu tersenyum sambil beranjak dari kursi tempat mereka mengenang kenangan masa muda dulu.
Ketiganya telah duduk saling berhadapan dan mengambil lauk yang menggugah selera.
“Ini semua Rumi yang masak?” tanya Tanta penasaran sambil menyuap makanan itu ke mulutnya.
“Iya, Pakde, dibantu sama Ayah juga,” jawab Harumi sopan sambil tersenyum semringah.
“Wah, ayahmu ini sungguh beruntung. Punya putri yang pintar masak, pandai mengurus rumah dan juga cantik. Beruntung keluarga yang bermenantu Harumi.” Tanta memberi pujian kepada Harumi, membuat gadis itu tertunduk malu. Darta tertawa mendengar anaknya dipuji oleh Tanta.
“Alhamdulillah, Tanta. Semua wajib disyukuri. Kau pun beruntung, punya keluarga yang harmonis, rejeki berlimpah juga pekerjaan yang bagus. Jangan kau bandingkan dengan pekerjaanku yang serabutan ini. Apalagi mau berbesanan denganku, keluarga lain pasti berpikir dulu setelah melihat kondisi kami.”
Tanta bergeming, dirinya memikirkan perkataan Darta barusan. Sebab tidak semuanya tampak indah terlihat oleh mata. Tanta mengembuskan napas perlahan, wajahnya yang tadi berseri berubah seketika.
“Kalau ada bagaimana?” tanyanya serius, air mukanya lebih serius, tak ada guratan senyum dalam raut wajahnya.
Darta tertawa sembari melirik ke arah Harumi. Harumi pun balas melirik ayahnya, percakapan mereka yang tadinya santai berubah serius. Harumi diam saja tak ingin ikut campur dalam pembahasan ini. Dirinya bahkan tidak berani untuk berpikir sejauh itu. dia hanya ingin kuliah dan mewujudkan impiannya menjadi seorang pengajar.
“Jangan bercanda, Tanta. Kalau pun ada yah paling mereka kasihan kepada kami.”
“Tidak, Darta. Kalian keluarga yang tak patut dikasihani. Sebab kau punya segalanya yang tidak orang lain miliki. Putrimu pun begitu.”
Darta dan Harumi saling pandang, raut wajah keduanya bertanya-tanay apa maksud ucapan Tanta barusan.
“A... apa itu?”
“Ketulusan. Kau dan putrimu punya itu.”
Darta bergeming lalu cepat-cepat menghabiskan makanannya. Dirinya merasa tidak enak karena Tanta terlalu berlebihan memandang dirinya. Obrolan ini seharusnya hanya dia dan Tanta saja yang membahasnya, tidak perlu ada Harumi.
“Darta, Aku ingin melamar anakmu.”
“Apa!” Darta dan Harumi teriak bersamaan.
“Iya, aku ingin Harumi ikut bersamaku ke Jakarta dan tinggal di sana.”
“Apa kau gila! Jadi maksudmu memuji dan mengatakan bahwa kami keluarga yang tulus untuk ini? walaupun kau kaya aku tidak akan pernah memberikan anakku karena uang. Kau seharusnya sadar diri, Tanta. Tidak semua bisa kau beli dengan uang, termasuk anakku. Kau sudah banyak berubah, uang merubahnya jadi seperti ini. Harumi bahkan lebih cocok sebagai anakmu, bukan istrimu.”
Darta berdiri seketika, dia menunjuk Tanta dengan emosi yang meledak-ledak. Harumi bingung, sebab suara ayahnya sampai terdengar keluar sanking kerasnya. Harumi pun syok mendengar maksud Tanta, sekilas dia bergidik ngeri menatap pria tua yang memnag pantas jadi ayahnya ketimbang suami baginya.
Tiba-tiba Tanta tertawa, tawanya keras membat seisi rumah mereka yang hanya sepetak itu dipenuhi oleh suara orang tua itu. Darta dan Harumi saling tatap, baru pagi ini kehidupan mereka bagai bianglala yang berputar naik turun memberikan kejutan.
“Kau.... kau... kau tampaknya salah paham, Darta,” ucap Tanta yang terbata-bata disebabkan perutnya yang sakit menahan tawa.
“Maksudmu?” tanya Darta bingung, dia yang awalnya berkacak pinggang merubah posisinya jadi lebih santai. Darta menarik kursi, dia kembali duduk.
***
Obrolan mereka berlanjut ke ruang tengah, Harumi pun ikut duduk bersama mereka setelah dirinya membereskan sisa makanan yang ada di meja makan dan telah mencucui piring. Hari ini pagi-pagi sekali Harumi datang ke rumah Kepala Sekolah untuk minta ijin tidak bisa mengajar sebab ada tamu di rumahnya dan dia harus menemani ayahnya juga.
“Darta, dengarkan aku. Aku melamar putrimu bukan untukku melainkan untuk putraku, Ale. Setelah melihat Harumi semalma ini, aku langsung menyukainya. Aku langsung teringat istrimu, Kinasih. Harumi seperti Kinasih, tutur kata, sifat dan juga senyumnya mirip almarhum Kinasih. Aku ingin kau dan Rumi menjadi bagian dari keluargaku, menjadi menantuku dan kau besan sekaligus sahabatku. Apa kau mau?”
“Ka......u serius.” tanya Darta sedikit terkejut. Kemudian mengambil gelas yang ada di depannya dan meneguknya. Napasnya naik turun mendengar ucapan Tanta barusan. Harumi pun menunduk, dia tidak tahu harus bersikap seperti apa, sebab jauh di dasar hatinya dia belum berkeinginan untuk menikah. Apa soal ini yang ingin di bicarakan oleh Pakde Tanta, batinnya mengingat permintaan Tanta tadi.
***
Pukul 8 malam.
Sehabis salat isya, Darta mondar- mandir di ruang tamu mereka. hatinya tidak tennag disebabkna permintaan sahabatnya itu. Tanta sudah balik ke Jakarta pagi tadi pukul 9. Setelah menjelaskan maksud kedatangannya Tanta langsung pulang, sebab pembantunya menelepon kondisi anaknya yang masih labil.
Darta terngiang oleh permintaan Tanta sebelum dia pergi. Sahabatnya yang dia kira memiliki segalanya ternyata memiliki masalah yang pelik. Dari luar Tanta adalah lelaki yang sukses dalam karir, memiliki banyak uang serta perusahaanya berkembang pesat. Namun, siapa yang menyangka jika kehidupan pribadinya jauh dari bahagia.
Ternyata kota Jakarta tempat dia tinggal bersama keluarganya mengubah sebagian jalan dan juga pola pikir dan juga keluarganya. Dia yang gigih bekerja mengikuti arus kesibukan kota Jakarta sehingga melalaikan perannya sebagai nahkoda dalam keluarganya.
Istrinya yang selingkuh dan lebih memilih pria seleingkuhannya daripada dia, abak perempuannya yang terjerat kasus prostitusi online dan sekarang sedang hamil tanpa suami bahkan stres di rumah sakit jiwa. Dan anak laki-lakinya terjerat pergaulan bebas, dunia malam dan sekarang lumpuh.
Hati Tanta hancur berkeping menerima kenyataan hidupnya yang seperti ini, oleh karena itu dia pulang ke kampungnya untuk merilekskan pikirannya dan juga rindu akan kampung halamannya. Namun, siapa sangka jika pertemuannya dengan Darta dan juga Harumi membawa Tanta berpikir untuk melamar Harumi untuk anaknya.
Darta duduk, pikirannya makin kacau. Dia memijit kepalanya yang terasa nyut-nyutan. Yang membuatnya makin pusing adalah bahwa kenyataannya anak laki-laki Tanta lumpuh dan Tanta memohon kepadanya agar membujuk Harumi untuk menerima pinangannya.
“Aku mohon, Darta. Aku ingin Harumi menikah dengan Ale, anakku. Aku yakin Harumi bisa merubah Ale menjadi lebih baik.” Tanta menangkup kedua tangannya sambil memelas memohon kepada Darta.
Darta membenarkan posisi duduknya kemudian wajahnya tampak gusar.
“Jangan seperti itu, Tan. Aku merasa tidak enak jika kau memohon seperti itu. Kau bahkan tidak pantas memohon kepadaku, aku hanya seorang petani. Dan Harumi anak dari seorang petani. Maish banyak lagi wanita di luar sana yang bisa kau jadikan menantumu.”
“Tapi tidak ada yang sebaik dan setulus Harumi. Kau tahu kan? Semua teman Ale menghindar begitu tahu Ale tidak bisa melakukan apa pun. Hidupnya seketika hancur dalam semalam. Psikisnya terganggu, Dar. Aku bingung harus membawanya berobat ke mana. Semua pengobatan dari tradisional hingga pengobatan canggih sudah kulakukan demi dia. Tapi hasilnya tetap saja, nihil.” Jelasnya cepat.
Penjelasan itu jelas membungkam mulut Darta, dia tidak tahu bagaimana menolak sahabatnya ini, apalagi begitu mengingat semua kebaikan Tanta kepada keluarganya selama ini. Termasuk saat-saat Kinasih sakit, Tanta banyak membantu.
Darta mengusap gusar wajahnya, dia mengembuskan napas pelan. Lalu dilihatnya Harumi keluar dari kamar dan memnaggil putrinya itu untuk duduk di dekatnya.
“Rum, sini sebentar. Ada yang mau Ayah omongin.” Harumi pun berjalan ke dekat ayahnya memenuhi panggilan tersebut.
“Iya, Yah,” sahutnya.
“Rum, apa kau ingin kuliah kemudian mengajar?” Rumi mengernyitkan dahinya, hatinya bertanya-tanya kenapa ayahnya tiba-tiba bertanya seperti itu.
“Ke... kenapa, Yah?”
“Jawab saja, Rum. Jangan tanya balik.”
“I... iya. Rumi ingin kuliah, tapi masih lama, Yah. Rumi masih ngumpulkan uangnya.” Darta menghela napas, dia menatap Rumi dalam.
“Bagaimana dengan permintaan Tanta tadi Pagi? Kamu sudah memikirkannya?”
“Ke... kenapa Ayah tiba-tiba menanyakan hal itu?”
Darta mengembuskan napasnya pelan, raut wajahnya gusar.
“Ayah, cuma ingin tahu pendapatmu saja, Rum?”
Harumi sedang berpikir, dia menatap ayahnya kembali, ada perasaan aneh terselib di hatinya.
“Hmm, jujur Harumi belum memikirkannya, Yah. Sebab Harumi masih ingin berkulaih dulu, mencapai impian Harumi dan....”
“Kalau Tanta bisa mewujudkan impian kamu, apa kau akan menerima lamarannya?”
“Mak...sud, Ayah?”
Darta menyandarkan tubuhnya ke kursi. Dia melipat tangan sambil berpikir. Dia tidak ingin Harumi berpikir buruk tentangnya karena memintanya melakukan sesuatu yang tidak dia sukai. Sebenarnya dia tidak bisa memaksa Harumi, tetapi mengingat wajah Tanta yang memelas padanya, Darta iba kepada sahabatnya itu.
“Tanta, tadi pagi sebelum berbalik ke Jakarta berbicara empat mata pada Ayah, dia memohon sekali sambil memelas, Ayah jadi Iba. Dia ingin sekali menjadikanmu menantunya. Dia berjanji tidak akan menyusahkanmu dan menbiayai semua kuliahmu. Asal kamu mau menjadi menantunya.”
Harumi tidak terkejut sedikitpun, dia tahu kemana arah pembicaraan Ayahnya. Melihat raut wajah Ayah yang gusar dan sepertinya tidak enak menolak permintaan temannya itu.
“Ayah sendiri bagaimana? Setuju sama permintaan Pakde Tanta?” tanya balik.
“Kamu ini suka sekali bertanya disaat pertanyaan lain belum terjawab,” celetuk Darta menyentil ujung hidung putrinya. Harumi tertawa melihat Darta yang gemas kepadanya.
“Jawab, Yah. Harumi juga ingin tahu pendapat Ayah.”
“Jujur, Ayah juga ingin kehidupanmu bahagia. Tidak seperti Ayah karena kamu gadis yang pintar. Man aada orang tua yang ingin anaknya mengalami kesusahan sepanjang hidup, kalau bisa bahagia selalu. Namun, Ayah tidak ingin memberatkanmu dengan status persahabatan Ayah dan Tanta. Karena kamu yang kelak akan menjalaninya jadi kamu juga yang harus memutuskannya.”
“Hmmm, Kalau Harumi menerima, apa Ayah akan ikut Harumi?”
Darta tertawa mendengar ucapan putrinya itu.
“Mana ada Ayah yang ikut ketempat anaknya yang sudah menikah. Ayahkan harus melangsungkan hidup juga. Ayah punya tempat di sini dan ini tempat Ayah berpulang.”
“Rumi mau Ayah ikut kemana pun Rumi pergi.” Darta tersenyum sambil membelai wajah putrinya.
“Jadi?”
“Jadi?”
“Apa, Rum?”
“Apa, Yah?” Rumi tergelak melihat raut wajah ayahnya yang mulai kesal.
“Kamu ini.” Darta terkekeh.
“Rumi menyetujuinya. Asal Ayah ikut bersama Rumi. Rumi akan bilang ke Pakde bahwa tidak ada yang bisa memisahkan Rumi dari Ayah. Dia harus bertanggung jawab karena mencoba memisahkan seorang Ayah dengan putrinya.” Darta terkejut mendengar pernyataan Rumi barusan.
“Serius?” Rumi mengangguk pertanda dirinya setuju. “Bukan karena paksaan atau apa pun?” Rumi berpikir kemudian mengangguk lagi. “Walaupun suami kamu itu lumpuh, kamu akan mengabdi padanya sepenuh hatimu?” tanya Ayah lagi.
“Ayah, semua butuh proses. Apalagi kami belum mengenal satu sama lain. Tetapi bukankah tugas seorang istri memang seperti itu, mengabdi penuh kepada suaminya. Karena ridho suamilah yang membawa istri ke surga.”
Darta mendekat kemudian merengkuh Harumi, dia tidak menyangka jika Harumi punya hati sebesar itu untuk menerima kenyataan kalau calon suaminya itu lumpu.
“Terima kasih, Rum. Kamu tumbuh menjadi wanita berhati tulus. Dan teruslah menebar kebaikan tanpa mengharap apa pun, Nduk.”
Malam itu seorang Ayah tengah mengharapkan kebaikan bagi putrinya. Doa Ayah untuk melepas putrinya menuju jalan kehidupan yang lebih mulia yaitu ibadah terpanjang seumur hidup, menikah.
Pagi harinya, Darta tak sabar memberi kabar kepada Tanta melalui ponsel milik tetangganya. Dia memberi tahu bahwa Harumi setuju dan menerima lamaran Tanta. Tanta sangat senang, hingga suara teriakannya pun terdengar dari saluran telepon itu.
“Alhamdulillah, Minggu depan aku akan datang bersama Ale untuk melamar langsung Harumi, Dar.”
Saluran telepon itu ditutup membuat genagan di pelupuk mata Darta terjatuh. Dia menghapusnya cepat, takut jika tetangganya melihat ia menangis. Perasaan haru, bahagia jadi satu.
***