PART. 2

976 Words
Raka membuka matanya, ditengoknya jam tangannya yang ada di atas meja dekat ranjang. Pukul 02.45 'Masih sempat' "Yank...Yank..bangun" "Ehmm ada apa Aa, jam berapa?" "Jam 02.45" "Sahurnya masih lama Aa" "Iya, makan sahurnya masih lama" "Terus kenapa bangunin aku sekarang?" "Menurutmu kenapa?" "Iiih kok balik nanya?" "Masa tidak paham" "Apa sih!" "Aku mau mimi cucu dulu, biar badanku tidak loyo besok" "Ehmm mau itu, nih mimi sepuasnya" Tari menaikan baju tidurnya melewati d**a. Terpampanglah dadanya yang besar dan berkulit putih. Bibir Raka langsung mengulum ujungnya. "Cuma mau mimi, apa sama syuting sekalian Aa?" "Menurutmu?" "Iiih kenapa sih tiap ditanya, nanya balik lagi?" "Takutnya kalau jawab ya, nggak dikasih kan malu" "Kalau aku nanya, itu artinya aku nawarin Aa" "Oooh...jadi sebenarnya kamu yang pengen syuting, tapi nggak mau dituding m***m, jadi aku yang..." "Iiih jadi nggak nih, kalau ngoceh terus nanti nggak sempat syutingny" "Jadi..jadi..jadi" sahut Raka penuh semangat. -- Setelah mandi Raka bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan sahur. Sementara Tari usai mandi, ia menyusui Arkana. Cantika yang terbangun karena tangisan Arkana, masuk ke kamar orang tuanya. "Abba mana Amma?" "Di dapur, lagi menyiapkan untuk makan sahur" "Oooh, dedek..dedek sahul juga ya, kakak Cantika mau sahul juga" Cantika memgecup pipi Arkana yang tengah menyusu. "Cantika ke dapul ya Amma" "Heum..tapi jangan ganggu Abbamu masak ya" "Iya Amma" Cantika ke luar kamar, ia menemui Raka di dapur. "Abba!" Panggilnya riang. "Eeh anak Abba sudah bangun" "Ya dong, kan mau ikut sahul, Cantika mah belajal puasa" "Pinter anak Abba" "Abba masak apa?" "Ayam goreng, sama cap cay buat Amma dan Cantika" "Kok buat Amma sama Cantika aja? Abba nggak sahul?" "Abba beda sendiri menunya" "Apa?" "Ikan asin sepat siam bakar pakai cacapan asam kamal" sahut Raka. "Cantika sahulnya mau makan sepeliti Abba aja" "Tapi Cantika kan suka ayam goreng?" "Cantika mau sukanya makan sama sepelti Abba" "Ya sudah, nanti di cicipi dulu ya, sekarang Cantika duduk dulu ya, Abba selesaikan goreng ayamnya dulu" Raka mengangkat putrinya, lalu didudukan di kursi dapur. "Abba" "Ya sayang" "Abba siapa yang ngajalin masak?" "Nenek" "Nenek Mia?" "Bukan sayang, tapi Ammanya nenek Mia, neneknya Abba, kemaren kita jiarah ke makamnyakan?" "Ooh itu" "Iya" "Abba" "Ya" "Nanti ajalin Cantika masak ya" "Eeh, Cantika mau belajar masak?" "Iya Abba, bial bisa makan enak tiap hali" "Pinter anak Abba" "Abba" "Ya sayang" "Puasanya sampai jam belapa?" "Sampai azan maghrib sayang" "Oooh...kalau azan dzuhur belum boleh makan ya Abba?" "Belum" Tari masuk ke dapur. "Masak apa A?" "Ayam gopeng sama cap cay Amma" Cantika yang menjawab. "Ehmm baunya enak Abba" "Iya dong, siapa dulu yang masak, Abba!" Seru Cantika bangga sekali akan Abbanya. "Amma" "Hmmm" "Cantika nanti mau belajal masak sama Abba" "Cantika mau jadi chef ya?" "Cep itu apa Amma?" "Chef sayang, bukan cep, Chef itu sebutan untuk orang yang ahli memasak" "Ahli itu apa Amma?" "Ahli itu pinter" "Oooh jadi cep itu, olang yang pintel, belalti Abba cep masak, Amma cep jaga dedek, nenek cep bikin bolu, paman Soleh cep naik motol, Acil Soleha cep menggambal, Paman Salim cep main bola, Cantika cep apa ya, ooh cep celiwis hihihihi" Raka tertawa mendengar celoteh putrinya, tapi wajah Tari justru cemberut. "Cantika sayang, chef itu artinya ahli masak, bukan ahli semuanya" Tari berusaha meluruskan kesalah pahaman Cantika. "Kata Amma, cep ahli, ahli olang pintel, belalti cep itu olang pintel" "Hhhh aku nyerah Aa" "Sudah, jangan terlalu dipikirkan, nanti botak kepalamu Tari" "Iih Aa, Aa mau minum apa?" "Cantika nggak ditawalin minum Amma?" "Cantikakan sudah pasti minum s**u" jawab Tari. "Emangnya Cantika nggak boleh minum yang lain ya" "Boleh, Cantika ingin minum apa?" "Es silop Amma" "Eeh..sayang, ini dini hari" "Kalau nggak dini hali boleh dong minum es cilop" "Cantika masih kecil nggak boleh minum es" "Aaahh Amma, tadi katanya nggak boleh minum es kalna dini hali, sekalang kalna Cantika masih kecil, hhhhh olang tua susah dimengelti" Cantika memukulkan punggung tangan ke dahinya. Raka tertawa melihat tingkah putrinya. "Duplikat kamu Tari" ujar Raka sambil menyajikan makanan di atas meja. "Aku? Dia ini Aa 100%!" "Abba 100 pelsen apanya Amma" "Bukan apa-apa" sahut Tari. "Abba 100 pelsen bukan apa-apa itu, apa maksudnya ya?" Cantika meletakan satu jari di dagunya. Matanya berputar jenaka. "Sudah, sekarang Cantika makan ya, berpikirnya namti lagi" ujar Raka. "Iya Abba, kalau banyak mikil nanti botak ya Abba" "Hmmm" "Kenapa bisa begitu Abba?" "Sayang, makan dulu ya, nanti baru bicara lagi, sekarang baca niat dulu" "Iyaa Abba" Raka membimbing putrinya membaca niat puasa sebelum makan sahur. "Eeh Cantika kok makannya pakai ikan Abba?" Tanya Tari yang bingung Cantika makan dengan ikan asin. "Enak Amma, asin!" "Abba jangan terlalu sering makan ikan asih deh, nanti darah tinggi" ujar Tari. "Dalah tinggi itu apa Amma?" "Sakit sayang" "Ooh, kalau tangan Cantika, dicubit teman sakit, itu namanya dalah tinggi ya Amma?" Tanya Cantika dengan mulutnya yang penuh makanan. "Cantika, habiskan makannya dulu ya, baru nanti kita bicara lagi" ujar Raka. "Iya Abba, Abba kalau banyak mikil bisa botak, kalau banyak bicala bisa apa Abba?" "Capek mulutnya nanti sayang, sekarang makan dulu ya" "Iya Abba" -- Selesai sahur, Tari mencuci piring, Raka membawa Cantika ke kamarnya. "Gosok gigi dulu ya sayang" "Iya Abba" "Habis itu bobo lagi" "Belum ngantuk Abba" "Ya sudah, gosok gigi dulu ya" "Abba nggak gosok gigi?" "Abba nanti gosok gigi di kamar Abba" Cantika selesai menggosok giginya. "Abba ke kamar Abba dulu ya" "Ikut" "Ayolah" Raka selesai menggosog gigi, diteruskan Tari juga menggosok giginya. "Cantika nggak ngantuk sayang?" "Nggak Amma, boleh nonton tv nggak Amma?" "Ayo sama Abba nonton tv nya" Raka membawa putrinya ke ruang tengah. Cantika duduk di atas pangkuan Raka. Matanya sebentar kemudian sudah terpejam. "Sudah tidur" desis Raka. "Tidurkan di kamarnya Aa" Raka membawa Cantika ke kamar dan membaringkannya di atas ranjang. Lalu ia kembali lagi ke ruang tengah. Baru saja Raka meletakan pantatnya di atas sofa, Tari langsung duduk di atas pangkuannya. "Mau ditidurin seperti Cantika juga" ujar Tari, Raka tertawa mendengarnya. "Ehmmm ada yang iri ternyata, hmmm mau dinyanyiin apa?" "Apa saja, asal jangan lagu dangdut" "Eeh, aku suka lagu dangdur loh, memandangmu...walau selalu..."  Raka mulai bersenandung. ***BERSAMBUNG***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD